Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-37 Lepasnya cincin pertunangan



Shezie menatap Henry, dia masih tidak percaya dengan perkataan Henry yang baru saja didengarnya.


“Tidak bisa, aku sudah bertunangan, itu hakku,” kata Shezie.


“Tidak bisa, kau harus putus, lepaskan cincinnya! Cepat lepaskan!” perintah Henry.


“Tidak, aku tidak mau!” ucap Shezie, mengepalkan tangannya, dia bukannya suka dengan pertunangannya hanya saja kalau sampai ibunya tau dia tidak memakai cincin pertunangannya ibunya akan marah dan kecewa.


Karena Shezie terlihat tidak mau melepas cincinnya apalagi sampai tangannya disembunyikan ke belakang punggungnya, membuat Henry kesal dan bangun dari duduknya mendekati Shezie, lalu menarik tangannya Shezie.


“Lepaskan! Ayo lepaskan cincinnya!” serunya, dia memegang tangan Shezie dengan kuat dan berusaha melepaskan cincinnya Martin.


“Tidak mau!”  teriak Shezie, sambil mengepalkan tangannaya.


“Kau ini, cepat lepaskan! Ayo lepaskan!” teriak Henry, memaksa membuka jari-jarinya Shezie.


“Kataku jangan, jangan!” tolak Shezie sambil bangun mencoba melepaskan tangan Henry dengan dari tangannya yang terus berusaha melepaskan cincinya.


Karena tenaga Henry lebih kuat darinya, Henry berhasil membuka jarinya Shezie mengeluarkan cincin itu tapi CLING! Cincin itu menggelinding jatuh kelantai.


Henry dan Shezie menoleh kearah cincin yang menggelinding itu, cincin itu mengelinding terus dan masuk ke kolong tempat tidur.


“Cincinnya masuk ke kolong tempat tidur! Bagaimana ini?” tanya Shezie sambil menatap Henry.


Melihat cincin itu menggelinding jauh, Henry tersenyum senang.


“Biar saja hilang sekalian!” ucap Henry.


“Kau harus bertanggung jawab! Kau harus mencarinya sampai ketemu, Itu cincin tunanganku!” teriak Shezie.


“Buat apa aku mencarinya? Biarkan saja hilang!” kata Henry, lalu dia mengambil ponselnya  dan naik ketempat tidur, bersandar di sandaran tempat tidur sambil membuka ponselnya.


“Henry! Kau menghilangkan cincinnya! Ibuku bisa marah!” Teriak Shezie lagi.


“Ibumu yang mana? Bukankah kau bilang kau yatim piatu?” tanya Henry, tidak peduli ,malah sibuk dengan ponselnya mengetik-ngetik sesuatu dengan santai deangan kakinya berselonjor.


“Henry, ayo bantu aku mencari cincinnya!” kata Shezie, sambil berjongkok melihat ke kolong tempat tidur. Henry diam saja mengacuhkannya.


“Henry!” Panggil Shezie.


“Biarkan saja hilang!” kata Henry, masa bodoh dengan paniknya Shezie dengan hilangya cincin itu.


Shezie berjongkok mencari-cari cincin itu, sambil memegang ponselnya yang sebagai alat senter, dilihatnya cincin itu ada di pojok bawah sandaran tempat tidur.


“Henry, ayo geser tempat tidurnya! Cincinya ada diujung sana!” kata Shezie, berdiri menatap Henry.


Yang diajak bicara tidak menjawab, dia cuek saja dengan ponselnya membuat Shezie sebal.


Shezie melihat ke sekeliling kamar itu, mencari sesuatu, ternyata yang dicarinya tidak ada, diapun keluar dari kamar itu. Henry hanya meliriknya dan tersenyum penuh kemenangan, biar saja cincin itu tidak bisa diambil.


Tidak berapa lama Shezie masuk lagi dengan membawa sapu panjang untuk membersihkan langit-langit.


“Ee kenapa kau membawa barang-barang kotor ke kamarku?” tanya Henry, merubah posisi duduknya.


“Jangan dibawa masuk! Kotor! Debu!” teriaknya.


Shezie tidak memperdulikan protes Henry, diapun berjongkok dan memasukkan pegangan sapu panjang itu ke kolong tempat tidur, mencoba mengeluarkn cincin itu. Henry hanya meliriknya lalu kembali duduk bersandar memainkan ponselnya lagi.


Duk Duk! Duk! Terndengar suara pegangan sapu itu mengenai tembok.


“Jangan merusak tempat tidurku!” teriak Henry.


Shezie tidak menjawab dia masih berusaha mengeluarkan cincin itu, tapi ternyata cincin itu malah terselip di sela-sela lantai dan tembok, sehingga membuatnya kerepotan mengambilnya.


 Shezie pindah lagi posisi berjongkoknya, Henry masih mengacuhkannya, dia melihat gadis itu mulai berkeringat karena tidk berhasil juga mangambil cincinnya.


“Sudah, tidak perlu dicari! Kau kan sudah memakai cincinku buat apa kau memakai cincin yang lain juga?” kata Hanry.


Shezie berdiri dan menghela nafas panjang, dia merasa lelah tidak berhasil juga mengambil cincin itu. Ditatapnya Henry dengan sorot mata tajam karena marah.


“Kau harus bertanggungjawab!” teriaknya.


“Buat apa? Memang seharusnya kau tidak memakai cinicn itu. Kau kan istriku masa bertunangan dengan pria lain, apa-apaan?” gerutu Henry.


Shezie berjalan mendekati Henry, mencondongkan tubuhnya kearah Henry.


“Hei kau mau apa? Kau mau merayuku?” tanya Henry, terkejut karena tubuh Shezi membungkuk ke arahnya. Dia takut sesuatu yang tidak boleh dilihat akan terlihat, karena Shezie membungkuk tepat di sabelahnya membuat baju bagian dadanya sedikit terbuka.


Shezie tidak menjawab, ternyata dia berusaha mendorong tempat tidur itu tapi sedikitpun tidak bergeser karena Henry berada tepat diatas tempat tidur, itu artinya tempat tidur itu lebih berat berpuluh-puluh kilo.


“Awas turun!” perintah Shezie.


“Ini tempat tidurku, seenaknya menyuruhku turun!” gerutu Henry.


Shezie mendelik sebal pada pria itu lalu kembali mencoba menggeser tempat tidur itu tapi ternyata sedikitpun tidak bergeser saking beratnya tempat tidur itu.


Sudah berbagai upaya dilakukan tetap saja tidak berhasil, sampai tenaga Shezie habis dan merasa lemas, diapun duduk di pinggir tempat tidur.


Henry tersenyum dalam hati, dia senang cincin itu tidak bisa diambil.


“Pokoknya kau harus memutuskan tunanganmu! Kalau sudah bercerai denganku terserah, tapi tidak saat kau menjadi istriku!” kata Henry.


Shezie tidak menjawab, gadis itu menunduk membuat wajahnya tertutup rambutnya.


“Kau juga tidak boleh bekerja di café, aku akan memberimu uang untuk membeli kebutuhanmu,” kata Henry.


“Kau, kau menangis?” tanya Henry, menatap Shezie, dia tidak menyangka kalau gadis itu akan menangis.


“Apa yang harus aku katakan pada ibuku kalau aku tidak memakai cincin itu?” ucapnya disela isaknya, membuat Henry terdiam.


“Ibuku akan kecewa dan bersedih, aku tidak ingin melihat ibuku bersedih, huh u…” Shezie menangis.


“Masalahnya kau istriku sekarang, kau tidak bisa seenaknya bertunanagn dengan yang lain,” kata Henry.


“Tapi ibuku tidak tahu aku sudah menikah!” teriak Shezie dengan keras dan menatap Henry, membuat pria itu terdiam menatap wajah yang sudah basah dengan airmata itu.


“Ibu tidak pernah tahu aku menikah denganmu makanya ibuku menerima lamarannya Martin! Aku tidak bisa menolaknya!” kata Shezie.


“Ya seharusnya kau bicara saja pada ibumu kalau kau sudah menikah denganku,” ucap Henry.


“Kau lupa lagi! Pernikahan ini tidak akan lama, kau hanya ingin menunda perceraian kita saja, apa jadinya kalau ibuku tahu semua ini hanya bohong belaka?” kata Shezie.


“Ya tidak masalah , aku kan sudah memberimu uang banyak, ibumu pasti senang,” jawab Henry.


“Kau fikir ibuku mau memerima uang dari hasil pekerjaan jadi istri bayaranmu begitu?” tanya Shezie.


“Kau juga jadi selingkuhan pria-pira itu,” jawab Henry.


“Memangnya ibuku tahu itu pekerjaan sampinganku? Ibuku hanya tahu aku bekerja di café! Kau mengerti tidak?” kata Shezie.


Henry kembali diam.


“Kalau cincin itu hilang, ibuku akan semakin curiga, aku tidak mau ibuku tahu soal pernikahan ini, ibuku akan marah dan tidak mau menerima uang dariku lagi,” lanjut Shezie.


Henry masih mendengarkan, dia tidak pernah berfikir kearah sana, dia hanya melihat kepentingan dari posisi dia saja sebagai pemilik uang, dia tidak peduli dengan urusan pribadi orang yang dia bayar.


Shezie kembali berjongkok dilantai, sambil terisak dia kembali mencoba mengeluarkan  cincin itu dengan pegangan sapu.


Henry masih diam dan berfikir, Shezie benar, pernikahannya tidak akan diperpanjang, dia hanya menunda perceraian, memang sudah seharusnya dia tidak ikut campur urusan pribadi Shezie.


Melihat Shezie yang  pantang menyerah mendapatkan cincin itu, Henry menjadi kasihan, akhirnya diapun turun.


“Ayo aku bantu!” kata Henry, sambil ikut berjongkok dan mengambil alih pegangan sapu itu.


“Dimana cincinnya?” tanyanya.


“Disana, terselip dipinggir tembok,” jawab Shezie.


Henry mencoba mengeluarkan cincin itu tapi ternyata tidak berhasil. Diapun bangun segera melepas jasny lalu menggulung lengan kemejanya sampai siku, kembali berjongkok disamping Shezie.


Shezie melihat pria yang sedang berusaha mengambil cincin itu. Melihatnya dari samping semakin terlihat mancung hidungnya pria itu, suaminya itu sangat tampan. Apa? Suami? Dia bukan suami yang sebenarnya, tidak perlu memujinya.


“Kenapa kau malah melihatku? Bantu aku!” hardik Henry, membuat Shezie terkejut dan wajahnya langsung memerah. Berdekatan begini dengan posisi bahu yang hampir menempel, mengeluarkan sensasi yang berbeda, tubuh gagahnya Henry yang lebih basar darinya memberikan sensasi perlindungan yang sangat nyaman, dia serasa sedang berteduh disamping tubuh itu.


“Kau melamun lagi, apa sih yang kau fikirkan? Aku sedang membantumu mengambil cincin itu,” kata Henry, kembali menoleh pada Shezie yang berjongkok disampingnya, semakin membuat wajah gadis itu merah dadu.


“Bagaimana kalau kita coba geser saja tempat tidurnya,” kata Shezie.


“Baiklah, kita geser!” kata Henry sambil bangun begitu juga Shezie.


Henry dan Shezie mencoba menggeser tempat tidur itu, hanya bergeser sedikit.


“Kenapa cuma bergeser sedikit?” keluh Henry.


“Kau pria yang tidak bertenaga! Menggeser tempat tidur saja tidak bisa!” gerutu Shezie.


“Apa maksudmu tidak bertenaga? Aku ini suka olah raga!” sanggah Henry dengan kesal.


“Tempat tidurnya memang berkualitas bagus, kayunya juga berat,” ucap Henry, jadi memberengut. Shezie jadi tersenyum melihat reaksi Henry begitu.


“Jangan menertawakanku, ayo kita dorong bersama-sama, aku kasih aba-aba,” kata Henry.


“Ya baiklah!” jawab Shezie.


Henry memegang pinggiran yang sebelah kiri yang ada sandarannya sedangkan Shezie di sebelah kanan ujung tempat tidur.


“Satu..Dua..Tiga…!” Henry memberikan aba-aba dan keduanya mendorong tempat tidur itu dengan sekuat tenaga dan akhirnyaa tempat tidur itupun bergeser.


“Sudah!” seru Henry sambil kembali berdiri.


Shezie kembali berjongkok melihat cincin itu.


“Ada tidak cincinnya?” tanya Henry.


Shezie mengulurkan tangannya ke ujung tembok dibawah tempat tidur, kemudian tangannya keluar lagi dengan sebuah cincin di tangannya.


Diapun langsung tersenyum tapi tidak dengan Henry, dia tidak suka melihat cincin pertunangannya Shezie itu bisa diambil, tapi dia juga tdak bisa egois membatasi privasinya Shezie.


Shezie segera memasukkan cincinnya ke jarinya.


“Terimakasih,” kata Shezie.


“Hem!” jawab Henry sambil berjalan memutar ke sebarang tempat tidur, dia mencoba untuk menggeser tempat tidur itu kembali ke posisi semula. Shezie segera membantunya. Akhirnya tempat tidur itu kembali bergeser.


Henry berdiri menggeliatkan badannya, menggeser tempat tidur segitu saja begitu lelah. Diliriknya Shezie sudah memakai cincin itu lagi.


“Tapi untuk bekerja di café itu lagi, aku tidak bisa mengijinkannya! Kau tetap harus berhenti!” kata Henry, membuat Shezie menatapnya.


************