
Shezie masuk ke dalam mobil mewahnya Henry. Tidak berapa lama Henry menjalankan mobilnya meninggalkan butik itu.
“Henry, kau akan dipecat majikanmu, gaunnya sangat mahal! Sudah aku katakan, hanya satu gaun saja,” kata Shezie, lalu dia mengeluarkan kartu member Hanna dari dalam tasnya lalu disimpan di depan Henry diatas Dashboard.
“Kau kelamaan milih-milih, aku banyak kerjaan,” ucap Henry.
“Tapi kan jadinya uang yang terpakai sangat banyak, aku tidak mau kau dipecat. Uang tabunganmu untuk menikah sudah dibayarkan padaku, kau harus mulai menabung lagi untuk biaya menikah nanti kalau sudah menemukan calon istrimu,” kata Shezie. Henry tidak menjawab, dibiarkannya gadis itu bicara terus.
Shezie melihat ke sekeliling isi mobil itu.
“Mobil majikanmu sangat mewah, Henry!” kata Shezie. Henry tidak menanggapi.
“Rumahmu dimana? Aku antar kau pulang,” tanya Henry.
“Kau turunkan aku di halte saja aku akan naik bis,” jawab Shezie.
“Bagaimana dengan barang bawaanmu? Aku antarkan ke rumah saja,” kata Henry.
Shezie baru ingat kalau belanjaannya banyak.
Shezie menoleh pada Henry dan menatapnya. Lama kelamaan sering menatap wajah itu, dia semakin sadar kalau supir itu sangat tampan.
“Aku baru sadar kalau kau sangat tampan, kau tidak cocok jadi supir,” kata Shezie. Henry tidak menjawab, dia focus menjalankan mobilnya.
“Uangmu pasti habis untuk ke salon, kulit wajahmu sangat terawat. Kau tidak boleh boros-boros,” kata Shezie. Henry masih mengacuhkannya.
“Kau sebutkan kita akan kearah mana?” tanya Henry.
“Belok didepan!” jawab Shezie, tangannya menunjuk kearah jalan, lalu menoleh lagi pada Henry.
“Sebenarnya aku takut kau dipecat, karena kita terlalu banyak belanja gaun. Aku jadi merasa bersalah padamu,” kata Shezie.
Henry tidak menjawab, dia terus menyetir.
“Nah sudah disitu saja!” kata Shezie. Henry menghentikan mobilnya. Dia melihat ke sebelah kiri, mereka berhenti di depan sebuah rumah yang berpagar tinggi.
“Itu rumahmu?” tanya Henry.
“Bukan,” jawab Shezie.
“Rumahmu yang mana?” tanya Henry.
“Masih masuk gang lagi,” jawab Shezie.
“Bisa masuk mobil? Aku antar sampai rumah,” kata Henry.
“Sudah aku katakan, kau tidak boleh mengenalku lebih dalam. Kita hanya rekan bisnis saja, oke?”ucap Shezie, membuat Henry meringis, lagi-lagi gadis itu kepedean.
“Kau benar, kita hanya rekan bisnis,” kata Henry.
“Baiklah, sekarang aku turun, nanti malam kau jemput aku di café yang tadi itu,” kata Shezie.
“Biaklah,” jawab Henry.
Sheziepun turun dan mengambil belanjaannya di bagasi. Henry langsung menjalankan mobilnya meninggalkan area itu.
Melihat mobil Henry sudah pergi, Shezie menyetop ojeg. Diapun naik ojeg itu dengan kantong ditangannya menuju rumahnya.
“Kau sudah darimana?” tanya Damian saat Henry sudah kembali ke kantornya.
“Ada sedikit masalah di butik,” jawab Henry.
“Masalah apa?” tanya Damian, menatap putranya.
“Nanti malam aku akan membawa pacarku ke rumah,” jawab Henry, membuat Damian terkejut dan menatap Henry. Tapi putranya itu malah keluar lagi dari ruang kerjanya jadi Damian tidak bertanya apa-apa lagi.
*********
Pukul 7 malam Henry sudah sampai di café lebih dulu. Henry melihat daerah luar cafe tidak ada Shezie, jadi dia mencarinya ke dalam ternyata tidak ada juga, akhirnya Henry kembali keluar dari café itu dan kembali ke mobilnya, memilih menunggu di parkiran itu.
Dilihatnya jam di tangannya. Apa memang Shezie suka terlambat? Katanya professional, ko jam segini belum datang, keluhnya dalam hati. Henrypun bersandar ke mobilnya sambil meliat-lihat orang yang datang.
“Kenapa kau tidak menghampiriku? Kau malah menunggu disini?” terdengar suara wanita mengejutkan Henry, diapun membalikkan badannya dan dia terkejut saat melihat sosok gadis cantik yang berdiri di depannya.
Yang ada dalam bayangan Henry penampilan Shezie yang kusut dan rambutnya acak-acakan seperti tadi siang, ternyata Shezie berubah menjadi putri yang sangat cantik dengan gaun yang dibelinya tadi.
“Aku melihat kau masuk tadi dan akan memanggilmu, tapi kau malah keluar lagi,” kata Shezie.
“Kau menunggu didalam?” tanya Henry.
“Iya, aku heran kenapa kau tidak menghampiri?” jawab Shezie.
“Ayo masuk!” ajak Henry, tidak mau memperpanjang percakapan.
“Kau tidak memujiku dulu? Bagaimana penampilanku?” tanya Shezie.
“Kau bukan pacarku, kita sedang berakting! Ingat, bekerjalah seprofesional mungin,” jawab Henry, membuat Shezie sebal.
“Kerja sih kerja apa salahnya memuji? Aku sudah berdandan sangat cantik ini,” kata Shezie sambil melihat gaun yang dikenakannya.
Henry tidak menghiraukan protesnya Shezie, dia membuka pintu mobil lalu masuk. Shezie mencibir, seharusnya kan pria membukakan pintu mobil untuk pacarnya, Huh! Tanpa banyak bicara lagi, Shezie masuk ke mobilnya Henry. Mobil itupun meluncur menuju rumahnya Henry.
“Setelah makan malam ini kita tidak ada acar lagi kan? Langsung menikah saja minggu depan!” tanya Shezie.
“Iya, kau tidak perlu melakukan apa-apa lagi. Aku kabari saat akan hari H nya,” jawab Henry.
Shezie mengangguk-angguk, lalu menoleh pada Henry.
“Terima kasih,” kata Shezie.
“Buat apa?” tanya Henry.
“Kau sudah membelikanku gaun yang indah, aku merasa jadi ornag kaya! Padahal aku akan menikah dengan supir,” jawab Shezie sambil tersenyum dan melihat lagi gaunnya. Dia terlihat begitu senang dengan gaun itu.
Seperti biasa Henry tidak pernah mengklarifikasi apapun pendapatnya Shezie.
Mobilnya kini sudah memasuki deretan rumah rumah besar di jalan utama. Shezie melihat ke sekeliling.
“Kau tinggal di daerah elit ini?” tanya Shezie. Henry tidak menjawab, dia selalu membiarkan gadis itu menebak-nebak sendiri.
“Pasti orangtuamu tinggal dengan majikanmu, makanya kita ke daeah ini, iya kan?” tebak Shezie lagi. Henry masih diam.
“Kau tidak perlu malu, meskipun orangtuamu tinggal menumpang di rumah majikanmu, mereka tetap orang tuamu, kau tetap harus bangga pada orang tuamu,” kata Shezie lagi.
Henry melirik Shezie sekilas, itu gadis bicara apa sih? Batinnya, tapi mulutnya tetap diam.
Henry menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah mewah dengan pagarnya yang tinggi dan kokoh lalu dia membunyikan klakson.
“Rumah majikanmu benar-benar mewah!Sangat mewah!” puji Shezie, sambil melongokkan kepalanya ke dekat kaca melihat lebih dekat rumah itu.
“Pantas saja kau didandani seperti orang kaya,” ucapnya lagi sambil menoleh pada Henry, menatap pria itu yang sekarang memakai kemeja tidak berjas lagi.
Tangan Shezie menyentuh lengan kemejanya Henry.
“Bajumu ini juga sangat bagus dan mahal, apa kau sehari-hari di dandani seperti orang kaya begini oleh majikanmu? Majikanmu benar-benar sangat baik!” kata Shezie. Tidak hanya memegang, kini Shezie menepuk-nepuk bahunya Henry.
“Kau harus bekerja yang rajin supaya majikanmu tidak memecatmu. Jarang majikan yang memperlakukan supirnya sebaik majikanmu itu,” kata Shezie , tangannya menepuk -nepuk bahu Henry yang merasa risih.
“Apa kau tidak bisa diam? Dan kau tidak perlu menepuk-nepuk bahuku, bisa kan?” tanya Henry, dia tidak suka ada yang menyentuh tubuhnya. Shezie langsung menghentikan gerakannya.
“Maaf, aku terlalu bersemangat!” seru Shezie.
Pak Satpam membukakan pintu gerbang, Henry menjalankan lagi mobilnya mamasuki halaman rumah mewah orang tuanya dan berhenti di depan teras, mobilpun dimatikan.
Henry menoleh pada Shezie dan mencondongkan tubuhnya mendekati Shezie, membuat gadis itu terkejut, apalagi pria itu memalangkan tangan kirinya ke sandaran kursinya.
Wajah Henry mendekati wajahnya Shezie membuat Shezie menjadi gugup, kenapa Henry dekat-dekat begitu? Dia mau apa? Shezie bertanya-tanya dalam hati dengan jantung yang semakin berdebar kencang.
Henry menatap Shezie dan bicara dengan pelan. Shezie balas menatap mata itu dengan perasaan yang tidak karuan. Apa pria itu tidak sadar kalau tubuhnya itu terlalu dekat dengannya, seperti akan memeluknya. Tercium aroma parfum dari tubuhnya Henry, wangi yang sangat lembut.
“Dengar!” ucap Henry dengan pelan hampir berbisik, semakin membuat jantung Shezie tidak karuan saja, dia malah membayang-bayangkan yang lain.
Henry kembali menatap mata Shezie yang ternyata sangat indah, bola matanya menatapnya berbinar-binar.
“Ingat, bekerja seprofesional mungkin, jangan terlalu banyak bicara, jawab jika perlu dijawab saja. Kau harus merahasiakan kerjasama kita,” kata Henry, mengingatkan Shezie dengan suaranya yang pelan.
Saking dekatnya wajah Henry sampai-sampai hembusan nafasnya tercium oleh Shezie, nafas yang harum dan segar, pria yang benar-benar menjaga kebersihan tubuhnya dan giginya juga begitu putih, fikiran Shezie melayang-layang kemana-mana.
“Kau supir yang sangat bersih Henry, tubuhmu harum dengan wangi parfum yang lembut, nafasmu juga tercium aroma harum yang segar, kau pria yang perfect,” batin Shezie malah memperhatikan gerak bibirnya Henry bukan mendengarkan perkataannya.
“Kau dengar kan apa yang aku katakan?” tanya Henry, karena melihat Shezie malah memperhatikan gerak bibirnya.
“Iya, tenang saja, kau bisa mengandalkanku!” jawab Shezie , lamunannya langsung buyar.
“Oke! Ayo turun!” ajak Henry. Diapun menjauh dan turun dari mobilnya.
Shezie terdiam beberapa saat, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kencang gara-gara Henry dekat-dekat dengannya. Sebelum tersadar penuh dia dikejutkan lagi dengan pintu mobilnya yang dibukakan oleh Henry. Ternyata supir itu sangat manis.
************