Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-8 Negosiasi



Sekarang Shezie menoleh pada Henry.


“Aku menjual jasa pemutus cinta, bukan menjadi istri bayaran! Sepertinya kau salah faham pada profesiku,” ucap Shezie.


“Kau juga jangan salah faham, kau menikah denganku hanya sebagai pengantin saja. Setelah itu buat skenariao kita bertengkar dan kau bisa pergi, sudah beres, kita tidak akan ada urusan lagi,” kata Henry.


Shezie tampak merenung.


“Jadi aku tidak perlu jadi istrimu?” tanya Shezie.


“Tidak


perlu, buat apa berlama-lama kau jadi istriku? Buang-buang uang saja,” keluh Henry


membuat Shezie memberengut mendengar nada bicaranya yang seakan mencemoohnya.


“Kenapa kau melakukan ini?” tanya Shezie.


“Karena orang-orang terlanjur tahu aku akan menikah,” jawab Henry.


“Karena kejadian kemarin itu? Majikanmu mengatakan kita akan menikah minggu depan?” tanya Shezie.


Henry mengangguk, meskipun Shezie masih menganggap ibunya adalah majikannya.


“Jadi kau ingin menikah denganku supaya keluargamu tidak malu?” tanya Shezie.


“Iya,” jawab Henry.


“Memangnya kau mau membayarku berapa?” tanya Shezie.


“Lumayan besar,” jawab Henry.


“Berapa?” tanya Shezie.


“5 Juta,” jawab Henry.


“Apa? 5 juta? Tidak, tidak, murah amat! Mutusin pacar saja aku memasang tarif 5 juta masa menjadi pengantin 5 juta!” protes Shezie.


“Tarifmu itu kemahalan! Jadi pengantin cuma sehari semalam 5 juta itu sudah besar!” kata Henry.


Shezie menoleh pada Henry.


“Memangnya kau tidak punya tabungan sama sekali ya?,” tanya Shezie.


“Apa hubungannya dengan tabungan?” keluh Henry.


Shezie mendekatkan wajahnya ke depan Henry.


“Heh, kau kan yang butuh, jadi aku yang memasang tarif, mau tidak? Ya aku tahu kau cuma supir tidak punya uang banyak, tapi gimana ya… aku rugi besar kalau sampai jadi pengantin segala, kau cari orang lain saja!”  ucap Shezie.


Henry menghela nafas panjang.


“Kau serius tidak mau?” tanya Henry.


“Tidak, aku tidak mau, kau cari orong lain saja,” kata Shezie menggelengkan kepalanya.


Henry menghela nafas panjang, bagaimana mungkin dia berganti wanita, teman teman ibunya tahunya Shezie, membuatnya pusing saja.


“Ya sudah, jadi kau mau berapa?” tanya Henry, akhirnya mengalah. Dia juga bukan tidak ada uang, tapi dia memang tidak mau dimafaatkan oleh perempuan.


“Berapa ya…”Shezie mengerutkan dahinya lalu menatap Henry.


Shezie diam merenung, memikirkan apakah ini baik untuk dirinya? Tapi dia sedang mengumpulkan uang untuk biaya kemo ibunya.


“Jadi hanya menjadi pengantin saja, setelah itu kita bertengkar dan berpisah?” tanya Shezie, memastikan lagi.


“Iya” jawab Henry.


Shezi masih menimbang-nimbang.


“Sepertinya kau tidak akan mampu membayarku Henry, karena aku sebenarnya tidak setuju kalau harus jadi pengantin,” kata Shezie.


Henry semakin lesu saja dia masih menatap Shezie.


“Kecuali kalau kau punya uang 100 juta sekarang, aku mau!” lanjut Shezie sambil menghela nafasnya, bersandar ke kursi dengan malas, dia yakin Henry tidak akan sanggup membayarnya 100 juta. Tapi ternyata jawaban Henry diluar dugaan.


“Baiklah aku setuju,” jawab Henry membuat Shezie terkejut. Dia langsung merubah posisi duduknya, duduk tegak dan menatap Henry.


“Kau serius mau memberiku 100 juta sekarang?” tanya Shezie.


“Tidak sekarang tapi setelah berpisah baru aku bayar,” jawab Henry. Dia sudah tidak mau menawar lagi, dia ingin masalahnya segera selesai.


“Tidak, tidak mau,” tolak Shezie.


“Kalau begitu uang muka 50 juta sisanya 50 juta setelah kita berpisah, oke?” tanya Henry.


Shezie tidak menjawab, tapi dia malah menatap Henry.


“Ada apa?” tanya Henry.


“Ternyata kau punya tabungan 100 juta?  Tapi kenapa membayarku cuma 500 ribu? Hemm  sepertinya itu memang tabungan biayamu menikah ya?” tanya Shezie.


Henry tidak menjawab.


“Jadi bagaimana?” tanya Henry kemudian.


Shezie befikir lagi.


“Sebenarnya kalau sebagai orang kaya 100 juta itu sedikit Henry, apalagi statusku jadi istrimu, tapi karena aku tahu kau pasti sudah begitu susah payah mengumpulkan uangmu, tidak apalah, aku mau,” ucap Shezie.


“Tapi bagaimana kalau 100 jutanya diawal saja? DP 50, sisanya aku berhutang 50, bagaimana?” tanya Shezie. Dia memikirkan uang itu bisa digunakan untuk biaya kemo ibunya, dan dia tidak perlu menikah dengan Martin.


Henry menatap gadis itu dengan kesal.


“Itu sih sama saja 100 juta diawal,” ucap Henry.


“Ya bedalah, aku minjam 50 nya,” kata Shezie.


“Baiklah,” jawab Henry.


“Oke, tapi benar ya aku cuma jadi pengantin saja kan?” tanya Shezie.


“Iya,” jawab Henry.


“Kau transfer sekarang uangnya kan?” tanya Shezie.


“Iya!“ jawab Henry dengan ketus, karena Shezie seperti tidak percaya.


“Tidak ada urusan yang lain lagi kan?” tanya Shezie.


“Tidak ada,” jawab Henry, dia juga tidak mau tinggal bersama Shezie, buat apa? Kenal juga tidak. Dia hanya tidak mau mengecewakan orang tuanya saja makanya melakukan kebohongan ini.


“Ya sudah kalau begitu, aku pulang, aku ada kerjaan. Ini nomor rekeningku,” kata Shezie sambil mengambil ponselnya lalu mengirimkan nomor rekening ke ponselnya Henry.


“Sudah aku kirim, aku pulang!”  kata Shezie lagi. Dia akan beranjak tapi ditahan Henry.


“Tunggu, tunggu!”ucap Henry.


“Apa lagi?” tanya Shezie.


“Nanti malam aku jemput kau dimana? Aku harus mengenalkanmu pada keluargaku!” kata Henry.


“Tunggu disini saja!” kata Shezie.


“Kenapa disini?” tanya Henry.


“Kau membayarku cuma untuk jadi pengantin sehari, jadi kau tidak perlu mengenalku lebih dalam,” jawab Shezie.


“Lagi pula siapa yang mau mengenalmu lebih dalam,” gerutu Henry, sebal karena gadis itu kepedean.


“Baiklah, jam berapa?” tanya Sezie.


“Pukul  7 sekalian makan malam,” jawab Henry.


“Nanti malam?” tanya Shezie, dia sekarang akan berangkat kerja.


“Kenapa?” tanya Henry.


“Tidak, tidak apa-apa. Baiklah, aku tunggu transferannya,” jawab Shezie.


“Iya,” jawab Henry.


“Eh tunggu, tunggu!” Henry menahan lagi Shezie.


“Apalagi?” tanya Shezie.


Henry mengeluarkan sebuah kartu member yang dia minta dari ibunya tadi sebelum berangkat, lalu diberikan pada Shezie.


“Itu butik, kau pilih satu gaun yang cantik, aku tidak mau kau berpenampilan seperti ini,” kata Henry.


“Butik? Gaun?” tanya Shezie, menatap kartu nama dari Henry.


“Iya, kau hanya tinggal pilih saja, nanti aku yang bayar,” kata Henry.


Shezie membaca kartu member yang bertuliskan nama Hanna.


“Ini kartu dari majikanmu ya? Majikanmu benar-benar baik, kau pasti supir yang bisa dipercaya sampai bisa diberi kartu ini,” kata Shezie.


Henry mengabaikan perkataannya Shezie. Diapun beranjak.


“Eh kau mau kemana?” tanya Shezie.


“Kerja,” jawab Henry pendek.


“Ya bekerjalah,” ucap Shezie.


Henry melangkahkan kakinya meninggalkan Shezie.


“Eh eh tunggu!” panggil Shezie.


“Apa lagi?” tanya Henry.


“Kau serius punya uang 100 juta?” tanya Shezie.


“Nanti aku transfer!” teriak Henry langsung meninggalkan Shezie.


Shezie terdiam sambil melihat kartu member itu. Dilihatnya jam ditangannya, masih ada waktu untuk jam kerjanya, sebaiknya dia ke butik ini sekarang.


Sedang membaca kartu member itu tiba-tiba handphonenya berbunyi. Shezie mengambil ponselnya dan melihat isi pesan yang masuk. Dia terkejut saat membacanya ternyata Henry sudah transfer 100 juta.


“Supir itu benar-benar punya uang 100 juta!” gumamnya tidak percaya. Hatinya begitu senang bukan main, dengan uang itu dia bisa membayar biaya kemo ibunya meskipun ini belumlah cukup tapi setidaknya uang ini bisa digunakan untuk kelanjutan pengobatan ibunya.


Ditekanlah sebuah nomor.


“Dokter, aku sudah punya uang untuk biaya kemo. Iya aku akan ke rumah sakit nanti sore,” ucap Shezie, kemudian dia menelpon café tempatnya bekerja untuk meminta ijin satu hari ini tidak bisa masuk, karena dia juga ada janji dengan Henry nanti malam.


************