Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-66 Ungkapan perasaan Henry



Malam terasa begitu dingin di Paris. Dua langkah kaki itu menyusuri jalan  yang ramai begitu juga dengan pejalan-pejalan kaki lainnya. Tampak lampu-lampu menghiasi taman itu dengan indah, pohon pohon diberi lampu lampu kecil berwarna warni.


“Aku tidak tahu kalau disini sangat dingin,” ucap Shezie, memasukkan tangannya ke sakunya, sambil menghentikan langkahnya.


Henry juga melakukan hal yang sama, padahal mereka sudah menggunakan sarung tangan tapi tetap saja terasa dingin.


“Kau kedinginan?” tanya Henry menoleh pada Shezie yang sedang melihat taman bukit yang melandai yang diberi lampu-lampu membuat taman itu terlihat sangat cantik.


“Iya,” jawab Shezie sambil menoleh pada Henry, bibirnya terlihat membiru.


Henry menatap wajah pucat itu, tangannya menyentuh pipinya Shezie.


“Kau tidak akan merasakan dinginnya pipiku karena kau menggunakan sarung tangan,” kata Shezie sambil tertawa.


Henry membuka sarung tangannya.


“Kau mau apa?” tanyanya.


“Tentu saja menyentuh pipimu,” jawab Henry, jarinya langsung menyentuh pipinya Sheezie, sekarang dia bisa merasakan dinginnya pipi itu.


“Apakah kita akan pulang ke hotel saja?” tanya Henry, tidak bosan-bosannya menatap wajah itu yang dari hari ke hari terlihat sangat cantik dimatanya, dia semakin menyadari kalau dia menyukai gadis ini.


“Kau ini aneh, katamu kau ingin mengajakku jalan-jalan,” kata Shezie.


“Aku tidak tega kau sangat kedinginan,” ucap Henry.


“Tadi katamu kau akan mengajakku ke tempat yang romantis, memangnya ini tempat yang romantis?” tanya Shezie.


“Memangnya tempat disini masih kurang indah? Kau lihat saja disini banyak pasangan yang berkunjung,” tanya Henry.


“Ya indah sih cuma…” Shezie tidak melanjutkan bicaranya.


“Cuma apa?” tanya Henry.


“Ah tidak, tidak jadi,” jawab Shezie sambil tersenyum. Henry menatapnya keheranan, dia melihat wajah gadis itu memerah sekarang.


Shezie menatap pemandangan didepannya. Malam itu banyaknya orang berpasangan berjalan sambil berpelukan dan bercanda, bahkan ada yang saling berciuman serasa dunia milik berdua tidak menghiraukan orang-orang berlalu lalang disekitarnya.


Benar kata Henry tempat ini sangat romantis, di bawah sinar bulan dan diterangi hanya oleh lampu lampu kecil ditaman, belum udara yang begitu dingin, tentu saja membuat pasangan-pasangan itu ingin berpelukan saling menghangatkan diri. Tapi sayangnya Henry tidak seromantis pasangan-pasangan lain yang ada ditaman itu.


Sedang melamun memperhatikan orang lain, tiba-tiba dua buah tangan terulur memeluk pinggangnya. Shezie terkejut saat merasakan punggungnya menempel di dada seseorang yang dibelakangnya. Pria itu memeluknya dari belakang. Henry menunduk menempelkan kepalanya disamping kepala Shezie.


“Apa kalau melihat pemandangan itu sambil dipeluk begini sudah romantis?” tanya Henry, berbisik ke telinga Shezie.


 Jantung Shezie berhenti berdetak, dia tidak berani menoleh atau dia akan mencium bibir Henry yang berbisik di telinganya. Tapi sebelum Shezie tersadar, dia merasakan sebuah kecupan di pipinya. Pria itu mengecup pipinya. Ingin pingsan rasanya, tidak sedikitpun terbayangkan dia akan sedekat ini dengan Henry. Apakah mereka sedang pacaran sekarang?


“Kau lebih hangat sekarang?” tanya Henry mempererat pelukannya.


“Iya,” jawab Shezie hampir tidak terdengar, lama semakin lama dia semakin merasakan nyaman dipeluk Henry. Ingin rasanya berlama-lama seperti ini. Seandainya ada cermin didepannya sudah dipastikan wajahnya memerah saat itu.


Tidak hanya itu saja, Henry juga mencium kepalanya yang tertutup topi mantel. Shezie terdiam merasakan hangatnya pelukan Henry. Tapi kemudian dia tersadar apa artinya semua ini? Pria itu memeluknya, menciumnya, dan dia malah menikmatinya? Apa artinya dia menyukai Henry? Apakah dia sudah jatuh cinta pada pria yang sebenarnya adalah suaminya itu? Kalau dia bercerai dengan Henry dia pasti akan merindukan saat saat seperti ini.


“Kita akan berapa lama disini?” tanya Shezie, menengadah melihat wajah Henry.


“Sampai kau bosan,” jawab Henry.


“Itu sih bisa lama, disini pemandangannya sangat indah, membuatku betah berlama-lama disini,” kata Shezie.


“Kau betah karena pemandangannya atau karena aku memelukmu?” tanya Henry, membuat wajah Shezie langsung memerah.


“Disini udaranya sangat dingin,” kilahnya, membuat Henry tersenyum.


“Aku tidak masalah berlama-lama memelukmu,” jawab Henry, membuat Shezie tidak punya muka.


“Henry!” panggil Shezie.


“Ya,” jawab Henry.


Shezie  malah terdiam, dalam hatinya dia tidak ingin kehilangan momen-momen seperti ini. Ternyata hari-hari bersama pria ini sangat membuatnya bahagia. Dia selalu merasa nyaman dipeluknya, serasa ada yang selalu melindunginya. Entah kenapa dia begitu percaya pada pria ini, tidak semenakutkan jika bersama Martin.


“Apakah kalau kita bercerai, kita akan bertemu lagi?” tanya Shezie.


“Kita akan selalu bertemu,” jawab Henry.


“Benarkah?” tanya Shezie.


“Iya, karena tidak akan ada perceraian, aku tidak ingin bercerai denganmu,” jawab Henry.


Shezie terdiam mendengarnya, Henry berkali-kali mengatakan itu, itu artinya apa?


“Bisakah kau berhenti membicarakan perceraian?” tanya Henry.


“Tapi aku memang harus bercerai denganmu,” jawab Shezie.


“Aku tidak akan membiarkanmu hidup bersama pria brengsek itu, dia akan menyakitimu, aku tidak akan melepaskanmu untuk pria brengsek itu,” kata Henry.


“Kenapa? Kau hanya ego saja, Henry,” jawab Shezie.


“Tidak,” jawab Henry.


“Tidak?” tanya Shezie, masih menatap pria di depannya itu.


Henry menatap Shezie lekat-lekat, kedua tangannya memegang bahunya Shezie.


“Karena aku mencintaimu,” jawab Henry, membuat Shezie tidak bisa berkata-kata, jadi ternyata benar pria ini mencintainya.


Henry beralih meraih tangannya Shezie.


“Aku ingin melanjutkan pernikahan kita seperti pernikahan-pernikahan normal lainnya,” kata Henry, balas menatap wajah Shezie.


“Kau mengertikan maksudku? Aku tidak mau ada perceraian, aku ingin kau selalu bersamaku selamanya,” lanjut Henry.


Tidak ada kata-kata yang bisa Shezie ucapkan, rasanya tidak percaya Henry mengatakan itu semua, sungguh tidak pernah terbayangkan sebelumnya Henry akan jatuh cinta padanya.  Shezie masih mendengarkan apa yang ingin Henry katakan, dia hanya menatap gerak bibir pria itu, bibir yang terasa lembut saat menciumnya.


“Aku ingin kau menjadi istriku yang sebenarnya istriku, yang akan bersamaku selamanya, yang akan menjadi ibu dari anak-anakku,” kata Henry lagi.


Ada haru dihatinya Shezie, pria ini menumpahkan seluruh isi hatinya. Yang biasanya ego selalu menutupi perasaannya yang sebenarnya. Tidak terlukiskan bahagianya dicintai pria seperti Henry, selain tampan dan kaya, pria ini sangat penyayang.


“Aku mencintaimu Shezie, aku serius mencintaimu, aku sangat takut kehilanganmu saat kau berkata ingin bercerai dariku,” ucap Henry, masih menatap matanya Shezie yang juga menatapnya.


“Berjanjilah kau akan selalu bersamaku. Kita hadapi masalah kita bersama, kita bicara pelan-pelan pada ibumu supaya merestui pernikahan kita, kau mau?” tanya Henry.


“Apa kau serius mengatakan itu semua?” tanya Shezie.


“Tentu saja, aku tidak main-main mengatakan perasaanku padamu,” jawab Henry.


Shezie masih menatap wajah pria itu, ternyata taman seindah ini tidak lebih indah dari menatap pria ini yang sedang menyatakan rasa cintanya, rasanya tidak percaya kalau Henry akan jatuh cinta padanya.


“Tapi aku masih takut,” ucap Shezie.


“Takut apa?” tanya Henry.


“Aku takut kondisi ibuku memburuk. Ibu adalah keluargaku satu-satunya, aku ingin ibuku bahagia,” jawab Shezie.


“Aku mengerti, dari itu kita bicara pelan-pelan, cari waktu yang tepat untuk bicara dengan ibumu. Aku yakin ibumu juga ingin kau bahagia,” kata Henry, jemarinya yang bersarung tangan menyentuh pipinya Shezie.


“Kau mau?” tanya Henry.


Shezie terdiam sesaat, dia masih mengkhawatirkan kondisi ibunya. Ditatapnya lagi wajah pria itu, Henry sangat berbeda dengan Martin, dia merasa yakin dia akan bahagia bersama Henry, karena dia juga menyukainya, hanya saja apakah ibunya akan setuju? Tapi melihat keseriusan dimatanya Henry membuat hatinya luluh, akhirnya Sheziepun mengangguk.


“Aku mau,” jawab Shezie, membuat senyum mengembang di bibirnya Henry.


“Terimakasih sayang, berjanjilah untuk selalu bersamaku, kita jalani pernikahan kita dengan sebenarnya,” pinta Henry.


Shezie mengangguk lagi. Henry mendekatkan wajahnya dan mencium bibirnya Shezie yang dingin dengan lembut. Shezie merasakan untuk kesekian kalinya bibir itu menyentuh bibirnya.


“Aku sangat bahagia,” ucap Henry.


Shezie menatapnya dan tersenyum, dia juga merasa bahagia.


“Kau sangat dingin, bagaimana kalau kita pulang saja, besok kita jalan-jalan lagi. Aku tidak mau kau sakit,” kata Henry.


“Baiklah,” jawab Shezie mengangguk, meskipun sebenarnya dia ingin berlama-lama di taman ini tapi udaranya sangat dingin karena dia juga tidak berbiasa dengan udara sedingin ini.


Henry memeluk bahunya Shezie, mengajaknya melangkah meninggalkan tempat itu, tangan kiri Shezie dengan ragu menyentuh punggunnya Henry.


Tangan Henry langung menarik tangan dipunggungnya itu supaya memeluk pinggangnya, diapun mendekatkan kepalanya ke telinga Shezie.


“Kau istriku sekarang, kau boleh memelukku,” ucap Henry.


Shezie menoleh pada Henry yang langsung mencium keningnya. Diapun tersenyum dan langsung memeluk pinggangnya Henry. Dia tidak menyangka kalau momen bulan madu ini akan benar-benar seperti pasangan yang berbulan madu lainnya. Shezie  sangat bahagia berada disamping pria ini.


“Aku juga mencintaimu,” ucap Shezie tiba-tiba, membuat Henry menghentikan langkahnya dan menatap Shezie. Dia juga bahagia gadis itu menerima cintanya.


“Aku tahu,” ucap Henry, sambil tersenyum dan mencium keningnya Shezie, lalu memeluk bahunya Shezie lagi, kembali mengajak berjalan meninggalkan taman itu.


***********