Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-9 Dikira pengutil



Shezie menatap gedung butik itu. Dia tidak menyangka kalau butik yang dimaksud adalah butik dari desainer terkenal yang biasanya gaunnya digunakan oleh artis artis, penjabat tinggi dan kalangan elit lainnya.


Dibaca lagi nama yang tertera di kartu member, benar yang dimaksud adalah butik ini. Shezie ragu-ragu masuk karena dia takut salah, tapi dia harus mendapatkan gaun untuk nanti malam. Akhirnya kakinya melangkah masuk ke butik itu.


Baru sampai pintu, seorang satpam yang sedang berbidi dipintu, menatapnya dengan tatapan tidak suka, tidak seperti pada dua orang yang baru saja lewat didepannya, satpam itu tersenyum mengucap salam dan mempersilahkan masuk.


“Ada perlu apa?” tanya satpam dengan nada ketus, menatap Shezie dari atas sampai bawah. Melihat gadis yang terlihat acak-acakan dengan rambutnya yang kusut karena naik bis.


Shezie melihat kesekeliling, dilihatnya baju-baju mewah tergantung rapih diruangan yang luas itu. Baju-baju di patung juga terlihat sangat glamour, benar-benar pakaian berkelas internasional.


“Aku hanya ingin melihat-lihat saja,” jawab Shezie, karena dia bingung, dia tidak mungkin menggunakan kartu itu untuk membeli sebuah gaun yang pastinya sangat mahal, dia tidak mau Henry dipecat oleh majikannya karena menggunakan uang terlalu banyak untuk sebuah gaun.


Pak Satpam itu terlihat tidak suka, sama sekali tidak mempersilahkan masuk. Shezie melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. Mata Pak Satpam tidak henti-henti memperhatikannya. Melihat dari penampilan Shezie yang terlihat kusut, apalagi tercium bau keringat, dia mencurigai gadis itu adalah seorang pengutil.


Shezie melihat gaun yang ada dia patung itu, dia langsung tersenyum dan menghampiri patung itu.


“Bagus sekali…” gumamnya, tangannya akan menyentuh gaun itu tiba-tiba  terhenti saat satpam ternyata sudah berdiri didekatnya.


“Gaun itu sangat mahal, kalau kau merusaknya, kau tidak akan bisa membayarnya,” ucap Satpam.


Shezie terkejut mendengar perkataan satpam. Matanya melirik kertas yang menggantung di gaun itu, terlihat harganya 25 juta. Dia langsung membelalakkan matanya.


“25 Juta…” gumamnya tidak percaya.


“Benarkan? Sangat mahal!” kata satpam itu.


Shazie pun terdiam, dia tidak mungkin membeli gaun dengan harga 25 juta. Bayaran dari Henry saja 100juta kalau dia harus bermodal membeli gaun sendiri bisa habis uangnya.


Shezie berjalan lagi ke deretan baju-baju, meninggalkan patung itu. Dilihatnya kertas-kertas yang ada ditiap baju yang menggantung, ternyata harganya masih puluhan juta. Pak Satpam terus mengikuti langkahnya memperhatikan setiap gerakannya Shezie.


Shezie melihat kesekeliling, dia baru sadar kalau Pak Satpam ada dibelakangnya.


“Dimana baju yang lebih murah?” tanya Shezie pada Satpam.


Pak Satpam itu berdiri tegak dengan mendongakkan kepalanya.


“Disini tidak ada baju murah!” jawab Pak Satpam dengan ketus.


“Tidak ada?” tanya Sezie kebingungan. Dia tidak mungkin membeli gaun  ditempat yang lain karena dia sudah menelpoan Dokter untuk menjadwalkan kemo untuk ibunya, dia tidak mau kemo ibunya terganggu karena uangnya kurang.


Shezie mengulurkan tangannya akan menyentuh gaun yang ada digantungan, tapi tiba-tiba Pak Satpam menghalanginya, berdiri menatapnya tajam.


 “Sudah jangan berpura-pura lagi, kau kesini mau mengutil kan?” tuduh Pak Satpam, membuat Shezie terkejut.


“Apa maksudmu begitu? Aku kesini mau membeli gaun!” kata Shezie dengan ketus.


“Sudah jangan berpura-pura lagi, daripada aku membawamu ke kantor polisi,” ucap Pak Satpam.


“Kau ini bicara apa? Sudah aku bilang aku kesini mau membeli gaun!” kata Shezie sambil mengeluarkan kartu membernya Hanna dan diberikannya kartu itu pada Pak Satpam.


Pak Satpam menerima kartu itu dan membacanya, disana tertera nama Hanna.


“Kau dapat ini darimana?” tanya Pak Satpam.


“Dari supir ibu yang ada namanya disitu,” jawab Hanna.


Pak Satpam menatap lagi Shezie, lalu berjalan menuju receptionis yang mejanya tidak jauh dari tempat itu. Dia mengambil gagang telpon di meja itu dan melakukan panggilan.


“Kantor polisi! Disini ada pencopet  akan mengutil di butik! Iya, seorang gadis!” kata Pak Satpam itu dengan jelas terdengar oleh Shezie. Tentu saja Shezie terkejut mendengarnya. Dia langsung menghampiri Pak Satpam.


“Hei, apa yang kau lakukan? Aku bukan pecopet!” Maki Shezie.


Pak Satpam menoleh kearahnya, Shezie berfikir lebih baik pergi saja dari butik ini, dia akan melangkah pergi tapi tangannya dipegang oleh Pak Satpam itu.


“Kau jangan kabur!” bentak Pak Satam, sambil buru-buru menutup telponnya, sebelah tangannya masih memegang tangannya Shezie dengan kuat.


“Aku bukan pancopet! Aku bukan pengutil!” teriak Shezie, membuat orang-orang yang ada di sekitar ruangan itu menoleh kearah mereka.


“Jangan berbohong! Aku sudah melaporkanmu ke polisi!” Pak Satpam balas berteriak.


“Jujur saja kalau kau pencopet! Mana ada supir memberikanmu kartu ini? Jangan-jangan kau berkomplot dengan supir itu!” kata Pak Satpam, masih memegang tangannya Shezie.


“Lepaskan!” teriak Shezie.


“Kau tidak bisa kabur! Polisi sedang kemari!” Pak Satpam juga berteriak.


“Polisi sedang kemari? Lepaskan! Aku bukan pencopet!” teriak Shezie.


Apa jadinya kalau dia berurusan dengan polisi? Diapuan akan berlari leluar tapi seorang satpam satu lagi muncul dipintu.


“Ada apa ini?” tanya Satpam itu.


“Tahan gadis itu! Dia pencopet akan menguntil baju!” jawab Satpam yang tadi.


Shezie kebingungan menyadari dia tidak bisa kabur lagi.


“Kau menyerah saja!” kata Satpam yang baru datang itu.


“Tapi aku bukan pencopet!” Teriak Shezie.


“Kalau begitu kau bilang saja pada Pak Polisi sebentar lagi,” kata Satpam yang tadi.


Shezie benar-benar tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini. Apa yang harus dilakukannya sekarang?  Diapun teringat pada Henry, ya Henry, dia harus menelpon Henry.


Shezie segera mengambil ponselnya lalu menelpon Henry.


Henry yang sedang berada di kantornya dengan dua orang tamu tampak mengerutkan keningnya melihat ponselnya berbunyi dan muncul nama Shezie.


“Ada apa gadis itu menelpon? Mengganggu saja!” keluhnya. Lalu diangkatnya panggilan itu dengan malas.


“Halo!” sapanya dengan pendek.


“Henry Henry! Tolong aku!” Tendengar suara Shezie disebrang.


“Ada apa?” tanya Henry dengan ketus.


“Aku mau dibawa ke kantor polisi!” jawab Shezie.


“Ke kantor polisi?” tanya Henry kebingungan.


“Kartu itu, aku dituduh mencopet kartu itu dan akan mengutil di butik!” jawab Shezie dengan tergesa-gesa.


“Apa?” Henry terkejut mendengarnya.


“Henry! Henry! Cepat kau kemari! Selamatkan aku! Jangan-jangan kau yang mecopet kartu itu dari majikanmu kan? Iya kan? Kau jujur saja!” Shezie masih berteriak-teriak.


“Kau ini bicara apa?” tanya Henry, dia kesal Shezie selalu asal ngomong saja.


“Cepat kemari, tolong aku! Aku tidak mau dibawa ke kantor polisi!” Terdengar lagi teriakan dari Shezie.


“Ya ya aku kesana!” ucap Henry, dia langsung memasang wajah masam.


“Benar-benar tidak ada kerjaan! Tinggal membeli gaun saja malah bikin ribut!” gerutu Henry.


Diapun membalikkan badannya, bersamaan dengan masuknya ayahnya keruangan itu.


“Kau mau kemana?” tanya Damian.


“Aku mau ke butik dulu, pacarku ada masalah disana,” jawab Henry.


“Masalah? Pacar?” tanya Damian, keheranan. Putranya itu katanya tidak punya pacar, sekarang mau menyusul pacarnya, mana yang benar? Sangat membingungkan.


Henry tidak menjawab, dia langsung meninggalkan ruangannya, buru-buru menuju butik.


*************