Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH 35 Awal Pertengkaran



Teman-temannya Andrea menoleh pada Andrea.


“Kau mengenalnya?” tanya mereka.


“Gadis perebut pacar orang itu!” jawab Andrea.


“Dia yang merebut Henry darimu?” tanya temannya yang lain.


“Benar, kau lihat? Henry benar-benar bodoh, dia menikahi seorang pelayan café, sudah bisa kalian lihat kan, pastilah dia yang merayu rayu merendahkann dirinya pada Henry makanya dinikahi,” kata Andrea, sambil tersenyum sinis menatap Shezie.


Shezie merasa marah mendapat cemoohan dari Andrea, tapi dia mencoba bersabar, karena dia tidak mau membuat keributan atau dia akan dipecat dari pekerjaannya.


“Setelah merebut Henry dariku kau fikir kau akan hidup senang? Ha, ternyata sifat pelit pria itu dibawa sampai menikah! Sangat memalukan, punya suami kaya masih jadi pelayan café,” ucap Andrea, tertawa sinis diiku


Shezie semakin merasakan amarah yang memuncak, dia ingin membalas perkataannya Andrea tapi dia kembali teringat perkerjaannya, dia tidak boleh terpancing emosi, darimana lagi dia harus menghidupi ibunya dengan berbekal  pendidikan SMA, akan bekerja apa di kota besar ini? Shezie kembali mencoba bersabar.


“Apa tidak ada makanan yang akan kalian pesan?” tanya Shezie mulai jengkel.


Andrea mengeluarkan ponselnya dan tiba-tiba ponselnya di arahkan pada Shezie dia memfoto Shezie beberapa kali.


“Hei apa yang kau lakukan?” teriak Shezie dengan keras. Tangannya akan merebut ponselnya Andrea tapi Andrea menjauhkannya.


“Aku ingin tahu bagaimana reaksi Henry kalau tahu semua teman-temennya tahu istrinya hanya seorang palayan café,” ucap Andrea sambil tertawa.


Shezie akan  merebut lagi ponsel Andrea, tapi gerakannya terhenti karena Managernya sudah berdiri disampingnya.


“Apakah ada masalah?” tanya Managernya sambil melirik kepada Shezie dengan tajam, dia mendengar Shezie berteriak jadi segera menghampiri meja itu.


“Ah tidak, hanya saja aku tidak ingin dilayani oleh pelayan ini, apa tidak ada pelayan yang lain?” tanya Andrea.


Manager café menoleh pada Shezie.


“Kau layani meja yang lain,” ucapnya.


Sheziepun beranjak meninggalkan meja itu. Manager café memanggil Anita supaya datang ke meja itu dan menuliskan pesanan dari tamu-tamunya.  Setelah itu Manager café meninggalkan meja itu dan memanggil Shezie ke kantornya.


“Aku sudah memperingatkanmu kalau aku bisa memecatmu karena kau sering ijin, dan sekarang kau membuat masalah dengan tamu-tamu itu.” kata Manager café menatap tajam Shezie.


“Apa kau sudah tidak ingin bekerja lagi disini?” tanya Manager café.


“Maaf Pak, aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi” jawab Shezie, meskipun dia tahu Andrea yang memulai keributan tapi pelanggannya adalah raja jadi tetap dia yang akan disalahkan.


Andrea melihat hasil fotonya sambil tersenyum sinis.


“Apa yang akan kau lakukan dengan foto itu?” tanya temannya Andrea.


Andrea tidak menjawab, dia mengetikkan sesuatu di ponselnya dan mengirimkan fotonya Shezie itu pada Henry juga di share ke ibunya dan beberapa teman Henry.


Henry sedang berada di kantornya saat mendapatkan pesan dari Andrea, dia terkejut saat membacanya.


‘Sangat memalukan istri pengusaha kaya bekerja jadi pelayan café, apa kau sudah tidak mampu memberinya makan?’


Henry langsung naik darah saat membacanya, apalagi ada foto Shezie segala dengan seragam pelayan café. Sudah dipastikan Andrea bukan mengirimkan itu padanya saja tapi juga pada yang lain.


Henry menahan amarahnya, apalagi saat Damian masuk ruang kerjanya langsung menatapnya tajam.


“Kau sudah mendapatkan pesan itu?” tanya Damian.


“Ya ayah,” jawab Henry.


“Kenapa kau membiarkan istrimu bekerja menjadi pelayan café? Apa kau tidak memberinya uang?” maki Damian, wajahnya memerah menahan marah karena foto itu tersebar diantara rekan-rekan bisnisnya dan tentu saja dia jadi cemoohan, seorang Milyarder membiarkan menantunya menjadi pelayan café, sangat menjatuhkan harga dirinya.


“Aku tidak tahu kalau Shezie masih bekerja disana!” jawab Henry.


“Kau urus istrimu, jangan membuat malu!” maki Damian, dengan wajah masam, apa yang orang-orang katakan melihat kenyataan itu? Padahal dia mampu untuk membuat sebuah café yang lebih besar dari itu.


Setelah Damian pergi, Hanna yang menelpon Henry.


“Henry, apa-apan ini? Ibu-ibu mencemooh kita tidak bisa memberi makan menantu! Kenapa kau biarkan istrimu bekerja di café?” maki Hanna. Dia sangat terkejut saat Bu Emi mengirimkan foto Shezie berseragam pelayan café.


“Aku akan menjemput Shezie sekarang juga,” kata Henry, dia langsung menutup ponselnya, lalu bangun dari duduknya, keluar dari ruang kerjanya. Dia benar-benar marah pada Shezie kenapa gadis itu membuat keluarganya malu


Henry mengendarai mobilnya dengan kencang, ditinggalkannya semua perkejaannya dikantor, dia menuju tempat café dimana Shezie bekerja. Dia sangat kesal pada gadis itu. Dibelikan baju di butik dia malah memakai baju lamanya, diberikan mobil dan supir dia malah naik bis, dan sekarang dia bekerja di café. Sudah dia katakan dia akan memberikan uang bulanan padanya, semua kebutuhan terpenuhi, kenapa harus membuat masalah seperti ini? Sudah tidak terbayangkan orang-orang menghujat keluarga mereka.


Sesampainya di café, Henry langsung masuk ke dalam, dia berdiri mengedarkan padangannya ke setiap sudut café itu.


“Siang Tuan, silahkan masuk, ada meja kosong disebelah sana!” kata Anita, sambil tersenyum ramah, dia tidak berkedip menatap wajah tampan itu.


Henry menatap Anita yang langsung merasa gugup mendapat tatapan dari pria itu. Dia sudah bisa menebak pria ini selain tampan pastilah orang kaya bisa di lihat dari penampilannya.


“Aku mencari Shezie,” kata Henry.


“Shezie?” tanya Anita, keheranan, biasanya Martin yang mencari Shezie, ternyata ada pria lainyang mencari temannya itu.


“Iya,” jawab Henry.


 “Dari siapa?” tanya Anita dengan kecewa, kenapa pria-pria tampan selalu mencari Shezie?


“Suaminya,” jawab Henry, sontak membuat Anita terkejut, sejak kapan Shezie menikah dengan pria tampan ini? Dia tidak menyangka kalau suami Shezie setajir ini, dia tadi sempat  melihat pria ini memarkir mobil mewahnya di depan café.


“Su, suaminya?” ulang Anita tidak percaya.


“Iya,” jawab Henry, dengan wajah tanpa senyum.


“Tunggu sebentar,” jawab Anita, lalu meninggalkan Henry yang masih berdiri mematung melihat kesekeliling, dia mencari-cari apakah Andrea masih ada disana ternyata Andrea sudah pulang.


Anita berlari menghampiri Shezie dengan tergesa-gesa, temannya itu sedang berada diloket dapur, menyampaikan pesanan dari beberapa meja.


“Shezie!” panggil Anita.


“Ada apa?” tanya Shezie.


“Ada tamu!” jawab Anita.


“Kau layani saja dulu, aku sedang sibuk,” kata Shezie.


“Bukan, maksudku tamu untukmu,” ucap Anita.


“Tamu? Tamu siapa?” tanya Shezie, sambil menyebutkan pesanan pada koki café yang ada dibalik loket dapur.


“Si tampan,” jawab Anita.


“Mendengar lata si tampan Shezie langsung lesu, dia malas bertemu dengan Martin.


“Martin maksudmu? Bilang saja aku sibuk!” kata Shezie tanpa menoleh.


“Bukan, suamimu!” jawab Anita membuat Shezie terkejut dan menoleh pada Anita.


“Suami?” tanya Shezie, dengan jantung yang berdebar kencang, apa benar Henry datang ke cafenya?


“Iya, katanya dia suamimu,” jawab Anita.


“Ada dimana dia?” tanya Shezie.


“Di pintu,” jawab Anita. Shezie langsung meninggalkan loket dapur itu, dia heran apa benar Henry yang datang? Anita kepo mengikuti langkahnya Shezie, dia penasaran apa benar pria tampan dan kaya itu adalah suaminya Shezie?


Shezie berjalan menuju pintu masuk, benar saja ada Henry masih berdiri di dekat pintu masuk.


Henry melihat istrinya itu muncul dengan baju pelayan café itu, tidak bias menahan marahnya.


“Ada apa? Kenapa kau kemari?” tanya Shezie, sambil menghampiri.


“Ayo pulang!” ujar Henry, bukan ajakan lagi, tapi lebih ke perintah.


“Pulang? Buat apa pulang? Aku sedang bekerja,” jawab Shezie.


“Kataku pulang, pulang!” bentak Henry dengan kesal.


“Aku tidak mau nanti aku dipecat!” ucap Shezie.


Henry tidak bicara lagi, dia langsung meraih tangannya Shezie.


“Lepaskan! Aku tidak mau pulang!” seru Shezie dengan keras sambil menepis tangannya Henry.


Anita melihat adegan itu dibalik sebuah pas bunga yang besar. Dia masih tidak menyangka kalau pria tajir itu suaminya Shezie.


***********