Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-61 Support untuk Henry



Sepulangnya bertemu Shezie, Hanna tidak bisa memalingkan fikirannya dari memikirkan Henry. Sebagai ibu dia akan lebih sedih melihat putranya patah hati. Dia tahu kondisi Shezie memang sulit karena dia harus memilih perasaannya dan rasa sayangnya pada ibunya. Tapi apakah tidak ada jalan lain selain berpisah?


Henry juga sepertinya begitu, dia menahan diri karena dia juga memahami kondisi Shezie.


Saat berjalan menuju kamarnya, dilihatnya pintu kamar Henry sedikit terbuka. Hanna menghentikan langkahnya dan mengintip lewat pintu itu. Dilihatnya Henry tidur terlentang diatas tempat tidur, dengan salah satu tangannya menopang kepalanya dan satu lagi berada dikeningnya, seperti sedang berfikir.


“Masuklah Bu, tidak perlu mengintip-intip begitu,” ucap Henry, membuat Hanna tersenyum dan mendorong pintu kamar putranya.


“Ibu fikir kau sudah tidur, ini sudah malam,” kata ibunya, memasuki kamar itu menghampiri Henry dan berhenti didekat tempat tidur.


Henry tidak menjawab, juga tidak membukakan matanya.


“Ibu sudah bertemu Shezie,” kata Hanna membuat Henry terkejut dan langsung bangun.


“Apa? Ibu menemui Shezie? Buat apa?” tanya Henry menatap ibunya.


“Tentu saja ibu melarangnya untuk bercerai,” jawab Hanna, lalu duduk dipinggir tempat tidur.


“Kenapa ibu melakukan itu?” tanya Henry.


“Ibu hanya ingin membuatmu bahagia,” jawab Hanna.


“Apa maksud ibu? Aku tidak mengerti,” kata Henry.


“Kau menyukainya kan? Tidak seharusnya kau menyerah dan membiarkannya menikah dengan pria lain, kau sudah menikahinya, kau selangkah lebih maju dari pria itu, jadi jangan melepasnya,” jawab Hanna.


“Ibu, aku sudah menyetujui perceraian ini,” kata Henry.


“Tapi ibu tidak,” ucap Hanna.


“Shezie akan menikah dengan pria itu Bu, dia sudah menentukan pilihan,” kata Henry.


“Kau salah, dia belum menentukan pilihan,” ujar Hanna.


“Maksud ibu apa?” tanya Henry.


“Kau belum menyatakan cinta padanya,” jawab Hanna.


“Ibu ini bicara apa? Aku tidak mencintainya,” kata Henry.


“Jangan lupa aku ini ibumu, jangan berbohong. Kau mengijinkan bercerai tapi kau jadi pendiam begini saja ibu sudah tahu kalau kau patah hati,” ucap Hanna.


“Tidak seperti itu Bu,” kata Henry.


“Tidak seperti itu bagaimana? Kau harus memperjuangkan cintamu.  Shezie tidak tahu kalau kau mencintainya,” ucap Hanna dengan bersemanagat.


“Dia tahu aku melamarnya pada ibunya, dia sudah menentukan pilihan untuk menikah dengan Martin, aku tidak bisa memaksa, apalagi Martin adalah pria yang direstui ibunya,” kata Henry.


“Kau salah, seharusnya kau menyatakan cinta padanya, berjuanglah untuk cinta kalian, jangan menyerah,”ujar Hanna, terus memberi semangat buat Henry.


“Dia tahu aku melamarnya pada ibunya tapi Shezie memilih bersama Martin, itu sudah cukup sebuah jawaban Bu,” ucap Henry.


“Tidak sayang, kau salah, kau belum mengetuk hatinya, kau belum menyatakan cintamu padanya. Ayolah sayang, jangan menyerah begitu saja, ibu tahu dia menyukaimu,” Hanna terus memberikan semangat pada Henry.


“Tidak ada gunanya Bu, Shezie tetap akan memilih menikah dengan Martin, dia sangat menyayangi ibunya, dia akan menurut apapun perkataan ibunya,” ucap Henry.


“Kau sangat mirip ayahmu,” kata Hanna.


“Kenapa dengan ayah?” tanya Henry.


“Ayahmu sangat sulit menyatakan cinta pada ibu,” jawab Hanna.


“Apa yang kalian lakukan disini?” tiba-tiba ada suara yang mengagetkan mereka. Sosok yang dibicarakan sedang berdiri bersandar di pintu.


“Sepertinya aku disebut-sebut,” ucap Damian, matanya menatap istri dan putranya.


“Ibu bilang ayah sangat sulit menyatakan cinta pada ibu,” jawab Henry sambil tersenyum. Damian langsung melirik istrinya.


“Ya karena ayah ragu cinta atau tidak pada ibumu,” jawabnya, spontan Hanna beranjak dan menghampirinya.


“Apa katamu? Kau ragu menyatakan cinta padaku? Artinya kau tidak benar-benar mencintaiku?” tanyanya, sambil bertolak pinggang.


Melihat istrinya marah Damian meralat perkataannya.


“Itu kan dulu sayang, sekarang aku tahu aku cuma mencintaimu saja,” jawabnya, membuat senyum muncul di bibir istrinya. Henry hanya tertawa saja melihatnya.


“Itulah ibumu,” ucap Damian, menoleh pada Henry.


“Tuh lihat anakmu itu, masa menyatakan cinta pada istrinya sendiri tidak bisa? Daripada diam-diam begini patah hati buat apa? Jangan kalah sebelum berperang!” seru Hanna.


“Kau menyukai Shezie?” tanya Damian, menatap Henry.


“Anakmu itu sangat mirip denganmu, susah sekali mengakui kalau dia mencintai gadis itu,” kata Hanna sambil menoleh pada suaminya yang malah tersenyum melihatnya.


“Kenapa kau malah tertawa?” tanya Hanna.


“Artinya Henry masih ragu,” jawab Damian.


“Tidak ragu, dia cuma gengsi saja, sama sepertimu, gengsi menyatakan cinta padahal cemburuan. Kau menyuruh Satria menguntitku kemana-mana,” kata Hanna, sambil mencibir, tapi dia tiba-tiba berteriak kaget saat kedua tangan Damian menarik pinggangnya dan memeluknya.


“Kau mengagetkanku saja,!” seru Hanna, kini tubuhnya berada dipelukan Damian.


“Kau memang sangat senang memojokkan orang,” keluh Damian.


“Tapi itu kan kenyataannya sayang,” kata Hanna, sambil mencubit pipi Damian, membuat pria itu meringis.


“Jangan bermesra-mesraan di depanku, kalian membuatku iri saja,” ucap Henry.


Hanna langsung menoleh pada Henry dan tersenyum.


“Kalau begitu, cepatlah kau pulang, ibu yakin istrimu pasti sedang menunggumu! Tadi juga dia ada diruang tamu, pasti mengira kau yang datang!” serunya bersemangat.


“Kau memang suka memprofokasi!” keluh Damian pada istrinya.


“Aku hanya ingin putraku bahagia, dia harus sengaja mengejar cintanya, iya kan sayang?” jawab Hanna sambil menatap suaminya. Pria itu langsung mencium bibirnya.


“Kau benar lagi,” kata Damian.


“Tentu saja,” jawab Hanna tersenyum senang dipuji suaminya.


“Ayo sayang, pulanglah, istrimu pasti menunggumu! Aku harus ingat sebelum janur kuning melengkung kau masih punya banyak kesempatan!” seru Hanna.


Henry menoleh pada ibunya lalu pada ayahnya. Diapun menimbang-nimbang apa yang dikatakan ibunya. Apa benar harus begitu?


“Kau tidak mau kan melihat Shezie bersanding dengan Martin?” Hanna terus mengompori.


“Semangat dong sayang, kejar cintamu!” seru Hanna lagi.


Tapi tiba-tiba Henry malah merebahkan tubuhnya lagi ke tempat tidur.


“E e kau malah tidur, ayo bangun, kau harus pulang!” teriak Hanna sambil menghampiri Henry dan menarik tangannya.


“Ayo pulang!” perintah Hanna.


“Aku akan tidur disini saja!” kata Henry.


“Sayang, jangan begitu, kau harus bilang pada Shezie kalau kau mencintainya,” seru Hanna.


“Aku tidak mencintainya Bu,” ucap Henry.


“Jangan berbohong, ayo pergi, katakan cintamu!” seru Hanna lagi , lalu menoleh pada Damian.


“Sayang, ayo bantu bangunkan putramu, dia sangat berat!” teriaknya.


Damian segera berjalan menghampiri dan bukannya membantu membangunkan Henry, dia malah diam mematung.


“Ya ampun, bukannya membantuku,” keluh Hanna, kembali manarik tangannya Henry. Putranya itu menatap ayahnya yang juga sedang menatapnya.


“Pergilah, setidaknya sebelum kalian bercerai dia tahu kalau kau mencintainya. Kau akan lebih lega kalau sudah mengatakannya,” kata Damian.


Henrypun diam begitu juga Hanna. Tidak ada reaksi apa-apa. Tapi tiba-tiba Henry bangun dan meraih jaketnya dia keluar dari kamarnya itu secepat kilat tubuh pria muda itu menghilang.


Hanna menoleh pada Suaminya.


“Ternyata dia lebih mendengarkan perkataanmu daripada aku, ibunya!” keluhnya.


“Kau sendiri yang bilang dia sangat mirip denganku, jadi aku tahu apa yang ada di fikirannya,” kata Damian, dengan bangga, membuat Hanna mencibir.


“Iya aku tahu, aku memang tersisih sejak Henry lahir,” gerutunya, membuat Damian tersenyum dan mencium pipinya.


“Kalau kau tidak ada, tidak akan ada Henry sayang,” ucapnya, kini istrinya tersenyum lagi. Damian mencibir, istrinya itu harus selalu dipuji-puji baru mau tersenyum, kalau tidak dia akan cemberut seharian.


Sebuah ciuman mendarat lagi di bibir Hanna.


“Aku mencintaimu,” kata Damian.


“Aku juga,” jawab Hanna, membalas mencium bibir suaminya.


***********