
Martin terus mengeluh sepanjang jalan, hari ini dia akan menemui ibunya Shezie di rumah sakit. Dia marah karena penolakan dari Shezie tadi malam. Apalagi dengan kemunculan pria yang mengaku suaminya Shezie, sungguh aneh, kenapa pria itu mengaku suaminya. Apa benar Shezie sudah menikah?
Martin benar-benar kesal ditolak terus oleh Shezie padahal dia sudah berpura-pura membayar biaya pengobatan ibunya. Hatinya dendam, dia tidak rela Shezie dimiliki oleh pria lain. Dia harus emmastikan apakah pria itu benar suaminya atau cuma ngaku ngaku saja? Karena sungguh aneh kalau Shezie menikah tidak minta ijin pada
ibunya, pasti ada sesuatu yang disembunyikan.
Sesampainya di rumah sakit, Martin langsung menemui ibunya Shezie.
“Nak Martin?” sapa Bu Vina sambil tersenyum, dia senang melihat ketelatenan calon menantunya itu yang selalu menyempatkan waktunya untuk menjenguknya.
“Bagaimana keadaan ibu?” tanya Martin juga tersenyum ramah.
“Aku lebih baik sekarang!” jawab Bu Vina.
“Syukurlah, aku senang mendengarnya,” kata Martin, sambil duduk di sofa.
“Apakah Shezie ada menengok kesini?” tanya Martin.
“Belum, ibu tidak tahu apakah hari ini jadwal dia kerja di travelnya,” jawab ibunya Shezie.
Martin terdiam beberapa saat, kalau Shezie belum menengok ibunya itu artinya Shezie belum ngadu apa-apa, baguslah, batinnya.
“Mmm apakah Shezie menceritakan sesuatu?” tanya Martin, mungkin saja Shezie ngadu lewat telpon.
“Sesuatu apa?” tanya Bu Vina tidak mengerti.
Melihat reaksi Bu Vina, Martin semakin yakin kalau Shezie belum bicara apa-apa.
“Ada yang ingin aku beritahukan pada ibu,” jawab Martin.
“Soal apa?” tanya Bu Vina.
“Ada pria yang mengaku-ngaku kalau dia suaminya Shezie,” jawab Martin, membuat Bu Vina terkejut, dia menatap Martin.
“Apa maksudmu Nak?” tanya Bu Vina, kepalanya langsung saja pusing mendengar kabar itu.
“Aku jug tidak tahu apakah benar Shezie sudah menikah dengan pria itu atau tidak, aku juga ingin tahu. Kalau dia sudah menikah kenapa dia mau bertunangan denganku?” kata Martin.
“Mungkin pria itu hanya bercanda,” kata Bu Vina, dia jadi merasa tidak enak pada Martin atas ulahnya Shezie.
“Ibu harus memastikannya pada Shezie,” jawab Martin.
Bu Vina semakin merasakan berat dikepalanya, jantungnya berdebar kencang. Dia merasa shock dan kecewa, apakah benar Shezie menikah tanpa meminta restu darinya? Apa-apaan ini?
“Sapertinya Shezie berbohong kalau kerja di travel,” ucap Martin.
Bu Vina menatapnya dengan menahan sakit dikepalanya, dia sangat stress.
“Mungkin Shezie hanya jadi simpanan pria itu makanya tidak meminta restu dari ibu,” lanjut Martin, semakin membuat hati Bu Vina merasa terbakar, dia sangat marah pada Shezie.
“Shezie tidak mungkin seperti itu!” kata Bu Vina, dia sangat sedih membayangkan putrinya menjadi simpanan pria hidung belang.
Martin tersenyum dalam hati melihat kondisi Bu Vina yang mulai pucat. Dia senang Shezie pasti akan kerepotan lagi soal ibunya.
“Mungkin ini hanya salah faham nak, Shezie sudah mau bertunangan denganmu artinya Shezie tidak terikat oleh pria manapun. Kalau benar dia sudah menikah dia pasti menolak bertunangan denganmu,” kata Bu Vina.
“Jujur saja Bu, aku merasa dipermainkan, aku sudah berusaha sebaik mungkin menjadi calon suaminya Shezie, aku juga sudah mau membayar biaya pengobatan ibu yang tidak sedikit, tapi Shezie malah bersikap seperti itu, aku sangat kecewa Bu,”ucap Martin semakin mengompori.
Bu Vina tidak bicara apa-apa lagi, sakit di kepalanya semakin kuat, emosinya terganggu menjadi tidak stabil. Dia sangat marah pada putrinya, kenapa putrinya berperilakuseperti itu? Apa kurangnya Martin?
Martin melihat wajah Bu Vina semakin pucat, dalam hatinya dia tersenyum, dia merasa dendam, dia tidak akan membiarkan Shezie bahagia dengan pria lain. Kalau bisa dia akan merebut Shezie dari pria itu, dia ingin membalas apa yang telah Shezie lakukan padanya.
“Bu, aku akan menemui Dokter Arfan, aku ingin tahu perkembangan kesehatan Ibu,” ucap Martin, cari muka, sambil bangun dari duduknya keluar dari ruangan itu.
Bu Vina tidak menjawab, dia hanya merasakan kepalanya semakin berat, tubuhnya terasa semakin melemah, dia kecewa pada putrinya. Putrinya yang terlihat begitu berbakti ternyata telah membohonginya, bahkan menikahpun tanpa minta restu darinya.
Bu Vina yakin kalau benar Shezie sudah menikah, itu artinya yang menjadi suaminya Shezie bukanlah pria yang baik makanya menikahi Shezie diam-diam, dia sangat kecewa.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangannya. Bi Ijah yang sudah masuk lagi ke ruangan segera membukakan pintu itu.
“Siapa Bi? Apakah Shezie?” tanya Bu Vina, sambil menoleh kearah pintu.
Bu Vina tertegun saat melihat siapa yang datang menjenguk. Seorang pria tampan dengan postur tubuh tinggi tegap berdiri di pintu. Sesaat Bu Vina hanya memandang pria itu tanpa berkedip dengan jantung yang rasanya mau copot. Wajah itu mengingatkannya pada seseorang di masa lalunya. Kenapa wajah itu begitu mirip dengan orang yang pernah dia kenal?
“Selamat siang!” sapa pria itu yang tiada lain Henry.
“Siang, kau siapa?” tanya Bu Vina.
“Saya ingin bertemu dengan ibunya Shezie, apa benar ini kamarnya?” tanya Henry, dia ingin memastikan bahwa wanita yang sedang duduk bersandar ditempat tidur itu adalah ibunya Shezie.
“Iya, saya ibunya Shezie,” jawab Bu Vina, masih menatap Henry.
“Apa aku boleh masuk?” tanya Henry.
Henry masuk ke dalam ruangan itu lalu duduk di sofa.
“Kau temannya Shezie?” tanya Bu Vina, yang mencoba kuat padahal tubuhnya sudah terasa begitu lemah.
Ditanya begitu Henry tidak langsung menjawab.
“Ada yang ingin aku sampaikan!” kata Henry.
“Iya katakan saja,” jawab Bu Vina.
“Aku ingin memberitahu kalau aku adalah suaminya Shezie,” ucap Henry.
“Apa? Suami?” tanya Bu Vina, semakin terkejut.
“Iya,” jawab Henry.
“Kau berbohong!” teriak Bu Vina tiba-tiba, dia sangat marah, emosinya semakin tidak stabil, dadanya sudah mulai terasa sesak.
“Putriku tidak mungkin menikah tanpa minta restu dariku! Kau hanya berpura-pura menjadi suaminya Shezie dan ingin merusak hubungan Shezie dengan Martin, iya kan?” maki Bu Vina, menatap tajam Henry.
“Ibu salah faham, justru Martinlah yang sudah berbuat tidak baik pada Shezie. Ibu harus memutuskan pertunagannya dengan Martin, dia bukan pria yang baik buat Shezie,” kata Henry, mencoba menjelaskan.
“Apa maksudmu mengatakan itu? Kau ingin mengatakan kalau kau lebih baik dari Martin? Kalau kau benar sudah menikahi Shezie, dengan tidak meminta restuku saja sudah menunjukkan kalau kau pria yang tidak baik!” teriak Bu Vina, dia benar-benar marah, seketika dadanya begitu sesak dan kepalanya semakin terasa berat.
“Bu Vina! Bu!” teriak Bi Ijah yang sedari tadi berdiri di pintu, terkejut melihat Bu Vina tiba-tiba terkulai jatuh ke temoat tidur.
“Tuan, sebaiknya Tuan pergi! Apa Tuan tidak tahu kondisi Bu Vina sangat lemah?” kata Bi ijah yang langsung menekan bel darurat memanggil Dokter.
Henry terkejut melihat Bu Vina pingsan dibantu Bi Ijah. Dia akan menghampiri tapi bersamaan dengan itu Dokter dan perawat berdatangan masuk keruangan itu.
“Maaf Pak, pasien akan kami periksa, silahkan tunggu diluar!” kata Dokter Arfan.
Terpaksa Henry keluar dari ruangan itu begitu juga degan Bi Ijah. ART itu langsung menelpon Shezie.
“Non, ibu tiba-tiba tidak sadarkan diri!” kata Bi Ijah, terntu saja perkataannya Bi Ijah membuat Shezie panik, diapun segera menutup telponnya dan bergegas menuju rumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit dia terkejut saat melihat ada Henry di depan ruang ICU tempat ibunya dirawat.
“Henry? Apa yang kau lakukan disini?” tanya Shezie menatap Henry dengan keheranan, lalu pada Bi Ijah.
“Bi, apa yang terjadi?” tanya Shezie.
“Bu Vina tadi sedang bicara dengan Tuan ini kemudian tiba-tiba pingsan,” jawab Bi ijah.
Mendengar jawaban Bi Ijah, membuat Shezie menarik tangan Henry menjuh dari Bi Ijah, lalu menatap Henry dengan tajam,
“Kau mengatakan sesuatu pada ibuku?” tanya Shezie.
Henry tidak menjawab, dia juga merasa kaget tidak menyangka ibunya Shezie akan drop.
“Kau tidak memberitahu ibu kalau kau suamiku kan?” tanya Shezie, masih menatap wajah suaminya itu.
“Aku mengatakannya,” jawab Henry membuat Shezie terkejut.
“Kau melakukan itu? Kau mengatakan kau suamiku pada ibuku?” bentak Shezie dengan marah.
“Iya” jawab Henry.
“Kau sudah gila?” maki Shezie.
“Aku hanya tidak mau Martin mengatakan yang tidak tidak soal dirimu! Kau harus putus dengan Martin!” kata Henry.
“Tapi kau lihat akibatnya kan? Ibuku drop, kau sudah mengacaukan semuanya Henry,” kata Shezie, kini matanya berkaca-kaca.
“Apa kau tidak mengerti juga, aku rela menjadi istri pura-puramu supaya mendapatkan uang untuk pengobatan ibuku! Dan sekarang kau malah membuat ibuku masuk ICU, aku tidak mau kehilangan ibuku!” kata Shezie, air matanya mulai menetes dipipinya.
“Maaf aku tidak bermaksud menyakiti ibumu,” kata Henry, berjalan mendekati Shezie, merengkuh bahunya dan memeluknya.
“Kita berdoa semoga ibumu baik-baik saja,” ucap Henry.
Bersamaan dengan itu, ada sosok lain yang berdiri di balik tembok belokan jalan itu. Martin terkejut saat melihat Henry dan Shezie berbicara diapun bersembunyi dibalik tembok, mendengarkan percakapan mereka dan dia sangat terkejut saat Shezie mengatakan kalau Shezie istri pura-puranya pria itu. Kini semuanya mulai terjawab, apa yang telah terjadi sebenarnya.
Shezie masih menangis dipelukannya Henry, dia merasa cemas dengan keadaan ibunya. Dia berjuang untuk kesembuhan ibunya dia juga yang membuat ibunya semakin parah.
“Kau tahu, penyakit ibuku sudah parah karena aku tidak bisa membawanya berobat karena aku tidak punya uang, aku tidak mau kehilangan ibuku makanya aku melakukan segala cara untuk mendapatkan uang. Aku akan berusaha supaya ibu bertahan meski sekecil apapun harapan itu,” ucap Shezie.
Henry tidak bicara apa-apa, dia merasa bersalah telah mengakibatkan ini semua, tadinya dia hanya ingin ibunya Shezie tahu seperti apa Martin sebenarnya.
*************