Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-81 Pergi ke pasar



Pagi ini Hanna berdiri di dekat jendela, menatap Damian yang sedang merapihkan bajuny di depan cermin. Senang rasanya melihat pria tampan itu ada di depannya.


“Ternyata kau suka berlama-lama memperhatikanku,” kata Damian. Matanya menatap ke cermin.


“Darimana kau tahu aku memperhatikanmu?” tanya Hanna.


Damian tidak menjawab. Bagaimana dia tidak tahu, meskipun membelakangi, dari cermin bisa kelihatan Hanna sedang memperhatikannya, berdiri bersandar dekat jendela.


“Hari ini aku tidak ada pekerjaan, aku ingin jalan-jalan, bolehkah?” tanya Hanna.


“Ajak Satria,” kata Damian.


“Tidak mau, aku tidak mau adikmu itu mengikuti kemanapun aku pergi,” keluh Hanna.


“Kenapa?” tanya Damian sambil membalikkan badannya, menatap Hanna.


“Kau tahu sendiri kan aku tidak cocok dengannya, kami sering bertengkar,” jawab Hanna.


Damian tampak diam menimbang-nimbang.


“Kau kan sibuk, kenapa tidak menyuruhnya mengerjakan sesuatu apa ke daripada menguntitku terus,” keluh Hanna.


“Memangnya kau mau kemana?” tanya Damian, sambil memakai arlojinya.


“Aku hanya berjalan –jalan dipasar tumpah, ada yang ingin aku beli,” jawab Hanna.


Damian kembali menatap Hanna.


“Kau kenapa seperti merasa  ragu-ragu?” tanya Hanna.


“Aku selalu merasa kau akan melakukan sesuatu yang merepotkan,” jawab Damian.


“Masa setiap saat merepotkan,” keluh Hanna.


Damian tidak menjawab lagi.


“Nah aku tahu!” seru Hanna, sambil mendekati Damian.


“Apa? Aku mau bekerja,” kata Damian.


“Bagaimana kalau ke pasarnya denganmu saja?” tanya Hanna.


“Kenapa denganku? Ke pasar lagi. Aku tidak suka,” keluh Damian, membuat Hanna cemberut.


“Cristian selalu mau ku ajak ke pasar,” ucap Hanna menghentikan langkahnya dan berbelok menuju sofa lalu duduk disana sambil menyalakan televisi.


Ada cemburu dihati Damian saat Hanna menyebut nama Cristian. Dia tidak suka membayangkan Cristian selalu menemani Hanna.


“Baiklah aku temani,” kata Damian, akhirnya setuju.


Hanna langsung bangun dari duduknya dan berseru senang, diapun berlari mendekati Damian.


“Akhirnya bisa mengajakmu jalan-jalan juga,” seru Hanna, berhenti didepan Damian dan menatapnya.


“Apa imbalannya kalau aku menemanimu jalan-jalan?” tanya Damian.


“Kau mau apa?” tanya Hanna masih menatapnya.


“Apa kau yakin bisa memberikan apa yang aku mau?” tanya Damian, balas menatapnya.


“Apa? Paling juga kau minta dibelikan makanan nanti di pasar,” jawab Hanna.


Damian tersenyum, tiba-tiba kedua tangannya menarik Hanna ke dekatnya, dan langsung memeluknya, membuat Hanna terkejut.


“Kau mau apa? Jangan katakan kau akan menciumku, belakangan ini kau sangat agresif,” ucap Hanna, dengan kedua tangan menahan di dadanya Damian, wajahnya dijauhkan kebelakang, diapun memicingkan matanya.


“Kau memancingku untuk berbuat agresif,” kata Damian, dia merasa lucu melihat mata Hanna yang sedikit terpejam.


“Kapan aku memancingmu? Aku tidak melakukan apa-apa,” kata Hanna, menggelengkan kepalanya.


“Kau merayuku apa itu tidak memancingku melakukan sesuatu?” tanya Damian, masih menatap Hanna.


“Oooh soal itu hehhe…” Hanna malah cengecesan, dia jadi teringat lagi merayu-rayu Damian yang memalukan itu.


“Memangnya kenapa? Aku cuma bercanda,tidak serius,itu karena aku menginginkan sesuatu,” kata Hanna.


“Jadi kalau kau menginginkan sesuatu kau akan merayuku seperti itu?” tanya Damian, sekarang mengerutkan keningnya.


“Yaa bisa iya bisa tidak,” jawab Hanna.


“Kau ingin sesuatu?” tanya Damian.


“Kenapa kau bertanya begitu? Aku tidak ingin apa-apa,” jawab Hanna.


“Bukankah kau ingin aku menemanimu ke pasar, jadi kau harus merayuku lagi supaya aku mau ikut denganmu,” kata Damian.


Hanna terkejut, wajahnya langsung pucat, tapi dia menyembunyikannya dengan tertawa.


“Kau bercanda, jangan menggodaku, aku malu melakukannya,” ucapnya dengan senyum yang dipaksakan, kenapa hatinya jadi tidak tenang begini? Ternyata Damian minta dirayunya lagi.


Ah tidak, dia tidak berani kalau merayu pria itu di dalam kamar begini, bagaimana kalau Damian melakukan sesuatu yang aaah aahh tidak, tidak. Hanna menggeleng gelengkan kepalanya.


“Kau kenapa?” tanya Damian.


“Tidak apa-apa, aku hanya sedang tidak ingin merayumu, aku sedang tidak mood,” kata Hanna sambil tersenyum, keringat dingin mulai muncul di keningnya.


Tangan Damian mengusap keringat itu dengan jari-jarinya.


“Tidak apa-apa tapi berkeringat begini,” ucapnya.


Damian mengusap keningnya seperti itu membuat Hanna dag dig dug ga jelas, dia merasa gugup dan pokoknya segala macam rasa ada.


“Aku hanya gerah saja,” elak Hanna. Kalau Damian bersikap mesra begini rasanya kakinya langsung lemas saja, jantung berdebar sangat kencang, sepertinya harus segera pergi ke dokter.


Hati Hanna semakin tidak karuan, pria itu masih mengusap keringat dikeningnya berulang-ulang dengan lembut. Apa keningnya terus terusan berkeringat? Bikin malu saja tuh kening, ketahuan kalau dia sangat gugup. Untung saja keningnya sedang tidak berjerawat, kan malu kalau diusap-usap begini ada jerawatnya.


“Kau sedang memikirkan apa?” tanya Damian, melihat Hanna terdiam begitu.


“Kau suka aku mengusap usap keningmu begini?” tanya Damian lagi.


“Ah tidak, biasa saja, lagian kenapa kau mengusap usap keningku?” elak Hanna, tangannya jadi spontan mengusap keningnya, dan ternyata memang berkeringat dingin.


“Aku hanya gerah saja hehe,” ucap Hanna sambil tertawa kecil, menutupi malu.


“Jadi kau tidak mau merayuku? Kalau tidak kau rayu aku tidak mau menemanimu ke pasar,” kata Damian, menurunkan tangannya kembali memeluk pinggang Hanna.


“Kau benar, lebih baik aku pergi dengan Satria,” kata Hanna.  Damian menatapnya.


“Kau ini, ayo kalau begitu aku temani, tapi 1-2 jam saja ya, tempatnya tidak jauh kan? Aku banyak pekerjaan,” ucap Damian.


“Iya,” jawab Hanna kini tersenyum senang. Damian pun melepas pelukannya.


Hanna buru-buru mundur beberapa langkah.


“Kenapa?” tanya Damian, dia jadi ingin tertawa melihat sikapnya Hanna.


“Ah tidak apa-apa,” jawab Hanna, dia benar-benar merasa gugup.


Kemudian dia menatap Damian lagi.


“Ada apa lagi? Nanti keburu siang,” ucap Damian.


Hanna berjalan mendekat lagi, membuat Damian keheranan.


Tangan Hanna langsung menyentuh jasnya.


“Mau apa?” tanya Damian kebingungan.


Hanna tidak menjawab, dia membuka kancing jasnya Damian, pria itu jadi tersenyum.


“Kau mau merayuku?” tanyanya.


“Kau sangat rewel, aku tidak merayumu,” ucap Hanna, diapun melepas kedua tangan jas itu dari tangan Damian, lalu di simpan ditempat tidur.


Dia menatap lagi Damian memiringkan kepalanya ke kanan dan kekiri.


Hanna meraih tangan kirinya Damian, dia membuka dasinya lalu disimpan di atas tempat tidur, sekarang tangannya membuka kancing atas kemejanya Damian.


“Kau mau apa? Kau tidak sedang akan memperkosaku kan?” tanya Damian, membuat Hanna menghentikan langkahnya.


“Memperkosa apa? Kau ini! Mana mungkin aku melakukannya?” keluh Hanna sambil cemberut.


“Tapi tidak apa-apa kalau kau mau,” goda Damian.


“Jangan terus terusan menggodaku!” semprot Hanna.


Tapi ternyata kedua tangan Damian itu langsung saja menarik pinggangnya lagi lebih dekat dan memeluknya. Lagi lagi Hanna sport jantung dibuatnya. Padahal setiap malam dia memeluk tubuhnya Damian, tapi kalau Damian mesra-mesra begini, tetap saja membuatnya sangat gugup.


“Kenapa kau terus memelukku?” tanya Hanna, dengan jantung yang terus berdebar kencang.


Damian tidak menjawabnya, dia malah menatapnya, dia ingin selalu memeluk wanita ini.


“Kau yang memancing melakukannya,” kata Damian.


“Tidak, aku tidak memancing, aku juga tidak sedang merayumu,” jawab Hanna menggeleng, suaranya semakin pelan karena kini Damian mendekatkan wajahnya ingin menciumnya.


“Jangan menciumku, kau tidak akan berhasil menciumku,” ucap Hanna.


“Kenapa?” tanya Damian.


“Karena akan selalu ada halangan, dan tidak akan berhasil,” jawab Hanna, membuat Damian tertawa.


“Masa seperti itu,” ucap Damian.


“Coba saja pasti akan ada sesuatu yang terjadi dan kau tidak akan berhasil menciumku,” kata Hanna dengan pasti.


“Kau yakin?” tanya Damian.


“Yakin. Itulah kenyataan yang terjadi, jadi…” ucap Hanna.


“Jadi apa?” tanya Damian, kembali mendekatkan wajahnya.


“Jadi..jangan menciumku,” ucap Hanna dengan pelan, bicara seperti itu tapi dia membayangkan Damian menciumnya. Dia semakin gugup dan tegang saja.


Damian semakin mendekatkan wajahnya.


“Jangan, tidak akan berhasil,” ucap Hanna dengan pelan. Jantungnya semakin deg degan.


Damian tidak menghiraukannya, Hanna benar-benar tidak tahu harus bagaimana, ingin rasanya berlari bersembunyi dibawah tempat tidur saking gugupnya.


“Tidak akan berhasil,” ucap Hanna lagi, sambil menahan nafas, bibir pria itu semakin mendekati bibirnya.


“Tidak akan berhasil,” ulang Hanna lagi, bicara seperti itu tapi dia sama sekali tidak menghindar, hatinya semakin deg degan, apakah Damian benar-benar akan berhasil menciumnya? Bagaimana kalau ternyata berhasil? Dia akan sangat malu kalau setiap bertemu Damian, ciuman itu pasti akan terbayang-bayang terus dimatanya.


Bibir Damian semakin mendekati bibirnya. Dan Tok tok tok…sebuah ketukan di pintu menghentikan gerakannya.


Hanna langsung tertawa, benar dugaannya ciuman Damian tidak akan pernah berhasil. Damian menghela nafas, dia bingung kenapa setiap ingin mencium Hanna selalu gagal? Apa akan seperti itu sampai mereka menikah?


“Tidak berhasil kan? “ ucap Hanna masih tertawa.


Damian melepas pelukannya. Dan Cup! Hanna terbelalak kaget, sebuah kecupan mendarat di pipinya. Pria itu tidak berhasil mencium bibirnya, pipinya yang dicium. Wajah Hanna langsung memerah.


Damian membuka pintu kamarnya, ada Satria disana.


“Kau tidak berangkat kerja?” tanya Satria. Matanya melirik ke dalam dan melihat kakak iparnya itu sedang memegang pipinya dengan wajahnya yang merah. Kenapa? Batin Satria bertanya-tanya.


“Aku akan keluar sebentar, kau berangkat saja dulu,” jawab Damian.


Satria menatap kakaknya, bukankah tadi saat sarapan kakaknya sudah rapih? Kenapa sekarang jasnya dibuka lagi? Fikirinya, saat melihat jas dan dasi ada diatas tempat tidur.


“Ya baiklah,” jawab satria, lalu pergi dari hadapan Damian.


Damian menutup pintu kamarnya lagi, membalikkan badannya dan melihat Hanna menatapnya sambil memegang pipinya dengan wajahnya yang merah. Melihat Hanna seperti itu membuat Damian ingin tertawa.


“Ayo katanya mau ke pasar!” ajak Damian.


Hanna menurunkan tangannya lalu berjalan mendekati Damian lagi, membuat pria itu kembali mengerutkan keningnya, mau apalagi Hanna?


Hanna meraih tangan kirinya Damian, membuka kancing lengan kemejanya Damian, lalu digulung-gulung sampai siku, diraihnya lagi tangan kanan Damian melakukan hal yang sama. Damian hanya memperhatikan apa yang dilakukan Hanna, diapun tersenyum.


“Nah sekarang lebih santai kan,” ucap Hanna.


“Ayo aku tunggu di bawah,” kata Damian, tangannya mengusap rambutnya Hanna, dia sangat menyayangi wanita itu.


“Iya, aku ganti pakaian dulu,” ucap Hanna, Damian pun keluar dari kamar itu. Hanna segera berganti pakaian, lalu diliriknya wignya. Dia berfikir sebentar, mungkin sebaiknya dia memakai wig saja, nanti bagaimana kalau ada yang mengenalinya dan melaporkannya pada ayahnya? Akhirnya Hanna pun memakai wignya.


Damian sudah ada di mobilnya saat Hanna masuk ke dalam mobil disebelah kirinya.


Damian langsung menoleh dan mengernyitkan keningnya.


“Kenapa kau memakai rambut palsu itu lagi?” tanyanya, keheranan apalagi sekarang Hanna menggunakan kacamata hitam.


“Kau semakin aneh saja,” keluh Damian.


“Silau, silaaau..” ucap Hanna sambil membetulkan kacamata hitamnya.


Damian hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, meskipun sikap wanita ini sangat aneh tapi dia tetap mencintainya, diapun tidak bicara apa-apa dan langsung menyalakan mobilnya.


Akhinya sampailah mereka dipasar tumpah. Pasar yang ada di sepanjang jalan itu tampak begitu ramai oleh penjual dan pembeli. Damian memarkir mobilnya diparkiran yang sangat penuh.


“Ramai sekali,” ucap Damian.


“Iya, karena ini pasarnya pasar mingguan, jadi hanya seminggu sekali saja berjualannya,” kata Hanna. Damian tidak bicara lagi, diapun turun diikuti Hanna.


“Kita akan kemana?” tanya Damian, kebingungan melihat orang-orang begitu banyak yang berbelanja.


“Kita susuri jalan saja,” jawab Hanna.


“Susuri jalan? Bukankah kau mau belanja?” tanya Damian, masih kebingungan.


“Ya menyusuri jalan sambil melihat-lihat,” jawab Hanna. Payah nih Damian, memang harus sesekali diajak belanja, batinnya.


“Ayo!” ajak Hanna, sambil memeluk tangannya Damian, tampak orang-orang banyak yang memperhatikan mereka. Merekapun menyurusi jalan yang ramai itu.


“Damian!” panggil Hanna.


“Apa?” tanya Damian.


“Kalau jalan-jalan seperti ini kita seperti pacaran kan ya,” ucap Hanna.


“Ah tidak juga,” jawab Damian. Hanna langsung menghentikan langkahnya dan menatap Damian.


“Tidak bagaimana?” tanya Hanna langsung cemberut.


“Apa pacaran harus pergi ke pasar? Pasarkan tempat berbelanja bukan pacaran,“ keluh Damian.


“Ih, ke pasar juga bisa pacaran,” ucap Hanna, dan langsung memeluk tangannya Damian lagi. Merekapun kembali berjalan.


Hanna melirik Damian lagi, senang rasanya bisa berjalan-jalan berdua dengan Damian meskipun berdesak desakan di pasar. Tiba-tiba dia melihat seseorang mengambil dompetnya Damian dari saku belakangnya Damian.


“Copeet!” teriak Hanna.  Si pencopet itu langsung berlari ke dalam pasar, Hanna juga langsung berlari mengejarnya. Damian tampak bingung melihat Hanna sudah jauh di kerumunan orang.


“Hanna!” panggilnya, diapun segera menyusul Hanna..


Hanna berlari dengan kencang, si pencopet itu tidak tahu kalau dia jago lari waktu sekolah dulu.


“Kembalikan dompetnya!” teriak Hanna sambil bertabrakan dengan orang orang.


Karena panik Hanna semakin dekat, si pencopet itu menoleh kebelakang dan dug! Dia bertabrakan dengan seorang wanita membuat dompetnya Damian terjatuh ke tanah.


“Berhenti kau!” teriak Hanna yang semakin dekat. Melihat Hanna semakin dekat, copet itupun lari tidak memikirkan dompet yang jatuh tadi.


Si ibu itu melihat dompet yang jatuh tadi, lalu diambilnya. Diapun melihat kearah Hanna lalu kearah pencopet yang menghilang di kerumunan orang-orang.


*************


Readers, semoga kalian tidak pernah bosan tiap episodenya. Cos author nulis tanpa konsep. Dadakan segimana jari mengetik saja tiap harinya. Tanpa revisi-revisian langsung jadi, cuma dibaca ulang saat copy paste kalau up, jadi banyak typo kalau lagi buru-buru.


Jangan lupa like vote dan komen.