
Pagi ini Hanna sudah berdandan rapih, dia ingin mengajak Damian jalan-jalan ke pantai. Tapi saat matahari sudah tinggi pria itu masih tidur nyenyak dan Hanna tidak berani membangunkannya. Mungkin Damian kelelahan karena bekerja sampai dini hari.
Saat membuka pintu kamar, ada Satria yang tidur di sofa diruang tengah itu. Pria itu apalagi sepertinya pulang pagi.
Hannapun membuka pintu rumah itu, dia teringat kalau dia belum melihat ke sekeliling rumah, sambil menunggu Damian bangun, lebih baik dia melihat-lihat saja keluar. Kakinyapun melangkah menuruni tangga. Dihalaman rumah sudah ada beberapa mobil terparkir, mobil karyawannya Damian.
“Pagi, Bu,” seseorang menyapanya. Hanna menoleh pada pria yang menyapanya, sepertinya karyawannya Damian.
“Pagi,” jawab Hanna. Pria itu mengangguk lalu masuk ke dalam rumah yang dijadikan kantor itu.
“Pagi Bu, apakah Pak Damian ada?” tanya seseorang lagi dibelakangnya. Hanna membalikkan badannya, ternyata pak Indra yang baru datang dengan seseorang dan seseorang itu yang langsung membuat jantungnya berhenti berdetak.
“Pak Damian masih tidur, dia pulang dini hari, mungkin kelelahan,” jawab Hanna pada Pak Indra. Dia tidak merani menatap Cristian, dia jadi menyesal kenapa dia keluar dari rumah jika akhirnya bertemu dengan Cristian? Dia tidak mengira Cristian akan ke kantornya Damian.
“Ya kita akan menunggu kalau begitu,” ucap Pak Indra, lalu menoleh pada Cristian.
“Pak Cristian, saya masuk ke dalam dulu, ada berkas yang harus saya ambil,” kata Pak Indra. Cristian mengangguk.
“Mari bu,” kata Pak Indra, Hanna hanya mengangguk dan melihat Pak Indra masuk ke dalam.
Hanna akan beranjak meninggalkan cristian, tapi tiba-tiba tangannya di pegang oleh Cristian.
Satria mendengar suara pintu kamar kakaknya terbuka, dia melirik sekilas, kakak iparnya keluar dari kamar itu dan kembali menutup pintunya.
Satria memejamkan matanya lagi, terdengar suara pintu dibuka lagi, sepertinya kakak iparnya keluar rumah. Diapun jadi membuka matanya melihat jam di dinding, ternyata sudah siang, akhirnya diapun bangun mengeliatkan tubuhnya dan masih menguap.
Cristian memegang pergelangan tangan Hanna dengan kuat.
“Jangan menghindar lagi Hanna, kita perlu bicara,” kata Cristian.
“Maaf Pak Cristian, Aku Nyonya Damian, mungkin kau salah orang,” ucap Hanna, dia memegang tangan Cristian mencoba melepaskan tangannya dari pegangan Cristian yang malah terasa lebih erat.
“Stop Hanna!“ teriak Cristian dengan keras, mungkin karyawan di dalam juga ada yang mendengar suaranya. Termasuk Satria yang sedang berdiri didepan pintu rumah, sambil merentangkan tangannya ke atas dan melihat ke bawah.
Satria menghentikan pandangannya saat ada sesuatu yang menarik yang dilihatnya, Cristian memegang tangan kakak iparnya. Ada apa ini? Dia keheranan.
“Maaf Pak Cristian, aku tidak mengerti apa maksudmu,” kata Hanna,wajahnya langsung pucat. Dia khawatir mereka akan menarik perhatian karyawan yang di dalam.
Cristian menatap Hanna, yang mecoba mengalihkan pandangan ke area lain.
“Kau tidak mengerti apa maksudku? Baiklah aku akan menjelaskannya padamu, Nyonya Damian,” kata Cristian dengan kesal. Bukannya melepaskan tangan Hanna, tapi Cristian menarik tangan itu supaya mengikutinya meninggalkan tempat itu dan menuju mobilnya.
Satria semakin keheranan melihat Cristian membawa kakak iparnya masuk ke dalam mobil Cristian.
“Ada apa ini?” tanyanya pada diri sendiri. Karena melihat dari sikap mereka menunjukkan kalau Cristian mengenal kakak iparnya.
Cristian membuka mobilnya, terpaksa Hanna masuk kedalam. Cristian langsung menguncinya dan menutup pintu mobilnya. Diapun berjalan memutar masuk ke dalam mobil dan menjalankannya dengan kencang.
Satriapun buru-buru turun dari tangga, masuk ke ruangan karyawan.
“Pak Indra, apa aku bisa meminjam mobilnya sebentar?” tanyanya.
Pak Indra menatapnya lalu menoleh pada seorang karyawan yang segera mengeluarkan kunci mobilnya. Satria sengaja tidak menggunakan mobil kakaknya, menjaga Cristian atau Hanna mengenalinya.
Hanna diam dalam perjalanan, tidak ada sepatah katapun yang terucap. Begitu juga dengan Cristian, pria itu terlihat sangat marah.
Mobil berhenti di dekat pantai. Cristian lebih dulu turun, kemudian membuka pintu disebelah Hanna. Terpaksa Hannapun turun dan Cristian kembali meraih tangannya mengajak Hanna ke sebuah bongkahan pohon kelapa yang tumbang, barulah tangannya dilepaskan Cristian.
Satria memarkir mobilnya agak jauh dari tempat Cristian memarkir mobilnya, sengaja mencari tempat yang agak tersembunyi. Setelah merasa aman, dia mencari-cari kemana Cristian membawa kakak iparnya. Hatinya benar-benar penasaran ada hubungan apa Cristian dengan kakak iparnya? Semuanya benar-benar sangat mencurigakan.
Cristian menatap Hanna yang berdiri di dekat bongkahan pohon kelapa yang tumbang itu.
“Baiklah Nyonya Damian, aku harus menjelaskannya mulai dari mana supaya anda mengerti?” tanya Cristian. Hanna terdiam.
“Atau sekarang setelah melihat semua ini, pantai ini, bongkahan pohon kelapa ini, kau terbangun dari amnesiamu?” tanya Cristian, semakin membuat Hanna tidak bisa bicara. Dia tidak berani menatap Cristian.
“Aku mencarimu kemana-mana, ke seluruh pelosok negeri aku mencarimu dengan harapan aku bisa menemukanmu kembali dan ternyata kau bersikap kucing kucingan denganku?” tanya Cristian lagi dengan nada kecewa.
Hanna bingung dia harus bicara apa? Dia tidak mau hubungan Cristian dan Damian terganggu karena masalah dirinya apalagi mereka sedang mengerjakan kerjasama bisnis, semuanya akan jadi berantakan, dia tidak mau mengganggu pekerjaannya Damian. Pria itu sangat giat sekali bekerja, dia tidak mau merusaknya. Tapi apakah sikap diamnya itu akan membuat semuanya berlarut-larut?
“Aku memang bukan Hanna yang kau cari, tapi aku Nyonya Damian,” ucap Hanna, kini menatap Cristian.
Cristian menatapnya, mereka saling tatap.
“Kau tega bicara begitu padaku?”tanya Cristian. Hanna terdiam.
“Aku tahu kau sekarang Nyonya Damian, aku tahu kau juga sedang hamil bayinya,” kata Cristian.
Hanna terkejut, dia hampir lupa kalau semua orang mengira dia sedang hamil termasuk Cristian.
“Tapi kau tidak perlu menutupi kalau kau bukan Hannaku. Beribu ribu kali kau menyangkal, aku tidak akan percaya, aku tidak bisa dibohongi,” ucap Cristian.
Hanna kembali diam.
“Aku sangat mengenalmu Hanna, kita selalu bersama-sama dari kecil, dan kau tega menyakitiku,” ucap Cristian. Membuat Hanna sedih mendengarnya. Tapi entah kenapa bibirnya terasa kelu, dia tidak sanggup berkata apa-apa. Dia tidak sanggup bicara jujur pada Cristian, dia takut kejujurannya malah membuat pria itu semakin sakit hati.
Satria melihat kakak iparnya sedang bicara dengan Cristian, tapi dia bingung, bagaimana caranya supaya dia bisa mendengar pembicaraan mereka, sedangkan posisi Hanna dan Cristian itu tempatnya terbuka, hanya bongkahan kelapa itu ada di bawah sebuah pohon, itu juga bukan pohon rimbun, pohonnya ramping dengan daun-daunnya yang kecil entah pohon daun kayu putih atau apa, entahlah.
Dari tempat Satria bersembunyi, dia tidak bisa mendengar pembicaraan kakak iparnya dan Cristian padahal dia sudah meruncingkan telinganya, tetap saja tidak terdengar, apalagi ada suara ombak dan dedaunan yang tertiup angin. Kembali dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Hemm sepertinya dia punya ide.
Cristian menatap Hanna dengan tajam, Hanna kembali mengalihkan pandangannya, dia tidak tega ditatap seperti itu. Dia tidak tega melihat kekecewaan dimata Cristian.
“Katakan padaku kenapa kau tega meninggalkanku? Dan tiba-tiba kau muncul sudah menjadi istri Damian, aku perlu jawabanmu,” kata Cristian.
“Aku, aku minta maaf Cristian, aku…” belum selesai Hanna bicara, handphonenya Cristian berdering berulang ulang sangat nyaring. Cristian mengambil ponsel disakunya, dilihatnya dilayar ada nama ibunya.
“Halo bu,” sapa Cristian.
“Sayang, kau dimana? Ibu sudah sampai, rumahnya ternyata dikunci, tidak ada orang dirumah, kakekmu kemana? Para pekerja kemana?” terdengar suara ibunya disebrang.
“Iya bu, tadi kakek pergi ke rumah temannya, para pekerja mungkin sedang diberi pekerjaan oleh kakek,” jawab Cristian.
“Cepat pulang, ibu tidak bisa masuk. Ibu juga sangat merindukanmu,” kata ibunya Cristian.
“Iya bu, aku pulang sekarang,” jawab Cristian lagi.
Cristian kembali menatap Hanna, setelah telponnya ditutup. Dia masih ingin bicara dengan Hanna, tapi kasihan ibunya tidak bisa masuk ke rumah.
“Aku harus pulang, ibuku baru tiba. Pembicaraan kita belum selesai,” kata Cristian.
Hanna tidak menjawab, dia masih mematung, dia benar-benar tidak bisa berfikir jernih, dia bingung.
Hannapun berjalan melewati tukang asongan itu.
“Jualan asongan ditempat ramai, bukan ditempat sepi,” ucapnya sambil lalu.
Tukang asongan itu tertawa dan langsung bangun mengikutinya.
“Apa kau akan membeli nona, harganya cuma 5rb an, ada kacang rebus, tahu, mangga dan jambu juga ada,” kata tukang asongan, sambil memperlihatkan jualannya.
“Buat ibu hamil sepertinya cocok mangga, pasti segar,” kata penjual asongan itu sambil mengambil sebungkus mangga dan diberikan pada Hanna.
“Sebungkus 5rb? Mahal amat?” gerutu Hanna sambil mengambil mangga itu.
“Biasanya 5rb 3,” lanjut Hanna sambil menghentikan langkahnya dan melihat gantungan jajanan itu.
“Yang benar saja, 5rb 3 bungkus plastiknya doang,” kata tukang asongan itu, memberengut.
Hanna masabodoh dengan protes tukang asongan itu. Dia mengambil beberapa bungkus jajanan, lalu berjalan lagi.
“Uangnya belum, nona,” kata tukang asongan.
“Bayarnya dirumah, aku tidak bawa uang,” kata Hanna, terus berjalan dan membuka salah satu jajanan yang diambilnya itu.
“Kalau dirumah harus ditambah uang transport dan uang jasa pengiriman, nona,” kata tukang asongan itu lagi.
“Nanti aku bayar di rumah!” kata Hanna dengan ketus. Sambil menepuk topi tukang asongan itu.
“Kau terlalu tampan jadi tukang asongan,” ucap Hanna sambil tersenyum.
“Ternyata kau mengakui kalau aku tampan? Kalau dibandingkan kakakku lebih tampan siapa?” tanya tukang asongan itu.
“Tentu saja lebih tampan kakakmu,” jawab Hanna.
“Yang benar saja, mungkin karena sekarang aku belum mandi,” kata tukang asongan.
“Mau mandi atau tidak juga sama saja. Lebih tampan kakakmu!” teriak Hanna sambil mengunyah jajanannya.
“Tidak, tidak, sejak kapan kakakku lebih tampan dariku?” keluh tukang asongan.
“Ya dari dulu lah begitu. Kakakmu mau mandi mau tidak, mau pake jas, mau pakai baju tidur, mau pake kaos oblong juga dia sangat tampan!” seru Hanna.
“Aku tidak bisa terima semua ini. Aku tidak bisa terima!” balas tukang asongan itu sambil berteriak, berjalan lebih dulu dan membalikkan badannya, dia agak terkejut saat matanya melihat bahwa ada satu orang wanita yang menatap mereka dan wanita itu cukup lama berdiri disana. Siapa dia? Hatinya bertanya-tanya. Ternyata bukan satu orang itu saja yang menatap mereka. Tapi ada sepasang mata lagi yang memperhatikan dibalik pohon.
“Nona apakah kau akan membantuku berjualan jajanan ini?” tanya tukang asongan, kembali berjalan disamping Hanna.
“Ah tidak, aku mau pulang,” jawab Hanna.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita bagikan saja jajanannya pada anak-anak?” usul tukang asongan itu.
“Ya baiklah, aku akan bantu membagikannya,” ucap Hanna. Saat mereka melewati anak-anak kecil yang sedang bermain, tukang asongan itu membagikan jajanannya diikuti oleh Hanna. Tidak lupa jaket dan topi tukang asongan itu diberikan pada anak-anak itu. Mereka saling berebut ingin mendapatkannya.
Akhirnya jajanan itu habis dibagikan, juga jaket dan topi asongan itu.
“Habis juga,” kata tukang asongan.
“Kalau dibagikan habis, kalau dijual lama lakunya,” kata Hanna sambil tersenyum. Senang rasanya melihat anak-anak itu sangat bersuka cita mendapatkan makanan gratis.
Hanna menoleh pada tukang asongan itu yang juga menoleh padanya.
“Apakah tanpa topi dan jaket lusuh itu masih lebih tampan kakakku?” tanya tukang asongan.
“Tentu saja, kakakmu lebih tampan dari semua pria di dunia ini,” jawab Hanna sambil tertawa.
“Huh, kakakku pasti kegeeran kalau mendengarnya,” kata tukang asongan.
Hanna lagi-lagi tertawa.
“Sepertinya aku harus ke salon,” kata tukang asongan.
“Apa? Ke salon?” tanya Hanna terkejut.
“Ya untuk mempertampan diri, emangnya perempuan saja yang kesalon? Laki-laki juga ke salon, wajahku memang harus dibersihkan,” kata tukang asongan itu sambil berkaca di spion mobil, tangannya memegang dagunya, memiringkan wajahnya kekiri dan ke kanan.
“Ih centil amat jadi cowok. Kalau kecentilan tidak ada gadis yang akan mendekatimu,” keluh Hanna.
“Biarkan saja, aku juga sudah menyukai seseorang ,” kata tukag asongan.
“Siapa?” tanya Hanna menatap pria itu.
“Tentu saja kau, tapi sayang kau istri kakakku!” jawab tukang asongan itu.
“Satriaaa!! Jaga bicaramu atau kakakmu akan marah!” teriak Hanna, memasang wajah cemberut.
Pria itu malah tertawa sambil membuka pintu mobilnya. Diapun masuk diikuti Hanna. Tidak berapa lama, mobilpun melaju pelan meninggalkan pantai itu.
“Bisakah kau berjanji sesuatu padaku?” tanya Hanna saat didalam mobil.
“Berjanji apa?” tanya Satria.
“Jangan bicara apa-apa pada kakakmu,” jawab Hanna.
“Apa yang akan aku bicarakan, aku juga tidak mendengar apa-apa. Padahal aku sudah membeli topi dan jaket lusuh itu dengan mahal, belum jajanannya, benar-benar pengorbanan yang sangat besar,” ucap Satria.
Hanna hanya tersenyum mendapat jawaban seperti itu dari Satria. Entah Satria jujur atau tidak dengan kata-katanya. Merekapun tidak bicara apa-apa lagi sampai tiba di rumah.
Saat Hanna membuka pintu kamar, terdengar suara air mengalir di kamar mandi. Hanna melihat tempat tidur itu kosong, mungkin Damian sedang mandi.
“Damian? Kau sedang mandi?” tanya Hanna, berteriak kencang.
“Iya,” jawab Damian dari dalam kamar mandi, juga berteriak.
Hanna berjalan mendekati meja , mengambil gelas yang sudah terisi minum disana. Dia sangat haus sekali apalagi sudah makan jajanjan tadi. Diminumnya air dalam gelas itu lalu kembali disimpan diatas meja. Setelah itu dia berjalan mendekati tempat tidur dan duduk dipinggirnya. Menghela nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya, mencoba bersikap lebih wajar dan tidak gugup.
Tapi tiba-tiba matanya tertuju pada lantai. Adakah yang aneh dengan lantai itu? Bukan lantainya yang aneh, tapi ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Didekatinya lantai itu, diapun berjongkok dan tangannya menyentuh sesuatu dilantai itu. Ada butiran pasir berjatuhan disana.
Hanna menatap pasir yang ada di tangannya. Pasir? Darimana pasir itu? Pasir itu kan dari pantai. Apakah, apakah Damian juga pergi ke pantai tadi?
***********************
Jangan lupa like vote dan komen