Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-16 Baju Pengantin (Part 1)



Damian masih menggandeng tangan Hanna memasuki ruangan kerjanya. Dia terus saja bicara dengan sekretarisnya, Bu Siska.


Ruang kerja Damian sangat luas dan nyaman. Hanna mengedarkan padangan ke sekelilingnya.


Seorang satpam mengetuk pintu yang terbuka. Tok tok tok.


“Maaf Bu, tamunya sudah datang,” kata pak Satpam pada Bu Siska.


“Ya, suruh masuk saja, soalnya pak Damian masih ada acara yang lain,” jawab Bu Siska sambil menoleh pada Damian.


“Dari PT Sinar Grup pak, agendanya hanya penandatanganan kontrak dua belak pihak saja,” ujar Bu Siska pada Damian.


Damian menoleh pada Hanna yang langsung menatapnya.


“Sayang, kau bisa duduk disana. Aku ada beberapa tamu dulu, kau bisa baca majalah disana kalau kau jenuh,” ucap Damian tersenyum manis. Senyum yang sangat teramat manis, membuat Hanna tertegun apa senyum itu benar-benar untuknya? Bukankah Damian terlihat lebih tampan kalau tersenyum? Hei, barusan dia memuji pria itu tampan, jangan jangan Hanna jangan terbawa perasaan, ingat, jangan sampai jatuh cinta padanya, uangmu akan hilang, 40 Miliarmu akan hilang, suara-suara alam lain menyadarkannya.


Hanna bisa melihat Bu Siska tampak tersenyum , melihat Damian memperlakukan istrinya dengan lembut. Bu Siska tidak tahu itu Cuma acting saja, fikir Hanna.


“Iya,” jawab Hanna mengangguk, kemudian menuju deretan satu kursi yang disebrang set sofa  yang lain.


Tidak berapa lama tamu-tamupun masuk sebanyak 3 orang, bersalaman dengan Damian. Mereka duduk di sofa sebrang Hanna menunggu.


Bersamaan dengan seorang Office boy masuk ke ruangan membawa beberpa minuman buat tamu, kemudian menghampirinya.


“Permisi Bu, anda akan minum apa? Akan saya siapkan,” kata officeboy itu dengan ramah.


“Apa saja,” jawab Hanna, membalasnya dengan senyum ramah.


Setelah OB itu pergi, Hanna mengambil sebuah majalah yang ada di rak khusus tabloid yang berada disamping kursi itu. Dibukanya tabloid bisnis itu. Dia mengerutkan keningnya, ternyata banyak berita Damian juga bersama rekan rekan bisnisnya. Ternyata pria yang beberapa hari bersamanya bukan pria sembarangan. Matanya melirik pada Damian dan tamu-tamunya, tampak bu SIska dan pak Indra juga ada bersama mereka.


Hanna kembali membaca tabloidnya, matanya kembali melihat ke arah Damian yang serius dengan tamu-tamunya. Kenapa matanya tidak berhenti melihat pria itu? Dia hanya tidak menyangka, pria asing yang ditemuinya seorang pria yang kaya raya, pria yang dipeluknya setiap malam adalah pria sukses dengan banyak bisnis besar yang diatanganinya, pria yang orang anggap suaminya itu seorang milyarder, pebisnis yang hebat. Oh Tidak, rasanya ini seperti mimpi, kenapa dia jadi terlibat permainan dengan pria ini?


Meskipun membaca tabloid, mata dan fikirannya kearah yang lain. Tidak disadarinya Damian sudah berdiri di dekatnya, membuatnya mendongak menatap pria yang sedang ada dalam fikirannya itu.


Damian mencondongkan tubuhnnya, mendekati wajah Hanna, mereka saling bertatapan.


“Jangan tidur, tabloidmu terbalik,”bisik Damian, membuat Hanna terkejut dan langsung melihat tabloidnya dan benar saja tabloidnya terbalik. Kenapa bisa terbalik? Padahal tadi dia sedang membacanya, fikir Hanna. Buru-buru tabloidnya dia balikkan lagi. Damian pun kembali ke kursinya bersama tamu-tamunya.


Menunggu satu jam terasa sangat lama, Hanna menoleh pada Damian dan tamunya. Tampak tamunya sudah berdiri, sepertinya urusan mereka sudah selesai.


“Sayang!” panggil Damian, menoleh pada Hanna tidak lepas dengan senyumnya yang manis, tangannya mengulur ke arahnya.


“Sini, Sayang,” panggil Damian lagi.Hanna segera meletakkan tabloidnya dan menghampiri Damian.


“Perkenalkan ini istriku,” ucap Damian pada ketiga tamunya, yang langsung tersenyum ramah dan mengulurkan tangan bersalaman, Hanna membalas uluran tangan mereka.


“Jangan lupa resepsinya kita juga diundang ya,Pak,” kata salah seorang dari mereka.


“Ya pasti,” jawab Damian.


“Baiklah pak Damian kita permisi dulu. Bu Damian, kita permisi,” ucap mereka berpamitan. Damian hanya mengantar mereka sampai pintu saja.


“Pak, sekarang waktunya untuk fitting baju pengantin. Nyonya besar barusan mengingatkan saya lagi, jangan sampai telat,” ucap Bu Siska sambil menoleh pada Damian.


“Ya aku kesana,” jawab Damian. Bu Siska dan Pak Indra kembali ke perkerjaannya masing-masing.


Damian menoleh pada Hanna.” Ayo,” ajaknya. Hanna segera mengambil tasnya, mengikuti Damian keluar dari ruangan itu.


Disepanjang jalan Hanna tidak banyak bicara. Banyak hal yang ada dalam kepalanya.


“Kau kenapa?“ tanya Damian.


“Kenapa kau harus memperkenalkanku pada semua orang?” tanya Hanna, menoleh pada pria disampingnya itu.


“Apa lagi yang harus aku lakukan? Semua orang, karyawanku, klienku, sudah mendengar kalau aku sudah menikah,” jawab Damian.


“Kau pandai berakting, mereka percaya kalau aku istrimu,” kata Hanna, kembali melihat jalanan di depan.


“Tentu saja, aku harus menjaga imageku dimata mereka,” ucap Damian.


“Hemmm kau manis manis padaku cuma untuk image,” cibir Hanna.


“Tentu saja, apalagi? Seperti saat kau memelukku ketika tidur, kalau sadar aku tidak akan melakukannya,” kata Damian, membuat Hanna sebal mendengarnya.


“Dasar kau ini. Kau lupa, kau juga membawaku dalam masalah besar, semua orang mengira aku istrimu, padahal aku masih gadis,” gerutu Hanna.


“Ini semua karena ulahmu, Justru aku yang dirugikan, kenapa statusku jadi menikah sekarang?” kata Damian.


“Memangnya kau mau bujangan terus?” tanya Hanna.


“Tidak juga, setidaknya aku tidak akan memilihmu jadi istriku. Aku tidak mau istri yang suka mendengkur,” keluh Damian.


“Kau juga kalau tidur mendengkur!” bela Hanna.


“Kapan aku mendengkur? Tidak,” elak Damian.


“Ketika aku memelukmu, aku fikir kau mengigau, ternyata mendengkur,” kata Hanna, tidak mau kalah, bicara menatap Damian dengan ekspresi yang meyakinkan.


“Bohong, aku tidak percaya,” kata Damian.


“Aku serius, kau suka mendengkur!” seru Hanna.


“Aku tidak percaya, kau bohong,” balas Damian.


“Kalau kau tidak percaya, aku akan merekammu saat mendengkur nanti malam,” kata Hanna, mencoba meyakinkan Damian.


“Kau juga kadang mengeluarkan air liur dibahuku,” ucap Hanna, sampai Damian menginjak rem mobilnya tiba-tiba dan menolehnya, Hanna benar-benar terkejut.


“Ada apa?” tanya Hanna, memebelalakkan matanya karena kaget.


“Kau serius, kalau aku tidur mengeluarkan air liur?” tanya Damian, tidak percaya.


“Setiap aku bangun tidur bantalku bersih bersih saja,” lanjut Damian.


“Mungkin itu sudah kering. Serius, air liurmu banyak, sampai membasahi bajuku,” lanjut Hanna, dengan meyakinkan.


“Dan sedikit bau juga,” tambah Hanna, mengibas ngibaskan tangan di hidungnya.


“Kalau perlu aku memvideomu kalau kau tidur,” kata Hanna lagi.


“Ah tidak mungkin. Masa aku seperti itu? Aku tidak percaya,” keluh Damian, kembali menjalankan mobilnya.


“Benar! Nanti malam aku foto dan video ya,” ujar Hanna dengan semangat. Dalam hati dia tertawa bisa mengerjai Damian. Kau tidur sangat manis, Damian, batinnya.


Damian tampak memberengut, apa benar dia seperti itu? Tidur mendengkur dan mengeluarkan air liur? Menjijikkan!


Beberapa menit kemudian mobil sampai ditempat yang dituju. Dari etalase terlihat manekin dengan menggunakan baju baju pengantin yang indah.


“Wah baju pengantinnya sangat indah,” gumam Hanna, menatap patung patung itu yang terlihat cantik dengan gaun pengantinnya yang beraneka model gaun.


“Ibu tiriku sudah menyiapkan baju untukmu, jadi kau tinggal mencobanya. Tapi kalau kau tidak suka kau bisa minta yang lain,” kata Damian.


“Baju baju itu pasti sangat mahal,” gumam Hanna, masih menatap patung di etalase itu. Dia langsung membayangkan dia yang menjadi patung itu, memakai gaun pengantin yang indah itu bersama orang yang dicintainya, seperti patung yang disebelahnya yang menggunakan baju pengantin pria.  Tunggu, bukankah dia hampir menikah? Ya dengan Cristian, tapi entah kenapa dia langsung berubah fikiran saat acara akan dimulai? Tentu saja menggemparkan semua orang yang hadir. Dia juga merasa aneh. Kenapa dia merasa tidak sanggup menikah dengan Cristian? Padahal dia mengenal Cristian sudah cukup lama, dari dia kecil dia terbiasa dilindungi oleh Cristian. Sungguh aneh. Apa benar karena Sherli? Atau memang hatinya masih ragu antara cinta dan sayang pada Cristian? Dan ternyata dia belum siap untuk membuat suatu ikatan pernikahan dengan Cristian.


“Kau kenapa? Kau tidak mau masuk?” terdengar teriakan Damian di pintu masuk, membuyarkan lamunan Hanna. Hanna menatap Damian, kembali melamun lagi.


Sekarang dia malah akan bersanding dengan pria asing itu? Sungguh lucu.


“Kau kenapa? Ayo masuk!” teriak Damian lagi.


“Ya,ya,” jawab Hanna, sekali lagi melihat pada patung pengantin itu, lalu kakinya melangkah menuju pintu masuk, menyusul Damian.


Didalam ruangan banyak lagi baju baju yang indah. Dilihatnya Damian berbicara dengan seorang wanita muda yang cantik, mereka terlihat sangat akrab sekali.


Damian menoleh pada Hanna.


“Ini istriku,” Damian memperkenalkan Hanna pada wanita cantik itu.


“Halo! Aku Sinta,” kata Sinta sambil mengulurkan tangannya pada Hanna yang membalas uluran tangan Sinta.


“Hanna,” jawab Hanna.


“Aku sudah menyiapkan baju baju yang bisa kau pilih nanti,” kata Sinta. Lalu menatap Hanna dari atas sampai bawah.


“Badanmu sangat bagus, kau akan cocok dengan semua baju,” kata Sinta, membuat Hanna berbunga-bunga dipuji begitu.


“Benarkah?” tanya Hanna dengan senyum lebar dibibirnya.


“Benar, kalian tunggu sebentar ya,” jawab Sinta, lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Hanna langsung menoleh pada Damian.


“Apa?” tanya Damian, mendapat tatapan seperti itu dari Hanna.


“Kau dengar bukan apa kata SInta? Badanku bagus,” ucap Hanna, sambil menggerakan kedua alisnya naik turun.


“Bagus apanya, kau terlalu kurus,” ucap Damian.


“Terlalu kurus apa? Badanku ideal ini! Kaunya saja yang suka mengejekku. Ingat. Badan kurus yang kau ejek ini yang kau peluk setiap malam. Kalau tidak aku peluk, tahu rasa kau, akan mengigau selamanya,” gerutu Hanna, mencibir sebal.


“Kalau kau melakukannya, uangmu akan hilang, kau tidak jadi membeli rumah di pantai itu!” seru Damian, balas kesal.


“Memangnya aku akan mengembalikan uangmu? Tidak!” balas Hanna.


“Aku akan melaporkanmu pada yang berwajib,” ucap Damian.


“Tidak bisa, perjanjian itu tidak ada tertulis laporan pada yang berwajib,” kata Hanna, tersenyum penuh kemenangan.


“Kalau begitu perjanjiannya harus di Revisi,” ucap Damian.


“Tidak mau!”


“Harus!”


“Tidak mau!” teriak Hanna.


“Apa kalian bertengkar?” Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka. Sinta bersama beberapa orang wanita membawakan baju baju pengantin, berdiri menatap mereka yang beradu mulut.


Hanna dan Damian pun terdiam dan saling pandang.


*************


Lanjut besooook.


Maaf ya kalau uploadnya tidak tentu jamnya, athor ngejar target “my secretary” juga.


Baca juga “My Secretary” Seasson 2 Love story in London


Jangan lupa like dan komennya ya…..