
Henry merasa sedih dengan kegagalan lamarannya, tapi apa mau dikata, dia sudah berusaha semaksimal mungkin mempertahankan Shezie.
“Sayang, kau istirahat saja, kau berdoa juga semoga ibunya Shezie berubah fikiran. Yang ibu tahu, seorang ibu itu tidak ingin anaknya bersedih. Ibu rasa ibunya Shezie juga begitu, mungkin ibunya Shezie tertekan karena malu pada keluarganya Martin, kau harus bersabar dulu,” kata Hanna,saat mereka sampai dirumahnya Henry.
“Iya Bu, semoga ibunya Shezie berubah fikiran,” kata Henry, dengan lesu duduk di sofa ruang keluarga, dari wajahnya terlihat dia sangat sedih. Putranya itu kemudian bangun dan pergi naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Hanna merasa tidak tega melihatnya. Diapun menelpon nomornya Damian.
“Halo!” panggil Hanna.
“Iya sayang, ada apa?” tanya Damian.
“Lamaran Henry ditolak ibunya Shezie, dia tetap ingin Shezie bercerai dengan Henry dan menikah dengan Martin. Pengacaranya Martin sedang membuat gugatan cerai,” kata Hanna.
Mendengar jawaban Hanna itu, membuat Damian diam.
“Kasihan Henry kalau sampai bercerai, dia sudah jatuh cinta pada Shezie, bagaimana ini? Apa kau tidak bisa membantu membujuk ibunya Shezie? Aku heran, kenapa ibunya Shezie begitu tidak menyukai Henry. Padahal putra kita tidak berbuat macam macam. Ya soal kesalahan kemarinkan dia juga sudah minta maaf masa sih tidak ada maaf sedikitpun? Sangat aneh,” kata Hanna berkeluh kesah.
Damian tidak menjawab, dia hanya diam, dia juga heran kenapa ibunya Shezie tidak mau menerima Henry? Sekarang saja menolak, apalagi kalau bertemu dengannya?
“Halo sayang!” panggil Hanna, karena Damian diam saja.
“Iya,” jawab Damian.
“Kau bisa kan pulang? Kasihan Henry, suruh orang saja disana, kau pulang, jangan sampai surat cerainya jatuh duluan kau baru pulang. Martin sudah menyuruh pengacaranya mengurus perceraian Henry dan Shezie, “ kata Hanna.
Damian terdiam lagi, apakah kalau dia yang menemui ibunya Shezie langsung, ibunya Shezie itu mau menerima Henry? Sebenarnya dia enggan menemi ibunya Shezie, hanya saja kasihan juga Henry, apa perlu dia menemui Vina meskipun dia sudah tahu jawabannya malah akan semakin buruk?
“Halo! Kau kemana sih? Diajak bicara diam saja?” tanya Hanna, dengan kesal karena suaminya itu diam lagi diam lagi.
“Ada!” kata Damian.
“Kau ini sama anak tidak ada perhatinnya. Kau tidak khawatir kalau Henry patah hati? Dia baru jatuh cinta Damian,kasihan Henry dia sangat menyayangi Shezie,” kata Hanna, dia merasa sedih memikikan Henry.
“Baiklah, nanti aku pulang. Aku mau lihat kerjaan dulu bisa tidak ditangani yang lain dulu, secepatnya aku pulang,” kata Damian, akhirnya membulatkan tekad menemui langsung Vina atau ibunya Shezie.
Dia juga sangat menyayangi Henry. Kalau dibandingkan dengan Hanna, sepertinya rasa sayangnya pada Henry itu lebih besar. Dia sangat menyayangi putranya itu, hanya saja mungin cara tindakan sayang seorang ibu dan ayah itu berbeda. Ayah tidak perlu terlihat melankolis menyatakan rasa sayangnya tidak seperti istrinya, Hanna, yang kadang begitu ribut yang tidak jelas, dan sangat sensitif selalu menggunakan perasaan.
“Secepatnya, apa kau mau Henry bercerai? Sebenarnya bukan masalah cerainya, sekarang Henry sudah cinta pada Shezie dia akan patah hati, aku tidak tega melihatnya patah hati. Kau tahu, patah hati itu sangat menyakitkan,” kata Hanna seperti curhat.
“Iya sayang, aku usahakan pulang, kau beri Henry semangat dulu, aku akan segera pulang,” kata Damian, akhirnya mengambil keputusan.
Dia juga sudah tidak bisa kucing-kucingan lagi, dia harus melakukan sesuatu untuk kebahagiaan putranya meskipun sebenarnya dia merasa ragu akan berhasil.
Hanna menutup ponselnya, tiba-tiba ponselnya bebunyi lagi, tapi bukan dari Damian melainkan Bu Ema.
“Bu Damian! Kau ada dimana?” tanya Bu Ema.
“Ada dirumah Henry,” jawab Hanna.
“Kumpul yuk, aku dan Bu Pian sedang ada di sebuah café, kita hang out sebentar yuk,” ajak Bu Ema.
“Café mana?” tanya Hanna.
“Cage Dalguna, tidak jauh dari rumahnya Henry,” jawab Bu Ema.
“Oke oke aku kesana,” jawab Hanna, daripada dia tinggal di rumah malah membuatnya semakin pusing.
“Sayang!” teriak Hanna dari bawah.
“Ibu ke café dulu ada teman ibu ngajak bertemu!” seru Hanna menengadahkan kepalanya menatap ke lantai atas.
“Iya!” jawab Henry.
“Ibu menginap disini sampai ayahmu pulang!” teriaknya lagi.
“Iya!” jawab Henry.
Hannapun kembali meraih tasnya pergi keluar rumah, meminta supir yang biasa mengantar Shezie mengantarnya ke café Dalguna.
Tidak terlalu lama menuju café itu, seperti biasa cafe itu selalu ramai tidak hanya oleh anak muda, ibu ibu arisan juga kadang berkumpul dicafe itu karena lokasinya tidak jauh dari mall dan taman kota sehingga memudahkan ibu-ibu yang ingin belanja juga.
“Bu Damian! Lama tidak bertemu!” seru Bu Ema.
“Perasaan kita sering bertemu,” kata Hanna. Dikuti tawanya Bu Ema dan Bu Pian.
“Ayo duduk, kau mau pesan apa?” tanya Bu Pian sambil duduk diikuti Bu Ema dan juga Hanna.
“Aku ingin yang hangat-hangat saja, udara sekarang rasanya begitu dingin,” kata Hanna.
Bu Pian memanggil pelayan dan memesankan minuman hangat buat Hanna.
“Halo ibu ibu!” tiba-tiba ada suara yang mengagetkan mereka, mekapun menoleh kearah suara ternyata ada Bu Yogi. Wajah mereka langsung berubah kusut.
“Mengganggu saja,” gumam Bu Pian, karena pastilah Bu Yogi itu kan memberikan gossip yang sangat menghebohkan dunia ibu-ibu.
“Selamat malam semuanya!” seru Bu Yogi,
“Malam,” jawab mereka bertiga
Bu Yogi tiba-tiba menarik kursi yang kosong lalu duduk disampaing Hanna dan Bu Ema.
Hanna merasa ilfeel saja ada ibu yang satu ini, dia pun mengalihkan pandangan tidak mau berbasa-basi pada Bu Yogi, tapi dia terkejut saat Bu yogi menyapanya bicara dengan ramah.
“Bagaimana kabarmu Bu Damian, kau terlihat tambah cantik saja, padahal aku tahu kau sangat sibuk. Malah ku dengar kau sedang keliling Eropa, agak terkejut juga melihat kau ada disni,” kata Bu Yogi tersenyum manis pada Hanna.
Hanna terkejut mendengar Bu Yogi tahu kalau dia sedang keliling Eropa menemani Damian.
“Wah Bu Damian sedang keliling Eropa, ko tidak bilang-bilang,” kata Bu Pian yang diangguki Bu Ema.
“Soalnya bukan jalan-jalan, menemani ayahnya Henry kerja, sangat membosankan,” jawab Hanna.
“Eh tapi meskipun sering pergi-pergi ke luar negeri dengan kondisi cuaca yang berubah-ubah, kulit mulusnya tidak berubah, kau terlihat masih cantik bahkan tetap awet muda,” Puji Bu Yogi.
“Masa sih?” tanya Hnana, langsung saja hatinya berubah senang disebut cantik oleh Bu Yogi.
“Diantar ibu-ibu kan Bu Damian paling terlihat masih muda,” puji Bu Yogi lagi semakin hati Hanna melambung tinggi
“Bagi bagi dong rahasianya, kau perawatan disalon mana? Serius kau terlihat awet muda,” kata Bu Yogi lagi.
Bu Ema dan Bu Pian sampai menatap Hanna tidak berkedip, memang benar, ibu beranak satu itu terlihat seperti gadis, awet muda.
Banyak yang memuji membuat Hanna serasa diatas angin, jarang-jarang ada yang memujinya, tapi sebentar jangan senang dulu…ko tumben Bu Yogi beramah-tamah padanya, ada apa?
*************