Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-6 Kelamaan di Spa salon kecantikan



Hari ini Hanna benar-benar memanjakan dirinya. Dari ujung rambut sampai ujung kaki dilakukan perawatan, berjam jam di spa kecantikan itu membuatnya sangat nyaman.


Sekarang dia sedang luluran, tubuhnya hanya dililit kain putih, seorang pelayan spa sedang melulur kakinya dengan ramuan-ramuan yang menyegarkan. Saking nyamannya dipijat, lama-lama diapun tertidur.


Hari sudah sore, Damian berjalan mondar mandir di Loby bersama pak Indra.


“Kau tau dia pergi kemana?” tanya Damian.


“Tidak pak, Nyonya juga tidak menggunakan supir, sepertinya menggunakan taxi,” jawab Pak Indra.


“Kemana dia? Bukankah kita harus sudah terbang sekarang?” tanya Damian.


“Benar, kita harus segera tiba di Paris,” jawab Pak Indra.


“Coba kamu cek salon-salon terdekat, apakah ada pelanggan yang bernama Hanna,” perintah Damian.


“Baik pak,” jawab pak Indra.


Damian pun duduk di sofa dengan wajah masam.


“Pak, apa kita tinggal saja? Biar nanti Nyonya menyusul?” saran pak Indra.


Damian menggeleng.


“Tidak, tidak, dia harus ikut denganku,” jawab Damian. Bisa saja dia meninggalkan wanita yang bukan siapa-siapa dia itu, tapi dia tidak akan tidur nyenyak kalau tidak membawanya. Benar-benar istri yang merepotkan. Masa ke salon seharian tidak cukup, bahkan sekarang sudah mulai gelap.


“Pak, kita menemukannya!” seru pak Indra.


“Baguslah. Dimana dia?” tanya Damian,dengan lega.


“Di sebuah spa kecantikan, apakah supir akan menjemputnya?” tanya Pak Indra.


“Bukan supir, tapi aku yang akan menjemputnya. Ayo!” jawab Damian, bangun dari duduknya. Dia penasaran apa yang sedang dilakukan wanita itu, seharian di salon kecantikan.


 Sampailah mereka di tempat yang dituju.


“Nona Hanna sedang ada diruang luluran,” jawab pelayan Spa.


“Baiklah, aku akan kesana,” kata Damian.


“Jangan!” kata pelayan Spa.


“Kenapa?” tanya Damian tidak mengerti.


“Itu daerah khusus wanita,”


“Apa dia dikamar beramai ramai?” tanya Damian


“Bukan, hanya saja dilarang pria masuk ke sana,”


“Aku suaminya, aku sudah biasa melihat tubuh istriku,” jawab Damian, asal bicara saja.


“Baiklah, mari,” akhirnya pelayan spa membawa Damian ke tempat luluran.


Damian melihat wanita itu tidur tengkurap, hanya berbalut kain putih dari dada sampai lutut. Rambutnyapun menggunakan penutup.


“Kau keluar,” usirnya pada pelayan Spa, yang segera meninggalkan mereka.


Damian melihat pada betis Hanna yang berwarna kuning keemasan akibat ramuan luluran.


Dia mulai memijat betis itu, asalnya lembut, lama kelamaan semakin keras, membuat Hanna terbangun.


“Nona! Pijatanmu sangat keras, aku kesakitan,” ucapnya sambil menguap.


Damian memijat lagi dengan lembut.


“Nah itu lebih baik, tapi kenapa tanganmu serasa keras sekali ya, tidak selembut tadi,” ucap Hanna. Tiba-tiba Damian memijat betisnya dengan keras sampai Hanna berteriak dan bangun.


“Apa yang kau lakukan? Kakiku sakit!” teriaknya, dan langsung terduduk. Wajahnya yang masih bermasker Putih, hanya bagian kedua mata dan mulutnya saja yang melingkar tidak tekena masker.


“Kau! Sedang apa kau disini?” teriak Hanna, sambil memegang kain putih di dadanya.


“Nona! Nona!” teriak Hanna. Pelayan Spa segera masuk ke ruangan itu.


“Kenapa kau memperbolehkan pria masuk?” bentaknya, kesal pada pelayan Spa.


“Bukankah dia suami Nyonya?” jawab pelayan Spa. Damian berdiri saja menatapnya. Hanna langsung terdiam.


“Ya, kau benar, kau boleh keluar,” ucap Hanna pada pelayan spa itu. Kemudian menatap Damian yang juga menatap muka bermaskernya itu.


“Mau apa kau kemari?” tanya Hanna.


“Kau tau ini jam berapa? Kita akan ke Paris sekarang juga,” jawab Damian, dengan ketus.


“Memangnya jam berapa?” tanya Hanna, sambil melihat jam di dinding ternyata sudah jam 8 malam.


“Hah jam 8!” serunya dengan kaget.


“Sepertinya aku ketiduran,” keluhnya.


“Kau ini kerjaannya tidur melulu, Bukankah tadi kau bangun sangat siang?” gerutu Damian.


“Aku masih mengantuk,” jawab Hanna.


“Kau ini! Aku banyak kerjaan!” umpat Damian.


“Kenapa kau tidak cepat-cepat pergi ke Paris. Aku nanti menyusul,” jawab Hanna.


“Aku tidak bisa tidur kalau kau tidak ikut,” ucap Damian, keceplosan, semalam dia tidur sangat nyenyak, dan membuatnya bangun lebih fresh membuat badannya terasa lebih segar.


Hanna malah menertawakannya.


“Kau ini bicara semakin aneh saja. Ayo cepat kita mau berangkat,” kata Damian, sambil keluar dari kamar itu.


Akhirnya Hanna segera membersihkan diri dan mengikuti Damian terbang ke Paris.


Di dalam pesawat, Hanna membalikkan posisi tidurnya. Kakinya ke bagian yang lebih tinggi, kepala dibawah,  diapun merentangkan kedua tangannya dengan jari jari yang direnggangkan.


Damian sebenarnya mencoba mengacuhkannya, dia duduk santai sambil memegang korannya. Tapi lama lama dia gerah juga melihat wanita iti terus terus meniupi jari-jarinya bergantian.


“Kau sedang apa?” tanya Damian.


“Tidak sedang apa-apa. Aku hanya merasakan kuku kukuku yang dirawat tadi siang. Kau lihat kukuku terlihat mengkilat dan cantik,” jawab Hanna, kembali meniupi jari tangannya.


“Kakimu, kenapa kakimu?” tanya Damian.


“Kakiku pegal dan kesakitan gara-gara kau memijat betisku dengan keras, rasanya tulang tulang betisku mau remuk,” keluh Hanna berlebihan.


Damian tidak bicara lagi, dia kembali membaca korannya. Bicara dengan wanita itu serasa bicara dengan orang gila, fikirnya.


Tiba-tiba Hanna bangun dari tidurnya.


“Tuan!” panggilnya pada Damian  dengan kata Tuan, membuat Damian sebal, dia mendekatkan wajahnya ke korannya supaya tidak melihat Hanna.


“Aku seharian merawat diriku apa aku terlihat cantik sekarang?” tanya Hanna.


Damian tidak menggubrisnya. Ah dia tidak peduli wanita itu mau cantik apa tidak, sekali lagi dia tidak peduli.


Merasa dicuekin, Hanna mencibir, tapi dia kembali berseri-seri.


“Ternyata menjadi orangkaya menyenangkan ya. Bisa melakukan apapun yang diinginkan,” ucapnya. Mengusap usap rambutnya, berkaca disebuah gelas sambil berjongkok.


“Rambutku juga terlihat bagus,” gumamnya.


Damian melirik wanita itu dibalik korannya. Kurang kerjaan, batinnya, kembali membaca korannya.


“Tuan, apa kita akan ke Paris sekarang?” tanya Hanna.


Lagi-lagi menyebutnya Tuan, menyebalkan, Damian terus saja menggerutu dalam hatinya.


“Kau tidak suka aku memanggilmu Tuan? Tapi aku menyukainya,” ucap Hanna sambil terkekeh, membuat Damian semakin keki.


“Apa kau tidak bisa berhenti bicara? Kau sangat berisik,” umpat Damian.


“Kau mau aku tidur? Aku akan tidur, tapi aku tidak akan bangun kalau kau mengigau,” kata Hanna, masih berkaca di gelas itu.


“Coba saja kalau berani, kau harus mengembalikan uangku 2x lipat,” ancam Damian.


“Huh kau ini, aku sedang mencari cari rumah yang tidak terlalu mahal, supaya aku juga bisa menggunakan uangnya untuk berbisnis,” kata Hanna. Damian tidak menjawab.


“Aku sudah mentransfer uang bulanan buatmu,” kata Damian, membuat Hanna terkejut, diapun berdiri menghampiri Damian.


“Kau serius mengirim uang bulanan buatku?” tanya Hanna.


“Sudah aku katakan, menjadi istriku jangan memalukan,” keluh Damian.


“Wah kau sangat baik sekali, aku benar-benar menjadi kaya!” seru Hanna.


“Bagaimana kalau aku benar-benar menjadi istrimu ya?” tanya Hanna sambil cengengesan.


“Tidak akan, kau bukan tipeku,” kata Damian, membuat Hanna mencibir.


Diapun kembali duduk di kursinya dengan posisi yang benar.


“Calon suamiku sebenarnya sangat baik, dia sangat mencintaiku,” ucap Hanna, seakan bicara pada diri sendiri. Telinga Damian mulai meruncing, apa yang akan dikatakan wanita itu.


“Kami bersahabat bertiga dari kecil. Aku, Cristian dan Sherli.  Christian sangat baik padaku, dia selalu menjagaku dari kecil. Hingga pada malam pernikahan itu, tiba-tiba Sherli mengatakan kalau dia mencintai Cristian. Dia menangis di kamarku sebelum pernikahanku dengan Cristian. Malam itu aku terus berfikir dan menimbang nimbang apa aku benar-benar mencintai Christian atau memang karena sudah terbiasa bersamanya dari kecil. Kemudian aku memikirkan sherli, melihat dia menangis karena dia sangat sedih Cristian mau menikahiku, aku menjadi sadar aku tidak pernah menangisi Cristian seperti itu. Tangisan yang tidak pernah aku rasakan ketika merasa rindu atau kehilangan cristian, dari situ aku memutuskan untuk membatalkan pernikahan itu, di detik detik kami akan menikah, aku memilih pergi,” urai Hanna, matanya menerawang membayangkan masa-masa pernikahannya.


“Jadi sebenarnya kau menicntai Cristiana atau kau hanya kasihan pada Sherli?” tanya Damian, menurunkan korannya.


Hanna langsung tertawa, menoleh ke arahnya.


“Kufikir kau tidak mendengarkan hahaha…” ucapnya, sambil berbaring di kursinya membelakangi Damian. Pria itu menjadi kesal dibuatnya, dia kembali mengambil korannya dan membacanya.


“Awas jangan tidur! Kau punya tugas memelukku!” teriak Damian.


“Iya, iya,” jawab Hanna sambil menguap.


“Sepertinya kau mau tidur. Awas kalau kau tidak menunaikan kewajibanmu, kau harus mengembalikan uangku dua x lipat,” seru Damian lagi.


“Iya, aku tau,” ucap Hanna, kembali menguap.


“Sepertinya kau mau tidur,” ucap Damian, menyimpan Koran dipangkuannya.


“Tidak, aku hanya menguap,” ucap Hanna lagi, sambil menguap lagi.


“Kau mengantuk?” tanya Damian.


“Tidak,” jawab Hanna, lagi-lagi menguap.


“Kau tidur?” tanya Damian, tidak ada jawaban. Sepertinya Hanna memang sudah tertidur. Diapun tersenyum, menatap gadis yang berbaring dikursi pesawat itu, yang berada di sebrang di sebelah kanannya.


Wanita itu, kenapa dia menjadi terikat dengan wanita itu? Wanita yang tidak jelas asal usulnya. Memeluknya memberikan kenyamanan dalam tidurnya. Diapun kembali membaca korannya.


***************


Hai Readers, jangan bertanya kenapa ceritanya aneh ya, authornya ingin ngehalu hehehe…


Jangan lupa like dan komen ya.


Baca juga “ My Secretary”  karya author yang lain.