Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH- 2 Jawaban Henry



Hanna pulang ke rumah dengan kondisi hati yang tidak baik, bibirnya terus memberengut kesal. Dia sangat kesal pada Bu Yogi yang menuduh Henry penyebab putrinya masuk ke rumah sakit.


Saat masuk kamar, Damian sedang duduk di atas tempat tidur, kakinya berselonjor diatas pangkuannya ada bantal dan laptopnya. Sepeti biasa, meskipun usianya bertambah suaminya itu terlihat tambah tampan saja dan awet muda.


Rambut Damian masih terlihat basah sepertinya dia baru pulang kerja dan baru mandi. Tadi saat Hanna berangkat arisan suaminya itu belum pulang, dia hanya memberitahunya lewat telpon kalau keluar rumah.


Brug! Hanna menutup pintu kamar dengan keras, membuat Damian menoleh kearahnya.


“Ada apa? Kau mengangguku!” ucap Damian. Konsentrasinya langsung buyar gara-gara suara pintu yang dibanting Hanna.


“Aku kesal pada Bu Yogi!” jawab Hanna, sambil menyimpan tasnya diatas meja rias dengan kesal.


“Oooh,” Damian hanya ber oh ria.


Melihat Damian yang tampak acuh saja membuat Hanna kesal.


“Ko cuma oh?” tanya Hanna.


“Memangnya harus menjawab apa? Setiap kau pulang arisan, kau terus mengeluh dengan si ibu ini si ibu itu,” jawab Damian tanpa menoleh.


“Masalahnya sekarang adalah, Bu Yogi menyalahkan Henry yang menyebabkan putrinya masuk ke rumah sakit,” kata Hanna, membuat Damian terkejut , menghentikan pekerjaannya dan menatap istrinya.


“Memangnya apa yang dilakukan Henry?” tanya Damian.


“Saat kencan dengan putrinya Henry tidak mengajaknya makan, jadi maghnya kambuh. Putrinya Bu Yogi punya  magh kronis,” jawab Hanna.


Damian tampak mengerutkan keningnya, mencoba mencerna perkataan istrinya.


“Mungkin mereka bertengkar jadi tidak mengajaknya makan. Mungkin putrinya Bu Yogi makan makanan pedas di rumahnya jadi maghnya kambuh,” kata Damian, kembali meneruskan pekerjaannya, dia kira Henry melakukan hal buruk pada putrinya Bu Yogi.


“Bu Yogi juga bilang katanya Henry sangat pelit pada putrinya, selama pacaran tidak pernah membelikan apa-apa. Aku malahan tidak tahu kalau Henry pacaran dengan putrinya Bu Yogi. Sudah lama Henry tidak pernah membawa gadis ke rumah kan?”ucap Hanna.


“Tidak perlu terlalu difikirkan. Henry sudah besar, dia punya kehidupan sendiri yang kita tidak perlu ikut camur,” kata Damian, kembali mengetikkan sesuatu di laptopnya.


“Tapi aku malu, Bu Yogi minta ibu-ibu yang lain supaya jangan membiarkan putrinya pacaran dengan Henry, benar-benar menjatuhkanku! Aku malu, dikatai orang kaya yang pelit!” ucap Hanna, dengan wajah cemberut dan langsung duduk dipinggir tempat tidur.


“Kalau cuma Henry mengajak pacarnya makan, kita tidak akan jatuh miskin kan? Mereka tidak makan berlian,” keluh Hanna lagi.


“Iya, kecuali kalau menikahi wanita seperti ibunya,” jawab Damian keceplosan, Hanna langsung menoleh kearahnya, menyipitkna matanya.


“Kau ini bicara apa? Kau menyesal menikah denganku?” berondongnya.


Melihat Hanna yang berubah marah padanya, membuat Damian tepuk jidat, seharusnya dia tidak bicara begitu atau istrinya akan marah. Dia jadi berfikir jangan-jangan Henry pelit karena menurun dari ibunya yang perhitungan. Diapun langsung tersenyum sambil menatap laptopnya.


“Kau senyum-senyum mencurigakan, ada apa? Aku marah kau malah senyum-senyum,” maki Hanna.


Mendengar istrinya masih ngomel-ngomel Damian menyimpan Loptopnya di tempat tidur, lalu kedua tangannya menarik pinggang istrinya naik ke tampat tidur dan langsung memeluknya.


“Pulang marah-marah, membuatku pusing saja,” keluh Damian, sambil mencium pipinya. Dia tahu hanya itu yang bisa membuat istrinya tidak marah lagi. Maunya dirayu-rayu dimanja-manja baru hilang marahnya.


Hannapun jadi tersenyum lalu menoleh pada suaminya.


“Kenapa?” tanya Damian.


“Kalau Henry pelit begitu, tidak ada wanita yang mau menikah dengannya,” kata Hanna.


Damian mengerutkan keningnya, dia masih memeluk istrinya.


“Nanti Henry tidak akan menikah-menikah dan..dan…dia akan jadi bujang tua..dan..kita tidak akan punya cucu! Hanya Henry putra kita satu-satunya! Tidak! Itu tidak boleh terjadi!” seru Hanna membuat Damian terkejut.


“Kau suka berhalusinasi berlebihan!” keluh Damian.


Tiba-tiba terdengar suara mobil masuk ke halaman rumah.


“Sayang! Itu pasti Henry! Kita harus menanyainya!” seru Hanna lagi, sambil buru-buru melepaskan pelukan suaminya dan turun dari tempat tidur. Damian tampak terdiam sesaat lalu diapun turun, dia jadi ingin tahu apa alasan yang akan diberikan Henry.


Saat Hanna sampai di ruang tamu, Henry juga baru masuk ke rumah.


“Sayang, Ibu perlu bicara!” seru Hanna sambil menarik tangan Henry diajak duduk di sofa yang ada diruang tamu itu.


“Apa?” tanya Henry keheranan.


“Ibu mau bertanya, apa benar kau yang menyebabkan putrinya Bu Yogi masuk rumah sakit?” tanya Hanna.


Henry tampak terdiam, dilihatnya ayahnya juga menghampirinya. Tapi Damian tidak bicara apa-apa, dia hanya duduk disebrangnya Henry.


“Aku tidak mau menghambur-hamburkan uangku hanya untuk mengajak makan wanita,” kata Henry membuat Hanna terkejut. Sedangkan Damian hanya bersikap biasa saja.


“Apa? Mengajak makan menghambur-hamburkan uang? Kita tidak akan jatuh miskin karena makan dengan wanita, Henry. Lihat akibatnya, putrinya Bu Yogi maghnya kambuh dan masuk rumah sakit!” kata Hanna.


“Kenapa dia tidak makan dulu dirumah? Atau beli makan saja sendiri,” jawab Henry seenaknya.


“Cuma jalan-jalan saja ditaman kota,” jawab Henry, menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.


“Jalan jalan ditaman? Ngobrol begitu?” tanya Hanna.


“Ya apalagi?” jawab Henry.


Hanna menghela nafas panjang.


“Makan angin dong!” ucapnya, lalu menoleh lagi pada Henry.


“Sayang, yang kau ajak kencan itu anak orang, kau juga harus bersikap baik dan memperhatikannya,” kata Hanna.


“Dia yang mengajakku jalan, bukan aku,” jawab Henry.


“Tapi ya tidak sebegitunya juga Henry, ajak dia makan, kau belikan sesuatu, pasti gadis-gadis akan senang jalan denganmu, jangan pelit begitu,” kata Hanna.


“Itulah masalahnya, pelit saja banyak yang ngajak kencan, apalagi aku royal kaya ayah pada ibu. Aku bukan tipe laki-laki yang menghambur-hamburkan uang untuk wanita,” kata Henry.


Hanna terkejut mendengar jawaban putranya.


“Apa? Kenapa jadi membandingkan ayah dengan ibu? Tidak ada wanita yang mau menikah denganmu kalau kau pelit! Nanti kau jadi bujang tua! Pantas kau pacaran tidak pernah awet, tidak ada gadis yang kau bawa dengan serius ke rumah ini,” kata Hanna dengan nada tinggi.


“Ibu tenang saja, nanti juga aku akan menikah,” ucap Henry.


“Tidak, kalau kau pelit begitu! Pacarmu mungkin iya mau menerima, tapi orangtuanya pasti tidak suka, kau tidak akan direstui dan kau tidak akan menikah- menikah, aduh bagaimana ini…” keluh Hanna.


“Pokoknya aku tidak mau menghambur-hamburkan uangku hanya untuk seorang wanita. Dia mau jalan menerima aku apa adanya, oke, kalau tidak, ya sudah, yang pasti aku tidak suka berboros boros hanya untuk kencan,” ucap Henry.


Hanna menoleh pada Damian.


“Kenapa kau diam saja?” tanya Hanna.


“Apa yang dikatakan Henry itu benar,” jawab Damian.


“Apa maksudmu?” Hanna terkejut.


“Kalau Henry royal, nanti malah dimanfaatkan pacar-pacarnya, bagaimana? Kasihan dia!” jawab Damian.


“Tapi tidak sepelit itu Damian, wanita itu butuh perhatian, disayang, dimanja,” kata Hanna.


“Iya, aku saja sampai berkali-kali membelikanmu cincin lamaran, “ ucap Damian.


Hanna langsung memberengut.


“Kalau aku sih ogah,” jawab Henry, membuat ibunya melotot ke arahnya. Damian hanya senyum-senyum saja.


“Itu karena ayahmu mencintai ibu Henry, bukan ibu yang meminta-mintanya membelikan cincin yang banyak!” bela Hanna.


“Kenapa aku tidak percaya ya,” ucap Henry sambil beranjak meninggalkan orangtuanya. Damian malah tertawa membuat Hanna menoleh kearahnya.


“Kenapa kau tertawa? Kau senang ya putramu bicara begitu?” gerutu Hanna.


Lalu menoleh pada Henry yang menaiki tangga, lalu berteriak.


“Ayahmu membelikan ibu cincin berkali-kali karena ayahmu mencintai ibu, Henry! Itu yang harus kau ingat! Bukan ibu yang minta-minta ayahmu!” teriak Hanna, lalu menoleh lagi pada Damian.


“Benarkan sayang?” tanya Hanna.


“Ada benar ada tidak,” jawab Damian.


“Ko begitu?” tanya Hanna.


“Kau selalu mengatakan kalau melamar itu harus pakai cincin,” jawab Damian.


“Oh iya ya, kau benar, tapi kau tidak terpaksa membelikannya kan? Karena kau mencintaiku kan?” tanya Hanna.


Damian menatap istrinya yang terseyum padanya, menunggu jawaban.


Hanna balas menatap suaminya, dia heran karena suaminya hanya diam saja, jangan- jangan iya Damian membelikan cincin karena terpaksa. Senyumannya langsung menghilang.


“Iya, karena aku mencintaimu!” ucap Damian, membuat Hanna merasa senang, langsung menghampirinya dan duduk di pangkuan Damian.


“Aku juga mencintaimu,” ucap Hanna sambil mencium pipi Damian yang dibalas Damian dengan mencium pipinya lagi.


Henry yang melihat kelakuan ayah-ibunya hanya tersenyum dan kembali menaiki tangga menuju kamarnya.


****************