
Di Hotel Marbela…
Cristian dan Bu Dela berjalan menuju ruangan yang digunakan Party ulang tahun keponakannya Bu Dela, Sekretarisnya Cristian.
Tampak acara sudah berlangsung begitu meriah dan heboh, ada games meniup balon-balon dan terompet.
“Pak, saya panggil keponakan dulu,” ucap Bu Dela.
Cristian tidak menjawab, matanya menyapu isi ruangan itu mencari-cari tamu yang menjadi orangtua palsunya Hanna dipernikahannya dengan Damian. Dilihatnya memang ada beberapa artis top juga.
Tidak berapa lama Bu Dela datang bersama seorang gadis cantik yang menggunakan gaun merah yang indah.
“Pak, ini keponakan saya, Imelda,” kata Bu Dela.
Cristian menoleh pada gadis itu yang menatapnya dengan tatapan keheranan.
“Saya Cristian,” ucap Cristian mengulurkan tangannya pada Imelda yang segera menyambutnya ramah.
“Ini Pak Cristian, atasan Tante juga pemilik hotel ini, yang pernah Tante ceritakan itu.” Bu Dela mempekenalkan Cristian.
“Terimakasih sudah datang di acara ulang tahunku,” kata Imela pada Cristian
“Selamat ulang tahun,” ucap Cristian.
“Terimakasih,” jawab Imelda.
“Jadi apa temanmu itu datang kesini?” tanya Cristian, tidak sabar.
Imelda tampak mengerutkan keningnya.
“Yang Bapak maksud Bu Nita dan Pak Agam?” tanya Imelda.
“Aku tidak tahu nama aslinya, aku hanya mencari orang yang di foto di tabloid itu,” jawab Cristian.
“Ada sih Pak, datang, cuma apa mereka mau bicara dengan Bapak,” kata Imelda.
“Kau bantu aku ya, aku mohon, aku hanya ingin bertanya sedikit saja,” ucap Cristian.
Imelda tampak kebingungan.
“Sayang, coba kau bicara pada mereka,” pinta Bu Dela, memegang tangan keponakannya itu.
“Baiklah, mereka duduk di luar sana, mari ikut saya,” kata Imelda. Cristian dan Bu Dela mengangguk, merekapun keluar dari ruangan samping yang terdiri dari jendela jendela yang panjang. Diluarnya ada sebuah taman dan kolam kecil juga air mancur. Disana sudah disiapkan beberapa meja bulat dan kursi kursi.
Imelda menghampri beberapa orang yang sedang berkumpul.
“Bu Nita, Pak Agam, ada yang mau bertemu,” panggil Imela.
Pria dan wanita yang sedang mengobrol itu menoleh pada Imelda.
“Ada yang mau bertemu,” ulang Imelda.
“Siapa?” tanya mereka, menatap Imelda keheranan.
“Ini, Pak Cristian, pemilik hotel ini!” jawab Imelda.
Mendengar pemilik Hotel, mereka langsung sigap saja berdiri dan tersenyum ramah pada Cristian, meskipun dalam hati bertanya-tanya ada apa pemilik hotel mencari mereka.
Bu Nita dan Pak Agam menghampir Cristian dan mengulurkan tangannya bersalaman.
“Apa kita bisa bicara sebentar?” tanya Cristian. Dua orang itu semakin kebingungan.
“Kita bicara disana saja,” ajak Cristian menujuk meja kursi yang agak jauh dari kerumunan.
Merekapun mengangguk. Imelda dan Bu Dela masuk lagi kedalam ruangan.
Bu Nita dan Pak Agam tampak semakin keheranan, mereka duduk sambil menatap Cristian.
Cristian mengeluarkan kertas di tabloid bisnis yang dia sobek itu dari balik sakunya, lalu disimpan di atas meja. Kedua roang itu sangat terkejut.
“Maksud Bapak apa menunjukkan kertas itu?” tanya Pak Agam, wajahnya pucat begitu juga Bu Nita.
“Ini kalian kan? Kalian yang pura-pura menjadi orangtua mempelai wanita?” tanya Cristian.
“Mm mungkin Bapak salah orang,” kata Pak Agam.
“Kalian tidak perlu takut, aku hanya mengajukan beberapa pertanyaan saja. Dan untuk informasi kalian aku bisa memberikan uang yang cukup buat kalian,” ucap Cristian.
Pak Agam dan Bu Nita saling pandang. Mereka ingat, orang yang menyewanya juga minta mereka tutup mulut.
Cristian mengeluarkan cek dari sakunya.
“Apa ini cukup?” tanya Cristian memberikanya pada Pak Agam.
Kedua orang itu melihat angka di cek itu, mereka membelalakkan matanya, raut wajah mereka mulai berubah.
“Kalian tidak perlu takut, aku tidak akan membawa bawa nama kalian dalam masalh ini, aku hanya ingin mengajukan pertanyaan saja,” kata Cristian.
Pak Agam dan Bu Nita itu saling pandang lagi, saling memberi kode.
“Baiklah, kami terima,” akhinya Pak Agam menyerah begitu juga dengan Bu Nita, kapan lagi mereka dapat uang sebesar itu dengan mudah?
Pak Agam akan mengambil cek itu, tapi Cristian menariknya.
“Kalian harus memberikan informasi dulu padaku,” kata Cristian.
“Baiklah, apa yang Bapak ingin tau?” tanya Pak Agam diangguki Bu Nita.
“Apa benar kalian dibayar untuk menjadi orang tua palsu mempelai wanita ini?” tanya Cristian, menunjuk lagi kertas bergambar dimeja itu.
“Benar, itu sudah beberapa bulan yang lalu,” jawab Pak Agam.
“Yang membayar kalian, Pak Damian?” tanya Cristian.
“Iya Pak Damian,” jawab Bu Nita.
“Apa saja yang kalian lakukan sebagai orangtuanya wanita ini?” tanya Cristian.
Pak Agam tampak berifikir mengingat-ingat lagi.
“Kami hanya datang 2x. Itu juga cuma sebentar, kami diundang makan malam dan hadir diacara resepsi saja, sudah,” jawab Pak Agam.
“Benar hanya itu?” tanya Cristian.
“Benar, “ jawab Pak Agam dan Bu Nita bersamaan.
“Kalian jadi saksi pernikahan mereka?” tanya Cristian.
“Tidak,” jawab Pak Agam dan Bu Nita menggelengkan kepalanya.
“Tidak bagaimana? Kalian kan dibayar untuk jadi orang tua wanita ini?” tanya Cristian tidak mengerti.
Cristianpun terdiam, jadi orangtua palsu ini tidak menyaksikan pernikahannya Hanna dan Damian? Sungguh aneh jadi dimana Hanna dan Damian menikah?
“Kau bilang diluar pulau? Dipantai?” tanya Cristian.
“Kami tidak begitu jelas, hanya kami dengar dipantai tepatnya tidak tahu, pantai kan banyak,” kata Pak Agam.
Cristian pun diam, dia melihat tanggal pernikahan itu yang tidak begitu jauh dari hari pernikahannya. Apa Hanna bertemu dipantai dan langsung menikah dengan Damian? Sungguh aneh.
Cristian juga teringat Hanna kabur menumpang sebuah mobil mewah yang lewat. Apa pemilik mobil itu Damian? Tidak mungkin Damian langsung menikahi Hanna sedangkan mereka baru bertemu, semua sangat membingungkan.
“Apa lagi yang kalian ketahui?” tanya Cristian.
“Hanya itu saja, ditanya-tanya ibu dari Pak Damian itu saat makan malam, ya sudah tidak ada komunikasi apa-apa lagi, selain hadir diacara resepsi,” jawab Bu Nita.
Mendengarnya membuat Cristian bingung. Dimana Hanna dan Damian menikah? Apa secepat itu Hanna jatuh cinta pada Damian kemudian menikah dan membuat resepsi di ibukota hanya selang beberapa minggu dari pernikahannya yang gagal?
Atau sebenarnya Hanna pernah mengenal Damian? Berselingkuh darinya? Tapi saat lamaran Hanna menerimanya dan semua terjadi tiba-tiba saja di hari pernikahan mereka.
Atau sebenarnya mereka tidak pernah menikah? Rasanya tidak mungkin kalau tidak menikah tapi mereka membuat resepsi semewah itu. Bagaimana cara mengetahui dimana Hanna dan Damian menikah, kalau orangtua palsunya ini hanya hadir untuk resepsi?
Di pantai? Di pantai ini? Kalau benar Hanna dan Damian menikah dipantai ini, pasti tercatat bukan? Cristian teringat kalau Pak Louis adalah orang berpengaruh di daerah ini. Apa Pak Louis bisa membantunya meminta pejabat daerah untuk mencari jejak pernikahannya Hanna dan Damian?
Cristian menoleh pada dua orang itu, dia memberikan cek itu pada Pak Agam yang langsung menerimanya.
“Kalau ada informasi yang kalian lupa sampaikan padaku, tolong hubungi aku,” kata Cristian sambil memberikan kartu namanya.
“Baiklah Pak, terimakasih,” jawab Pak Agam dan Bu Nita, merekapun meninggalkan meja itu.
Cristian kembali ke kantornya dengan banyak pertanyaan dikepalanya. Dia penasaran dimana Hanna dan Damian menikah kalau orangtua bayaran itu tidak menghadiri pernikahannya?
***********
Di rumah Hanna…
Hanna melepaskan pelukannya lalu menatap Damian.
“Damian, kau kan bisa memasak, bagaimana kalau kau bantu ibu memasak?” usul Hanna.
“Tidak ah, bajuku bisa bau,” tolak Damian.
“Biar kau dekat dengan ibu, mau ya?” pinta Hanna menggoyangkan tangan Damian.
“Ibumu itu tidak menyukaiku,” kata Damian.
“Tidak apa-apa, biar kau dekat dengan ibu, kau kan menantunya, harus dekat dengan ibu mertua biar disayang,” pinta Hanna lagi.
Damian menatap Hanna yang menatapnya penuh harap.
“Mau ya?” pinta Hanna.
“Bukankah seharusnya istri yang memasak, kenapa aku yang memasak,” keluh Damian.
Hanna hanya tertawa lalu bangun dari duduknya, tangannya memegang tangan Damian, menariknya supaya bangun. Akhirya Damian menurut saja saat Hanna mangajaknya ke dapur.
“Ibu!” panggil Hanna.
Bu Astrid yang sedang sibuk memotong motong sayuran dengan asisten rumah tangganya, menoleh pada Hanna dan Damian. Dilihatnya tangan putrinya itu memeluk tanganya Damian. Terlihat sekali putrinya sangat menyukai pria itu.
“Ada apa?” tanya Bu Astrid.
“Damian, sangat pandai memasak Bu, jadi Damian akan membantu ibu memasak,” jawab Hanna.
Bu Astrid mengerutkan keningnya.
“Kau serius?” tanya Bu Astrid.
“Serius Bu, dia bisa memasak, iya kan sayang?” Hanna menoleh pada Damian.
“Ya tidak terlalu juga,” jawab Damian tersenyum kecut.
“Boleh kalau kau mau membantu memasak,” ucap Bu Astrid.
Hanna langsung tersenyum lebar, dia ingin orangtuanya menerima Damian.
Hanna langsung berbalik menghadap Damian, tangannya meraih kacing jasnya Damian.
“Kau mau apa? Jangan memperkosaku didepan ibumu,” tuduh Damian, membuat Hanna melotot, dan menempelkan telunjuknya di bibirnya.
“Ssst, jangan bicara sembarangan, ada ibu,” bisik Hanna sambil berjinjit supaya wajahnya dekat dengan wajah Damian.
Bu Astrid yang sekilas mendengar ucapannya Damian tampak terkejut, tapi kemudian mengerjakan pekerjaannya lagi.
“Supaya bajumu tidak kotor, “ kata Hanna melepas jasnya Damian.
Tangan kiri Damian meraih pinggangnya Hanna, membuat Hanna menatapnya.
“Apa?” tanya Hanna berbisik.
“Apa aku harus melakukan ini? Aku bisa membayar koki buat memasak,” ucap Damian.
“Iih kau ini,” Hanna berjinjit lagi menempelkan hidungnya ke hidung mancungnya Damian, menggesek geseknya beberapa kali, dia gemas pada pria itu.
“Kau tidak mengerti juga, jadilah menantu yang disayang mertua,” gumam Hanna dengan pelan.
Tiba-tiba Damian malah memeluk pinggangnya, membuat hidung Hanna berehenti dan menempel di hidungnya Damian.
“Baiklah, demi istri tercinta,” ucap Damian, membuat Hanna tersenyum. Tangannya merangkul
lehernya Damian.
“Ssst! Ssst! Bermesraan dikamar saja, jangan di dapur!” gerutu Bu Astrid. Membuat Hanna dan Damian terkejut, mereka saling berpandangan.
“Ibumu menyuruh kita bermesraan di kamar!” ucap Damian, dengan pelan. Hanna langsung memberengut dan spontan menggigit hidungnya Damian, sampai pria itu berteriak dan melepas pelukannya.
“Kenapa kau menggigit hidungku?” teriak Damian sambil memegang hidungnya yang digigit Hanna.
“Salah sendiri kenapa hidungmu lebih mancung dariku?” jawab Hanna sambil tertawa.
“Kau benar, hidungmu sangat kecil, satu gigitan saja habis hidungmu,” gerutu Damian, masih memegang hidungnya yang merah.
Bu Astrid hanya mengeleng-gelengkan kepalanya saja.
“Anak muda sekarang, bermesra-mesraan di depan orangtua, tidak ada malu-malunya,” gumamnya.
Hanna masih tertawa, dia menarik tangan Damian supaya menghampiri ibunya untuk membantu memasak.
************