Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-10 Supir sok tajir



Shezie duduk di kursi ruang tunggu, di depannya berdiri dua orang satpam menjaganya supaya jangan sampai kabur. Terdengar suara beberapa langkah orang masuk ke ruangan itu, semua menoleh kearah yang datang, ternyata dua orang polisi.


Melihat dua orang polisi itu, membuat Shezie semakin shock, dia takut kalau sampai dibawa ke kantor polisi apalagi kalau sampai dipenjara atas tuduhan mencopet dan mengutil.


“Mana pencopet itu?” tanya salah satu polisi itu.


“Itu, dia menggunakan member langganan kami. Dia mau mencuri pakaian,” jawab satpam.


“Itu bohong! Aku tidak mencopet apalagi mencuri pakaian, aku kesini mau membali pakaian dengan kartu itu!” sanggah Shezie, mukanya langsung pucat, dia ketakutan sekali. Siapa yang akan membelanya kalau ada ini itu? Dia hanya berdua dengan ibunya tidak ada sanak saudara di kota ini, dia hanya perantauan.


“Nanti kau jelaskan di kantor polisi saja!” kata polisi itu dan langsung mendekati Shezie. Melihat polisi mendekat, Shezie spontan berdiri dan mundur menjauh.


“Tidak, aku tidak mau ke kantor polisi! Tidak mau!” teriaknya.


“Kau tetap harus ke kantor polisi, kalau kau melawan kau akan mendapat hukuman lagi!” kata polisi.


“Tapi aku tidak mau ke kantor polisi, aku tidak mau!” teriak Shezie lagi,  matanya melirik sana sini mencari celah untuk kabur. Saat polisi itu lengah, Shezie berlari menuju pintu keluar.


“Hei, dia kabur! Tangkap dia!” teriak polisi itu, membuat kedua satpam terkejut.


“Jangan lari!” teriak satpam, mereka mengejar Shezie.


Shezie segera berlari menuju pintu, dikejar oleh polisi dan dua satpam itu.


“Tunggu! Jangan lari!” teriak mereka. Karena kaki mereka lebih panjang, hampir saja salah satu tangan polisi itu berhasil menangkap Shezie, kalau tidak Shezie menabrak seseorang dipintu.


“Tahan gadis itu Pak! Dia pencopet!” teriak Satpam-satpam.


Shezie terkejut langkahnya terhalang oleh seseorang yang masuk ke pintu, dia semakin terkejut saat merasakan  satu tangan kokoh itu memeluk punggungnya. Diapun mengangkat kepalanya melihat wajah orang itu. Hatinya langsung merasa lega juga senang saat tahu kalau pria yang memeluknya itu adalah Henry.


“Henry! Tolong aku! Aku bukan pencopet atau pengutil! Kau kan yang memberikan kartu itu!” teriak Shezie.


Henry menatap Satpam dan dua Polisi itu.


“Mana Bu Sari?” tanya Henry. Mendengar nama Bu Sari disebut, dua Satpam saling tatap.


“Cepat atau kalian akan dipecat sekarang juga!” bentak Henry.


Dua satpam itu saling pandang lagi, salah satunya berlari masuk ke dalam.


Dua polisi itu menatap kedatangan Henry juga Satpam itu.


“Kami menemukan gadis ini menggunakan member keluarganya Pak Damian,” kata Satpam itu, sambil memperhatikan Henry dan mengerutkan dahinya, dia merasa pernah melihat Henry tapi dimana? Tiba-tiba dia tersadar pernah sekali dua kali melihat Henry datang ke butik itu mengantar ibunya.


“Dia keluarga Pak Damian,” ucap Henry membuat satpam itu terkejut dan wajahnya langsung pucat.


“Apa? Keluarga Pak Damian?” tanya Satpam yang mengikuti Shezie itu semakin gugup.


Satu satpam datang lagi bersama seorang wanita cantik paruh baya.


“Henry! Tumben sekali kau datang! Ada apa ini? Ada polisi segala?” tanya wanita itu menatap polisi-polisi itu.


Pak Satpam yang menyadari kesalahannya langsung menjawab.


“Tidak ada apa-apa Bu, kami hanya salah faham, tolong maafkan kami,”kata Pak Satpam, lalu menoleh lagi pada Shezie.


“Nona saya minta maaf, silahkan kalau ingin melihat-lihat!” kata Satpam yang melaporkan Shezie itu.


Wanita pemilik butik itu tampak bingung lalu menatap Hanry.


“Ada apa ini?” tanyanya.


“Bu Sari, kedua Satpam ini sudah memperlakukan keluarga Pak Damian dengan buruk, bahkan sampai melaporkannya pada polisi,” kata Henry.


Wanita  yang dipanggil Bu Sari itu menoleh pada kedua Satpam itu.


“Apa yang kau lakukan?” bentaknya.


“Gadis itu membawa membernya Bu Hanna, saya fikir dia telah mencuri kartunya,” kata Satpam itu.


“Kenapa kalian tidak konfirmasi dulu pada Bu Hanna malah langsung lapor ke polisi? Kalian sudah membuat kecewa langganan terbaikku, apa kalian mau kehilangan pekerjaan?” bentak Bu Sari.


Kedua Satpam itu tampak terkejut.


“Tidak Bu, tolong maafkan kami,” kata satpam itu, lalu menoleh pada Henry juga pada Shezie.


“Nona tolong maafkan kami, ini hanya salah faham, kami punya anak istri nona!” kata Satpam-satpam  itu pada Shezie.


Shezie menoleh pada Henry yang tampak hanya diam saja tidak bergeming.


Bu Sari menoleh pada dua polisi itu.


“Maaf Pak, ini hanya salah faham, nona ini adalah keluarga langganan kami,” kata Bu Sari.


“Baiklah Bu, lain kali buatlah laporan yang sebenarnya, jangan mempermainkan kepolisian!” ujar salah satu Polisi itu.


“Iya, Pak, maafkan kami sekali lagi. Terima kasih atas respon cepatnya,” kata Bu Sari.


Dua polisi itupun mengangguk lalu meninggalkan tempat itu.


Bu Sari menatap Henry.


“Henry, tolong dimaafkan kesalahfahaman ini. Begitu juga nona, saya selaku pemilik butik ini mohon maaf atas kejadian tidak menyenangkan ini,” kata Bu Sari.


Shezie tersenyum dan mengangguk tapi tidak dengan Henry, Shezie mengangkat kepalanya lagi menatap pria itu. Henry diam saja, sepertinya dia benar-benar marah.


“Henry, kau butuh apa? Biar pegawaiku menyiapkannya,” kata Bu Sari.


Shezie kembali menatap Henry.


“Henry sudahlah, tidak apa-apa, lupakan saja,” kata Shezie masih menengadah menatap wajahnya Henry, dia baru sadar kalau pria itu betubuh tinggi.


Tapi ngomong-ngomong soal tinggi, kenapa dia bicara dengan Henry sambil menengadah mengangkat kepalanya? Harusnya kan menoleh kesamping, kalau mengangkat kepala berarti Henry ada didepannya, itu artinya…. wajah Shezie langsung memerah. Itu artinya Henry ada di hadapannya dan…Shezie merasakan jermarinya yang menempel di punggungnya Henry.


“Apa?” tanya Henry jadi terkejut melihat Shezie berteriak.


Shezie tersadar kalau ternyata dia masih memeluk Henry dari tadi, aduh malunya. Diapun buru-buru melepaskan pelukannya.


Melihat sikap Shezie itu membuat Henrypun tersadar ternyata dia juga masih memeluk punggungnya Shezie dengan tangan kanannya. Henry langsung melepaskan pelukannya. Wajah pria dan wanita itu langsung memerah dan saling canggung. Shezie yang tidak bisa membayangkan betapa merah wajahnya.


Meskipun terkejut dan sebenarnya dia juga gugup tapi Henry masih bersikap tenang, Untuk menutupi rasa malunya, Henry berjalan menjauh dari Shezie dan bicara pada Bu Sari.


“Aku membutuhkan gaun untuk acara makan malam, berikan beberapa gaun terbaik buat nona ini,” kata Henry.


“Baik, baik,” kata Bu Sari, dia langsung memanggil beberapa pegawainya.


“Bawakan gaun-gaun untuk nona ini!” perintah Bu Sari.


Para pegawainya melihat sebentar pada Shezie, mereka sudah langsung tahu ukuran yang cocok buat Shezie.


“Baik Bu!” jawab pegawai-pegawai butik itu lalu masuk kedalam mengambil gaun-gaun untuk Shezie.


“Ditunggu ya, ada banyak koleksi terbaru, sangat cocok buat nona!” kata Bu Sari.


“Namanya Shezie!” kata Henry.


“Oh Shezie? Apa ini calon pengantinmu itu? Aku sudah mendengar kalau kau akan menikah  minggu depan. Kenapa begitu mendadak? Aku juga belum mendapat undangannya?” tanya Bu Sari.


“Undangannya menyusul,” jawab Henry.


Shezie hanya mendengarkan percakapan itu, ternyata benar, orang-orang menyangka Henry akan menikah minggu depan.


“Jangan tidak diundang ya,” kata Bu Sari.


Beberapa pegawai butik berdatangan dengan membawa beberapa gaun yang indah.


Shezie mendekati Henry dan dia berjinjit mendekatkan bibirnya ke telinga Henry.


“Kenapa gaunnya banyak sekali? Satu saja, disini harganya mahal-mahal, nanti majikanmu marah kalau tagihan bajunya tiba-tiba membludak!” kata Shezie.


Henry menoleh kearah kiri menatap Shezie yang juga menatapnya.


“Aku sedang sibuk!” ucap Henry, dengan tatapan tajamnya, dia terlihat sangat serius.


Baru sekerang Shezie menyadari kalau tatapan Henry itu sangat berwibawa, ada suatu kharisma dari tatapan itu yang membuat Shezie tidak bisa membantah, diapun langsung mengangguk.


“Baiklah,” ucap Shezie, sambil menjauh dan membalikkan badannya menoleh kearah Bu Sari. Sedangkan Henry memilih duduk di kursi tunggu memperhatikan  para pegawai butik itu memamerkan gaun-gaunnya.


“Bagaimana kalau ini?” tanya Bu Sari.


“Juga ini!” tanya Bu Sari sambil menunjukkan gaun gaun itu.


Shezie sampai bingung memilih karena semuanya bagus-bagus.


“Kau mau coba yang mana?” tanya Bu Sari  lagi.


“Sebenarnya semuanya bagus, aku suka semua, aku bingung,” jawab Shezie.


Henry yang sedari tadi duduk menunggu langsung bangun dan menghampiri.


“Semua gaun itu ukuran Shezie?” tanya Henry.


“Iya,” jawab Bu Sari.


“Ya sudah aku ambil semua,langsung bungkus saja!” kata Henry.


“Apa?” Shezie terkejut mendengarnya. Apa Henry sudah gila membeli semua gaun-gaun itu?


“Baik, kalian tunggu sebentar,” jawab Bu Sari, lalu pergi dengan para pegawainya itu mengemas gaun-gaun itu.


Shezie menatap Henry.


“Ada apa?” tanya Henry.


“Nanti kau dipecat majikanmu kalau belanja banyak-banyak, majikanmu bisa marah Henry! Kau tidak boleh menyalahgunakan kepercayaan majikanmu!” jawa Shezie.


“Kau bisa mencobanya di rumah!” kata Henry, mengabaikan perkataannya Shezie.


“Tapi tidak sebanyak itu, satu juga sudah cukup,” ucap Shezie.


Henry kembali menatap Shezie, apa gadis ini tidak normal? Gadis-gadis lain dibelikan satu minta banyak, dia dibelikan banyak minta satu, ada-ada saja, fikirnya.


“Kau sangat lambat, aku sedang sibuk! Aku tunggu dimobil!” ucap Henry dengan ketus. Tanpa menunggu jawaban dari Shezie, Henry langsung keluar dari butik itu.


Shezie menatap kepergian Henry sambil cemberut.


“Kau benar-benar ingin dipecat Henry!” gumamnya. Tapi membayangkan dia memakai gaun yang indah-indah itu hatinya merasa senang tapi kemudian dia cemberut lagi.


Bu Sari datang bersama pegawainya dengan membawa beberapa kantong.


“Ini kartunya, terimakasih sudah berbelanja di butikku,” kata Bu Sari memberikan kartu membernya Hanna pada Shezie, lalu menoleh pada pegawainya,


“Bawa ke mobilnya Pak Henry,” kata Bu Sari.  Pegawainya langsung keluar dari butik dengan kantong-kantong itu.


Shezie segera menerima kartu itu lalu dimasukkan ke tasnya.


“Berapa semauanya?” tanya Shezie.


“135 juta,” jawab Bu Sari.


Mendengar angka itu Shezie merasa mau pingsan! Apa dia tidak salah dengar? 135 juta? Hanya untuk beberapa gaun saja? Dia bukan mau fashion show, dia hanya akan makan malam! Untuk apa gaun semahal itu? Bayaran dari Herny saja Cuma 100 juta. Padahal mending diberi uangnya saja 135 juta bisa dia gunakan untuk kelanjutan pengobatan ibunya.


“Henry, kau benar-benar ingin dipecat! Kau supir yang sok tajir, Henry!” keluhnya, lalu pamit pada Bu Sari dan keluar dari butik itu menuju mobilnya Henry.


*****************