Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-30 Ketahuan



Hanna bergegas ke ruangannya Damian. Bu Siska mengangguk menyapanya, Hanna membalasnya dengan tersenyum ramah. Di meja sekretaris dia celingukan mencari barangkali diruang tunggu sekretaris ada koran koran, ternyata tidak ada. Hatinya merasa lega. Diapun lansung masuk ke ruangannya Damian.


Dilihatnya Damian sedang membaca koran, yang belakangnya ada berita orang hilang. Hanna terkejut melihatnya.


“Damian, ada tamu diluar mencarimu,” seru Hanna, berjalan mendekati meja kerjanya Damian.


“Tamu? Kenapa bukan Bu Siska yang memberitahu?” tanya Damian, masih membaca korannya. Hanna melihat Damian membuka lembaran halaman selanjutnya. Hatinya semakin berdebar-debar.


“Damian, ayo coba kau lihat dulu tamunya,” kata Hanna lagi. Kini Damian menatapnya.


“Biarkan saja tamu yang masuk, kenapa aku harus keluar?” tanya Damian.


“Tidak apa-apa sesekali tuan rumah yang menyambut tamunya,” bujuk Hanna.


“Siapa sih tamunya?” tanya Damian, sambil melipat korannya dan menyimpannya diatas meja. Diapun bangun dari duduknya, berjalan keluar ruangan.


Hanna buru-buru mengambil Koran itu dan mengambil lipatan halaman terakhir, buru-buru dilipatnya dan dibuang ke tong sampah. Koranpun kembali di simpan di meja ditata dengan rapih. Diapun duduk di salah satu set sofa di sebelah kiri. Matanya melirik pada tabloid dan koran –koran. Buru-buru dilihatnya  Koran-koran itu dan diambilnya halaman terakhirnya, dilipat lipat kecil dibuang ke tong sampah.


Damian kembali masuk ke ruangan, menatap wanita itu yang sedang duduk santai di sofa empuk itu.


“Katamu ada tamu, ko tidak ada, kata bu Siska juga tidak ada,” kata Damian.


“Oh mungkin tamunya sudah pergi. Biarkan saja,” kata Hanna, sambil meraih tabloid dan pura-pura membacanya.


Damian mengernyitkan keningnya merasa heran. Diapun kembali ke kursinya dan kembali membaca korannya. Mata Hanna melirik diantara tabloid itu ke arah Damian. Pria itu sedang membolak balikkan korannya yang tidak ada halaman terakhirnya.


“Bu Siska!” panggilnya pada sekretarsinya.


“Ya pak,” jawab Bu Siska muncul dipintu yang terbuka.


“Kenapa korannya tidak ada halaman depan dan terakhir? Perasaan tadi ada halaman depannya,” kata Damian, kebingungan.


“Masa pak?” tanya Bu Siska tidak percaya.


“Tadi ada ko halaman depannya,” lanjut Bu Siska sambil menghampiri dan melihat koran ditangan damian.


“Iya ya kemana halaman depan dan belakangnya?” gumamnya.


“Ambil koran yang lain saja pak,” kata bu Siska, diapun berjalan ke rak yang dekat sofa yang diduduki Hanna. Dimbilnya koran yang sama. Diapun keheranan karena lembar halaman pertama dan belakangnya hilang.


“Tidak ada juga, perasaan tadi lengkap halamannya,” gumam Bu Siska.


“Lain kali kau cek lagi korannya,” ucap Damian pada Bu Siska.


“Iya pak,” jawab Bu Siska.


Hanna pura-pura tidak memperhatikan, dia serius membaca tabloidnya.


Bu Siskapun keluar dari ruangan itu.


Tidak berapa lama, telpon dimeja Damian berbunyi.


“Apa? Begitu? Baiklah aku turun sekarang,” ucap Damian. Lalu menoleh pada Hanna.


“Aku turun dulu, kau jangan kemana-mana,” kata Damian.


“Ya baiklah, kau tenang  saja,” ucap Hanna dengan enteng. Dalam hatinya dia ingin tertawa, mereka tidak tahu halaman pertama dan belakang koran itu dia buang ke tempat sampah.


Tidak berapa lama Damian pun datang dengan membawa sebuah CD. Dia menutup pintu ruangan kerjanya.


“Tumben sekali,” fikir Hanna. Masih sibuk dengan tabloidnya.


Damian menarik kursi yang biasa dipakai di depan meja kerjanya. Ditariknya di depan Hanna lalu dia duduk disana, menopang satu kakinya, menatap wanita yang sedang asyik membaca itu.


“Ehm!” Damian berdehem. Hanna cuek saja tidak menggubrisnya.


“Ehm! Ehm!” Damian berdehem berkali kali.


“Kau kurang miinum. Perbanyak minum air putih,” ucap Hanna, tanpa menoleh membuat Damian kesal.


“Lihat aku!” Perintah Damian.


“Apa?” tanya Hanna, masih tidak menoleh.


“Lihat aku! Kau dengar tidak?” tanya Damian. Akhirnya Hanna menatap Damian yang sudah duduk di depannya.


“Ada apa? Kenapa aku harus melihatmu?” tanya Hanna.


“Aku tidak main-main, lihat aku!” kata Damian dengan serius. Hannapun menatapnya.


“Ada apa? Aku juga serius,” ucap Hanna.


“Sebelum berangkat kesini kau dengar apa perkataanku?” tanya Damian.


“Iya, memangnya kenapa?” Hanna balik bertanya.


“Apa yang kau ingat?” tanya Damian, menatap tajam wanita itu.


“Supaya aku menjaga sikapku dan tidak membuatmu malu,” jawab Hanna.


“Bagus. Apa kau sudah melakukannya?” tanya Damian lagi.


“Sudah.Kau lihat kan, aku duduk manis disini membaca tabloid,” jawab Hanna dengan enteng.


“Kau yakin?” tanya Damian.


“Yakin, kenapa tidak?” tanya Hanna.


Damian bangun dari duduknya. Menyalakan televisi dan memasukkan CD yang dia  bawa tadi.


Hanna menoleh ke arahnya.


“Kau menyuruhku menonton film?” tanya Hanna.


“Iya.”


“Film apa?” tanya Hanna lagi, penasaran melihat ke layar tv.


“Kartun,” jawab Damian.


“Benarkah? Kau memang pengertian, aku jenuh membaca tabloid terus dari tadi,” seru Hanna.


“Coba kau mendekat,” kata Damian. Hannapun mendekat, berdiri disamping Damian menonton tv, yang langsung menyala dan CDpun berputar.


Tapi begitu melihat layar di TV,dia terkejut, membelalakkan matanya dengan tajam, lalu berjalan lebih dekat ke televisi.


 Damian melipat kedua tangannya menatap Hanna, dengan pandangan yang marah.


“Istri Direktur terekam CCTV membuang semua koran di loby! Benar-benar memalukan!” kata Damian dengan nada tinggi. Hanna langsung berubah pucat. Dia tidak menyangka kalau tindakannya tadi membuang koran Koran di loby terekam CCTV.


“Jelaskan padaku, kenapa kau melakuakn itu? Kenaapa kau kurang kerjaan membuang koran-koran di loby? Tunggu, jangan jangan kau juga yang membuang lembaran pertama koran yang kubaca?” tanya damian. Diapun berjalan ke meja kerjanya dan mengambil Koran itu. Diperlihatkan pada Hanna.


Kali ini Hanna benar-benar tidak bisa berkutik. Diapun langsung menunduk.


Damian menatapnya tajam.


“Mana halaman pertama Koran itu?” tanya Damian.


Hanna masih diam.


“Kau dengar tidak?” bentak Damian, membuat Hanna kaget dibentak begitu.


“Ada ditong sampah,” jawab Hanna dengan lesu.


“Ambil!” perintah Damian. Hanna pun bangun dan mengabil lembaran Koran yang dia buang itu.


“Sini!” Perintah Damian.


Hanna memberikan koran itu dengan ragu-ragu. Damian mau mengambilnya tapi Hanna tarik lagi.


“Sini korannya!” ucap Damian dengan ketus. Hanna memberikannya, lagi-lagi diurungkan. Akhirnya Damian merebutnya.


“Damian tolong, jangan pulangkan aku pada Cristian. Tolong. Aku pasti akan dimarahi orangtuaku, aku akan dinikahkan pada kakek kakek tua yang kaya, aku tidak mau suamiku tua,” ucap Hanna sambil memegang tangan Damian. Pria itu menatapnya.


“Ya, aku mohon, Jangan beritahu Crsitian aku bersamamu, tolonglah,” pinta Hanna, memelas. Damian membuka koran yang sudah dilipat lipat kecil tadi lalu membacanya, tidak ada yang aneh, lalu membalikkan halaman terakhir. Berita Orang Hilang, ada foto Hanna disana dan nama contak juga nomor Cristian.


Damian menoleh pada Hanna.


“Jadi kau menyembunyikan ini?” tanya Damian. Hanna mengangguk.


“Tolong jangan beritahu Cristian,” pinta Hanna. Damian tampak berfikir, berjalan mondar mandir sambil memegang dahinya. Hanna mengikutinya mondar mandir.


“Tolong Damian. Ya, ya,” pinta Hanna.


“Duduk!” perintah Damian pada Hanna. Wanita itu langsung duduk di sofa tadi.


Damian pun duduk di kursi didepan Hanna.


“Jadi kau menyembunyikan berita orang hilang itu?” tanya Damian. Hanna mengangguk.


“Pria itu berjanji akan memberi uang pada orang yang menemukannya,” kata Damian. Hanna menatapnya harap harap cemas.


“Jadi…” Damian belum melanjutkan bicaranya.


“Jadi apa?” tanya Hanna penasaran.


“Kau akan memberitahu Cristian?” tanya Hanna lagi.


“Kira-kira dia akan membayar berapa kalau aku beritahu kau ada bersamaku?’ Damian balik bertanya.


“Damian, tolong, jangan beritahu Cristian, tolong,” pinta Hanna, berjalan mendekat dan berjongkok di depan Damian sambil memegang tangan Damian.


“Kau yakin tidak mau aku memberitahunya?” tanya Damian, matanya menatap wanita yang sedang bersimpuh di kakinya.


“Iya,” jawab Hanna.


“Kenapa? Aku harus tahu dulu alasannya,” jawab Damian.


“Tentu saja nanti aku akan dikembalikan pada orangtuaku, mungkin aku akan dinikahkan kembali dengan Cristian, atau dengan kakek kakek,” jawab Hanna.  Mendengar dinikahkan kembali, tiba-tiba hati Damian yang merasa gelisah.


Bagaimana kalau Cristian menemukan Hanna dan mengambilnya darinya? Apalagi kalau sampai Hanna menikah dengan Cristian, siapa yang akan memeluknya saat mengigau? Damian tampak menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Bagaimana?” tanya Hanna.


“Tentu saja tidak. Kau punya kontrak untuk memelukku selama satu tahun. Kau fikir aku akan buang buang uang begitu saja?” jawab Damian. Hanna langsung tersenyum lebar. Diapun bangun dari duduknya.


“Kau benar! Kau kan pria kaya pelit dan perhitungan! Kenapa aku lupa ya? Tanpa memohon padamupun kau tidak mugkin memberikanku pada Cristian, kau akan rugi!” seru Hanna, membuat jengkel Damian. Wajahnya langsung memerah.


“Kau ini bicara apa? Pria kaya pelit perhitungan? Aku membayarmu sangat mahal, masih kau sebut pelit?” tanya Damian dengan kesal.


“Kau kan tidak memberikan istrimu ini rumah, kau malah membeli rumah dipantai untuk kekasihmu, iya kan?” ucap Hanna, membuat Damian terkejut. Hanna tau dari mana soal rumah dipantai itu?


“Kau tau darimana soal rumah itu?” tanya Damian.


“Dari agen penjualan rumah.Aku lupa memberitahumu soal itu, kunci dan sertifikatnya sudah siap,” jawab Hanna.


“Oh begitu?” gumam damian.


“Kau pasti sangat mencintai kekasihmu itu kan? Kau membelikannya rumah yang sangat mahal!” seru Hanna. Damian terdiam.


“Kau mau melihat rumah itu?” tanya Damian.


“Benarkah aku boleh melihatnya?” tanya Hanna, berseri-seeri.


“Iya, hanya melihat lihat saja, bukan menempatinya,” jawab Damian dengan ketus.


“Iya iya aku tahu itu kan rumah untuk kekasihmu. Kapan kita melihatnya?” tanya Hanna.


“Nanti aku tanya Bu Siska dulu, ada yang bisa dicancel tidak jadwal hari ini,” jawab Damian. Diapun pergi ke meja sekretarisnya.


“Bu Siska, Semua jenis koran hari ini tolong simpan digudang. Jangan sampai ada satu karyawanpun yang membacanya,” perintah Damian.


“Tapi kenapa,Pak?” tanya Bu Siska.


“Pokoknya turuti saja perintahku. Dan satu lagi, batalkan semua jadwal kerjaku hari ini, aku mau keluar kota,” kata Damian.


“Dengan pak Indra?” tanya Bu Siska.


“Tidak, berdua dengan istriku saja,” jawab Damian.


“Baiklah Pak,” jawab Bu Siska.


****************


Lanjut besooook…nyari cerita yang romantis ah…kira-kira ngehalu apa ya ?


Temanya masih yang ringan ringan ya Readers..


Jangan lupa like dan komen


Yang belum baca “My Secretary” buruan baca. Season 2 (Love Story in London) Siapkan hati dan perasaan ya kalau baca yang ini. Tapi kalian tidak akan berhenti bacanya makanya performancinya bagus. Yuk dibaca yuk…