
Hanna menatap wanita cantik itu. Wanita itu mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.
“Hai, aku Maria,” sapanya dengan suara wanita biasa. Hanna tertegun mendengarnya, bukankah biasanya yang transgender itu suaranya agak berat? Tapi ini seperti normal suara wanita. Dilihatnya lagi wanita itu dari atas sampai bawah.
“Apa aku boleh masuk? Damian ada kan?” tanya Maria, karena melihat Hanna hanya diam saja.
“Oh ya, aku Hanna, istrinya Damian,” sapa Hanna, agak terkejut, dia menerima uluran tangan wanita itu.
“Maria! Kau sudah datang?” terdengar suara Damian dari atas tangga. Dari sana dia bisa melihat Hanna ada dipintu dengan seorang wanita yang belum dipersilahkan masuk.
“Ya, aku baru datang,” jawab Maria, tanpa basa basi lagi langsung masuk ke dalam, yang disambut Damian dengan mencium pipi kiri dan pipi kanannya. Hanna semakin jelas melihat mereka sangat akrab di depannya.
Damian memeluk pinggang Maria, langsung diajaknya ke meja makan.
“Jangan lupa tutup pintunya,” ucap Damian pada Hanna tanpa menoleh.
Hanna hanya bisa melihat kepergian mereka ke ruang makan. Ditutupnya pintu itu dengan pelan, kenapa hatinya merasa sedih melihat mereka begitu akrab?Apa Maria tahu kalau dia bukan istri benarannya Damian? Hanna terus menebak-nebak, apakah Maria benar-benar seorang laki-laki? Dia sangat mirip seorang wanita. Bagaimana cara dia membuktikan kalau Maria itu seorang laki-laki? Kalau ternyata Maria seorang perempuan, kenapa Damian mengatakan dia laki-laki? Apa supaya dia membatalkan pengunduran dirinya?
Diapun berjalan ke meja makan dengan malas. Kata Damian Maria tidak bisa hadir di resepsinya, tapi kenapa dia malah akrabnya dengan Maria? Bukannya memperkenalkan dirinya sebagai istrinya pada Maria? Sebenarnya apa hubungan mereka?
Hanna melihat mereka duduk di meja makan sambil bersenda gurau, entah apa yang dibicarakannya, bahkan saat dia masuk ke ruangan itu tidak ada yang menyapanya, dia merasa diabaikan. Dilihatnya Damian, menawarkan makanan ini itu yang ada dimeja, dia sangat perhatian pada Maria entah Mario, Hanna tidak suka melihatnya.
Akhirnya Hanna membalikkan badannya, keluar dari ruangan itu. Dibiarkannya mereka berdua makan bersama. Hanna pergi ke kolam renang diatas, duduk di kursi yang waktu itu dia tertidur. Sepertinya dia memilih tidur dikursi itu saja, dia ingin tahu apakah hantu akan memindahkannya lagi?
Tapi apakah sikapnya ini berlebihan? Entahlah, dia tidak suka mereka berdua sangat akrab dan mengacuhkannya.
Dilihatnya deburan ombak dipantai yang agak keras, angin bertiup kencang dan terasa sangat dingin menyentuh kulit Hanna. Dia merasa sepi duduk sendirian disini. Dia terus berfikir dan berfikir. Apakah sebaiknya dia benar-benar berhenti bekerja pada Damian. Biar Damian mencari wanita lain yang akan memeluknya saat mengigau. Dia takut akan terlanjur jatuh cinta pada Damian, pasti akan lebih menyakitkan dari ini.
Hanna berjalan ke tepi bagunan itu. Menatap ke bawah jurang yang sangat terjal, dikejauhan terlihat pesisir pantai yang bersih. Terdengar suara langkah mendekat, tapi Hanna tidak menoleh, mungkin hanya perasaannya saja ada yang mendekat, tidak mungkin Damian, dia sedang sibuk dengan wanitanya itu yang entah wanita atau laki-laki. Terdengar suara benda di simpan di atas meja di belakangnya. Dia akan menoleh tapi terhenti saat merasakan ada yang memakaikan sesuatu menyelimuti tubuhnya.
“Kau tau udara dingin tapi kau tidak memakai jaketmu,” terdengar suara dari orang yang memasangkan blazer panjangnya Damian yang besar. Hanna pun menoleh, dilihatnya pria itu hanya menatap ke arah pantai. Sebenarnya dia sangat terkejut, Damian tiba-tiba datang dan memakaikan blazer panjang laki-laki itu.
“Aku membawakan makanan juga untukmu,” ucapnya, masih tanpa menoleh.
Hanna menoleh ke meja yang ada dibelakangnya. Ada sepiring nasi dengan lauknya juga minuman hangat. Dia menatap meja itu dengan tidak percaya. Damian membawakan itu untuknya?
“Setelah makan, tidurlah di dalam, aku tidak mau menggendongmu lagi, kau sangat berat,” ucap Damian lalu beranjak dari sana, melangkah menjauh. Hanna hanya tertegun mendengarnya. Apa dia tidak salah dengar? Tidak mau menggendongnya? Jadi hantu yang memindahkannya saat dia tidur di luar itu Damian?
“Jadi kau hantu itu?” teriak Hanna. Damian tidak menjawab, dia masih melangkah menyusuri kolam renang.
“Kalau begitu aku akan tidur disini supaya hantu itu menggendongku!” teriak Hanna.
“Aku tidak mau menggendongmu lagi! Tidur saja diluar!” balas Damian, berteriak lagi tanpa menghentikan langkahnya.
“Aku akan tidur diluar!" Hanna masih berteriak.
“Tunggu hantu menggendongmu!” balas Damian lagi.
Hanna melihat pria itu masuk ke pintu kamar yang terbuat dari kaca, dia pun tersenyum. Dia tidak menyangka kalau Damian yang memindahkannya saat tidur diluar. Kenapa dia tidak mengaku saja kalau bukan hantu yang menggendongnya. Dasar pria itu tidak bisa dimengerti. Padahal seharian dia sudah kesal saja karena dia pergi dengan Maria. Ternyata dia pulang, memindahkannya ke dalam lalu pergi lagi. Kenapa dia tidak jujur saja? Sampai mau memanggil pengusir hantu segala.
Hanna melihat piring di meja itu. Diapun jadi teringat Maria, kemana Maria? Apa masih ada di dalam? Atau sudah pulang? Ah sudahlah, yang penting dia mau makan, perutnya sangat kelaparan.
Di masukkannya kedua tangannya ke tangan blazer panjang itu sampai menutupi kedua tangannya saking lebarnya. Diapun mengacungkan tangannya ke depan, tangannya benar-benar tidak terlihat. Apa tangan pria itu sangat panjang? Kenapa blazernya besar sekali, fikirnya. Lalu diapun duduk dikursi itu, dan memakan makanannya meskipun sendirian, sambil melihat kearah pantai.
Setelah makan, perutnya terasa kenyang. Kantukpun mulai menyerang. Hannapun mau mengerjai Damian. Bagaiman kalau dia tidur kali ini di luar? Apa pria itu akan menggendongnya atau tidak? Masa sih tidak? Tadi dia bilang kali ini hantu saja yang akan menggendongnya. Hah pria itu, menyebalkan.
Hanna kembali menguap berkali-kali, dia mulai berbaring di kursi itu, mendekap blazer panjangnya yang hangat, kenapa memakai blazer milik Damian ini membuatnya serasa dipeluk pria itu? Kenapa dia tidak membawakan selimut saja? Malah bajunya yang dibawa, fikirnya. Setelah lumayan lama merasakan kehangatan dari blazer itu, akhirnya Hannapun teridur.
Keesokan harinya…
Hanna masih merasakan mengantuk saat sinar matahari masuk ke dalam kamar itu. Hanna membukakan matanya dan melihat ke sekeliling. Ternyata dia tidur di kamar, masih menggunakan blazer panjangnya Damian juga berselimut. Ternyata pria itu menyelimutinya juga. Tapi kemana dia sekarang?
Tercium aroma kopi yang menyegarkan. Ha sepertinya Damian sedang membuat kopi. Hannapun turun dari tepat tidur, menuruni tangga, menuju dapur.
Benar saja, Damian sedang membuat kopi.
“Pagi!” sapa Hanna sambil tersenyum.
“Mau kopi?” tanya Damian. Hanna mengangguk, duduk di kursi meja untuk memotong sayuran itu.
Hanna menatap Damian yang menggunakan pakaian olahraganya.
“Kau sudah lari pagi?” Tanya Hanna.
“Hem!” jawab Damian., sambil menuangkan kopi panas dari teko pembuat kopi ke dalam dua gelas. Setelah itu membawanya ke meja tempat Hanna duduk, diberikan pada Hanna satu gelas.
“Kenapa kau tidak pernah mengajakku lari pagi? Waktu di Swiss juga kau lari pagi sendirian,” kata Hanna.
“Benarkah? Perasaan kau memlukku semalam, apa karena aku memakai bajumu yang besar ini jadi aku merasa kau memelukku?” tanya Hanna, sambil mengembangkan kedua tangannya yang tenggelam karena tangannya kepanjangan.
Damian menatap Hanna dengan tatapan serius.
“Mungkin kita akan tinggal disini agak lama, aku ada pekerjaan,” kata Damian. Hanna menatapnya. Tumben sekali pria itu kembali serius.
“Kau ada pekerjaan apa disini?” tanya Hanna sambil meniup kopinya yang masih panas.
“Aku sedang mengevaluasi hotelku, jadi mungkin aku akan sangat sibuk.” jawab Damian.
“Apakah ada yang bisa aku lakukan? Aku merasa bosan dengan tidak ada pekerjaan disini,” kata Hanna.
“Aku tidak bisa memberimu pekerjaan lain, karena kau gampang sekali tidur di siang hari,” jawab Damian, dengan nada serius, tidak main-main lagi.
“Jadi aku dirumah saja dan tidur, begitu?” tanya Hanna.
“Sepertinya itu pekerjaanmu,” jawab Damian.
Keduanya terdiam, meminum kopi di cangkirnya masing-masing.
“Kau menggendongku lagi semalam?” tanya Hanna, kini menatap pria itu.
“Tidak,” jawab Damian, membuat Hanna terkejut.
“Tidak? Apa maksudmu tidak? Aku bangun ada di kamar tadi,” kata Hanna.
“Aku juga tidak tau. Aku bangun kau sedang mendengkur disampingku. Kau membuat telingaku sakit,” keluh Damian.
“Yang serius Damian, kau benar-benar tidak menggendongku?” Tanya Hanna, tidak percaya.
“Tentu saja tidak. Semalam kan aku sudah bilang kalau aku tidak akan menggendongmu lagi, kebiasaan nanti,” kata Damian.
“Kalau bukan kau, jadi hantu yang memindahkanku?” tanya Hanna.
“Sepertinya begitu. Biarkan saja, jadi hantu itu membantuku untuk tidak menggendongmu terus. Sepertinya aku harus membayar hantu itu supaya setiap kau tertidur dimanapun, hantu itu akan menggendongmu, jadi tidak merepotkanku lagi,” kata Damian, kembali meminum kopinya.
“Kau becanda kan? Kau yang menggendongku, bukan hantu,” seru Hanna, mulai merasa merinding.
“Benar, serius. Sepertinya hantu itu menyukaimu, “ kata Damian,mengangguk serius.
“Menakutkan, kalau begitu aku tidak akan tidur diluar lagi,” kata Hanna bergidik.
“Bagus begitu,” jawab Damian.
Hannapun terdiam. Diapun berfikir kalau dirumah tanpa aktifitas pasti membosankan.
“Biar aku tidak bosan dirumah, bagaimana kalau aku belajar melukis saja?” tanya Hanna.
“Melukis?” tanya Damian, menatap wanita di hadapannya itu.
“Iya, Arya mempunyai kenalan seorang peeukis, aku akan belajar melukis padanya,” jawab Hanna.
“Arya?” tanya Damian, menatap Hanna, dia tidak suka pada pria itu.
“Iya,” Hanna mengangguk, diapun meminum kopinya.
Terdengar suara bel pintu. Damian langsung bangun dan menuju ruang depan untuk membuka pintu.
Saat membuka pintu, dia terkejut melihat pria yang sedang dibicarakan tadi ada disana dengan membawa sesuatu yang pipih dan lebar dibungkus kertas, sepertinya sebuah lukisan.
*************
Readers, mulai bosan ya....? Ceritanya masih yang santai santai. Konfiknya author keep dulu. Cos “My Secretary” lagi panas. Ntar mabok jika dua novel konflik semua
Jangan lupa like dan komen ya
Yang belum baca “My secretary” season 2 ( Love story in London), tidak perlu dibandingkan dengan Billionaire ya, karena tema dan genrenya berbeda.
Meskipun like tidak sebanyak Billionaire Bride, tapi bisa bertahan dengan level tinggi sampai 250 episode. Apakah pembaca “Billionaire Bride” bisa bertahan selama itu?