Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-94 Kabur



Keesokan harinya, Hanna bersikap biasa saja saat dimeja makan. Ayahnya bersiap-siap akan berangkat bekerja. Dilihatnya penjaga itu selalu berdiri didekat pintu.


“Aku berangkat dulu!” kata Pak Louis, sambil keluar dari rumah itu. Bu Astrid hanya mengantar sampai teras, melihat suaminya masuk ke mobilnya dan meninggalkan rumah mereka.


Saat membalikkan badannya, Bu Astrid menoleh pada dua penjaga itu tapi tidak bicara apa-apa. Hanna hanya mengintip kepergian ayahnya dari kaca jendela ruang tamu.


Setelah ibunya masuk, diapun masuk kedalam kamar. Entah apa yang dilakukan ibunya, dia menyuruh asisten rumahtangganya ke pasar, jadi rumah semakin sepi saja.


Tiba-tiba Bu Astrid berteriak-teriak dari dapur.


“Kebakaran! Kebakaran!” teriaknya histeris. Hanna sempat terkejut saat ibunya berteriak, itu betulan atau sandiwara? Diapun berlari ke dapur,  dia melihat ada api di gorden jendela dapur, Hanna tertegun dia takut memang kebakaran betulan.


“Kebakaran! Kebakaran!” teriak ibunya. Dua penjaga yang ada diluar pintu terkejut mendengar teriakan Bu Astrid. Merekapun berlari kedalam rumah menuju dapur. Dilihatnya api menjalar di gorden jendela.


Melihat dua penjaga itu masuk ke dapur, Bu Astrid memberi kode pada Hanna untuk pergi. Hanna melihat dua penjaga itu sibuk memadamkan api, salah satunya pergi ke kamar mandi mengambil ember yang berisi air.


Melihat mereka sibuk, Hanna cepat-cepat mengambil tas di kamarnya dan langsung berlari keluar rumah. Dengan sekuat tenaga, meninggalkan rumahnya itu, dan langsung menyetop taxi yang lewat dijalan raya depan rumahnya.


Taxipun melaju meninggalkan rumah itu. Hati Hanna merasa lega sudah keluar dari rumahnya, sementara ini dia bisa lepas dari rencana pernikahannya yang kedua kali dengan Cristian. Sekarang yang harus dilakukannya bagaimana membuat Damian mau bertemu ayahnya untuk melamarnya.


Setelah putrinya pergi, Bu Astrid merasa lega, meskipun dia tidak tahu ini adalah yang terbaik buat Hanna atau bukan, tapi yang pasti dia hanya ingin melihat putrinya bahagia.


Terdengar handphonenya berbunyi. Bu Astrid mengangkat handphone-nya itu. Dilihatnya nomor ibunya Cristian. Sejenak dia terdiam, dia merasa tidak enak sudah membiarkan Hanna pergi itu artinya sama saja dengan memisahkan Cristian dengan Hanna, tapi apalagi yang bisa dia lakukan?


“Ya Bu Sony,” sapanya.


“Aku kebetulan sedang mampir ke rumah kakeknya Cristian, bisakah kita bertemu? Soalnya besok aku harus pergi ke luar negeri dalam waktu lama, mumpung ada disini aku ingin bertemu denganmu,” kata Ibunya Cristian.


“Baiklah, kebetulan aku juga akan berangkat ke restaurant, kita akan bertemu dimana?” tanya Bu Astrid, yang memiliki restaurant seafood di kota itu.


Ibunya Cristian memberikan alamat tempat mereka bertemu di sebuah rumah makan dekat rumah kakeknya Cristian.


Sekitar satu jam kemudian, Bu Astrid sudah berada dirumah makan itu berdua dengan ibunya Cristian. Ada rasa bersalah dalam hatinya Bu Astrid, saat bertatapan dengan ibunya Cristian.


“Mumpung aku kemari, jadi mengajakmu bertemu,” kata Bu Sony, ibunya Cristian.


“Iya tidak apa-apa kita juga sangat jarang bertemu, bagaiaman kabarmu?” ucap Bu Astrid.


“Aku baik, masih seperti dulu aku harus menemani suamiku kemana-mana mengurus pekerjaannya,” jawab Ibunya Cristian.


“Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan,” lanjutnya setelah menarik nafas pelan.


“Tentang apa?” tanya Bu Astrid, langsung saja hatinya gelisah.


“Sebelumnya aku minta maaf seharusnya aku langsung mengabarimu waktu itu,” jawab Bu Sony.


“Soal apa?” tanya Bu Astrid.


“Hanna, aku pernah bertemu Hanna beberapa hari yang lalu di kota tempat kelahirannku, saat aku mengunjungi makan orangtuaku,” jawab ibunya Cristian itu.


Bu Astrid tampak terkejut, soalnya Hanna tidak mengatakan kalau dia bertemu dengan ibunya Cristian.


“Kau bertemu Hanna?” tanya Bu Astrid, dia keheranan karena Hanna bilang dia tinggal di ibukota, kenapa bertemu ibunya Crstian diluar kota?


“Iya , dia sedang bersama seorang teman katanya,” kata ibunya Cristian.


Bu Astrid menebak apa mungkin itu pria yang Hanna sebutkan?


“Siapa temannya itu? Kau melihatnya?” tanya Bu Astrid.


“Tidak, aku tidak bertemu dengan temannya,” jawab Ibunya Cristian.


Bu Astrid tidak bicara lagi.


“Aku hanya meminta Hanna untuk kembali pada Cristian, kasihan Cristian sangat kehilangannya,dia sangat mencintai Hanna,” kata ibunya Cristian.


Bu Astrid terdiam, dia merasa bersalah sudah memisahkan Cristian dengan Hanna, tapi bagaimana dengan Hanna yang menyukai pria lain?


“Apa Hanna sudah memberimu kabar?” tanya ibunya Cristian.


Ibunya Hanna bingung, apakah dia harus mengatakan Hanna sudah pernah kembali atau jangan?


“Tidak,” jawabnya berbohong.


“Benarkah? Seharusnya aku minta nomor telponnya Hanna, aku fikir setelah aku bicara dengannya, dia akan pulang kerumah. Sepertinya aku harus kembali pulang kampung siapa tahu Hanna dan temannya juga kesana lagi,” kata ibuya Cristian.


“Kau tahu kan makanya aku menitipkan Cristian dirumah kakeknya disini karena aku sering pergi pergi, jadi kasihan kalau Cristian harus berpindah-pindah kota terus, lagipula dia sudah dari dulu menyukai Hanna makanya dia tidak mau pulang,” kata ibunya Cristian sambil tersenyum.


Bu Astrid terdiam, dia semakin merasa bersalah saja.


“Tidak perlu repot,  mungin Hanna memang belum ingin pulang,” ucap Bu Astrid.


“Tidak apa-apa, soalnya aku juga sambil mencari informasi barangkali putraku ada mencariku, mumpung aku ada disini. Tapi tidak bisa sekarang-sekarang juga karena aku harus pergi lagi mendampingi suamiku,” jawab ibunya Cristian dengan raut muka berubah sedih.


“Putramu? Apa maksudmu?” tanya Bu Astrid tidak mengerti.


“Sebenarnya sebelum menikah dengan suamiku sekarang, aku pernah menikah dan punya satu anak laki-laki. Saat itu rumah tangga kami ada masalah, aku berpisah dengan suamiku yang dulu, dia tidak mengijinkanku membawa putraku. Sampai sekarang aku tidak pernah bertemu dengan putraku lagi, mungkin dia sudah dewasa sekarang. Aku berharap dia akan mencariku ke rumah kakek neneknya, itu juga kalau dia masih ingat karena saat aku kerumah mantan suamiku itu rumahnya sudah dijual, entah tinggal dimana mereka,” kata ibunya Cristian.


“Jadi kau berpisah dengan putramu? Maaf, aku membuatmu sedih,” ucap ibunya Hanna sambil memegang tangan ibunya Cristian.


“Tidak apa-apa, meskipun aku kehilangan jejak putraku setidaknya aku masih terus berharap dan berharap akan bertemu dengannya,” kata ibunya Cristian.


“Ceritamu hampir mirip dengan temannya Hanna,” kata Bu Astrid, tidak menyebut pria yang disukai Hanna.


“Teman Hanna?” tanya ibunya Cristian.


“Iya, Hanna pernah bercerita kalau temannya itu sedang mencari ibunya, mereka berpisah saat dia masih kecil,” jawab Bu Astrid.


“Benarkah, apakah Hanna bercerita nama temannya itu?” tanya ibunya Cristian.


“Sayangnya tidak, aku tidak terlalu memperhatikan jadi tidak menanyakannya,” jawab Bu Astrid.


“Sayang sekali, tapi pasti cerita itu bukan aku saja yang mengalaminya, banyak juga yang mengalami hal yang sama berpisah dengan anaknya,” kata ibunya Cristian.


“Iya terimakasih.”


“Aku minta maaf karena Hanna telah menyakiti putramu,” kata Bu Astrid.


“Tidak apa-apa, kita tidak tahu mungkin mereka ada masalah, aku sudah minta Hanna supaya pulang dan berbaikan dengan Cristian, tapi ternyata dia belum pulang ya, “ kata ibunya Cristian.


Bu Astrid diam saja.


“Setelah dari sini kau akan pergi kemana?” tanya Bu Astrid, mencoba mengalihkan pembicaraan.


Merekapun mengobrol hal yang lain, tidak lagi membahas Hanna dan Cristian.


*********


Di kantornya Pak Louis...


Tok tok tok! Terdengar suara ketukan dipintu yang terbuka.


“Masuklah!” kata Pak Louis. Cristian masuk keruangan itu.


“Duduklah,” kata Pak Louis lagi saat tahu Cristian yang datang.


Cristian pun duduk di sofa diruangan itu. Pak Louis segera menghampirinya.


“Ada apa paman tiba-tiba memintaku datang?” tanya Cristian.


“Ada kabar gembira!” jawab Pak Louis.


“Kabar gembira apa?” tanya Cristian.


“Tentang Hanna,” jawab Pak Louis.


Cristian terdiam, dia menebak apakah Pak Louis sudah tahu kalau istrinya Damian adalah Hanna?


“Hanna sudah pulang,” jawab Pak Louis.


“Hanna sudah pulang?” Cristian tampak terkejut, dia tidak menyangka kalau Hanna akhirnya berniat pulang ke rumah orangtuanya. Dan tentunya Hanna memperkenalkan Damian sebagai suaminya, ada rasa sedih dihatinya dia benar-benar telah kehilangan Hanna.


“Jadi kau dan Hanna bisa melangsungkan pernikahan kembali,” kata ayahnya Hanna, membuat Cristian terkejut.


“Maksudnya menikah lagi?” tanya Cristian, tidak mengerti.


“Kalian bisa menikah lagi, kau tenang saja, sekarang  paman sudah menugaskan penjaga supaya Hanna tidak kabur lagi. Ah kelakuannya itu sangat tidak baik,” kata Pak Loius.


“Tapi Paman, bagaimana mungkin aku menikah dengan Hanna kalau Hanna sudah menikah?” tanya Cristian.


“Sudah menikah apanya? Hanna tidak menikah dengan siapa-siapa, dia ditemukan sedang berbelanja di mall di ibukota,” jawab Pak Louis.


Cristian terdiam, jadi Hanna merahasiakan pernikahanya dengan Damian? Kenapa? Apa alasannya Hanna merahasiakannya?


Terus Cristian berfikir, apakah dia juga akan memberitahu ayahnya Hanna kalau istri Damian itu Hanna? Tapi…Hanna memintanya untuk merahasiakannya, dan dia sudah berjanji pada Hanna, dia tidak bisa melanggarnya. Lagipula Hanna tidak bicara soal pernikahannya pada ayahnya, itu artinya Hanna memang merahasiakan pernikahannya.


Tapi kenapa? Apa Hanna takut ayahnya tidak merestuinya? Iya Hanna pasti takut tidak direstui orangtuanya. Tapi kalau jadinya dia harus menikah dengan Hanna, bagaimana urusannya? Masa dia menikah dengan istrinya Damian? Kepala Cristian terasa semakin pusing saja.


“Coba aku telpon dulu Hanna, kau pasti ingin bicara dengannya kan?” kata pak Louis. Diapun mendial nomor penjaga yang ada dirumah.


“Ya, Pak,” jawab penjaga dirumahnya Hanna.


“Dimana Bu Astrid? Aku telpon tidak diangkat,” tanya Pak Louis.


“Bu Astrid sudah berangkat ke restaurant,” jawab penjaga itu.


“Coba kau hubungkan dengan Hanna ,aku mau bicara,” kata pak Louis.


“Baik pak, sebenatar saya ke kamarnya Non Hanna dulu,” jawab penjaga itu. Diapun segera masuk kedalam rumah menuju kamarnya Hanna.


Tok tok tok!


“Non, Non Hanna, ada telpon dari Pak Louis Non!” kata penjaga itu. Tidak ada jawaban dari dalam kamar.


“Non!” panggil penjaga, karena tidak ada jawaban terus, penjaga itu membuka pintu kamarnya Hanna yang ternyata tidak dikunci.


Saat melihat kedalam ternyata kamarnya kosong.


“Pak, Non Hanna tidak ada dikamarnya!” kata penjaga, membuat Pak Louis terkejut.


“Coba kau lihat dikamar mandi barangkali dia sedang mandi,” perintah Pak Louis


Penjaga itu mencarinya ke kamar mandi ternyata Hanna tidak ada.


“Tidak ada!” kata penjaga.


“Coba kau cari ke ruangan lagi, temukan dia jangan sampai dia kabur!” perintah Pak Louis lagi, dia khawatir Hanna kabur lagi.


Penjaga itu memanggil temannya dan mencari-cari Hanna di setiap sudut rumah, tapi ternyata tidak ada.


“Tidak ada Pak, kami sudah mencarinya kesekeliling rumah, sepertinya Non Hanna kabur!” kata penjaga.


“Bagaimana bisa kabur? Kalian kerjanya apa saja? Cepat cari dia sampai ketemu!” maki Pak Louis, marah-marah. Dia langsung menutup telponnya.


“Ada apa paman?” tanya Cristian.


“Hanna kabur lagi,” jawab Pak Louis.


Cristianpun terkejut.  Sebenarnya apa yang disembunyikan Hanna?


***************


Maaf ya alurnya lambat, kalo diloncat entar dikomenin gantung lagi.