Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-98 Perubahan sikap Martin



Shezie keluar dari persembunyiannya dan langsung menghampiri ibunya dan Hanna.


“Bu!” panggilnya pada ibunya.


Bu Vina tidak menoleh sedikitpun tatapannya tertuju keluar rumah, seakan tidak mau tau apapun yang akan Shezie katakan.


Melihat sikap ibunya, Shezie menoleh pada Hanna.


“Bu, aku minta maaf, aku tidak bisa rujuk dengan Henry,” ucap Shezie, dengan nada tersekat, sebenarnya dia ingin menangis waktu itu juga, begitu mengatakan hal yang bertolak belakang dengan perasaannya.


Hanna menatap Shezie yang tidak mau menatapnya. Hanna bisa tahu bagaimana sakitnya hati Shezie saat mengatakan hal itu. Sudah jelas terlihat bagaimana mereka saling berpelukan di toilet, pasti hal itu sangat berat bagi Shezie.


Sebenarnya dia juga tidak ingin berurusan lagi dengan mantan pacarnya Damian itu.


Kini Shezie mencoba menatap Hanna.


“Aku akan tetap menikah dengan Martin Bu,” lanjutnya.


“Baiklah kalau memang keputusanmu sudah bulat. Tadinya aku hanya berusaha menyatukan kalian karena aku tahu kalian saling mencintai, tapi kalau kau sudah memutuskan tidak mau rujuk dengan Henry, aku tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Hanna.


Shezie tidak menjawab begitu juga dengan Bu Vina.


“Baiklah kalau begitu, aku permisi, semoga kau bahagia dengan Martin,” kata Hanna. Tanpa banyak bicara lagi, dia keluar dari rumah itu.


Shezie menoleh pada ibunya yang tidak mau menatapnya. Diapun tidak bicara apa-apa lagi, Shezie kembali ke kamarnya dan menutup pintunya. Diraihnya tasnya, akan bergegas ke café, tapi tiba tiba dia merasa lesu dan duduk dipinggir tempat tidur. Tiba-tiba airmata tidak bisa dibendung lagi, diapun terisak sendiri didalam kamar itu.


Sebenarnya dia ingin rujuk, tapi ibunya masih tidak bisa menerima keluarga Henry. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain mengalah dengan takdirnya untuk tetap menikah dengan Martin.


Hanna pulang kerumah dengan lesu. Dia gagal memperjuangkan rujuk untuk putranya. Tapi dia juga tidak bisa memaksa. Selain memang sangat dipaksakan tapi mungkin itu adalah yang terbaik, karena walau bagaimanapun dia akan terus terusan merasa takut Damian perhatian pada ibunya Shezie dan akan menumbuhkan cinta lama mereka lagi, kalau itu terjadi rumah tangganya akan hancur, begitu juga dengan rumah tangganya Henry dan Shezie.


Diambilnya ponselnya dan melakukan panggilan ke nomornya Henry.


Henry yang sedang berada dalam ruangan dengan ayahnya, melihat ponselnya berdering langsung mengangkatnya.


“Halo Bu!” panggilnya.


“Henry, ibu minta maaf,” ucap Hanna.


“Minta maaf apa?” tanya Henry keheranan, matanya melirik pada ayahnya yang juga menatapnya saat mendengar dia bicara.


“Ibu gagal mengajak rujuk Shezie,” kata Hanna.


“Apa? Ibu  mengajak Shezie rujuk?” tanya Henry, terkejut karena dia tidak tahu kemana ibunya pergi tadi.


“Iya tadi Ibu ke rumahnya Shezie, Ibu mengajaknya rujuk tapi mereka menolaknya,” kata Hanna.


“Jadi Shezie tidak mau rujuk denganku?” tanya Henry. Damian menatap putranya itu, mendengarkan apa yang dibicarakannya dengan istrinya.


“Iya sayang, maafkan ibu,” ucap Hanna dengan sedih.


“Tidak perlu minta maaf Bu, mungkin ini yang terbaik buatku dan Shezie, tidak perlu minta maaf,” ucap Henry.


Tidak berapa lama telponpun ditutup. Damian bangun dari duduknya dan menghampiri Henry lalu duduk disampingnya Henry.


“Sayang, rujukmu ditolak?” tanya Damian.


“Iya ayah, aku tidak tahu kalau Ibu kerumahnya Shezie,” jawab Henry menatap ayahnya itu.


Damian memegang bahunya Henry.


“Sayang, ayah minta maaf, kalau bukan karena ayah, semuanya tidak akan terjadi,” kata Damian.


“Sudahlah ayah, mungkin memang sudah takdirku berpisah dengan Shezie, aku akan tetap menjalani hari-hariku,” ucap Henry.


Damian mengangguk dan menepuk bahu putranya itu. Sebenarnya dia masih ingat dengan rencananya Hanna untuk membuat keluarga Martin bangkrut. Tapi kalau Shezie sendiri sudah memutuskan semua itu tidak ada gunanya lagi. Dia juga memahami perasananya Vina yang pasti tidaklah senang jika harus terus bertemu dengannya dan Hanna.


Hanna menutup telpon dengan perasaan yang sedih. Dia bisa membayangkan bagaimana kecewanya Henry, karena rujuknya ditolak tapi mungkin inilah yang terbaik buat semuanya.


Terdengar bunyi ponselnya berdering nyaring. Hanna melihat siapa yang menelpon, ternyata Bu Yogi.


“Halo Bu Yogi!” sapa Hanna.


“Bu Damian, kau jadi kan bergabung dengan grup arisanku?” tanya Bu Yogi.


“Aku sudah ikut arisan dengan Bu Ema,” jawab Hanna.


“Ah kau kan uangnya banyak, tidak masalah arisan di beberapa tempat juga. Kau ikut ya. Kita mulai minggu ini,” kata Bu Yogi.


Hanna terdiam, tidak ada salahnya dia ikut arisan dengan Bu Yogi. Akhirnya diapun menyetujuinya.


“Baiklah,” jawab Hanna.


“Nah gitu dong! Nanti aku kabari kapan kita akan kumpul,” ucap Bu Yogi.


“Oke,” jawab Hanna, kembali menutup ponselnya.


**************


Satu bulan kemudian…


Hari ini Shezie sibuk di cafenya, hari itu banyak sekali pelanggan yang datang, bahkan menu pesanan online juga semakin banyak permintaan.


Terdengar suara ketukan seseorang dipintu.


“Ada Pak Martin Bu!” kata seorang pegawai cafenya  yang sudah berdiri dipintu


“Suruh..” belum selesai Shezie menjawab, Martin sudah masuk saja kedalam ruangan itu dan langsung menutup pintunya meskipun pegawai itu masih berdiri disana. Wajahnya tampak memerah karena kesal.


“Ada apa?” tanya Shezie.


“Ada apa katamu? Aku menelponmu berpuluh puluh kali tapi kau tidak mengangkatnya! Apa kau tuli?” Bentak Martin dengan emosi.


“Apa? Kau menelponku? Maaf aku sibuk, aku tidak mendengar ada telpon masuk, ponselnya ada di laci,” ucap Shezie.


“Sibuk? Sesibuk apa sih? Hanya mengelola café kecil begini? Apa kau sengaja menghindariku?” bentak Martin lagi.


“Tidak, aku tidak menghindarimu, aku memang sibuk!” kata Shezie.


Martin mendekat dan mencondongkan tubuhnya ke dekat Shezie.


“Dengar, aku sudah sering memeringatkanmu berkali-kali, jangan mempermainkanku!” kata Martin, menatap mata Shezie dengan tajam.


“Aku tidak mempermainkanmu, aku memang sibuk tadi,” kata Shezie pada  Martin.


Kenapa belakangan ini Martin semakin bersikap kasar padanya? Dia gampang sekali marah. Martin yang dulu murah senyum dan sabar ternyata berubah, apakah ini sifat aslinya Martin?


Shezie mengambil ponselnya yang ada di laci lalu dilihatnya panggilan masuk sudah berpuluh kali dari Martin tadi saat dia tidak diruangan.


“Aku minta maaf, tadi aku diruangan lain tidak membawa ponsel,” kata Shezie.


“Nanti malam temanku bertunangan, aku jemput jam 7,” kata Martin, dia kembali beridi tegak dan mulai lebih tenang sekarang.


“Aku sangat sibuk hari ini sepertinya aku akan pulang malam,” kata Shezie.


Wajah Martin yang tadi sudah tenang kini berubah lagi.


“Kau kan pemilik café ini sekarang, kau bebas pulang jam berapapun, jangan banyak alasan!” kata Martin.


“Tidak banyak alasan, sekarang kan akhir bulan, banyak sekali administrasi yang harus aku selesaikan,” ucap Shezie, mencoba memberi pengertian pada Martin.


“Kau benar-benar ya! Aku tidak mau tahu, jam 7 aku jemput!” teriak Martin, sepertinya teriakan itu terdengar sampai keluar ruangan.


“Bisa kan kau tidak berteriak-teriak di kantorku?” tanya Shezie dengan kesal.


Tiba-tiba ponselnya berdering, Shezie langsung menerima panggilan itu.


“Ada apa Bi?” tanya Shezie.


“Apa? Ibu mengeluh lagi pusing puisng? Apa ibu sudah minum obat?” tanya Shezie lagi.


Martin semakin memberengut saja mendengar Shezie bicara dengan Bi Ijah tentang kesehatan ibunya.


“Tolong bantu ibu istirahat Bi, besok kita ke Dokter,” ucap Shezie lagi. Lalu telponpun ditutup.


Shezie menatap Martin yang berdiri menatapnya.


“Sepertinya aku memang tidak bisa menemanimu ke tunangan temanmu, ibuku drop, besok harus cepat control,” kata Shezie.


“Aku tidak peduli!” jawab Martin mengejutkan.


“Apa? Apa maksudmu tidak peduli?” tanya Shezie, tidak percaya dengan ucapan Martin.


“Kan ada Bi Ijah yang menemaninya. Apa kau mau aku datang ke acara temanku ditemani gadis lain?” tanya Martin.


“Kau ini bicara apa? Aku bukan tidak mau menemanimu ke acara tunangan temanku tapi aku juga sibuk dan ibu juga sedang drop sekarang, aku harus menemani ibu,” kata Shezie, menatap Martin dengan tajam. Dia sangat kecewa dengan sikapnya itu.


Martin berjalan mendekat dan menatap Shezie.


“Dengar, setelah kita menikah, aku tidak mau direpotkan lagi oleh ibumu. Lebih baik bawa ibumu berobat ke luar negeri,” kata Martin.


“Iya kau benar, ibu harus dibawa berobat keluar negeri,” ucap Shezie.


“Tapi ingat, pakai uangmu. Aku tidak mau melakukan pemborosan dengan membiayai pengobatan ibumu!” kata Martin, semakin membuat Shezie terkejut saja.


“Apa kau sadar bicara begitu?” tanya Shezie.


“Tentu saja aku sadar,” jawab Martin.


“Kau kan berjanji jika aku menikah denganmu kau akan membiayai pengobatan ibuku,” ucap Shezie.


“Kau kan punya café ini, bayar saja sendiri,” kata Martin.


Sheziepun terdiam, kini sifat aslinya Martin semakin terlihat. Melihat sikapnya ini dia merasa heran dan ragu apa benar Martin yang membiayai pengobatan ibunya? Bukankah selama ini Martin tidak pernah mengeluh dengan biaya pengobatan ibunya? Sungguh aneh kalau dia tiba-tiba berubah sikapnya.


“Seminggu lagi kita menikah, aku mau kau menemaniku ke acara teman kuliahku dulu, akan ada banyak teman-temanku disana, tidak ada alasan lagi,” kata Martin.


Shezie masih diam, tidak menanggapi, dia masih tidak percaya dengan perubahan sikapnya Martin yang drastis.


“Soal ibumu, kau urus saja sendiri, aku tidak mau acara pernikahan kita terganggu,” lanjut Martin, lalu beranjak meninggalkan Shezie.


Setelah Martin pergi, Shezie terduduk dengan lesu dikursinya. Selain dia tidak menyukai Martin, ternyata hubungan merekapun tidak sebaik yang dibayangkan. Bagaimana dia bisa mencintai Martin kalau sifat buruknya satu demi satu bermunculan?


************