Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-134 Jangan pernah pergi dariku



Beberapa hari kemudian, Hanna sedang berada dikamarnya saat Bu Astrid memberitahunya ada Cristian datang.


“Sayang, ada Cristian, katanya ada hal penting yang ingin disampaikan,” kata Bu Astrid.


Hanna mengerutkan dahinya, ada apa Cristian datang sehari sebelum pernikahannya dengan dirinya?


Pria itu yang esok hari akan menjadi suaminya, sedang duduk diruang tamu. Saat Hanna muncul dia langsung berdiri dan tersenyum. Hanna membalas senyumnya.


“Aku ingin mengajakmu keluar,” kata Cristian.


“Besok kita akan menikah, bukankan itu hal yang tidak baik? Kata orangtua pamali pengantin bertemu disaat akan menikah,” kata Hanna. Dia teringat saat Sherli datang dimalam menjelang pernikahannya dengan Cristian.


Cristian malah tersenyum.


“Kau ini terlalu banyak berfikir macam-macam, sebentar saja,” kata Cristian.


Hanna menatapnya dengan bingung. Sebenarnya dia malas keluar dengan Cristian, dia hanya ingin mengurung diri saja didalam kamarnya, dia tidak mau kemana-mana, tapi dia juga tidak mau mengecewakan Cristian, diapun mengangguk.


Setelah berganti pakaian, Hanna pergi bersama Cristian. Ternyata Cristian mengajaknya ke pantai tempat biasa mereka nongkrong.


“Ada apa kau mengajakku kesini? Padahal bicara saja di rumah,” tanya Hanna, sambil duduk di sebuah pohon besar yang tumbang dibelah menjadi dua, kayunya dibuat untuk tepat duduk duduk.


Angin saat itu terasa kencang dan ombak bergulung-gulung sangat tinggi.


“Besok kita akan menikah, sebelum menikah ada yang ingin aku tanyakan padamu,” ucap Cristian, duduk disamping Hanna.


“Soal apa?” tanya Hanna.


“Aku mau bertanya sekali lagi, apakah kau mau menikah denganku?” tanya Criatian menoleh pada Hanna. Ditanya begitu Hannapun menoleh pada Cristian, mata mereka saling bertemu.


“Kenapa kau bertanya begitu?” tanya Hanna.


“Aku tidak mau kau menyesal,” jawab Cristian.


“Apa maksudmu?” Hanna semakin keheranan.


“Kau tahu, aku sangat menyayangimu,” kata Cristian.


“Ya aku tahu,” jawab Hanna, dia mengalihkan pandangannya melihat kearah pantai.


“Sebelum menikah besok, aku ingin kau mengeluarkan isi hatimu berteriak melawan suara ombak seperti yang biasa kita lakukan,” kata Cristian.


“Kau ini bicara apa?” tanya Hanna, dia kembali menatap Cristian.


Cristian tidak menjawab, dia turun dari tempat duduknya, menarik tangan Hanna turun dari tempat duduknya, mengajaknya berlari lebih dekat ke pantai itu yang ombaknya semakin tinggi saja, juga angin berhenbus sangat kencang.


“Aku ingin kau melepaskan bebanmu disini, buang bebanmu disini supaya hatimu lebih lega,” kata Cristian.


“Kau ini bicara apa, aku tidak sedang kesal,” ucap Hanna.


“Aku tidak mau kau lari lagi di pernikahanmu besok, jadi dari pada kau memendam perasaanmu seperti itu, lebih baik kau mengeluarkannya sekarang. Kalau kau tidak mau aku mendengarnya, aku akan memberi waktu padamu 10 menit, sekalian aku mau membeli minuman,” kata Cristian.


“Baiklah, aku akan berteriak sekencang-kencangnya,” jawab Hanna.


Cristian tersenyum, tangannya mengusap rambutnya Hanna, lalu dia pergi.


Hanna menatap lagi kearah ombak yang bergulung-gulung mendekat kearahnya. Dia bingung apa yang harus diteriakkannya disini? Dia harus berteriak sebelum menikah dengan Cristian. Apa yang ingin diteriakkannya?


Hannapun menatap pantai itu lalu tersenyum, besok adalah hari pernikahannya dengan Cristian, itu artinya dia selamanya akan terikat bersama Cristian. Cristian adalah pria yang sangat baik, dia yakin dia akan bahagia bersama Cristian.


“Woooi ombaaak!” Hanna mulai berteriak.


“Apa kau tahu aku akan menikah besok!” teriaknya lagi.


“Aku akan menikah dengan pria yang sangat baik, aku sangat bahagia!” teriaknya.


Lalu diapun diam, apa benar dia bahagia?


“Besok adalah hari bahagiaku!” teriaknya lagi. Kemidian dia diam lagi, apa benar besok hari bahagia atau sebaliknya? Rasa sedih dihatinya malah muncul.


“Aku mecintaimu Damian!” ucapnya tiba-tiba.


Hannapun tidak bisa menahan tangisnya yang pecah begitu saja, lalu dia menghapus airmatanya. Impiannya menikah dengan Damian hilang sudah, kebersamaanya dengan Damian hanyalah sebuah kenangan yang harus dilupakannya.


“Ombaaak! Apakah kau bisa menyampaikan sesuatu?” teriaknya lagi, setelah tangisnya reda.


“Katakan padanya! Katakan pada pria yang entah sekarang ada dimana!” teriaknya lagi.


“Ombaaak! Bawa cintaku padanya! Katakan aku mencintainya!” teriaknya lagi.


“Ombaak! Katakan aku mencintainya!” ulangnya.


Kerongkongannya terasa tersekat, dia sangat sedih mengatakannya, dia sangat merindukan Damian.


“Damian, kau dimana?” tanya Hanna dengan suara pelan, kembali menghela nafasnya menenanglan dirinya, dia mencoba menerima kenyataan kalau Damian sudah pergi.


“Aku tidak tahu kalau kau punya kebiasan buruk berteriak-teriak dipantai,” terdengar suara seseorang dibelakangnya.


“Cristian, kau kan tahu aku memang suka berteriak-teriak, kenapa kau datang lebih cepat?” tanya Hanna terkejut, kenapa Cristian sudah kembali? Apakah sudah 10 menit? Apakah Cristian mendengar teriakannya tadi?


“Aku juga ingin berteriak!” kata suara itu.


“Ya berteriaklah, kau juga suka berteriak,” ucap Hanna, meskipun dia agak keheranan rasanya suara Cristian agak berbeda sekarang, sangat mirip suara Damian, tapi tidak mungkin Damian yang ada dibelakangnya.


“Hanna! Aku mencintaimu!” teriak suara disampingnya.


Mendengar teriakan itu, Hannapun menoleh pada pria yang berteriak itu.


Pria itu kembali berteriak.


“Ombaaak! Katakan padanya aku mencintainya!” teriaknya.


Jantung Hanna sekan berhenti berdetak, melihat siapa pria yang berteriak itu. Matanya langsung berkaca-kaca, tetes airamata tidak tertahankan lagi jatuh membasahi pipinya. Matanya menatap mata pria itu yang kini menatapnya.


“Damian!” panggilnya.


Pria itu menatap gadis yang sudah berurai airmata itu, dia juga merasa sedih melihatnya, dia merasa bersalah sudah memberikan luka pada gadis yang dicintainya.


“Damian, aku merindukanmu!” ucap Hanna.


Damian merentangkan tangannya. “Kemarilah,” ucapnya.


Hanna langsung berhambur memeluknya, memeluk Damian dengan erat dan menangis dalam pelukan pria itu.


“Aku mencintaimu, Damian,” ucapnya, menyusupkan kepalanya didadanya Damian.


Damian memeluk Hanna dengan erat, mencium rambutnya berkali-kali.


“Aku sangat merindukanmu,” ucap Hanna, disela isaknya.


“Aku juga,” ucap Damian.


Hanna menengadah menatap Damian disela matanya yang berlinang.


Tangan Damian menghapus tetes-tetes airmata di pipinya Hanna.


“Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu lagi,” kata Damian.


Hanna kembali menyusupkan wajahnya kedadanya Damian.


“Jangan pergi lagi, aku ingin kau selalu memelukku,” ucap Hanna.


“Aku ingin setiap aku bangun kau ada disampingku,” kata Hanna lagi.


Damian melepas pelukannya. Kedua tangannya memegang wajahnya Hanna. Sambil jemarinya kembali menghapus airmatanya.


“Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu lagi, aku minta maaf sudah membuatmu menangis,” ucap Damian, lalu mencium keningnya Hanna.


“Tapi aku akan menikah besok,” ucap Hanna.


“Iya,” jawab Damian, mengangguk.


“Aku akan menikah besok,” ulang Hanna.


“Iya, kita menikah besok,” jawab Damian.


“Kita?” tanya Hanna, dia sangat terkejut dengan perkataan Damian.


“Apa maksudmu kita?” tanya Hanna.


“Iya kita menikah besok,” jawab Damian.


“Bukan kita, tapi aku dengan Cris…” tiba-tiba Hanna menghentikan kata-katanya, dia baru sadar kalau tidak ada Cristian disana, matanyapun mencari-cari kemana Cristian?


Matanya terhenti pada sosok pria yang berdiri menatapnya dikejauhan. Cristian berdiri menatap mereka. Matanya bertemu dengan pandangannya Cristian. Pria itu tersenyum dan melambaikan tangannya pada Hanna, membuat Hanna kebingungan. Apakah ini maksud Cristian mengajaknya keluar untuk mempertemukannya dengan Damian?


Cristian kembali melambaikan tangannya lalu membalikkan badannya meninggalkan pantai itu. Hanna terdiam melihat kepergiannya. Dia merasa sedih, dia tahu Cristian bersedih dengan kembalinya Damian.


Tidak berapa lama Hanna melihat ada Sherli menghampiri Cristian, mereka bercakap-cakap, Sherli sempat menoleh kearahnya, lalu mereka berdua meninggalkan pantai itu. Melihatnya Hanna merasa lega, ada Sherli yang akan menemani Cristian melewati kesedihannya.


Hanna kembali menoleh pada Damian, menatap pria itu lagi.


Hanna tidak tahu apakah dia harus senang atau bersedih. Dia bahagia bisa bertemu lagi dengan Damian, tapi dia juga tahu Cristian pasti bersedih. Cristian harus tahu kalau Sherli sangat mencintainya.


“Tidak bisakah kau tidak menangis lagi? Aku tidak suka melihatmu menangis,” ucap Damian.


“Cristian, kau bertemu dengan Cristian?” tanya Hanna.


“Iya,” jawab Damian.


“Cristian tahu kau kakaknya?” tanya Hanna.


“Iya,” jawab Damian.


Hannapun terdiam,dia terharu dengan kebesaran hatinya Cristian.


“Kita akan menikah besok,” ucap Damian.


“Kau serius?” tanya Hanna.


“Iya, tapi sebelum pernikahan besok, maukah kau berjanji padaku?” tanya Damian.


“Apa?” tanya Hanna.


“Kau jangan pergi dari pernikahan kita,” kata Damian.


Mendengarnya membuat Hanna tertawa.


“Mana mungkin, tentu saja aku tidak akan kabur,” ucap Hanna.


“Aku senang mendengarnya,” jawab Damian, lalu mencium pipinya Hanna.


Mereka saling menatap, hati Hanna begitu senang akhirnya Damian kembali padanya.


Damian membalikkan badannya kearah pantai dan berteriak.


“Damian!” teriaknya. Damian meliriknya memperhatikan gadis itu berteriak.


“Damiaan! Aku mencintaimu!” teriak Hanna, lalu menoleh pada Damian dan tersenyum, dia benar-benar bahagia hari ini.


Damian melihat kearah pantai itu diapun berteriak.


“Aku juga mencintaimu, Hannaa!” teriaknya.


Hanna tersenyum, dia senang mendengar kata-kata itu, diapun kembali melihat kearah ombak.


“Ombaaak! Katakan padanya! Aku akan menghukumnya jika dia pergi lagi dariku!” teriak Hanna.


“Ombaaak! Katakan padanya! Aku berjanji akan bersamanya selamanyaaa!” teriak Damian.


Hanna kembali menoleh pada Damian, senyum itu tidak pernah lepas dari bibirnya, dia benar-benar bahagia.


“Aku mencintaimu!” ucap Hanna.


“Aku juga,” jawab Damian.


“Benarkah kita akan menikah besok?” tanya Hanna, memastikan.


“Iya, kita akan menikah besok, kau akan jadi pengantinku besok, kau akan jadi istriku yang sesungguhnya,” jawab Damian.


“Aku akan berteriak lagi!” ucap Hanna.


“Jangan berteriak lagi, nanti kau sakit tenggorokan. Bisa-bisa besok suaramu serak,” kata Damian.


“Aku sudah terbiasa berteriak,” ucap Hanna.


Hanna kembali menghadap arah ombak yang kembali bergulung gulung mendekati kakinya.


“Ombaaak!” teriaknya.


“Aku bahagiaaaa! Kekasihku telah kembali! “ teriaknya tidak henti-hentinya mengatakan kata-kata  itu.


Damian hanya memperhatikannya dan tersenyum, dia juga bahagia melihat kekasih hatinya itu juga bahagia.


*********


Untuk info novel selanjutnya, jangan lupa follow ig ku ya. @rr_maesa


CEO & SHE, genrenya masih komedi romantic.


Besok yang mau datang ke undangan pernikahan Hanna dan Damian jangan lupa angpaunya.


*********