Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-92 Terpaksa Bercerai



Bu Vina masih sendirian ditaman, saat Bi Ijah datang menjemputnya.


“Apa ibu mau kembali ke kamar?” tanya Bi Ijah.


Bu Vina menatap Bi Ijah.


“Kau sudah datang,” ucap Bu Vina.


“Baru saja tiba, Bu,” jawab Bi Ijah.


“Apa Shezie pulang?” tanya Bu Vina lagi.


“Tidak, non Shezie sedang menunggu di kamar,” jawab Bi Ijah.


“Antar aku ke kamar,” ucap Bu Vina.


Bi IJah langsung memegang kursi rodanya Bu Vina, mendorongnya meninggalkan taman itu menuju ruangan rawat inap.


Sesampainya di kamarnya, dilihatnya Shezie hanya sedang duduk dengan sesekali mengusap airmatanya.


Bu Vina meminta Bi Ijah mendorong kursi rodanya kedekat Shezie. Putrinya itu mengalihkan pandangannya tidak mau bersitatap dengan ibunya.


“Sayang, ibu minta maaf,” ucap Bu Vina.


“Maaf kau harus mendengar kata-kata yang seharusnya tidak boleh kau dengar,” lanjutnya.


Shezie kembali terisak.


“Ibu  minta maaf, ibu tidak mencintai ayahmu, Ibu sudah berusaha mencintainya, bukan berarti ibu tidak mencintaimu,”kata Bu Vina lagi, dia merasa bingung dan serba salah, dia menyesal telah mengatakan kata-kata itu dan membuat putranya sakit hati.


“Saat ibu menikah dengan ayahmu, ibu sudah mencintai ayahnya Henry,” ucap Bu Vina.


“Sampai sekarang Ibu masih mencintai ayahnya Henry? Ibu tidak bisa melupakan ayahnya Henry?” tanya Shezie.


Bu Vina tidak menjawab, tapi Shezie sudah tahu jawabannya.


“Jadi itu yang membuat ibu tidak mau menerima Henry?” tanya Shezie.


“Iya, sayang, ibu minta maaf, “ ucap Bu Vina, dia merasa sedih melihat putrinya menangis seperti itu.


Shezie tidak bisa membendung airmatanya lagi, memang jarak antara dia dan Henry itu sudah terbentang luas, dia dan Henry tidak mungkin bersatu kalau kenyataannya begini. Kehidupan rumah tangganya akan kacau. Ibu mertuanya juga jelas-jelas mengatakan tidak merestuinya karena sudah tahu masalah ini.


Bu Vina menatap putrinya lagi, tangannya terulur memegang tangannya Shezie.


“Ibu minta maaf karena ibu tidak bisa mencintai ayahmu, ibu minta maaf karena tidak bisa merestuimu dengan Henry. Ibu tidak bisa berhubungan kembali dengan masa lalu ibu, Ibu tidak bisa,” kata Bu Vina, diapun mulai menitikkan airmatanya.


“Tapi ibu sangat menyayangimu, sayang, kau putri ibu satu-satunya. Ibu hanya ingin yang terbaik buatmu, ibu ingin pria yang benar-benar bisa menjagamu jika ibu tidak ada nanti,” kata Bu Vina, airmata itu sudah tidak bisa dipertahankan lagi.


Shezie menatap ibunya yang kini berurai airmata.


“Tolong maafkan ibu. Disaat tahu orang yang kita cintai menikah dengan orang lain, itu sangat menyakitkan, ibu ingin menghapus masalalu itu. Ibu tidak mungkin harus berada dalam keluarga besar wanita yang mengambil hati kekasihnya Ibu, itu akan sangat menyakitkan. Kau juga tidak akan bahagia dengan Henry, karena ibu mertuamupun pasti tidak akan menyukaimu,” lanjut Bu Vina, menatap Shezie dibalik genangan airmatanya.


Sheziepun menatap ibunya, dia juga sadar sekarang, memang sangat sulit melupakan orang yang dicintainya, apalagi yang telah menggoreskan luka di hati.


Melihat ibunya dalam kondisi sakit begini, dia juga tidak bisa egois memaksakan kehendaknya untuk bersama Henry, meskipun itu terasa begitu menyakitkan. Dia tidak mungkin tega memberikan sisa sisa hidup ibunya dengan kepedihan, berbesan dengan mantan kekasihnya yang meninggalkannya.


Meskipun ibunya tidak mencintai ayahnya, dia juga tidak bisa memaksa ibunya untuk mencintai seseorang, seperti dia pada Martin, bagaimana ibunya memaksanya untuk menyukai Martin, dia tetap tidak menyukainya.


Tapi untuk hal ini, dia tidak bisa egois, dia lebih memikirkan ibunya, bagaimana jika ibunya tidak berumur panjang? Jelas-jelas dia tidak bisa membawa ibunya berobat keluar negeri, dia tidak mungkin menerima uang dari 1M dari Henry, dia tidak bisa menerima itu, dan pastinya ibunya tidak akan mau berobat dengan uang itu.


Shezie mendekati ibunya dan langsung memeluknya.


“Aku minta maaf Bu, aku telah bersikap egois, aku tidak memikirkan perasaan ibu, aku minta maaf,” ucapnya, disela tangisnya.


Bu Vina memeluk Shezie dengan erat, mencium pipinya berkali-kali.


“Ibu juga minta maaf sayang,” ucapnya, kedua tangannya menyentuh wajahnya Shezie, mengusap airmata dipipi putrinya, kemudian memeluknya lagi.


************


Di café miliknya Shezie, di meja kursi yang terletak sudut luar teras. Seorang wanita duduk dikursi itu, sedangkan yang pria berdiri dipinggir pagar. Hening tidak ada yang bicara.


Wanita itu menyimpan berkas-berkas diatas meja didepannya.


“Aku ingin mengembalikan ini,” kata wanita itu.


Yang pria menatapnya juga menoleh pada berkas itu, lalu berjalan duduk disebrang wanita itu.


“Aku ingin mengembalikan surat-surar kepemilikan café ini,” kata wanita itu yang tiada lain adalah Shezie.


Pria yang disebrangnya tidak lain adalah Henry terdiam menatap berkas itu sedangkan Shezie menunduk saja, dia tidak sanggup menatap wajahnya Henry.


“Kau tidak perlu mengabaikannnya, aku memberikannya untukmu,” kata Henry.


“Aku tidak bisa menerimanya,” ucapnya, menyodorkan berkas itu kedepan Henry.


“Aku tidak bisa menerima barang yang telah aku berikan,” Henry menggeleng dan kembali menyerahkan berkas-berkas itu.


“Café ini milikmu, pergunakanlah sebaik mungkin, kau membutuhkannya. Meskipun aku tahu Martin juga kaya tapi café ini adalah milikmu, aku tulus memberikannya untukmu,” kata Henry.


Shezie tidak bicara lagi, dia masih menunduk, dia menahan airmata yang sepertinya ingin tumpah, dia tidak mau menangis didepan Henry.


“Aku juga sudah mengirimkan uang 1M ke rekeningmu, kau bisa menggunakannya untuk pengobatan ibumu ke Luar negeri, meskipun aku tahu mungkin nanti Martin akan mencukupi semua kebutuhanmu,” kata Henry lagi.


Kini Shezie mendongak menatap Henry.


“Aku tidak bisa menerimanya,” kata Shezie.


“Tidak, kau harus menerimanya, itu juga sudah menjadi hakmu, aku sudah berjanji  untuk memberikanmu uang 1M. Jangan katakan aku membayarmu, tidak ada yang membayarmu, aku memberikannya untukmu, aku menepati janjiku, itu saja,” kata Henry.


Airmata Shezie tumpah tidak bisa tertahankan lagi, diapun menangis. Henry bangun dari duduknya dan menghampiri Shezie lalu memeluknya.


“Aku minta maaf aku tidak bisa membahagiakanmu,” ucap Henry.


Yang dipeluknya semakin menyusupkan wajahnya ke perutnya dan memeluk pinggangnya dengan erat.


Cukup lama Shezie menangis sambil memeluk Henry. Setelah agak reda dia melepaskan pelukannya dan meraih tisu untuk melap airmatanya yang masih terus menetes.


Henry menarik  kursi disebelahnya supaya bisa duduk disamping Shezie, kemudian ditatapnay istrinya itu.


“Jadi kau memutuskan untuk menikah dengan Martin?” tanya Henry.


Shezie mengangguk.


“Tidak ada pilihan lain, aku tidak mungkin melukai hati ibumu disisa-sisa hidupnya, meskipun aku berharap ibuku akan sembuh,” kata Shezie.


Tangan Henry mengulur mengusap airmata di pipinya Shezie yang kembali tumpah.


“Aku mencintaimu,” ucapnya. Dia juga benar-benar merasa berat harus melepas Shezie.


Mata yang berlinang airmata itu kini menatapnya, tidak ada kata lagi yang terucap.


Henry mendekatkan wajahnya dan mencium bibirnya Shezie dengan lembut. Kembali mengusap pipi istrinya untuk yang terakhir kalinya.


“Semoga kau bahagia,” ucap Henry dengan lirih, dia juga sangat sedih harus berpisah dengan Shezie.


Shezie kembali menangis mendengar ucapannya Henry. Henry hanya bisa kembali memeluknya.


“Maaf sayang, kita terpaksa harus bercerai, untuk kebaikan masa depan kita semua,” kata Henry, terus mengusap-usap punggungnya Shezie.


Shezie tidak menjawab apa-apa, hanya tangisnya saja yang tersekat dibalik dadanya Henry.


Henry berulang ulang menyemangatinya, meskipun dirinya sendiri merasakan sakit dihatinya, tapi dia harus tegar dengan keputusan yang harus diambil. Tidak ada keputusan yang lebih baik untuk kedua keluarga kecuali dia dan Shezie bercerai.


************