Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-7 Istri Bayaran



Henry merasa sangat pusing dengan semua itu, dia tidak mungkin menikah dengen Shezie, gadis yang bukan pacarnya, bahkan dia tidak tahu Shezie itu seperti apa, tinggalnya dimana, orang tuanya siapa? Masa dia harus menikah dengan Shezie yang pekerjaannya saja sangat tidak baik.


Tidak jauh berbeda dengan orangtuanya, handphone-nya pun penuh dengan ucapan selamat pernikahan  dari teman dan relasinya. Kepalanya semakin pusing saja. Dia juga kesal kenapa ibunya langsung bilang akan menikah minggu depan segala, waktu yang benar-benar mepet untuk menyusun sebuah pernikahan.


Henry keluar kamarnya, saat melewati kamar ibunya, dia medengar suara  ibunya dari dalam kamar, ibunya menangis terus.


“Bagaimana ini sayang, keluarga kita akan malu kalau Henry tidak menikah, aku menyesal tadi terpancing emosi, aku kesal pada Bu Yogi yang terus-terusan menjelekkan Henry, uhuhuhu…” terdengar suara ibunya.


Henry menghela nafas panjang, bukan orang tuanya saja, dia juga sama, dia akan jadi bahan olok-olok temannya karena tidak menikah. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Apakah dia harus bener-benar menikah dengan Shezie? Lagipula mungkin saja Shezie juga tidak mau kalau dia tiba-tiba diajak menikah. Henry terus memutar otak, tiba-tiba dia mendapatkan ide. Apakah idenya harus dia katakan pada orang tuanya? Ah tapi sepertinya orang tuanya tidak perlu tahu.


 


************


Keesokan harinya…


Shezie menjenguk ibunya ke rumah sakit. Saat kakinya mendekati ruangan ibunya, ternyata ibunya tidak sendiri, ada suara pria di dalam, dia hafal betul suara itu, itu adalah suaranya Martin.


Mendengar ada yang masuk, pria itu menoleh pada Shezie dan tersenyum.


“Shezie?” sapa pria muda  yang lumayan tampan, dandannya terlihat perlente, dia terlihat seorang pria muda yang kaya.


Shezie hanya diam saja, mengacuhkannya.


“Aku menjenguk ibumu,” kata pria itu lagi,


“Terimaksiah Martin,” ucap Shezie, dia mendekati ibunya.


“Apa ibu lebih baik?” tanya Shezie.


“Ibumu harus segera di Kemo,” Martin yang menjawab. Shezie tidak menjawab.


“Aku tidak bisa lama-lama Bu, aku ada urusan dengan seorang teman, aku juga  mau lansgung ke café,” kat Shezie, ditangannya ada sebuah kantong  yang berisi gaun dari Henry.


“Ibu lebih baik, pergilah, ada perawat disini,” kata ibunya.


Shezie mendekati ibunya dan memeluknya, setelah itu dia keluar dari ruangannya itu. Sebenarnya dia bukan banyak urusan tapi dia tidak mau berlama-lama ada pria itu diruangan ibunya.


“Shezie! Tunggu!” benar saja Martin sudah mengejarnya. Pria itu lansgung memegang tangannya Shezie.


“Kita harus bicara,” kata Martin. Shezie menghentikan langkahnya dan menatap Martin.


“Ibumu harus di kemo,” kata Martin lagi.


“Iya aku tahu,” jawab Shezie, sambil melepaskan pegangannya Martin.


“Aku mau membiayai kemo ibumu asal kau mau menikah denganku,” kata Martin.


“Aku tidak mau menikah denganmu!” jawab Shezie.


“Aku mencintaimu, Shezie. Menikahlah denganku,” kata Martin memaksa.


“Maaf Martin, aku tidak bisa,” tolak Shezie.


“Kau tidak memikirkan ibumu?” tanya Martin.


“Aku akan mencari uang sendiri tanpa harus menikah denganmu!” jawab Shezie.


“Sampai kapan kau akan mengumpulkan uang sebanyak itu? Apa kurangnya aku? Aku memilki segalanya, kau hanya tinggal menikah denganku,” kata Martin dengan nada yang mulai kesal.


“Tidak ada pria yang mau menikahimu dengan kondisi ibumu sakit keras, pria lain tidak akan mau menikahimu langsung jatuh miskin karena harus mengurus pengobatan ibumu. Belum tentu juga ada pria kaya raya yang mau menikahimu. Biaya kemo itu mahal, belum tentu sekali kemo ibumu sembuh,” kata Martin lagi.


“Maaf Martin, aku tidak bisa!” ucap Shezie.


Meskipun apa yang dikatakan Martin benar, tapi Shezie tidak mencintai Martin, dia tidak mau menghabiskan hidupnya dengan pria yang tidak dicintainya. Shezhie juga tidak menyukai Martin yang suka pamer dengan kekayaannya. Sheziepun meninggalkan Martin yang masih berdiri mematung.


Martin benar-benar merasa kesal, sudah dari jaman dia kuliah dia menyukai Shezie, adik tingkatnya tapi gadis itu selalu menolaknya padahal dia rela menikahi gadis yang ibunya menderita sakit parah. Dia hanya mau Shezi menikah dengannya.


“Shezie!” panggil Martin. Hatinya masih merasa kesal karena Shezie masih saja menolaknya, tapi Shezie tidak menghiruakannya, dia terus meninggalkan rumah sakit itu.


Shezie menaiki bis dengan hati yang kacau. Martin terus saja mengajak menikah, dengan iming iming akan membiayai pengobatan ibunya. Tapi dia sama sekali tidak menyukai Martin, hati kecilnya tidak bisa menerima Martin meskipun Martin cukup tampan dan kaya. Tapi melihat kondisi ibunya, apakah demi pengobatan ibunya dia harus menikah dengan Martin?


Dilihatnya Bis berhenti di halte yang tidak jauh dari tempat janjiannya dengan Henry di sebuah cafe. Shezie pun turun dari bis itu.


Akhirnya dilihatnya gadis itu muncul, kembali dengan rambut yang sedikit acak-acakan. Henry menatapnya dalam hati bertanya-tanya apakah dia benar-benar akan melanjutkan rencananya pada gadis itu?


“Kau sudah menungguku? Ini gaunmu, sudah aku cuci,” kata Shezie, sambil menyimpannya diatas meja bundar.


Henry masih duduk menatap gadis yang rambutnya terlihat acak-acakan itu. Dilihatnya dari atas sampai bawah. Gadis itu hanya menggunakan kemeja lengan panjang yang digulung sesiku, celana jins belelnya, dan sepatu kets bewarna putih, sebuah ransel menggantung dipunggungnya, tidak ada sisi feminim yang dilihatnya saat pura-pura menjadi kekasih pria yang membayarnya. Gadis ini terlihat jauh dari kata feminim, make up pun dia menggunakan seala kadarnya.


“Kalau begitu aku pulang dulu,” kata Shezie, dia tidak sesemangat biasanya. Dia akan membalikkan badannya tapi dipanggil Henry.


“Tunggu!” panggil Henry.


“Apa lagi?” tanya Shezie.


“Ada yang ingin aku bicarakan!” jawab Henry.


“Apa?” tanya Shezie.


“Mmm duduklah!” jawab Henry.


Shezie menurut, dia duduk diseberang Henry dan menatapnya. Henry juga menatapnya. Menatap gadis yang masih dengan rambut acak-acakannya.


“Apa kau tidak bisa berdandan sedikit, merapihkan rambutmu itu?” tanya Henry, merasa gerah dengan rambutnya Shezie yang sebagian menutupi wajahnya.


“Kau cerewet, ada apa?” tanya Shezie. Tangannya merapihkan rambutnya dengan asal. Henry kembali menatapnya dan menimbang-nimbang.


“Aku ada pekerjaan untukmu,” kata Henry.


“Pekerjaan? Kau mau memtuskan pacarmu lagi?” tanya Shezie.


Henry terdiam, dia masih menimbang-nimbang.


“Sudah aku katakan jadilah dirimu sendiri, kalau supir ya supir saja, tidak perlu sok sok-an jadi orang kaya. Majikanmu terlalu baik selalu membelikanmu jas-jas yang bagus. Harga jasmu itu sangat mahal,” kata Shezie, mencondongkan tubuhnya ke arah Henry, tangan kanannya menyentuh bajunya Henry sambil menepuk-nepuk bahunya.


“Bukan itu,” jawab Henry, matanya melirik pada tangan Shezie itu, berani-beraninya Shezie menyentuh tubuhnya, batinnya.


“Apa? Dari pada kau repot memutuskan pacarmu dengan uang yang pas-pasan untuk membayarku, makanya stop pura-pura jadi orang kaya. Kemarin aku harus nombok lagi  50 ribu untuk membayar makanmu dengan gadis itu, jadi kau hanya membayarku 350 ribu Henry, kau sangat murah membayarku,” keluh Shezie sambil cemberut.


Henry  akan bicara lagi tapi didahului lagi oleh Shezie.


“Nih kalau bukan kasihan padamu karena kau hanya seorang supir yang gajinya juga mungkin pas pasan atau UMR, aku tidak mau bekerjasama denganmu. Yang memakai jasaku biasanya orang-orang kaya yang banyak pacarnya,” lanjut Shezie.


“Bisa tidak kau berhenti bicara dan mendengarkanku?” tanya Henry mulai kesal dengan gadis itu yang terus saja nyerocos. Shezie menoleh pada Henry.


“Apa?” tanya Shezie.


“Aku ada pekerjaan,” jawab Henry.


“Ya katakan saja,” ucap Shezie.


“Aku mau membayarmu jadi istriku!” jawab  Henry.


“Apa? Jadi istri bayaran maksudmu?” tanya Shezie, terkejut.


“Iya, seperti itu!” jawab Henry.


Mendengar perkataan Henry membuat Shezie marah, dia langsung bangun dari duduknya, tangannya menekan meja, tubuhnya condong ke depan, wajahnya didekatkan pada Henry.


“Apa maksudmu kau mau menjadikanku istri bayaran? Pekerjanaanku memang tidak baik tapi tidak untuk menjual diriku! Aku tidak semurahan itu!” maki Shezie, dia kesal ternyata Henry telah keterlaluan padanya. Diapun bangun dari duduknya tapi Henry memegang tangannya.


“Shezie tunggu! Dengarkan dulu penjelasanku!” kata Henry.


“Apa lagi? Aku sudah tahu sifat busukmu itu!” maki Shezie.


“Tolong dengarkan aku dulu, ini tidak seperti yang kau bayangkan!” kata Henry.


Dia menarik tanganya Shezie disuruh duduk kembali. Terpaksa Shezi duduk dengan hati yang kesal. Dia memalingkan muka tidak mau menatap Henry.


Henry duduk menatap gadis yang menatap kearah jalan raya. Sebenarnya dia juga masih ragu apakah ini yang terbaik buatnya? Tapi dia juga tidak mau membuat orang tuanya malu karena dirinya.


***************