Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-58 Ayo kita kencan



Hanna dan Damian sedang menyantap makan siangnya disebuah restaurant.


Wajah Hanna tampak berseri-seri sedari salon tadi. Kadang dia terlihat senyum sendiri.


“Kau kenapa?” tanya Damian, menatap Hanna.


“Tidak apa-apa,” jawab Hanna, menahan senyumnya.


“Aku perhatikan kau senyum terus dari tadi,” kata Damian.


“Apa benar begitu? Aku baru tahu kalau kau suka memperhatikanku,” kata Hanna.


“Jangan mulai!” umpat Damian, sambil menyantap makanannya. Hanna malah tertawa kecil.


“Ada apa lagi?” tanya Damian, kembali menatap Hanna.


“Tidak apa-apa,” jawab Hanna, bibirnya masih menahan senyum.


“Kau sangat mencurigakan,” keluh Damian.


“Aku hanya terus terbayang kau duduk bersama wanita-wanita itu! Kau pasti sangat lucu!” kata Hanna.


“Kau ini! Aku kesal kau bilang lucu!” keluh Damian.


Hanna malah tertawa.


“Damian, bukankah kita baru sekarang makan diluar seperti ini?”tanya Hanna.


Damian tampak berfikir lalu dia mengangguk.


“Memangnya kenapa?”tanya Damian.


“Seperti kencan saja,” jawab Hanna.


Damian menghentikan makannya, menatap Hanna.


“Ada apa? Kenapa?” tanya Hanna, jadi ikut menghentikan makannya, balas menata pria tampan di depannya.


“Kenapa kau tidak jujur saja bilang kalau ingin berkencan denganku,” kata Damian.


“Kau ini bicara apa? Aku tidak ingin berkencan denganmu,” cibir Hanna.


“Serius?” tanya Damian, kembali menatap Hanna.


“Serius,” jawab Hanna, kenapa jantungnya jadi deg-degan begini ditatap Damian seperti itu.


“Ayo kita berkencan,” kata Damian mengejutkan.


“Berkencan? Kau mengajakku berkencan?” tanya Hanna, tidak percaya.


Damian mengangguk.


“Tadikan aku sudah bilang tidak ingin berkencan,” ucap Hanna.


Damian terdiam.


“Jadi…kau tidak mau?” Damian balik bertanya.


“Mau!” jawab Hanna dengan cepat. Lalu menutup mulutnya dengan tangannya. Kenapa dia memalukan sekali langsung mau saja diajak berkencan?


Damian tidak berkata apa-apa, dia kembali melanjutkan makannya. Hanna tidak habis fikir, emang begitu ya cara seorang pria mengajak berkencan wanitanya? Dia itu niat ga sih berkencan?


Pria itu, mengajak nikah saja  tidak ada hujan tidak ada angin, bahkan tanpa ada kata cinta. Bilang mau menciumnya seenaknya, tidak sadar apa dia pacarnya atau bukan langsung saja bilang “aku ingin menciummu”. Hanna mengerucutkan bibirnya.


Eh sekarang mengajak berkencan saja pakai acara menuduhnya yang ingin berkencan segala. Benar-benar pria yang tidak punya aturan. Hanna benar-benar mencibir pada diri sendiri. Tangannya mengaduk aduk makanan di piringnya.


Tapi meskipun begitu, semakin lama mengenal Damian semakin membuatnya menyukainya. Dia tidak searogan seorang milyarder umumnya, yang hidup dengan kebebasannya, apalagi dengan mudahnya mendapatkan wanita karena uangnya, tentu saja bukan uangnya saja, pria ini sangat tampan, siapa yang berani menolaknya? Tapi ternyata Damian tidak seperti itu,Dia bahkan sangat perhatian dan tidak gampang tergoda wanita.


Tunggu! Bagaimana dengan Maria? Ah kata-kata setia itu harus dicoret dari kamusnya, kata setia tadi harus diralat saja. Bagaimana kalau ternyata ada Maria Maria yang lain? Hanna masih terus mengaduk aduk makannya, kini wajahnya berubah cemberut.


“Kau sedang memikirkanku?” tanya Damian, mengagetkan Hanna.


“Mm tidak juga, eh iya,” jawab Hanna, tadinya mau ngeles.


Damian balas menatapnya, tidak berkedip. Membuat Hanna salah tingkah.


“Ada apa?” tanya Hanna.


“Jangan berfikir aneh-aneh,” ucap Damian.


Hanna terdiam, dia lupa kadang-kadang pria ini bisa telepati, dia harus menjaga hati dan fikirannya jangan sampai terbaca oleh Damian.


Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kehadiran seseorang.


“Pak Damian!” panggil orang itu. Damian dan Hanna menoleh. Hanna sepertinya mengenalnya seperti pernah melihatnya, dimana ya? Keningnya berkerut.


“Kau disini?” tanya Damian pada pria itu.


“Iya pak, divisi kami ada acara dengan rekan bisnis perusahaan kita,” jawab pria itu. Hanna baru teringat, dia salah satu karyawannya Damian.


“Sudah beres?” tanya Damian.


“Iya pak, baru saja kita selesai makan,” jawab pria itu. Damian hanya mengangguk.


“Oh ya Pak, selamat atas kehamilan istri Bapak, semoga semuanya berjalan lancar sampai persalinan. Selamat ya bu,” kata pria itu, sambil menoleh kearah Hanna. Membuat Hanna dan Damian terkejut.


“Kau dengar darimana?” tanya Damian.


“Dari karyawan yang sekarang bekerja dipantai, seluruh karyawan disini juga sudah mendengar kabar itu. Kami turut senang,” jawab pria itu.


Damian terdiam sesaat, kemudian dia tersenyum terpaksa.


“Terimakasih,” jawabnya.


“Terimakasih,” ucap Hanna juga tersenyum.


“Ya sudah, saya kembali ke rekan-rekan saya pak. Sekali lagi selamat ya, Pak, Bu!” ucap pria itu. Damian hanya mengangguk. Pria itupun pergi meninggalkan Damian dan Hanna yang kini terdiam hening. Kemudian mereka saling tatap.


“Satria dan Ibu tiriku juga sudah tahu kau hamil,” kata Damian, membuat Hanna semakin terkejut.


“Bagaimana mereka bisa tahu?” tanya Hanna, keheranan.


“Ada Cristian datang ke rumah, ternyata Cristian mengenal Satria, jadi dia cerita kalau kau hamil, dia tidak tahu kalau orang rumah tidak tau kehamilanmu,” jawab Damian.


Mendengarnya membuat Hanna kaget, jadi tamu yang ke rumah itu, Cristian? Untung saja dia tidak menemui Damian dulu diruang tamu, kalau tidak, apa yang harus dikatakannya pada Cristian? Apakah dia sudah siap kembali ke rumah? Wajahnya langsung saja pucat. Apakah ini juga tanda-tanda dia akan benar-benar berpisah dengan Damian?


“Apalagi yang kau fikirkan?” tanya Damian.


“Tidak, tidak apa-apa,” jawab Hanna.


Hanna hanya mengangguk. Apalagi yang bisa dia lakukan selain melanjutkan kebohongan ini? Ada pepatah jika mengawali suatu kebohongan akan diikuti oleh kebohongan kebohongan yang lain. Inilah yang terjadi sekarang, semua gara-gara baju pengantinnya, membuatnya kini terikat dengan Damian.


“Kalau sudah makannya, ayo kita pulang, aku ada pekerjaan,” kata Damian.


Hanna menatapnya sebentar lalu mengangguk.


****************


Sherli sedang ada didalam kamarnya saat pintu itu diketuk. Dibukanya perlahan pintu kamarnya, ibunya sudah berdiri menatapnya.


“Ada Pak Louis dibawah. Tumben sekali beliau datang kemari? Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya ibunya Sherli.


“Pak Louis ada dibawah Bu?” tanya Sherli.


“Iya, mencarimu, ayo cepat temui beliau. Jangan sampai menunggumu terlalu lama,” jawab ibunya Sherli.


“Baik,Bu,” ucap Sherli, diapun segera merapihkan rambut dan bajunya yang sedikit berantakan. Tidak berapa lama kakinya mengikuti ibunya ke ruang tamu. Hatinya bertanya-tanya kenapa Pak Louis menemuinya? Ada perasaan takut dihatinya, dia takut Pak Louis tahu kalau yang menyebabkan Hanna pergi dihari pernikahannya karena dirinya, Hanna tidak tega menyakitinya.


“Pak!” panggil Sherli, menatap pak Louis yang sedang duduk menunggunya.


“Saya tinggal dulu ya Pak, silahkan kalian bicara,” kata ibunya Sherli, sambil meninggalkan ruangan itu. Pak Louis hanya mengangguk, lalu menatap Sherli yang kini duduk di sebrangnya.


“Bapak mencari saya?” tanya Sherli.


“Iya, ada yang ingin aku tanyakan tentang Hanna,” jawab Pak Louis.


“Apa ya Pak?” tanya Sherli, dengan hati yang semakin gelisah.


“Ada yang melihatmu bicara dengan Hanna di pantai,” jawab Pak Louis membuat Sherli terkejut, wajahnya langsung pucat.


“Apa?” Sherli tampak gugup.


“Nak, kau temannya Hanna, juga sudah aku anggap seperti putriku sendiri, seharusnya kau tidak menutupi keberadaan Hanna dariku. Kau harus jujur bicara padaku, ada dimana Hanna sekarang?” kata Pak Louis, menatap Sherli dengan tajam. Membuat Sherli ketakutan. Ayahnya Hanna memang dikenal sangat keras.


“Aku..aku…” Sherli bingung, dia berjanji pada Hanna untuk tidak mengatakan pada siapapun soal pertemuan mereka.


“Katakan yang sebenarnya. Kau jangan melindungi Hanna, karena yang Hanna lakukan ini adalah sebuah kesalahan, seharusnya dia tidak meninggalkan pesta pernikahannya,” kata Pak Louis lagi.


Sherli pun terdiam. Bukankah kalau Hanna kembali itu artinya dia akan dinikahkan lagi dengan Cristian? Dan dirinya akan benar-benar patah hati, melihat pria yang dicintainya menikah dengan sahabatnya.


“Kau tidak bisa mengelak, karena ada yang melihat kalian bicara di pantai,” kata Pak Louis. Sherli mencoba menenangkan dirinya.


“I iya Pak. Aku bertemu Hanna dipantai,” jawab Sherli.


“Dimana dia sekarang?” tanya Pak Louis.


“Katanya dia tinggal di kota, tapi Hanna tidak mengatakan tinggal dimana. Dia disini hanya menemani seorang teman yang bekerja disini, tapi mereka akan langsung kembali ke kota. Mungkin sekarang mereka sudah pergi ke kota,” jawab Sherli.


Pak Louis terdiam beberapa saat. Sherli semakin gugup, wajahnya pucat, dan keringat dingin muncul dikeningnya. Dia takut ayahnya Hanna marah dan dia juga sudah melanggar janjinya untuk merahasiakan semua ini.


“Ada lagi?” tanya Pak Louise.


“Hanya itu Pak, kemudian Hanna pergi karena mendapat telpon dari temannya,” jawab Sherli.


Pak Louis mengangguk angguk.


“Apakah Hanna terlihat baik-baik saja?” tanya Pak Louis, walaubagaimanapun dia mengkhawatirkan keadaan putri satu-satunya itu.


“Iya Pak. Hanna baik-baik saja bahkan sangat baik,” jawab Sherli. Waktu dipantai Sherli sempat melihat sebuah cincin berlian dijari Hanna, entah cincin apa itu, yang pasti itu menandakan Hanna tidak dalam keadaan susah.


“Baiklah, kalau kau ada informasi apapun tentang Hanna, tolong kabari aku,” kata Pak Louis, sambil berdiri diikuti Sherli.


“Katakan pada ibumu, aku pulang,” ucap Pak Louis, Sherli hanya menagngguk, diapun mengantar ayahnya Hanna itu ke teras. Setelah melihat mobilnya Pak Louis meninggalkan rumahnya, hati Sherli terasa lega. Tapi sesaat kemudian dia teringat Hanna. Apakah ayahnya Hanna akan bisa menemukan Hanna?


*****************


 Saat tiba di rumah, Hanna dan Damian langsung menuju kamar mereka.


Begitu membuka pintu, Hanna terkejut melihat ada beberapa paperbag diatas kasur.


“Apa itu? Siapa yang berbelanja?” tanya Hanna, menoleh pada Damian. Pria itu tidak bicara apa-apa. Dia hanya pergi ke kamar mandi.


Hanna melihat isi paperbag itu, matanya langsung terbelalak. Sebuah gaun! Dikeluarkannya gaun itu dari kantongnya, bibirnya langsung tersenyum.


“Gaun yang sangat indah!” gumamnya, matanya menatap gaun yang tebentang dipegang kedua tangannya.


Kemudian dilihatnya lagi kantong yang lebih kecil, diambilnya sebuah kotak yang ada di kantong itu. Sebuah kotak perhisaan. Diapun mengerutkan keningnya. Dengan penasaran, dibukanya kotak itu, matanya hampir saja copot menlihat isinya. Satu set perhiasan yang sangat indah. Disentuhnya perhiasan itu dengan wajah berseri-seri.


Dilihatnya lagi masih ada satu kantong lagi yang agak besar, cepat-cepat dia keluarkan isinya ternyata sepasang sepatu cantik. Senyum semakin tidak bisa hilang dari bibirnya. Tapi buat siapa semua ini?


Damian keluar dari kamar mandi.


“Ini buat siapa? Gaun, gaun, sepatu dan perhiasan?” tanya Hanna, menatap Damian, tangannya kembali menyentuh gaun cantik itu.


“Buat seseorang, seharusnya kau tidak membuatnya berantakan begitu,” jawab Damian, sambil berjalan mengeluarkan handphonenya sama sekali tidak melirik Hanna, berjalan menuju balkon kamar itu. Hanna mengikutinya.


“Buat seseorang buat siapa?” Hati Hanna langsung saja merasa was-was. Ternyata benar, Damian memiliki Maria-Maria yang lain. Hatinya langsung kecewa.


“Rapihkan lagi, itu bukan untuk diacak-acak tapi untuk dipakai,” kata Damian tanpa menoleh.


“Iya, aku aku rapihkan,” jawab Hanna dengan hati yang sedih. Ternyata benar, Damian memiliki Maria-Maria yang lain, seharusnya dia membiarkan Damian mencarinya dan tidak usah kembali lagi ke rumah ini. Ingin menagis rasanya.


“Jam 7 kau harus memakainya,” ucap Damian tiba-tiba, sambil menekan nomor di handphonennya. Hanna terkejut mendengarnya, dia buru-buru berlari ke hadapan Damian.


“Itu untukku?” tanya Hanna. Damian menatapnya.


“Untuk siapa lagi? Aku ingin kau terlihat cantik nanti malam,” kata Damian dengan ketus dan wajah yang datar.


“Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Kau membuatku kaget saja!” seru Hanna, wajahnya jadi berseri-seri sambil berlari masuk ke kamar.


Damian akan menekan lagi nomor yang tadi tidak jadi. Tiba-tiba Hanna berlari lagi berhenti dihadapannya.


“Apa lagi?” tanya Damian.


“Mm tidak apa-apa,” jawab Hanna, lalu kembali lagi masuk ke kamar. Membuat Damian kesal, kembali mengulang mengetik di handphonenya.


*****************


Jangan lupa like vote dan komen


Baca juga karya author yang lain :


-         “Kontes Menjadi Istri Presdir”


-         “My Secretary 3” Always Loving You (Jodoh Yang Tertukar)