
Hanna keluar dari ruangan khusus pakaian, tinggal menyisir rambutnya dan bermake-up. Dilihatnya pria tampan itu juga sudah berdandan rapih dengan stelan jasnya. Duduk menatapnya dengan melipat dua tangannya di dadanya.
“Waktumu Cuma 5 menit,” ucap Damian, dengan agak keras, karena letak sofa tempat dia duduk dan meja rias lumayan agak jauh.
“Apa yang 5 menit?” tanya Hanna, sambil memoles wajahnya depan cermin.
“Waktumu untuk berdandan, bersiap-siap,” jawab Damian.
“Bersiap-siap kemana?” tanya Hanna lagi.
Damian tampak kesal, diapun bangun dari duduknya menghampiri Hanna yang duduk di meja rias. Kemudian dia duduk disamping tempat tidur, dari sana dia bisa melihat wajah Hanna di cermin.
“Kau lupa apa yang aku katakan tadi?” tanya Damian lagi.
“Soal apa?” Hanna balik bertanya. Kini dia membuat riasan dimatanya.
“Soal hukuman buatmu, kau harus selalu ada disisiku 24 jam,” jawab Damian.
“Hukuman apa itu. Seperti aku akan ada yang menculik saja,” gumam Hanna.
“Bisa jadi,” jawab Damian, membuat Hanna terkejut dan membalikkan badannya menghadap Damian. Riasan matanya baru sebelah jadi terlihat aneh. Damian hanya memperhatikannya.
“Kau serius ada yang akan menculikku?” tanya Hanna, penasaran.
“Tentu saja, karena kau bisa tidur dimana saja, membuat penculik lebih gampang menculikmu. Jadi ingat, kau harus selalu ada disampingku. Jangan kemana-mana. Kalau perlu aku buatkan kalung yang berbunyi jadi aku tahu kalau kau tidak ada,” jawab Damian, membuat Hanna membelalakkan matanya.
“Kalung yang berbunyi? Yang benar saja, kau samakan aku dengan kucing?” gerutu Hanna, kembali membalikkan badannya menghadap kaca rias lagi melanjutkan riasannya.
“Waktumu 5 menit, kenapa kau lama sekali? Aku banyak kerjaan hari ini,” keluh Damian.
“Kau pergi saja sendiri. Aku tidak mau menemanimu bekerja, pasti membosankan,” jawab Hanna, kini dia mulai memoles bibirnya. Melihat Hanna mulai memutar listik ditangannya, membuat jantung Damian memompa lebih cepat, perasaannya mulai tidak menentu. Apalagi Hanna mulai memonyong monyongkan bibirnya memolesnya dengan lisptik warna merah.
“Stop!” teriak Damian, membuat Hanna terkejut, dan menghentikan gerakannya, menatap Damian di dalam cermin.
“Ada apa? Kenapa kau menghentikanku?” tanya Hanna
“Ganti warna listiknya. Jangan warna merah begitu, norak!” jawab Damian.
Hanna mengerutkan keningnya. Menoleh pada kaca rias, kembali menggerak gerakkan bibirnya, tidak ada yang salah, tidak ada yang norak.
“Lipstikku bagus, aku terlihat lebih cantik,” ucap Hanna.
“Tidak, tidak, ganti yang lebih soft saja. Masa kau tidak punya?” kata Damian. Dia langsung mendekati meja rias, mengambil salah satu lisptik dibukanya dan dilihat warnanya, merasa tidak cocok, dicari lagi warna yang lain.
“Apa semua lisptikmu warna merah? Apa tidak ada warna lain?” tanya Damian.
“Tentu saja warna merah, masa aku harus memakai lipstick warna biru atau ungu, bibirku terlihat jontor nanti,” jawab Hanna.
“Maksudku jangan terlalu menyolok,” jawab Damian.
“Memang ini menyolok ya?” Hanna malah memonyongkan bibirnya kearah Damian, membuat wajah Damian memerah, muncul keringat dingin dikeningnya,dan menjadi gugup. Kenapa bibir merah itu semakin menggodanya?
“Tidak perlu memonyong monyongkan bibir begitu,” larang Damian.
“Memangnya kenapa? Apa ada yang salah?” Hanna kembali menatap kaca. Dia kebingungan dengan lisptiknya.
“Jangan jangan kau tergoda dengan bibirku yang merah ini,” goda Hanna sambil tersenyum.
“Kau ini bicara apa?” bentak Damian.
“Ya ya tidak perlu marah begitu, aku tau kau pria kaya yang pelit, tidak akan mengeluarkan uang untuk hanya sekedar menciumku, aku tau..sudah tau…” ucap Hanna, mengganguk angguk.
“Kau ini! Pakai yang ini saja,” Damian memberikan lisptik yang warnanya lebih soft.
“Aku heran, kenapa wanita suka lipstick warna merah,” gerutu Damian.
“Tentu saja, kalau warna merah membuat lebih sexi dan menggoda,” jawab Hanna.
Damian terdiam, diapun menjauh dari kaca rias itu. Sexi dan mnggoda? Wanita itu bicara apa? fikirnya, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang tidak karuan.
Akhirnya Hanna merubah warna listptiknya menjadi yang lebih soft, daripada harus bertengkar dengan Damian.
“Aku sudah selesai sakarang. Selanjutnya apa? Aku harus ikut denganmu ke kantor?” tanya Hanna. Kini dia sudah cantik dan memakai sepatunya.
“Iya,” jawab Damian.
“Bagaimana kalau aku jenuh dan bosan?” tanya Hanna.
“Kau bisa membaca tabloid atau apalah,” jawab Damian lagi, mulai berjalan keaah pintu.
“Baiklah,” ucap Hanna sambil mengangguk dan meraih tasnya.
“Tapi awas ya. Jaga sikapmu, kau istriku sekarang, jangan membuatku malu,” kata Damian.
“Kau juga jangan tidur di sofa kantorku apalagi mendengkur. Atau kalau perlu aku ganti sofanya dengan kursi kayu,” ujar Damian.
“Kau ini keterlauan sekali, aku disuruh duduk di kursi kayu, pantatku bisa sakit. Kau tenang saja, aku tidur nyenyak tadi malam,” gerutu Hanna. Spontan memegang pantatnya yang masih terasa sakit karena terjatuh tadi.
“Ya saking nyenyaknya, kau tidak memelukku lagi tadi malam,” keluh Damian.
“Ya aku minta maaf, aku tidak sengaja,” ucap Hanna.
“Selalu alasan yang sama,” gerutu Damian lagi.
Saat mereka keluar rumah, Ny.Sofia tampak sedang membaca Koran pagi sambil menikmati minuman hangatnya.
“Kau akan bekerja?” tanya Ny.Sofia pada Damian, tapi Damian tidak mejawab.
Hanna menoleh kearah yang tidak jauh dari mereka, Satria sedang mencuci motornya. Meskipun mencuci motor, hanya dengan memakai calana pendek dan kaos oblongnya, pria itu terlihat masih tampan, bahkan memperlihatkan otot otot bisepnya dan perutnya yang rata.
Hanna menatapnya sebentar. Pria tampan, memakai pakaian seperti itu juga terlihat tampan. Hanna pun senyum senyum sendiri.
“Kau kenapa?” tanya Damian pada Hanna, yang terkejut dan menghilangkan senyumnya, menoleh pada Damian. Damian menoleh kearah Satria, dia agak kesal ternyata Hanna sedang memperhatikan Satria.
“Tidak apa-apa, memangnya kenapa?” tanya Hanna sambil menggeleng.
Hanna menoleh pada Ny.Sofia, diapun langsung membelalakkan matanya saat melihat belakang Koran yang sedang dibaca oleh Ny.Sofia.
Berita Orang hilang! Ada fotonya disana! Sepertinya keluarganya mencari kebedaraadaannya di koran. Diapun langsung pucat, bagaimana kalau Ny.Sofia membacanya? Bisa gawat. Hannapun mencari cara supaya Ny.Sofia melepaskan korannya. Diapun menghampiri ibu mertuanya.
“Bu, Maaf tadi kata pak Wardi, handphone ibu berbunyi terus, sepertinya ada yang menelpon,” ucap Hanna, berbohong.
Ny.Sofia mengerutkan keningnya.
“Benarkah?” tanya Ny.Sofia. Hanna mengagguk.
Damian yang mendengar perkataan Hanna, keherananan, dia tidak merasa pak Wardi bicara apa-apa. Tapi dia tidak ambil pusing, segera berjalan ke mobilnya.
Ny.Sofiapun bangkit dan menyimpan korannya di meja. Melihat Ny.Sofia masuk ke dalam rumah. Hanna langsung mengambil Koran itu, dilihatnya bagian Koran itu. Berita hilang dirinya, bagi yang menemukannya akan diberikan sejumlah uang, hubungi sebuah nomor, sepertinya nomor Cristian.
“Hanna! Ayo cepat masuk!” teriak Damian sambil membuka pintu mobilnya. Teriakannya membuat Satria menoleh kearah Hanna yang sedang memegang Koran.
“Iya!’ jawab Hanna, diapun segera mengambil lembaran terakhir Koran itu dan buru-buru melipatnya sambil dimasukkan ke dalam tasnya, diapun berjalan tergesa gesa mendekati mobilnya Damian. Tidak berapa lama mobil itupun pergi menjauh.
Disepanjang jalan, Hanna gelisah, berarti berita dirinya masuk Koran? Bagaimana kalau Damian sampai tahu? Dan menemui Cristian? Dan mengembalikannya pada Cristian? Ah tidak, itu akan semakin rumit. Cristian akan mengembalikannya pada orangtuanya, dan bisa jadi akan memaksanya menikah lagi dengan Cristian, atau bisa jadi orangtuanya marah dan menghukumnya menikahkannya dengan pria tua ? Ah tidak, tidak, bagaimana jika dia dinikahkan dengan pria kaya yang tua? Jangan sampai! Hanna membayangkan terpaksa menikah dengan kakek-kakek. Berdiri dipelaminan, begitu melihat pria disampingnya, kakek –kakek itu tersenyum manis padanya dan memperlihatkan giginya yang ompong. Ampuuun tidak, itu tidak boleh terjadi!
“Tidak!” teriak Hanna. Membuat Damian terkejut, spontan menghentikan mobilnya.
“Ada apa? Kenapa?” tanya Damian, sambil menoleh.
“Tidak apa-apa,” jawab Hanna sambil menggeleng gelengkan kepalanya, menghilangkan wajah kakek-kakek yang menjadi pengantin prianya.
“Kau ini mengejutkanku saja,” gumam Damian, kembali menjalankan mobilnya.
Hanna kembali berfikir, pasti dikantornya Damian akan banyak gambar-gambar dirinya di koran-koran yang dibaca karyawan. Apa yang harus dilakukannya? Sepertianya dia harus melenyapkan koran-koran itu. Misi pertama. Harus mencari tempat tempat disimpannya koran koran dan membuangnya. Dia harus membuangnya.
Merekapun sampai di gedung tempat Damian bekerja.
Memasuki loby, seperti biasa satpam dan petugas receptionis menyapa Damian juga menyapa Hanna.
“Pak, Bu, Selamat pagi,” ucap mereka tersenyum ramah. Sekarang semua sudah tahu kalau Hanna istrinya Damian.
Mereka berdua berdiri di lift. Damian memencet tombol lift.
“Damian, aku mau mau ke toilet, kau pergi saja sendiri, aku menyusul,” ucap Hanna.
“Pakai toilet di kantorku saja,” kata Damian.
“Tidak, tidak, aku sudah tidak tahan,” jawab Hanna sambil memegang perutnya, tergesa-gesa meninggalkan Damian, berlari menuju ruang tengah Loby kearah toilet. Terpaksa Damian naik lift sendiri.
Setelah Damian masuk lift, Hanna celingukan di loby itu. Mencari-cari letak tempat penyimpanan koran yang biasanya terletak di dekat kursi tungggu.
Benar perkiraannya, tempat koran itu ada di dekat kursi tunggu. Diapun ke sana. Dilihatnya Koran bertumpuk dari berbagai macam media.
Dilihatnya satu satu, benar saja, Cristian membuat pengumuman orang hilang itu diberbagai jenis Koran. Hannapun melihat ke sekeliling, tidak ada yang memperhatikannya. Buru-buru diambilnya semua Koran itu, dan segera menuju tong sampah besar dan membuangnya. Hatinya terasa lega sudah membuang koran-koran itu. Diapun kembali mengedarkan padangannya ke sekeliling, tampak sepi, mungkin karyawan sudah pada naik ke lantai atas, dan tidak ada yang duduk duduk santai di loby. Diapun kembali ke pintu lift. Dilihatnya seorang petugas cleaning service sedang mengepel lantai di dekat kursi-kursi tunggu di loby, dia tampak keheranan karena tempat penyimpanan korannya sudah kosong. Hanna tersenyum dalam hati, tiba-tiba dia teringat sesuatu. Di ruangan kerjanya Damian pasti ada banyak koran dan tabloid. Diapun buru-buru masuk pada pintu lift yang terbuka. Bagaimana kalau Damian membacanya?
*************
Lanjut besok.
Maaf ya baru up, authornya ikut perlombaan membuat nasi tumpeng se rt dengan ibu-ibu se rt jadi ga sempat nulis.
Jangan lupa like dan komen
Baca juga” My secretary” season 2(Love story in London), buruan baca biar ga penasaran. Author nulis lebih dari 200 episode emang isinya cerita apa? Yuk dibaca. Jangan lupa like juga.