
Anita masih memperhatikan Shezie dan tamu pria itu, ketika ada suara yang mengagetkannya.
“Apa yang kau lakukan?” Terdengar suara seseorang menghampiri Anita yang sedang bersembunyi di balik pas bunga besar. Anita menoleh kearah suara ternyata manager café.
“Eh Bapak!” kata Anita, sambil tersenyum malu kepergok sedang mengintip.
“Apa yang kau lihat?” tanya Manager café, sambil menoleh kearah pintu dan dia terkejut saat melihat Shezie berbicara dengan seseorang sedangkan tamu sedang banyak-banyaknya. Diapun segera menghampiri.
“Shezie!” panggil Manager itu, membuat Shezie menoleh.
Manager itu menatap Henry.
“Siang Pak, ada yang bisa dibantu? Anda akan memesan untuk berapa orang?” tanya Manager itu.
“Aku akan membawa istriku pulang!” jawab Henry, membuat Manager café itu terkejut.
“Istri?” tanyanya dengan bingung.
“Iya, aku akan membawa Shezie pulang, aku suaminya,” jawab Henry, membuat Manager itu terkejut dan menoleh pada Shezie.
“Aku akan bekerja lagi,”kata Shezie akan beranjak, tapi tangannya langsung dipegang Henry.
“Kau tidak boleh bekerja, ikut pulang denganku,” kata Henry.
“Aku akan pulang setelah bekerja,” kata Shezie.
“Apa yang di katakan karyawan saya benar. Dia sedang bekerja. Sekarang sedang banyak tamu,” kata Manager café itu.
“Aku tidak peduli, aku akan membawa Shezie pulang,” ujar Henry bersikeras.
“Tapi memang Shezie karyawan saya, saya sedang membutuhkan tenaganya,” kata Manager itu.
“Kalau begitu tutup cafenya, aku bayar kerugiannya!” kata Henry dengan gampangnya, membuat Manager café itu terkejut terutama Shezie yang langsung menoleh pada Henry.
“Kau ini apa-apaan? Aku bisa dipecat!” seru Shezie
“Biar dipecat juga, pokoknya ikut pulang denganku sekaranga!” jawab Henry.
“Tapi kan ini jam kerjanya Shezie, urusan pribadi kalian urus diluar jam kerja saja,” kata Manager itu.
Henry menoleh pada Manager café itu.
“Apa kau tidak dengar apa yang aku katakan? Tutup cafenya, aku bayar kerugiannya, biarkan aku membawa istriku pulang!” kata Henry dengan nada tinggi, lalu menoleh pada Shezie.
“Ayo pulang, tidak ada lagi yang bisa kau kerjakan disini, cafenya akan tutup,” ujar Henry.
"Henry, kau tidak bisa begitu,” kata Shezie.
“Kenapa tidak? Ayo ikut pulang!” ucap Henry, masih bersikeras.
Shezie menoleh pada Manager café.
“Kau pulang saja, cafenya tutup lebih awal,” kata Manager itu, membuat Shezie terkejut.
“Cepat ambil barang-barangmu, aku tunggu di mobil!” ucap Henry, diapun mengeluarkan sebuah kartu nama dan diberikan pada Manager café itu.
“Kau hubungi bagian keuangan,” kata Henry.
Manager café membaca kartu nama tu, dia terkejut saat membacanya, nama subuah perusahaan besar di ibu kota. Dia tahu perusahaan itu tapi cafenya memang jarang dikunjungi oleh pengusah-pengusaha besar karena cafenya bukan restaurant mewah.
Henrypun keluar dari café itu menuju mobilnya, diapun segera masuk dan menyalakannya sambil menunggu Shezie.
Anita langsung mengikuti Shezi saat gadis itu berjalan menuju lokernya.
“Apa yang terjadi? Apa benar dia suamimu?” tanya Anita.
Shezie hanya mengangguk tidak bicara apa-apa. Anita terbengong saja jadi benar Shezie menikah dengan pria kaya.
“Kalau suamimu kaya buat apa kau kerja disini?” tanya Anita.
Shezie tidak menjawab, mengeluarkan pakaiannya dari locker dan langsung berganti baju.
Tiba-tiba banyak karyawan lain yang masuk keruangan itu, mereka menuju loker mereka.
“Ada apa?” tanya Anita pada temannya.
“Café tutup lebih awal,” jawab temannya.
“Apa? Tutup lebih awal? Kenapa?” tanya Anita kebingungan.
“Entahlah,” jawab teman-temannya, sambil mengambil pakaian ganti mereka di loker masing-masing.
Anita menoleh pada Shezie yang sekarang sudah berganti pakaian.
“Pria itu benar-benar suamimu?” bisik Anita.
Shezie menganguk lagi dengan berat. Disebut suami iya disebut bukan suami juga iya. Memang hubungannya dengan Henry itu mengambang dan tidak jelas.
Shezie keluar dari cafe itu bersamaan dengan pelanggan-pelangagn yang meninggalkan café dadakan karena diinformasikan café akan tutup. Shezie segera masuk ke mobilnya Henry.
“Kau tidak boleh bersikap seperti itu, pelanggan pelanggan itu sedang makan,” ucaph Shezie, tapi Henry tidak menyahut, dia langsung menjalankan mobilnya dengan kencang.
*******
Henry menghentikan mobilnya, dia turun duluan lalu membukakan pintu buat Shezie, gadis itupun turun.
“Kita perlu bicara,” kata Henry sambil kembali menutup pintu mobilnya.
Shezie tidak bicara apa-apa, dia masuk ke rumah menuju kamar mereka. Dikamar itu dia duduk di sofa
dan meletakkan tasnya disampingnya. Tidak berapa lama Henrypun masuk ke kamar itu lalu duduk di sofa yang ada di sebrang Shezie.
“Kau sudah melanggar perjanjian kita, aku memintamu untuk menurut padaku, aku membayarmu sudah sangat mahal, tapi ternyata kau tidak mendengarkanku!” kata Henry, menatap Shezie.
“Apa yang menurutmu melangggar? Aku sudah melakukan apa yang kau mau,” ujar Shezie balas menatap Henry.
“Sudah melakukan apa yang ku mau? Kau mau aku menjelaskannya?” tanya Henry.
Shezie diam tidak menjawab.
“Pertama, aku membelikanmu baju baru tapi kau masih memakai baju yang lama. Apa kau tidak mengerti juga, aku butuh istri yang cantik yang enak dipandang mata oleh semua orang yang ada dilingkunganku,” kata Henry, sambil melihat najunya Shezie yang sedang dipakainya.
“Kedua, aku sudah membelikanmu mobil dan juga memberikanmu supir, tapi kau malah naik bis. Aku sudah berusaha supaya kau terlihat lebih elegant,” kata Henry. Shezie masih diam.
“Ketiga, ini yang paling parah, kau bekerja di café kau membuat keluargaku malu, Andrea mengirimkan fotomu bukan saja padaku tapi pada rekan bisnis ayahku juga teman-teman ibuku,” lanjut Henry.
“Aku minta maaf soal itu,” kata Shezie, mulai bersuara.
“Kau tahu akibatnya? Semua orang mencemooh kami. Aku sudah berjanji akan memberikanmu uang bulanan tapi kenapa kau masih bekerja di café? Kalau kau butuh uang kenapa tidak bilang padaku? Aku masih mampu menafkahimu, memberikan semua kebutuhannmu, jangan membuat keluargaku malu. Aku bisa memberikan donasi dengan jumlah yang besar, masa istri sendiri kerja di café?” ujar Henry, menghela nafas pendek, menahan rasa kesalnya.
Shezie menatap Henry.
“Sepertinya ada yang kau lupakan,” ucap Shezie. Henry diam saja.
“Aku hanya 2 bulan menajdi istrimu bukan selamanya. Aku sudah wanti-wanti dari awal aku punya kehidupan pribadi dan inilah kehidupan pribadiku. Aku bekerja di café, aku juga menjual jasa dengan berakting menjadi selingkuhan orang, kau lupa itu!” kata Shezie, menatap Henry lekat-lekat.
“Aku bukannya tidak tahu, aku akan memberikanmu uang bulanan masa kau masih bekerja di cafe? Berapa sih gajimu disana? Aku bisa menggantinya sekarang juga!” ujar Henry dengan kesal.
“Kau jangan menghina pekerjaanku, meskipun gajinya kecil aku senang melakukannya karena itu hasil jerih payahku,” kata Shezie.
“Aku minta kau berhenti bekerja di café itu,” kata Henry.
Shezie terdiam.
“Juga pekerjaan yang jadi selingkuhan orang itu, aku tidak mau kalau ada yang mengenalimu,” lanjut Henry.
“Tapi aku tidak bisa,” kata Shezie.
“Tidak bisa? Kenapa?” tanya Henry.
“Aku membutuhkan pekerjaan itu setelah bercerai denganmu. Sangat sulit mencari pekerjaan di kota besar ini,” ucap Shezie.
“Aku membayarmu 1M! Kau masih memikirkan pekerjaan? Kau bisa menggunakan uang itu untuk modal usaha, tidak semua orang mempunyai uang Milyaran!” kata Henry, kembali merasa kesal, dia tidak mengerti dengan permikiran Shezie.
“Sudah aku katakan aku punya urusan lain dengan uang itu,” ujar Shezie.
Henry menatap Shezie.
“Kau punya utang? Berapa utangmu? Akan aku bayar, supaya kau tidak berulah lagi, aku benar-benar gerah dengan ulahmu!” kata Henry.
Shezie tidak menjawab, dia hanya memberengut saja.
“Sepertinya aku sudah gila! Aku menawarimu untuk membayar utang-utangmu segala! Aku selama ini paling tidak mau mengeluarkan uangku untuk wanita yang tidak jelas, tapi sekarang karena bertemu denganmu, entah berapa uang yang telah aku keluarkan!” keluh Henry.
Setelah itu Henry maupun Shezie terdiam, keduanya bersandar di sandaran sofa tanpa ada yang bicara. Tiba-tiba Henry melihat cincin lain dijari tengahnya Shezie.
“Cincin apa itu?” tanya Henry, tangannya menunjuk pada cincinya yang dari Martin.
Shezie melihat cincin itu.
“Ini? Ini cincin pertunanganku, kemarin aku bertunangan,” jawab Shezie.
“Apa? Bertunangan? Masalah apa lagi ini?” tanya Henry, hampir berteriak.
“Iya aku berunangan, dengan Martin,”jawab Shezie.
“Kau bertunangan dengan pria yang bernama Martin?” tanya Henry, menatap Shezie, tidak bisa menutupi keterkejutannya.
“Iya,” jawab Shezie mengangguk.
“Kau tidak boleh bertunangan, kau kan istriku! Apa-apan kau ini?” bentak Henry, dia sangat marah.
“Kita kan sudah sepakat kalau kita tidak akan mengusik kehidupan pribadi masing-masing. Sekarang kau mengusik urusan pribadiku. Aku tidak boleh memakai bajuku sendiri, aku tidak boleh naik bis, aku tidak boleh bekerja di café, sekarang aku tidak boleh bertunangan? Kau yang tidak konsisten dengan ucapanmu!” kata Shezie, jadi berbalik kesal pada Henry.
“Aku bukan tidak konsisten, tapi aku sudah berjanji memberikan hak dan kewajiban yang layak selama kau menjadi istriku, cuma itu!” ujar Henry.
Shziepun diam, sepertinya perdebatan ini tidak akan pernah selesai.
“Kau putuskan pertunangannya! Kau tidak boleh bertunangan! Kau masih istriku!” kata Henry tiba-tiba, membuat Shezie terkejut.
**************