
Mobil Damian berjalan lambat di depan rumah sakit Metro Medica, menurut informan kalau Vina dirawat di rumah sakit ini. Tidak jauh darinya, ada sebuah taxi membuntuti, Hanna penasaran dengan orang yang akan ditemui Damian itu. Dia ingin tahu siapa wanita itu dan kenapa Damian tidak berterus terang soal wanita yang dicarinya itu.
Dilihatnya mobil Damian memasuki parkiran rumah sakit itu, taxinyapun mengikutinya memasuki parkiran itu, jaraknya sengaja agak jauh supaya Damian tidak curiga kalau ada yang membuntuti.
Damian turun dari mobil itu memasuki geudng rumah sakit. Hannapun ikut turun mengendap-endap bersembunyi-sembunyi jangan sampai Damian melihatnya.
Dilhatnya lagi Damian memasuki area rawat inap. Hanna kebingungan karena disana akan sedikit ruang untuknya bersembunyi. Tapi dia harus tahu siapa wanita yang akan ditemui Damian itu. Hatinya mengatakan pasti wanita itu adalah seseorang yang istimewa makanya Damian merahasiakannya.
Langkah Hanna terhenti saat melihat Damian berhenti di depan sebuh ruangan, diapun menyelinap bersembunyi di balik tembok.
Damian menatap nomor ruangan itu, diluar ruangan itu terlihat ramai, diapun berjalan semakin dekat.
Ada seorang wanita yang mengejar anak kecil berlari lari kearahnya.
“Nona nona!” panggil Damian, membuat wanita itu yang sudah berhasil menangkap putranya itu menoleh pada Damian.
“Siapa yang sakit?” tanya Damian, tangannya menunjuk ruangan itu.
“Ayahku, jatuh dari motor tadi,” jawab wanita itu.
“Baru masuk?” tanya Damian.
“Iya,” jawab wanita itu.
“Kau siapa?” tanya wanita itu keheranan, karena dia tidak merasa mengenal Damian.
“Tidak apa-apa, aku hanya kebetulan sedang menengok saudara, aku hanya heran saja banyak sekali yang mengantar,” jawab Damian.
“Iya, ayahku jatuh dari motor mengalami patah tulang,” jawab wanita itu, sambil kembali ke ruangan dimana keluarganya berkumpul di depan ruang rawat inap bekas ibunya Shezie dirawat itu.
Damian terdiam, kata informannya Vina dirawat diruangan itu tapi ternyata ruangannya digunakan orang lain yang jatuh dari motor. Apakah Vina sudah keluar dari rumah sakit?
Damian mengeluarkan ponselnya menelpon informannya.
“Katamu Bu Vina dirawat di rumah sakit ini. Aku sudah datang kerumah sakit ini teryata orang lain yang dirawat disini,” kata Damian.
“Maaf Pak, tadi pagi Bu Vina masih dirawat, mungkin sudah pulang Pak,” jawab informan itu.
“Kau cari alamat rumahnya,” kata Damian.
“Iya Pak, saya sudah mendapatkan alamatnya, nanti saya kirimkan alamatnya,” kata informan itu.
Damian pun menutup ponselnya, tapi kemudian ponselnya berdeirng, ada telpon dari kantor.
“Pak sudah ditunggu meeting. Saya juga sudah menyiapkan agenda untuk ke Luar Negeri beberapa hari,” kata seketarisnya.
“Ya sebentar lagi saya kesana,” jawab Damian.
Sekretarisnya Damian sudah menyiapkan agenda ke Luar negeri, itu artinya dia belum bisa menemui Vina dirumahnya. Untuk Sementara urusannya tertunda sampai pekerjaannya di Luar Negeri sudah beres. Teponpun dimatikan dan Damian bergegas keluar dari rumah sakit itu.
Hanna terdiam melihat kepergian suaminya. Suaminya akan pergi ke kantor dan ternyata orang yang dicarinya tidak ditemukan disini.
Hannapun berjalan keluar dari rumah sakit itu, di parkiran dia bisa melihat mobil suaminya sudah memasuki jalan raya, diapun kembali ke taxinya. Sungguh dia penasaran ingin tahu wanita itu, dia kesal kenapa Damian merahasiakan semua itu? Kalau wanita itu tidak berarti buat Damian, Damian tidak akan menyuruh orang mencarinya. Akhirnya Hanna pun meminta supir taxi untuk mengantarnya kembali pulang, tapi ditengah jalan dia meminta supir untuk pergi ke rumahnya Henry.
**********
Mobilnya Henry memasuki halaman rumahnya. Bulan madu yang seharusnya masih lama karena Shezie khawatir dengan ibunya, terpaksa mereka tunda dan memutuskan untuk kembali pulang secepatnya.
Baru juga mereka turun dari mobilnya, Pak Satpam langsung menghampirinya.
“Ada apa? Semua aman kan?” tanya Henry.
“Dua hari yang lalu ada tamu yang tidak dikenal mencari Bu Shezie,” jawab satpam.
Shezie mengerutkan dahinya menatap Pak satpam.
“Tamu untukku?” tanya Shezie.
“Iya Bu,” jawab satpam.
“Siapa?” tanya Shezie.
“Maaf Bu saya lupa menanyakan namanya, hanya saja tamu itu seorang wanita dan seorang pria muda, sepertinya wanita itu sedang bersedih, jadi saya sampai lupa menanyakan namanya. Saat tahu ibu tidak ada dirumah mereka langsung pergi tidak menitipkan pesan,” jawab Pak satpam.
Shezie terdiam mendengarnya begitu juga Henry.
“Apa ibunya yang datang?” tanya Henry.
“Sepertinya begitu, kalau dengan pria muda, mungkin itu dengan Martin,” jawab Shezie, menatap Henry.
“Ibumu tahu rumah ini?” tanya Henry.
“Tidak,” jawab Shezie.
“Kalau Martin? Tahu darimana dia rumah ini?” tanya Henry lagi.
“Aku juga tidak tahu. Kenapa Martin bisa tahu rumah ini? Dia tahunya aku bekerja ditravel dan tinggal diluar kota. Aku tidak cerita soal mau tinggal dirumah ini,” jawab Shezie kebingungan, begitu juga dengan Henry.
“Kau yang tenang, aku akan menemanimu menemui ibumu nanti, kita istirahat dulu sekarang, kau masih lelah, besok kita temui ibumu,” kata Henry.
“Tidak Henry, aku akan pergi sendiri menemui ibuku,” ujar Shezie.
“Sayang, kau lupa, aku ini suamimu sekarang aku bertanggungjawab atas dirimu, aku juga harus bisa meyakinkan ibumu kalau aku menatunya sekarang,” kata Henry.
“Aku rasa biar aku dulu yang bertemu ibuku, aku takut ibuku marah, nanti kalau ibuku sudah tenang, baru aku mengajakmu bertemu ibu,” ucap Shezie.
Henry menghela nafas panjang.
“Ya Sudah kalau maumu begitu,”kata Henry.
Saat mereka akan masuk terdengar suara sebuah mobil memasuki pekarangan. Henry dan Shezie menoleh ke belakang, ternyata sebuah taxi, membuat Henry keheranan, taxi siapa?
Turunlah ibunya, semakin kaget saja karena tidak biasanya ibunya datang menggunakan taxi.
“Ibu!” panggil Henry.
“Kenapa ibu memakai taxi?” tanya Henry.
“Hanya sedang ingin pakai taxi saja,” jawab Hanna sambli membayar taxinya.
Diapun menatap anak dan menantunya, dia juga melihat pelayan-pelayan membawakan barang-barang dari mobilnya Henry.
“Kalian sudah bepergian?” tanya Hanna.
“Iya, kami baru tiba dari Paris,” jawa Henry.
“Benarkah? Kalian pergi berbula madu?” seru Hanna.
“Iya Bu,” jawab Henry sambil tersenyum.
Hanna melihat tangan putranya yang menggenggam tangannya Shezie, dia senang melihat mereka terlihat mesra.
“Ibu senang mendengarnya, tapi kenapa bulan madunya sangat cepat? Seharusnya kalian bulan madu lebih lama,” kata Hanna.
“Ada sedikit urusan jadi kami pulang dulu, nanti kita akan pergi lagi kalau sudah ada waktu,” ucap Henry.
“Kau jangan terlalu banyak mengurus pekerjaan, kalau saatnya bulan madu, ya bulan madu saja, jangan memikirkan pekerjaan,” kata Hanna, sambil berjalan masuk kerumah diikuti putra dan menantunya.
Hanna menoleh pada Shezie yang terlihat pucat.
“Kau baik-baik saja?” tanya Hanna pada Shezie.
“Aku hanya lelah Bu. Maaf aku ke kamar dulu, mungkin kalau sudah mandi badanku akan lebih segar,” jawab Shezie.
“Ya terlihat sekali kau lelah, istirahatlah, jangan sampai sakit,” kata Hanna.
“Iya Bu!” jawab Shezie, lalu pergi meninggalkan mertuanya dengan suaminya.
Hanna menoleh pada Henry dengan senyuman yang penuh arti.
“Ada apa?” tanya Henry.
“Kau berhasil rupanya,” jawab Hanna, sambil menepuk bahunya Henry.
“Berhasil apa?” tanya Henry.
“Kau pura-pura tidak tahu, kau akan memberi ibu cucu secepatnya kan? Lihat istrimu sangat kelelahan,” jawab Hanna sambil tertawa. Wajah Henry langsung memerah.
“Kau sudah baikan dengannya?” tanya Hanna, menatap putranya.
“Iya Bu, aku sepakat dengan Shezie akan melanjutkan pernikahan ini,” jawab Henry.
“Baguslah kalau begitu, daripada kau harus mencari-cari lagi calon istri. Shezie juga anak yang baik,” seru Hanna, dia senang melihat raut muka putranya yang tampak berseri-seri, sangat jauh ketika memberitahu kalau Shezie minta cerai.
“Sudah ibu katakan sebelumnya, kejar cintamu, kau harus percaya diri,” kata Hanna, kembali menepuk-nepuk bahu putranya.
“Ngomong-ngomong, kenapa ibu pakai taxi? Aku tidak percaya kalau cuma iseng saja,” tanya Henry.
“Ibu curiga pada ayahmu. Ibu sudah membuntuti ayahmu,” kata Hanna.
“Membuntuti ayah?” tanya Henry, keheranan. Dia menatap wajah ibunya lekat-lekat.
“Ah sudahlah, kau tidak perlu tahu, ibu hanya ingin memastikan kalau ayahmu itu tidak selingkuh, tidak memiliki wanita lain dibelakang ibu,” jawab Hanna.
“Ibu ini, ayah sangat mencintai ibu, tidak mungkin ayah selingkuh,” kata Henry.
“Makanya ibu ingin membuktikan itu,” jawab Hanna, sambil duduk di sofa.
“Sudahlah lupakan prasangka yang seperti itu. Shezie membelikan banyak oleh-oleh buat Ibu. Tapi dia sedang istirahat sekarang atau mungkin sedang mandi, sebentar lagi dia turun,” kata Henry.
Hanna mengangguk, menatap putranya yang terlihat berbinar-binar, dia senang melihat putranya terlihat bahagia, meskipun dalam hatinya dia sedih, dia kecewa Damian menyembunyikan sesuatu darinya.
***********