
Damian menatap wanita paruh baya yang sedang berdiri menatapnya itu. Melihatnya malah membuat Damian diam mematung, membuat orang-orang disekitarnya menoleh kearah pandangannya Damian. Mereka tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Wanita yang sedang menatapnya itu kembali melangkahkan kakinya mendekati Damian. Wajahnya semakin terlihat jelas oleh Damian, wajah puluhan tahun yang lalu yang tidak pernah lagi dilihat oleh Damian kecil.
Orang-orang yang disekitar Damian spontan menjauh, mereka semakin bertanya-tanya siapa wanita itu.
Damian masih diam mematung tidak percaya dengan penglihatannya, semuanya bagaikan mimpi disiang bolong. Matanya tidak beralih menatap wanita itu, tidak ada yang berubah dengan wajah itu hanya sekarang mungkin sedikit ada kerut-kerut di kening wanita yang sedang menatapnya itu, kini berhenti tepat didepannya, menatapnya dengan linangan airmata.
“Ibu!” ucap Damian terbata. Kata yang tidak pernah dia ucapkan lagi, bahkan dia enggan memanggil ibu tirinya dengan sebutan ibu.
Orang-orang semakin terkejut saat Damian mengucapkan kata ibu. Suasana sangat hening begitu hening. Bahkan suara ombak dan angin mendadak lenyap juga suara pengendara di jalan raya mendadak lengang dan begitu sepi.
“Ibu,” ulang Damian,dengan bibir yang bergetar, matanya mulai berkaca-kaca.
Berbagai perasaan muncul dalam hatinya, sedih dan haru, tidak menyangka dia akan melihat sosok ibunya yang sangat dirindukannya, sosok ibu yang tidak pernah dilihatnya lagi ketika dia masih kecil dan wajah itu, wajah itulah yang selalu dimimpikannya selama ini, yang jadi mimpi buruk disetiap tidurnya.
Perlahan airmata itu menetes dipipinya, sekarang dia bagaikan kembali ke masa lalu, seorang Damian kecil yang menangisi kepergian ibunya.
“Putraku, Damian,” ucap Bu Sony dengan lirih.
Ibunya Damian itu sudah tidak bisa membendung lagi perasaannya, airmatanya tumpah membasahi pipinya. Sudah tidak bisa diragukan lagi pria muda yang ada di depannya itu adalah putranya yang ditinggalkannya bertahun-tahuan yang lalu, meskipun waktu itu Damian masih sangat kecil tapi dia hafal betul tatapan dari putranya itu.
“Ibu,” panggil Damian, diapun terisak. Dia seorang pria dewasa yang pantang menangis, tapi sekarang melihat ibunya kembali membuat tangis dimasa kecilnya saat berpisah itu kembali dirasakannya.
“Ibu! Ibu!” seru Damian.
Damian melangkah semakin mendekati ibunya, dia merasakan kakinya yang semakin lemas, diapun langsung bersimpuh dikaki ibunya, pertahanannya runtuh, diapun menangis sambil memeluk kaki ibunya.
Rasanya tidak percaya dia akan bertemu dengan ibunya lagi setelah penantian yang bertahun tahun lamanya, setelah pencarian yang di lakukannya tanpa lelah, setelah sekian banyak rindu yang bertumpuk didadanya, akhirnya dia bisa melihat ibunya lagi.
Bu Sony meraih pundak putranya mengajak berdiri, lalu ditatapnya wajah putranya itu diantara genangan airmata di bola matanya.
“Damian, putraku,” ucapnya sambil terisak, kedua tangannya menyentuh kepala Damian.
Damian menunduk, airmatanya menetes jatuh ke tanah. Cepat cepat dihapusnya dengan kedua tangannya.
“Aku Damian, Bu,” ucap Damian ,menganggukkan kepalanya, dia berusaha tegar menatap ibunya.
Bu Sony langsung memeluk Damian dengan erat, diapun menangis dalam pelukannya Damian yang juga memeluk ibunya dengan erat, dia tidak menyangka bisa bertemu dengan ibunya lagi. Tangis mereka tumpah ruah, membuat yang melihatnya ikut bersedih, sebagian ada yang menangis begitu juga dengan Bu Astrid dan Ny.Sofia.
“Putraku, Damian,” ucap ibunya lagi, disela isak tangisnya, sambil melepaskan pelukannya dan menghapus airmata di pipinya.
“Ibu minta maaf, nak!” ucap ibunya, kini menengadah menatap wajahnya Damian, tangannya langsung menghapus airmata dipipinya Damian.
“Maaf ibu sudah meninggalkanmu, kau sudah dewasa sekarang, kau sangat tampan, kau sangat gagah, kau terawat dengan baik, ibu bahagia melihatnya,” ucap ibunya.
Kedua tangan ibunya Damian mengusap-usap lengan Damian yang kokoh, mengusap dadanya yang bidang, lalu mengusap rambutnya Damian juga menyentuh wajahnya. Dia merasa yang ada di hadapannya adalah Damian kecil.
“Kau benar-benar sudah dewasa sekarang,” ucapnya, menatapnya dari atas sampai bawah, memeriksanya seakan-akan takut ada bagian tubuh dari putranya yang kurang.
Kedua tangan ibunya kembali mengusap wajahnya Damian.
“Ibu sangat merindukanmu, ibu selalu datang ke rumah kita yang dulu tapi..tapi rumah itu sudah terjual, kau tidak tinggal lagi disana,” kata ibunya, dengan terbata-bata, mencoba menenangkan dirinya dari tangis yang dirasanya ingin pecah kembali.
Tangan Damian menyentuh wajah ibunya, wajah yang selau dirindukannya, wajah yang selalu dilihatnya dalam dompetnya bertahun-tahun.
“Aku juga merindukanmu Bu, bertahun-tahun aku memimpikanmu, setiap malam aku bermimpi saat kita berpisah, aku sangat merindukanmu,” ucap Damian, matanya kembali berkaca-kaca. Lalu dia mengeluarkan dompetnya dan membukanya, memperlihatkannya pada ibunya.
“Lihat Bu, Aku selalu membawa foto ibu kemanapun aku pergi, lihat,” ucap Damian seakan seperti anak kecil yang sedang mengadu pada ibunya.
Ibunya langsung menangis lagi melihat foto dirinya dimasa muda ada dalam dompetnya Damian, dompet yang dia temukan saat dipasar itu ternyata benar pemiliknya adalah Damian.
Hati ibunya Damian semakin merasa sakit tersayat-sayat, dia bisa merasakan bagaiman penderitaan Damian ditinggal olehnya berahun-tahun. Bu Sony kembali memeluk Damian, menangis dipelukan putranya.
“Maafkan ibu,Nak, maafkan ibu,” ucapnya.
Semua mata yang melihat kejadian itu tertegun tidak berkata apa-apa,mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, hanya mereka bisa menilai kalau apa yang mereka lihat itu adalah seorang ibu dan anak yang baru bertemu setelah bertahun-tahun berpisah.
Bu Astrid dan Ny.Sofia terisak-isak tidak jauh dari mereka. Mereka juga bisa membayangkan bagaimana rasanya kalau berpisah dengan anak mereka bertahun tahun lamanya dan baru bertemu lagi disaat putra mereka sudah dewasa.
Satria terbengong-bengong tidak mengerti apa yang terjadi, tapi kemudian barulah dia tahu kalau wanita yang sedang dipeluk Damian itu adalah ibunya. Diapun jadi terharu, matanya ikut berkaca-kaca.
Ny.Sofia berjalan mendekat menghampiri mereka.
“Aku senag kalian sudah bisa bertemu,” ucap Ny.Sofia, sambil menghapus air matanya. Diapun menatap Damian.
“Setidaknya kau harus tahu, aku tidak pernah memisahkanmu dari ibumu,” ucap Ny.Sofia.
Damian tidak menjawab. Bu Sony menoleh pada Ny.Sofia.
“Trimakasih kau sudah menjaga putraku,” kata ibunya Damian.
Damian sama sekali tidak bicara, dia hanya menatap ibunya, wajah yang sangat dirindukannya. Disaat anak-anak berlari mengadu pada ibunya jika ada anak yang nakal, dia hanya bisa sendiri mengatasi kesedihannya, menangis sendiri dalam kamarnya.
Saat Satria mengeluh dan mengadu pada ibu tirinya, dia hanya bisa menatapnya. Meskipun ibu tirinya sudah bersikap manis, dia tetap tidak bisa menerimanya sebagai ibunya. Ibunya adalah ibunya tidak akan tergantikan oleh ibu manapun.
“Ibu, ibu tinggal di daerah sini?” tanya Damian, tangan kirinya memeluk bahu ibunya.
“Iya, tapi rumah ibu cukup jauh, hanya mertua ibu tinggal tidak jauh dari pantai,” jawab Ibunya.
Damian menoleh pada Bu Asrid lalu pada ibunya.
“Iya, ibu kenal Bu Astrid sudah lama,” ucap ibunya Damian, tangannya memeluk pinggangnya Damian, tubuh putranya itu lebih tinggi darinya.
Bu Astrid mengangguk tapi dengan hati yang ketar ketir, dia takut Damian mengetahui kenyataan satu lagi yaitu Cristian adalah adik kandungnya.
“Disini sangat panas, apakah kalian akan kembali ke rumah? Aku akan mengantarnya,” ucap Bu Astrid, dengan bingung, dia menunda-nunda Bu Sony mengtakan kalau Cristian adalah adik Damian.
Tapi jantungnya serasa langsung berhenti berdetak saat Bu Sony mulai bicara.
“Ada yang ingin ibu tunjukkan padamu,” kata ibunya Damian, menatap putranya.
“Apa Bu?” tanya Damian.
“Kau punya saudara kandung sayang, saat ibu berpisah dengan ayahmu, ibu sedang hamil adikmu, tapi sekarang dia sedang sibuk dikantornya, nanti ibu pertemukan dengannya. Tapi kau tidak bisa langsung bertemu adikmu itu karena dia tidak tahu kalau ayahnya bukanlah yang dia anggap ayah sekarang jadi ibu harus menjelaskannya perlahan-lahan,” kata ibunya.
Damian terkejut mendengarnya, diapun menatap ibunya.
“Apa maksud ibu adikku tidak tahu kalau dia anak ayah?” tanya Damian.
“Iya, karena dia lahir tanpa kehadiran ayahmu dan kemudian ibu menikah lagi, suami ibu yang sekarang sudah menganggapnya putra sendiri, jadi adikmu tidak tahu kalau ayahmu itu ayahnya. Jadi kau bersabar sebentar, ibu butuh waktu untuk bicara dengan adikmu,” kata ibunya Damian.
Bu Astrid terdiam mendengar perkataan ibu Damian itu, kepalanya langsung berdenyut-denyut saja, dia bingung apa yang harus dilakukannya? Tidak bisa dia bayangkan bagaimana perasaannya Damian kalau tahu Hanna akan menikah dengan adik kandungnya.
Damian menoleh pada Satria.
“Satria!” panggilnya.
Satria langsung menghampiri.
“Ibu, ini adikku, Satria,” kata Damian,menepuk bahu Satria.
Satria menatap ibunya Damian, lalu dia mengangguk.
Ibunya Damian menatapnya, jadi benar dugaannya kalau pria ini adalah adiknya Damian satu ayah.
“Kau sangat mirip kakakmu,” ucap ibunya Damian, sambil mengusap lengannya Satria.
“Orang-orang juga mengatakan begitu,” jawab Satria sambil tersenyum.
“Satria!”panggil Damian lagi.
“Satria, aku akan membawa ibu pulang, pekerjaannya dilanjut besok saja,” kata Damian pada Satria.
“Baiklah kakak, aku akan bicara dengan yang lain,” kata Satria lalu beranjak meninggalkan mereka.
Damian menoleh pada Bu Astrid.
“Bu Astrid, terimakasih kau sudah mengantarkan ibuku padaku, aku sangat berterimakasih,” ucap Damian.
“Selamat kau sudah bertemu dengan ibumu, berbahagialah,” kata Bu Astrid.
Damian mengangguk.
“Kalau begitu aku permisi, atau kalian akan aku antarkan pulang atau Bagaimana?” tanya Bu Astrid sambil menoleh pada Bu Sony dan Ny. Sofia.
“Kedua Ibuku akan bersamaku,” jawab Damian.
“Baiklah kalau begitu, aku pulang duluan,” kata Bu Astrid.
Bu Sony berjalan mendekati Bu Astrid.
“Bu Astrid, aku benar-benar sangat berterimakasih kau sudah mempertemukanku dengan putraku,” kata Bu Sony, matanya kembali berkaca-kaca.
“Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Aku senang kau sudah bertemu dengan putramu,” ucap Bu Astrid yang malah ikut-ikutan berkaca-kaca.
“Terimakasih,” kata Bu Sony, lalu merekapun berpelukan.
Setelah itu Bu Astrid menoleh pada Ny.Sofia, pandangan mereka bertemu, seakan mereka tahu apa yang ada di fikiran mereka masing-masing. Damian dan Cristian bersaudara.
Bu Astridpun meninggalkan lokasi survey itu. Bersamaan dengan beberapa orang yang berpamitan pada Damian, Satria juga menghampiri kakaknya.
“Kita pulang sekarang?” tanya Satria.
Damian menoleh pada ibunya.
“Kita pulang kerumah tempat tinggalku sementara Bu, aku masih rindu, aku ingin bicara banyak dengan ibu,”kata Damian.
“Baiklah, tadi ibu juga kesana tapi kau sedang tidak ada di kantor,” ucap Bu Sony.
“Baiklah, ayo,” ajak Damian, sambil memeluk ibunya.
Satria dan Ny.Sofia mengikuti mereka. Satriapun melakukan hal yang sama, dia berjalan sambil memeluk ibunya.
************
Readers, jangan lupa vote vote vote…
*************