Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-89 Bertemu ibunya Cristian



Sepanjang jalan Hanna masih saja mengomel, dia masih kesal karena Damian bercanda mau kawin lagi. Meskipun candaan tetap saja membuatnya sebal. Damian sampai pusing mendengarnya. Wanita itu diam, dia gerah didiamkan seperti itu tapi wanita ini bicara, ya ampun seperti jalan tol, meluncur terus bebas hambatan.


“Apa kau akan terus mengomel seperti itu?” tanya Damian. Kini mobilnya sudah keluar dari jalan tol.


“Tentu saja, aku masih kesal pada polisi itu,” jawab Hanna.


“Loh ini seperti bukan jalur ke ibukota?” tanya Hanna, baru tersadar.


“Memang bukan,” jawab Damian.


Hanna melongokkan kepalanya kedekat jendela melihat plang hjijau yang ada di atas jalan.


“Kita mau kemana?” tanya Hanna.


“Kita mampir ke rumah kakek nenekku ya, aku mau nanya-nanya orang sekitar barangkali ada yang melihat ibuku, barangkali ibuku ada mampir kesana,” kata Damian.


Hannapun mengangguk. Mereka akhirnya menuju daerah rumah kakeknya Damian. Sangat lama perjalanan hingga sampailah mereka di sebuah pemakaman.


“Damian! Kenapa kita kesini?” tanya Hanna.


“Aku mau lihat kuburan kakek nenakku apakah terlhat ada yang mengunjunginya atau tidak, kalau ibuku kesini pasti melihat makam kakek nenekku, aku mau tahu barangkali ada bunga segar diatas kuburannya,” kata Damian.


“Kau benar, pasti ibumu akan kesini,” jawab Hanna.


Dilihatnya tampak banyak orang yang ada dipemakaam itu, sepertinya ada yang meninggal.


“Damian, aku tidak turun ya,” kata Hanna.


“Kenapa?” tanya Damian.


“Aku takut, ada yang baru meninggal, atau aku menunggu diluar saja, dipohon itu,” kata Hanna, menunjuk pohon dipinggir jalan.


“Baiklah, jangan kemana-mana,” kata Damian.


“Iya,” jawab Hanna.


“Nanti hilang,” kata Damian lagi.


Mendengar nadanya Damian, langsung saja kefikiran untuk menggodanya. Hanna memcondongkan tubuhnya kearah Damian yang sedang membuka sabuk pengamannya. Damian menjauhkan tubuhnya dari Hanna yang mendekatinya lalu menatap gadis itu.


“Ada apa?” tanya Damian. Hanna malah cengengesan. Damian langsung saja menebak pasti ada sesuatu lagi nih.


“Kalau aku hilang bagaimana?” tanya Hanna, mendekatkan wajahnya ke wajah pria itu.


“Kalau kau hilang?” tanya Damian masih menatap Hanna.


 “Iya, kalau aku hilang bagaimana?” tanya Hanna, dia sudah membayangkan pasti Damian tidak mau kehilangannya.


“Ya kalau terpaksa kau hilang ya tidak apa-apa, aku cari lagi gantinya,” jawab Damian, seenaknya.


“Damian!” maki Hanna sambil memukul bahunya Damian.


“Memang begitu, kenapa harus repot-repot mencarimu?” ucap Damian, membuat Hanna sebal. Diapun menjauh dari tubuh Damian.


“Kau memang menyebalkan, lihat saja, suatu saat nanti aku akan hilang, dan kau tidak akan pernah bisa menemukanku lagi!” gerutu Hanna lalu diapun keluar dari mobilnya Damian, menutup pintunya dengan keras.


“Pria itu selalu saja menyebalkan, biarkan hilang juga,dasar!” gerutunya, sambil pergi menjauh dari parkiran itu. Banyak juga mobil yang terparkir disana.


Damian hanya tersenyum melihat gadis itu marah-marah. Lagian pertanyaan konyol ditanyakan, sudah jelas dia tidak mau kehilangannya masih juga ditanyakan. Akhirnya Damian pun keluar dari mobilnya, masuk kedalam makam yang ada disebrang jalan.


Hanna terus saja mengomel sepanjang jalan, menyusuri jalan raya itu, sedangkan pemakanan ada disebrang kanannya.


Saat berjalan itu tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya.


“Hanna! Kau Hanna?” suara orang itu. Hannapun celingukan mencari kesana-kemari mencari suara itu. Saat melihatnya dia terkejut. Seseorang yang dia kenal berdiri tidak jauh darinya. Keringat dingin langsung menyerangnya.


“Ibu!” panggilnya. Hanna menatap wanita itu dengan tidak percaya. Ada ibunya Cristian berdiri tidak jauh darinya.


Ibunya Cristian menghampiri.


“Kau Hanna kan?” tanya ibunya Cristian meyakinkan lagi karena Hanna hanya diam saja.


“Apa kabarmu nak?” tanya ibunya Cristian, setelah dekat menatap Hanna.


Ditanya begitu Hanna bingung harus apa. Sekarang dia tidak menggunakan wig lagi, jadi tidak bisa berpura-pura lagi mengatakan kalau bukan Hanna.


“Aku baik Bu,” jawab Hanna.


“Kau tinggal dimana sekarang?” tanya Ibunya Cristian.


“Aku tinggal di ibukota,” jawab Hanna.


“Kenapa kau tidak pulang? Cristian mencarimu kemana-mana, orangtuamu juga,” kata ibunya Cristian.


Hanna menundukkan kepalanya, tidak menjawab pertanyaan ibunya Cristian.


“Bagaimana kalau kita duduk diwarung itu? Ibu mau bicara,” ajak ibunya Cristian, tangannya langsung menggandeng tangannya Hanna. Tangan kirinya mengusap-usap  tangan Hanna, dia terlihat sangat penyayang.


Merekapun duduk disebuah bangku yang ada disebuah warung inggir jalan, melihat kearah lapangan bola jadi memunggungi pemakanan yang ada di sebrang jalan itu.


“Sedang apa kau disini? Kau kerabat orang yang meninggal itu?” tanya Ibunya Cristian. Hanna tidak menjawab, dibiarkannya ibunya Cristian berfikir seperti itu.


“Jadi kau sekarang tinggal diibukota?” tanya ibunya Cristian. Hanna mengangguk, dia menunduk terus dari tadi.


Ibunya Cristian menatapnya lekat-lekat.


“Aku senang bisa menemukanmu, kenapa kau tidak pulang?” tanya ibunya Cristian. Hanna tidak menjawab.


“Kau tidak kangen dengan Cristian? Dia mencarimu kemana-mana,” kata ibunya. Hanna masih diam.


“Kau meningalkannya di pesta pernikahan itu membuat Damian putus asa, dia terbiasa dengan kehadiranmu, nak,” kata ibunya Cristian.


Barulah Hanna menatap ibunya Cristian.


“Aku minta maaf, Bu,” kata Hanna. Tangannya meraih tangan ibunya Cristian.


“Aku minta maaf sudah menyakiti Cristian, dan mempermalukan seluruh keluarga,” lanjut Hanna.


Tangan ibunya Cristian membalas pegangan tangan Hanna, menggenggamnya dengan erat.


“Pulanglah, bicaralah dengan Cristian. Kembalilah pada cristian, selesaikan kesalahfahaman kalian,” kata ibunya Cristian.


Hanna menatap wajah ibunya Cristian, dia bingung harus bicara apa.


“Aku tidak akan memaksa atau ikut campur urusan pribadi kalian, hanya saja kau perlu tahu kalau Cristian sangat mencintaimu, sebenarnya aku tidak mengerti kenapa kau meninggalkan Cristian padahal Cristian sangat menyayangimu, kau juga menrima lamarannya, tapi itu semua kembali padamu,” Ibunya cristian menghentikan bicaranya sebentar.


“Aku hanya memintamu untuk menemui Cristian, bicaralah dengannya, selesaikan masalah kalian. Tidak ada hubungan yang tanpa masalah, kalau bisa diselesaikan tidak ada salahnya kalian bersama lagi,” kata ibunya Cristian panjang lebar.


Hanna semakin bingung harus menjawab apa, apa dia harus mengatakan kalau dia sudah menikah dengan Damian? Dia tidak mau berbohong, jadi Hannapun diam saja.


“Cristian sangat mencintaimu, dia tinggal dirumah kakeknya karena dia menyukaimu dari kecil, kalian sering main bersama-sama sampai kalian kuliah. Kau meninggalkannya membuat hatinya sangat hancur,” lanjut ibunya Cristian.


“Ibu, aku minta maaf sudah menyakiti Cristian, aku minta maaf,” ucap Hanna, matanya mulai berkaca-kaca. Dia tidak bermaksud menyakiti Cristian tapi dia entahlah, malam itu dia merasa tidak bisa menjadi istrinya Cristian, dia baru menyadari perasaannya salah selama ini, ternyata dia menyayangi Cristian hanya sebagai kakak bukan seorang kekasih.


Ibunya Cristian menatapnya.


“Aku mohon temuilah Cristian. Aku sedih melihat dia kesana kemari mencari keberadaanmu, dia sangat kehilanganmu,” kata ibunya Cristian. Jari jari tangannya menyentuh butiran airmata yang muncul menetes dipipinya Hanna, diapun memeluknya. Hanna menangis di pelukan ibunya Cristian.


“Aku minta maaf Bu, aku membuat kacau semuanya, aku menyakiti kalian semua, aku minta maaf,” ucap Hanna. Kedua tangan ibunya Cristian mengusap-usap punggungnya.


“Sayang, Cristian sangat mencintaimu. Kau jangan takut padanya, dia pasti memafkankanmu dan kalian bisa bersama lagi,” kata ibunya Cristian, kini melepas pelukannya.


Hanna menghapus airmata dipipinya, dia menunduk sedih, Dia tidak tahu harus bicara apa. Apa dia harus mengatakan kalau dia sudah menikah dengan Damian. Tapi itu pasti akan menyakiti ibunya Cristian. Biar Cristian saja yang bicara dengan ibunya, dia bingung untuk mengatakannya. Apalagi sebenarnya dia memang belum menikah dengan Damian.


Ibunya Cristian memegang bahunya Hanna.


“Kau kesini dengan temanmu?” tanya ibunya Cristian. Terpaksa Hanna mengangguk.


“Baiklah, sepertinya aku harus pergi. Sekali lagi aku mohon, temui Cristian, kembalilah padanya, perbaiki hubungan kalian,” pinta ibunya Cristian.


Hanna hanya diam saja, dia tidak tahu harus bicara apa lagi. Dia sudah terlanjur mencintai Damian.


“Aku pergi dulu, aku harus kembali melakukan perjalanan bersama suamiku,” ucap ibunya Cristian. Diapun berdiri juga Hanna.


Ibunya Cristian mengecup keningnya Hanna, mengusap rambutnya. Membuat Hanna kembali sedih. Dia dikeliling oleh orang-orang yang menyayanginya, tapi dia telah melukai mereka semua, dia merasa sangat bersalah. Tapi apa yang harus dilakukannya sekarang? Dia masih takut menghadapi kenyataan apa yang akan terjadi jika semua kebohongan ini terbongkar.


Ibunya Cristian meninggalkan Hanna yang masih berdidi di dekat lapangan bola itu. Hatinya sedih dan bingung. Apa dia harus jujur pada semua orang dan kembali kepada orangtuanya? Dan meninggalkan Damian? Apakah dia harus bertanya pada Damian untuk kepastian hubungan mereka? Tapi dia tidak bisa menekan Damian untuk menikahinya, pria itu ingin pernikahannya dihadiri oleh ibunya. Dia tidak mau menghancurkan impiannya Damian dengan memaksanya menikah tanpa ada ibunya disisinya.


Dilihatnya mobil yang ditumpangi ibunya Cristian meninggalkan pemakaman itu. Hanna kembali menghela nafas panjang.


“Apa  yang kau lakukan disini? Aku mencarimu kemana-mana,” tiba-tiba seseorang menyapanya, Hannapun menoleh ternyata Damian sudah berdiri dibelakangnya.


Damian terkejut melihat mata Hanna yang merah seperti sudah menangis.


“Kau kenapa? Kau menangis?” tanya Damian.


“Hehe tidak, disini anginnya sangat kencang,” jawab Hanna sambil menggosok gosok matanya.


“Sepertinya kena debu,” ulangnya lagi, dia tidak mau Damian tahu kalau dia sudah menangis tadi.


“Kena debu? Coba sini aku lihat,” kata Damian, dia semakin mendekati Hanna dan kedua tangannya menyentuh salah satu matanya Hanna, lalu ditiup-tiupnya dengan pelan.


“Yang mana? Ini?” tanyanya lagi sambil kembali meniup niup matanya Hanna.


Mata Hanna menatap bibir pria itu yang meniupi matanya satu persatu. Debu itu bukan tambah hilang ditiup Damian, debu itu terasa semakin banyak, dia semakin sedih melihat pria  yang sedang meniupi matanya yang dikiranya benar-benar kena debu.


Mata Hanna semakin merah dan diapun langsung memeluk Damian, menyusupkan  wajahnya ke dada pria itu, mencoba menahan tangisnya.


Damian terkejut melihat sikap Hanna yang tiba-tiba memeluknya dan sepertinya sedang mencoba menahan tangisnya. Damian mengusap-usap punggung Hanna tanpa bicara apa-apa, dia kebingungan sebenarnya apa


yang telah terjadi?


********************