
Keesokan harinya, di rumah sakit.
Terdengar suara ketukan dipintu ruangan rawat inap Bu Vina.
Bi Ijah membukakan pintu itu, disana sudah berdiri seorang perawat yang langsung masuk dan menghampiri Bu Vina.
“Siang Bu, saya Meli, saya ditugaskan oleh Bu Shezie untuk khusus merawat ibu beberapa hari ini,” kata Suster Meli, langkahnya berhenti di pinggir tempat tidur pasien.
“Shezie mengirim perawat khusus?” tanya Bu Vina, mengerutkan keningnya karena Shezie tidak mengatakan apa-apa.
“Benar Bu,” jawab Suster Meli.
Terdengar ponsel Bu Vina berbunyi, cepat-cepat dilihatnya, ternyata hanya sebuah pesan dari Shezie yang mengatakan kalau dia harus bepergian keluar kota beberapa hari karena pekerjaan di Travelnya sangat banyak.
Bu Vina terdiam, kenapa Shezie tidak mengatakannya lebih awal? Dia pergi-pergi begitu saja. Bu Vina menatap suster Meli yang sedang memeriksa infusan.
“Terimakasih,” ucapnya pada suster itu.
Terdengar lagi suara ketukan dipintu. Bu Vina menoleh kearah pintu, disana sudah berdiri Martin sambil membawa bingkisan buah-buahan.
“Masuklah Nak,” ucap Bu Vina, tersenyum menyambut kedatangannya Martin.
Martin balas tersenyum dan langsung masuk, memberikan buah-buahan itu pada Bi Ijah.
“Apakah Shezie sudah datang menjenguk?” tanya Martin.
“Tidak, Shezie sedang pergi keluar kota beberapa hari, dia banyak urusan di travel,” jawa Bu Vina.
Mendengarnya membuat Martin kesal, kenapa Shezie bertingkah lagi? Buat apa dia terus-terusan bersama pria itu?
“Shezie keluar kota? Dia dengan seenaknya pergi-pergi tanpa bicara padaku, padahal aku sedang menyiapkan acara pernikahan kita,” ucap Martin dengan kesal.
“Mungkin memang banyak pekerjaan, tolong maaf Shezie,” ucap Bu Vina, mencoba menghibur Martin.
“Dia berbohong! Ibu sudah dibohonginya!” kata Martin dengan ketus, membuat Bu Vina keheranan tidak mengerti dengan maksud Martin.
Martin langsung mengeluarkan ponselnya dan menelpon Shezie tapi ternyata ponsel Shezie tidak aktif. Wajah Martin langsung memerah, dia benar-benar marah.
“Apa ponselnya tidak aktif?” tanya Bu Vina.
“Iya, ponselnya tidak aktif. Dia benar-benar keterlaluan mempermaiankanku!” gerutu Martin.
“Nak Martin mungkin ini hanya salah faham. Tadi ponsel Shezie aktif, dia memberi pesan padaku, mungkin batrenya habis,” kata Bu Vina.
“Apa pesannya?” tanya Martin.
“Katanya dia ada pekerjaan di travel beberapa hari ini,” jawab Bu Vina.
“Dia berbohong Bu, terpaksa aku harus mengatakan yang sebenarnya, aku sudah tidak bisa bersabar lagi dengan kelakuannya Shezie,” ucap Martin.
“Apa maksudmu?” tanya Bu Vina.
“Ada yang ingin aku beritahu pada ibu,” kata Martin.
“Soal apa?” tanya Bu Vina.
“Sebenarnya Shezie bukan bekerja di travel, selama ini dia berbohong!” kata Martin.
“Apa maksudmu? Katakan yang jelas, ibu tidak mengerti,” tanya Bu Vina, menatap Martin.
“Shezie sebenarnya bekerja sebagai istri bayaran pria yang bersamanya itu kemarin, yang bernama Henry itu,” jawab Martin, membuat Bu Vina terkejut.
“Apa maksudmu? Kau bercanda kan?” tanya Bu Vina, dia terkejut bukan main.
“Aku berkata sebenarnya, itulah pekerjaan Shezie, dia bekerja sebagai istri bayaran pria yang bersamanya itu!” ucap Martin, tidak ada lagi yang disembunyikan, membuat Bu Vina shock.
“Istri? Istri bayaran?” tanya Bu Vina, seketika merasakan dadanya yang semakin sesak, wajahnya memerah merasa marah dan kesal tidak menyangka pekerjaan Shezie seperti itu.
“Jadi uang yang didapat Shezie itu adalah hasil menjadi istri bayaran pria itu. Ibu bisa membayangkan sendiri kan bagaimana pekerjaan seperti itu, itu sih sama saja dengan menjual diri,” ucap Martin dengan pedasnya.
Bu Vina teridam, matanya semakin memerah, airmata mulai menggenang di kelopak matanya, antara marah dan sedih berkecamuk dihatinya.
“Dia membiayai ibu dari hasil menjadi istri bayaran,” kata Martin lagi, sengaja mengompori.
Bu Vina semkin terpuruk mendengarnya, dirasanya kepalanya sudah mulai pusing dan dadanya yang sesak.
“Aku heran pada Shezie, padahal aku ingin menjadikannya istri sebenarnya, tapi dia memilih jadi istri bayaran orang untuk mendapatkan uang. Kurang apa aku ini, masih mau menerima dia apa adanya, meskipun tahu dia menjadi istri bayaran pria lain, tapi ibu lihat sekarang, Shezie pergi tanpa memberitahuku padahal aku sedang menyiapkan acara pernikahan untuk kita,” kata Martin.
“Apa kau tahu dimana dia tinggal?” tanya Bu Vina, dengan suara lirih karena merasakan dadanya yang semakin sesak.
“Aku tidak tahu,” jawab Martin.
“Tapi aku bisa mencari tahu. Ibu tunggu sebentar,” lanjutnya lalu mengeluarkan ponselnya dan keluar dari ruangan itu, diapun menelpon Andrea meminta alamat rumahnya Henry dan Shezie. Andrea menyebutkan tempat tinggalnya Henry dan Shezie.
Martin kembali kedalam ruangan.
“Baiklah kita berangkat kesana,” kata Bu Vina sambil membuka selimutnya dan mencabut infusannya.
“Bu, mau kemana? Ibu masih harus dirawat,” kata Suster Meli yang dari tadi ada diruangan itu, tidak mengerti dengan percapakan mereka.
“Aku akan pulang,” kata Bu Vina.
“Tidak bisa Bu, Ibu masih harus dirawat,” ucap suster Meli, memegang tangannya Bu Vina yang mencabut infusan.
“Aku tetap akan pulang!” jawab Bu Vina menepiskan tangannya perawat itu.
“Bi Ijah, bereskan barang-barangku,” kata Bu Vina, dengan kondisi masih lemah turun dari tempat tidur.
“Nak Martin, antar ibu ke rumah tempat Shezie tinggal,” kata Bu VIna.
“Baik Bu,” jawab Martin sambil tersenyum. Dia merasa puas sekarang, yang pasti dia tidak akan membuat hubungan Shezie dan Henry berjalan mulus. Shezie sudah bermain-main dengannya tentu saja dia tidak akan membiarkannya begitu saja.
Bu Vina bergegas keluar dari ruangan itu dibantu Martin, begitu juga dengan BI Ijah yag mengemas baju bajunya Bu Vina dengan cepat. Tidak dihiraukannya suster melarang Bu Vina keluar dari rumah sakit.
“Bu, ibu masih dalam kondisi perawatan,” kata Suster Meli, menyusul Bu Vina yang sudah sampai pintu.
“Aku tetap harus pulang,” kata Bu Vina.
“Baiklah kalau ibu memaksa, tapi tolong tunggu sebentar ini harus ada surat yang ibu tandatangani kalau ibu memaksa untuk pulang padahal masih dalam kondisi tidak memungkinkan untuk pulang,” ujar suster Meli.
Akhirnya Bu Vina menunggu sebentar suster Meli mengambilkan surat pernyataan pulang paksa. Setelah itu barulah Martin membawa Bu Vina keluar dari rumah sakit itu.
Mobil Martin melaju menuju rumahnya yang ditempati oleh Henry dan Shezie.
Airmata terus mengalir di pipinya Bu Vina, dia tidak menyangka kalau putrinya benar-benar bekerja menjadi istri bayaran. Dia tidak sudi pengobatannya dari hasil pekerjaan seperti itu. Dia tidak habis fikir kenapa Shezie sampai mau bekerja seperti itu padahal Martin selalu memintanya untuk menjadi istrinya.
Kenapa Shezie memilih menjadi istri bayaran daripada pernikahan yang sebenarnya dengan Martin. Apakah demi dirinya supaya bisa berobat? Dia sudah wanti-wanti pada Shezie untuk tidak melakukan hal yang buruk untuk mencari uang. Dia sudah mengatakan kalau dia lebih baik mati daripada mendapatkan uang dari jalan yang tidak baik. Kenapa Shezie tidak menuruti perkataannya? Kenapa?
Mobil berhenti di depan gerbang rumahnya Henry dan Shezie.
Bu Vina menatap rumah megah itu, rumah yang sangat mewah. Jadi disini Shezie tinggal? Putrinya benar-benar rela menjual dirinya demi uang? Bu Vina menghapus airmata yang menetes di pipinya, dia merasa bersalah karena penyakitnya telah membuat putrinya melakukan hal yang buruk, menyebabkan putrinya terjerumus pada jalan yang tidak benar.
Bu Vina langsung turun dari mobilnya diikuti oleh Martin.
“Mau mencari siapa Bu?” tanya Pak Satpam saat melihat Bu Vina berdiri di gerbang.
Bu Vina menatap satpam yang menghampirinya.
“Shezia. Apakah Shezie tinggal disisni?” tanya Bu Vina.
“Bu Shezie? Benar,” jawab Pak satpam.
Mendengarnya membuat Bu Vina semakin bersedih, berarti memang benar Shezie tinggal dirumah ini sebagai istri bayarannya pria itu. Pantas saja dia melihat Shezie tidur dipangkuan pria itu, ternyata mereka ada hubungan.
“Apakah aku bisa bertemu dengannya?” tanya Bu Vina.
“Bu Shezie sedang pergi dengan Pak Henry keluar negeri,” jawab Pak Satpam.
Bu Vina pun terdiam sesaat, jadi benar, ini alasan sebenarnya kenapa Shezie mengirim perawat khusus untuknya, ternyata karena dia sedang pergi dengan pria itu.
Bu Vina sudah yakin kalau hubungan Shezie dengan pria itu tidak benar, kalau mereka benar-benar terjalin dalam pernikahan yang sebenarnya seharusnya Shezie meminta restu untuk menikah, tidak dengan merahasiakannya semua ini.
Martin berdiri bersandar ke mobil sambil tersenyum sinis. Dia sangat kesal dengan kelakuan Shezie yang tidak memperdulikan perasaannya. Dia benar-benar hilang kesabaran, dia akan membalas perlakuannya Shezie padanya. Dia tidak peduli kalau setelah kejadian ini Bu Vina drop atau mati sekalipun, tidak, jangan mati dulu, dia harus berhasil menikahi Shezie, setelah itu dia tidak akan pernah membiayai pengobatan Bu Vina, biar saja ibunya Shezie mati.
Ini semua balasan atas perlakuan Shezie yang mempermainkannya, lihat saja nanti apa yang akan dilakukannya jika bisa menikahi Shezie. Dia pastikan Shezie tidak akan pernah bahagia menjadi istrinya. Rasa dendam dihati Martin semakin menjadi-jadi.
Martin berjalan mendekati Bu Vina yang juga menghampirinya.
“Bagaimana Bu?” tanya Martin.
“Shezie dan pria itu sedang keluar negeri,” jawab Bu Vina.
“Sekarang ibu yakin kan, kalau Shezie sudah berbohong?” tanya Martin semakin mengompori Bu Vina.
“Shezie menikahi pria hidung belang yang memanfaatkannya menjadi istri bayaran karena tahu Shezie membutuhkan uang,” lanjut Martin.
Bu Vina tidak bisa menahan tangisnya lagi, dia berjalan ke mobilnya Martin dengan hati yang terluka, tersakiti dengan sikap putrinya.
Martin segera membukakan pintu mobil Bu Vinapun masuk kedalam mobilnya.
“Antarkan ibu pulang nak,” kata Bu Vina.
“Baik Bu,” jawab Martin sambil menutup pintu mobilnya.
Hati Martin sangat senang, dia yakin Shezie sudah tidak akan termaafkan lagi oleh Bu Vina. Bu Vina akan membenci Henry dan pria itu tidak akan pernah bisa menjadi suaminya Shezie yang sebenarnya selama-lamanya, tidak akan pernah bisa.
Martinpun segera masuk kedalam mobilnya. Tidak berapa lama mobil itu meluncur meninggalkan rumahnya Henry. Pak Satpam terdiam memperhatikan mobil itu pergi. Tiba-tiba dia teringat sesuatu, kenapa dia tidak menanyakan nama orang itu? Melihat wanita tadi yang langsung pergi ke mobilnya membuatnya lupa untuk menanyakan namanya.
**********