Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-21 Hasutan Martin



Di rumah sakit, seorang perawat membantu mengganti pakaian ibunya Shezie.


“Putrimu belum datang?” tanya perawat, sambil melipat baju pasien yang tadi dikenakan ibunya Shezie.


“Iya tumben sekali sudah siang begini belum datang,” jawab ibu Shezie.


“Apa mungkin putrimu tidak tahu kalau ibu mau pulang sekarang?” tanya perawat itu.


“Tau, aku sudah mengatakannya kemarin itu, kalau hari ini kemungkinan aku bisa pulang. Mungkin dia sedang dijalan karena dia bekerja diluar kota,” kata ibunya Shezie., dia merasa heran karena sejak kemarin putrinya sama sekali tidak menghubunginya, ditelpon juga tidak aktif, membuatnya khawatir saja.


Terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Ibunya Shezie menoleh kearah pintu.


“Mungkin itu putriku,” ujar Ibunya Shezie, tapi ternyata bukan Shezie yang datang melainkan Martin.


“Aku mendengar ibu mau pulang sekarang, jadi aku menyempatkan kemari,” kata Martin.


“Terimakasih, Nak,” kata ibunya Shezie tersenyum pada pria itu.


“Mana Shezie? Ko tidak kelihatan?” tanya Martin, dia kaget karena Shezie tidak ada diruangan itu.


“Dia belum datang,” jawab ibunya Shezie.


Martin menoleh pada perawat.


“Biar saya yang menemani Bu Vina,” kata Martin pada perawat.


“Baik, nanti kalau putrimu sudah tiba, tolong ke bagian administrasi ada beberapa yang harus diselesaikan,” ujar perawat.


“Apakah biayanya ada yang belum dibayar?” tanya Bu Vina, ibunya Shezie.


“Sudah, hanya ada sisa biaya yang kecil-kecil saja,” jawab perawat.


“Baiklah, nanti kalau putriku datang langsung kebagian administrasi,” kata Bu Vina, yang diangguki perawat.


Martin duduk di kursi yang dekat pasien.


“Jadi biayanya sudah Shezie bayar semua?”tanya Martin.


“Iya sepertinya begitu,” jawab Bu Vina.


“Apa ibu tahu darimana Shezie mendapatkan uang sebesar itu dalam waktu singkat?” tanya Martin.


Ditanya begitu membuat Bu Vina merenung, sebenarnya dia sudah menanyakan pada Shezie katanya dari tabungannya.


“Biaya kemo terapi dan perawatannya satu minggu ini lebih dari 100 juta,” kata Martin, membuat Bu Vina terdiam.


“Apa ibu tidak curiga?” tanya Martin.


“Curiga? Maksudmu apa?” tanya ibunya Shezie.


“Maksudku, maaf Bu mungkin Shezie melakukan hal yang tidak benar diluar sana untuk mendapatkan uang dalam waktu singkat dengan mudah,” jawab Martin.


Mendengarnya membuat hati Bu Vina menjadi resah.


“Tidak mungkin Shezie berbuat begitu,” kata Bu Vina.


“Ya ibu fikir saja, sekian lama Shezie menunda kemo ibu karena uangnya tidak ada, sekarang tiba-tiba mendapatkan uang sebesar itu bukankah itu mencurigakan?” ujar Martin,terus menghasut ibunya Shezie.


 Mendengar hasutan Martin membuat Bu Vina semakin gelisah, dia jadi ingin tahu darimana Shezie mendapatkan uang itu?


“Ibu harus mencari tahu, jangan sampai Shezie itu menjadi simpanan pria hidung belang,” kata Martin.


“Kau ini bicara apa? Jangan menjelekkan anakku!” Bu Vina marah pada Martin, dia tidak terima dengan tuduhan Martin.


“Maaf Bu bukan maksudku begitu, hanya saja ini kemungkinan. Siapa lagi yang akan memberikan uang sebanyak itu kalau bukan pria kaya yang butuh hiburan diluar rumah?” ucap Martin.


Mendengar perkataan Martin membuat Bu Vina merasa sedih, apa benar yang dikatakan Martin itu?


“Aku heran pada Shezie, kenapa dia tidak mau menikah denganku padahal aku mau membantu pengobatan Ibu, dia malah memilih jadi simpan pria hidung belang,” kata Martin.


“Ya itu sih terserah Ibu. Kalau ibu mau dibiayai oleh hasil pekerjaan seperti itu,” lanjut Martin.


Kata demi kata Martin membuat Bu Vina  semakin tertekan, dia membayangkan Shezie benar-benar menjadi wanita simpanan. Bahkan dari kemarin dia belum pulang.


“Martin, coba kau telpon cafenya Shezie, katanya Shezie bekerja di kantor cabang cafenya dari kemarin dia tidak pulang,” kata Bu Vina.


Martin terkejut mendengarnya. Jadi ternyata Shezie tidak pulang, kemana dia? Jangan-jangan kecurigaannya kalau Shezie jadi wanita simpanan itu benar. Dia tidak menyangka kalau Shezi lebih memilih jadi wanita simpanan daripada harus menjadi istrinya. Harga dirinya selain merass terinjak-injak, dia merasa dipandang sebelah mata oleh Shezie. Apa menikah denganya lebih buruk dari menjadi wanita simpanan?


Martin segera mencari kontak tempat Shezie bekerja, darisana dia mendapat kabar kalau Shezie tidak  bekerja ke kantor cabang malah Shezi ijin 2 hari tidak masuk kerja.


“Shezie tidak bekerja dikantor cabang dia ijin 2 hari tidak masuk kerja,” kata Martin.


“Tidak diragukan lagi, Shezie memang jadi wanita simpanan,” kata Martin.


Bu Vina semakin sedih, dia kecewa Shezie mendapatkan uang dari cara seperti itu. Bahkan Shezie berani membohonginya.


“Padahal aku serius pada Shezie Bu, tapi sepertinya Shezie lebih memilih jadi wanita simpanan dari pada menikah denganku,” ucap Martin.


“Maafkan Shezie, kau sudah begitu baik pada Shezie,” kata Bu Vina.


 “Bagaimana kalau sekarang Ibu pulang saja bersamaku, aku akan membayar sisa biaya rumah sakit,” ucap Martin.


“Tidak usah, Ibu menunggu Shezie saja,” kata Bu Vina.


“Sekarang sudah sangat siang Bu, kita bisa kena Cas lagi biaya kamar,” ujar Martin, dia mencoba mencari muka supaya Ibunya Shezie memihak padanya.


Akhirnya Bu Vina mengalah, Martin segera bangun dari duduknya dan pergi menuju ke bagian administrasi.


“Berapa?” tanya Martin di loket pembayaran.


Kasir memberikan sebuah kertas rincian sisa pembayaran.


Martin membacanya, hanya beberapa ratus ribu saja, tidak terlalu besar.


“Kalau bukan karena aku masih penasaran pada gadis itu, malas harus berepot repotan begini. Gadis itu benar-benar susah ditaklukkan,” keluh Martin, Sambil mengeluarkan uang dari dompetnya lalu memberikannya pada kasir.


************


Henry mengendarai mobilnya menuju daerah tempat dia menurunkan Shezie dulu. Gadis itu tidak banyak bicara sekarang, dia hanya diam saja.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Henry.


“Aku baik-baik saja,” jawab Shezie, hatinya sangat gelisah karena hari ini sudah terlalu siang untuk menjemput ibunya. Dia mengkhawatirkan ibunya.


Shezie menoleh pada Henry dan menatapnya.


“Aku minta maaf sudah mengira kau supir,” ucap Shezie.  Henry tidak menjawab.


“Kau sendiri yang salah,” ujar Shezie.


“Aku? Kenapa aku juga yang salah?” tanya Henry, menjadi kesal karena Shezie menyalahkannya.


“Tentu saja, seharusnya kau  bilang kalau kau bukan supir dari awal!” kata Shezie.


“Apa pentingnya aku memberitahukan aku supir atau bukan? Tidak ada,” ucap Henry.


Shezie pun terdiam.


“Kau benar, kita hanya rekan kerja saja,” kata Shezie. Kini Henry diam.


Akhirnya mobil Henry berhenti didepan sebuah rumah megah dipinggir jalan seperti yang dulu saat Henry mengantar Shezie.


“Aku turun disini,” kata Shezie, sambil menoleh kebelakang melihat ranselnya ada di jok belakang.


Kemudian Shezie menoleh pada Henry yang juga menoleh kearahnya.


“Pekerjaanmu selesai, aku akan mengurus surat perceraian kita secepatnya,” kata Henry.


Shezie mengangguk, sambil menatap pria itu, entah kenapa ada rasa berat saat mendengar perkataan Henry itu, mau bohong-bohongan atau bukan pernikahan mereka,  pria itu adalah suaminya.


Setelah merasa puas menatap Henry, Sheziepun turun, kemudian membuka pintu belakang dan mengambil ranselnya. Tidak berapa lama Henry menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.


Shezie memanggil ojek yang mangkal tidak jauh dari sana dan lansgung menaikinya, memintanya diantar ke rumah sakit.


Henry melihat bensin mobilnya sudah berkurang, kebetulan didepan sebelah kiri itu ada SPBU, dia mempelankan laju mobilnya  berniat belok kesebelah kiri akan mengisi bensin, saat melihat spion dia terkejut melihat Shezie naik ojeg, yang tidak berapa lama ojeg itu melintas melewatinya.


Henry mengerutkan keningnya, jadi sebenarnya ini bukan lokasi rumahnya Shezie? Jadi sebenarnya dimana rumahnya Shezie itu? Sebenarnya dia tidak ada urusan lagi dengan Shezie, hanya saja dia penasaran sebegitu tertutupnya Shezie soal dirinya. Niat yang tadinya mau ke SPBU diurungkan, diapun menjalankan mobilnya perlahan mengikuti motor yang ditumpangi Shezie.


Motor itu terus melaju. Shezie tidak memperhatikan kalau ada mobil Henry yang mengikutinya, dia hanya memikirkan ibunya akan pulang sekarang dan ini sudah sangat terlambat. Kalau dia terlambat itu artinya akan kena cas ruang rawat lagi diapun harus mengeluarkan uang lumayan banyak lagi, sedangkan persediaan uangnya semakin menipis.


Henry menghentikan mobilnya saat melihat motor itu memasuki rumah sakit. Diapun mengerutkan keningnya lagi. Shezie ke rumah sakit tanpa pulang dulu ke rumah dengan membawa ransel itu. Siapa yang sakit? Apa dia sedang berkunjung pada temannya yang sakit? Biasanya wanita kalau berkunjung ke rumah sakit pasti mebawa sesuatu, bunga atau buah-buahan, tapi tidak dengan Shezie.


Apakah ada keluarganya Shezie yang sakit? Ayahnya atau ibunya? Tapi Shezie bilang kalau dia yatim piatu. Entah benar atau tidak, kerena seperti yang Shezie katakan kalau mereka hanya rekan kerja jadi tidak boleh mengenal lebih dalam.


Setelah motor itu menghilang ke dalam rumah sakit, Henry kembali menjalankan mobilnya. Seharusnya dia memang tidak usah peduli dengan urusan pribadi Shezie, toh urusannya dengan Shezie sudah berakhir.


 


*************


Jangan lupa Vote