
Hanna memberengut sebal, dia terpaksa menutup video callnya gara-gara melihat Damian tidak berpakaian di cermin. Setelah kepergiannya pria itu sepertinya berubah jadi aneh, sangat menakutkan, batinnya.
Dilihatnya lagi baju Tom & Jerry itu, diapun tersenyum, kemudian begegas ke kamar mandi, karena Hanna juga sama belum mandi sore ini.
Saat makan malam, raut wajahnya Hanna tampak berbeda, dia terlihat sumringah dan berseri-seri.
“Baju pengantinmu sudah siap?” tanya Bu Astrid.
“Sudah,” jawab Hanna mengangguk.
Bu Astrid merasa heran kenapa sekarang Hanna telihat senang? Biasanya dia cemberut kalau ditanya persiapan pernikahanya dengan Cristian.
“Pak,Bu, aku selesai duluan makannya,” seru Hanna, mengakhir makannya, meminum air di gelasnya lalu beranjak buru-buru meninggalkan ruang makan itu.
Bu Astrid dan Pak Louis saling berpandangan.
“Ada apa dengan dia?” tanya Bu Astrid.
“Mungkin dia sudah berbaikan dengan Cristian. Apa kataku juga, nanti juga Hanna akan dekat lagi dengan Cristian, mereka itu sudah cocok dari kecil, bertengkar tengkar sedikit kan wajar, nanti juga baikan lagi,” jawab Pak Louis sambil tersenyum.
“Pak!” panggil Bu Astrid.
“Ada apa?” tanya Pak Louis, yang juga mengakhiri makannya.
“Ada yang ingin aku katakan,“ kata Bu Astrid, dengan ragu-ragu.
“Soal apa?” tanya Pak Louis, menatap istrinya.
“Soal Damian dan Cristian,” jawab Bu Astrid.
“Memangnya ada apa dengan mereka?” tanya Pak Louis.
“Sebenarnya Damian itu…” Bu Astrid tampak ragu-ragu.
“Damian apa?” tanya Pak Louis lagi menatap istrinya dengan penasaran.
“Damian itu putranya Bu Sony yang berpisah saat dia masih kecil,” jawab Bu Astrid.
Jawabannya itu membuat Pak Louis terkejut.
“Apa? Kau bicara apa?” tanya Pak Louis.
“Iya Pak, tadi siang aku mempertemukan Bu Sony dengan Damian, ternyata benar, Damian itu putranya Bu Sony, itu artinya Damian itu kakaknya Cristian!” jawab Bu Astrid.
Mendengar penjelasan Bu Astrid tentu saja membuat Pak Louis shock, pria yang dimusuhinya ternyata putra istri temannya.
“Kau serius?” tanya Pak Louis.
“Serius,” jawab Bu Astrid.
Pak Louis terdiam. Rasanya tidak percaya mendengar kabar seperti itu. Kabar kalau Damian kakaknya Cristian, bagaimana ini?
“Damian tahu kalau Cristian adiknya?” tanya Pak Louis.
”Tidak Pak, Bu Sony juga belum tahu kalau Damian juga menyukai putri kita, aku belum memberitahukannya, aku bingung,” kata Bu Astrid lagi, sambil menatap suaminya.
Pak Louis menghela nafas panjang. Dia tidak menyangka kalau kakak kerbadik itu akan menyukai putrinya. Dengan siapapun Hanna menikah, mereka jadi saling menyakiti.
“Aku takut kalau Damian dan Cristian tahu soal ini, apakah Damian akan rela melepas Hanna untuk Cristian? Itu pasti akan sangat sulit karena mereka akan terus berada dalam satu keluarga,” kata Bu Astrid.
“Kau benar. Jadi Bu Sony belum tahu soal ini?” tanya Pak Louis.
“Belum, tapi lambat laun pasti akan tahu juga, Bu Sony pasti mengundang Damian ke pernikahan Cristian,” jawab Bu Astrid.
Pak Louispun terdiam, dia jadi ingat temannya, Pak Sony. Apakah Pak Sony tahu hal ini juga? Bagaimana dengan Cristian? Apakah akan diberitahu juga kalau Cristian bukan putranya tapi kemungkinan seayah dengan Damian?
Hanna sedang berada di kamarnya, dia langsung melakukan video call dengan Damian.
“Kau sedang apa?” tanya Hanna saat Damian mengangkat video callnya.
“Aku selesai makan,” jawab Damian.
“Aku juga,” jawab Hanna sambil tersenyum.
“Kau memakai baju itu?” tanya Damian.
“Iya, kau juga?” Hanna balik bertanya.
“Iya,” jawab Damian.
“Kenapa tadi kau menutup telponnya? Apa kau melihat sesuatu?” tanya Damian.
Hanna langsung tertawa.
“Kenapa kau tertawa? Kau pasti melihat sesuatu kan?” tanya Damian, wajahnya sekarang memerah.
“Ah tidak juga, hahaha..” jawab Hanna malah tertawa lagi.
“Apa maksudmu kau tertawa?” tanya Damian dengan ketus, wajahnya langsung masam.
“Tidak apa-apa, kau membuatku sakit mata,” ucap Hanna, masih tertawa.
“Sakit mata? Kau mengejekku,” keluh Damian.
Hana tertawa lagi tapi dia menghentikan tawanya saat Damian malah serius menatapnya.
“Ada apa?” tanya Hanna.
“Aku rindu,” jawab Damian.
Hannapun diam.
“Aku tidak tahu apakah aku bisa tidur malam ini atau tidak,” ucap Damian.
“Kau kan sudah bertemu dengan ibumu,” kata Hanna.
“Bertemu dengan ibuku tapi aku kehilanganmu, aku sudah terbiasa kau peluk, rasanya aneh tidur tanpa ada kau di sisiku, tanpa ada pelukanmu,” ucap Damian lagi dengan jujur.
“Damian!” seru Hanna.
“Ada apa?” tanya Damian dengan lesu.
“Main tebak-tebakan yuk?” ajak Hanna, maksudnya memberi Damian semangat.
“Tidak ah aku tidak mau main tebak tebakan,” jawab Damian dengan lesu. Lagian Hanna orang sedang bersedih diajak main tebak-tebakan, ga jelas banget, batin Damian.
Hanna cemberut mendapat penolakan dari Damian.
“Kalau ga mau main tebak-tebakan, main apa ya,” gumam Hanna.
“Sudah aku bilang aku sedang rindu padamu, bukan mau main tebak-tebakan,” keluh Damian.
“Iya aku juga tahu, aku juga rindu,” kata Hanna.
Damian pun diam.
“Kalau difikir-fikir, kita ini seperti sedang pacaran kan? Telpon telponan video call,” ucap Hanna.
Damian mengangguk dengan tidak bersemangat.
“Kau kenapa lagi?” tanya Hanna
Tiba-tiba dilihatnya Damian membuka bajunya.
"Hei kau mau apa? Kenapa kau membuka baju segala?” tanya Hanna, hampir saja dia berteriak kalau tidak ingat takut ketahuan orang tuanya.
Damian menghilang dari pandangannya, entah kemana dia.
Kemudian gambar di video call lagi lagi berubah.
“Damian! Damian!” panggil Hanna. Tapi layar itu malah bergerak-gerak tidak jelas.
“Kemana Damian?” fikir Hanna. Membuatnya bingung saja, lalu Video callnya terputus.
Hana semakin khawatir saja, apa yang terjadi dengan Damian. Diapun kembali melakukan panggilan tapi tidak diangkat Damian juga. Benar-benar membuatnya cemas saja.
Sampai akhirnya panggilan video call itu diangkat Damian, setelah hampir satu jam lewat.
“Damian apa yang terjadi? Kenapa kau mematikan telponnya?” tanya Hanna.
Dia langsung terkejut saat melihat apa yang ada dibelakang Damian, sebuah gerbang besi yang tinggi. Hanna terkejut karena dia mengenali gerbang rumah siapa yang ada di video call-nya itu. Itu adalah gerbang rumahnya! Damian ada didepan rumahnya!
“Damian! Apa yang kau lakukan?” tanya Hanna.
Tapi Kemudian telponnya di tutup lagi Damian. Hanna segera memasukkan handphone ke laci meja riasnya lalu keluar dari kamarnya, tapi saat keluar kamar dia berpapasan dengan ayahnya.
“Kau kenapa?” tanya Pak Louis.
“Aku sakit perut,” jawab Hanna.
“Sakit perut kenapa keluar kamar? Toilet kamarmu rusak?” tanya Pak Louis keheranan.
“Oh tidak, aku salah,” seru Hanna, diapun berlari kembali lagi ke kamar. Dia sangat bingung dan cemas, kenapa Damian datang ke rumahnya lagi?
Seseorang membunyikan bel, Pak Louis langsung pergi menju ruang tamu.
Mendengar suara bel berbunyi, Hanna keluar lagi dari kamarnya, berjalan perlahan dibelakang ayahnya sembunyi-sembunyi.
Pak Louis membuka pintu rumahnya, disana sudah ada bodyguardnya berdiri.
“Ada apa?” tanya Pak Louis.
“Ada Pak Damian Pak, dia memaksa ingin bertemu Bapak,” jawab Bodyguard itu.
“Siapa, Pak?” terdengar suara Bu Astrid dari dalam rumah.
Bu Astrid heran melihat Hanna bersembunyi di balik guci yang besar, tapi dia tidak bicara apa-apa, segera menghampiri suaminya.
“Damian ingin bertemu,” jawab Pak Louis.
“Damian? Mau apa?” tanya Bu Astrid.
“Aku juga tidak tahu,” jawab Pak Louis.
“Kalau begitu suruh masuk saja, aku ingin tahu dia ada perlu apa kemari?” kata Pak Louis pada bodyguardnya. Pria tinggi besar itu langsung pergi.
Mendengar Damian datang, hati Hanna sangat gelisah. Dia tidak tega kalau ayahnya mengusir Damian.
Pak Louis menatap Damian yang sekarang berdiri di pintu.
“Ada apa kau kemari?” tanya Pak Louis dengan ketus. Bu Astrid langsung berbisik ke telinga suaminya.
“Jangan galak-galak, Pak. Dia putranya Bu Sony,” bisiknya pelan.
“Ada apa?” tanya Pak Louis menurunkan nada bicaranya.
“Ijinkan aku bertemu Hanna,” jawab Damian.
“Memangnya ada perlu apa kau menemui Hanna?” tanya Pak Louis.
“Aku hanya ingin melihatnya, aku sangat rindu padanya,” jawab Damian dengan lugas.
Mendengar perkataan Damian, Bu Astrid ingin tertawa tapi ditahannya, juga Hanna yang kini bersembunyi dibalik tembok.
“Kau ini apa-apaan datang kesini hanya untuk mengatakan itu?” tanya Pak Louis dengan ketus.
“Iya , aku datang hanya ingin minta ijin Bapak untuk melihat Hanna, aku rindu berat,” ucap Damian.
Bu Astrid yang tadi ingin tertawa berubah jadi sedih dan terharu mendengar kejujurannya Damian. Begitu juga dengan Hanna, dia tidak menyangka Damian akan senekad itu menemui ayahnya hanya karena rindu padanya.
***********