Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-63 Rencana Henry



Shezie diam mematung entah berapa lama, yang pasti dia tersadar saat menyadari kalau dia berdiri sendiri di teras, dan pria itu pergi setelah menciumnya.


Apa ini? Dia seenaknya menciumnya mengatakan bibirnya manis lalu pergi?


Shezie melirik cangkir kopi diatas meja itu lalu diambilnya, kemudian bergegas masuk dan menutup pintu rumah.


Saat membuka pintu kamar, pria itu sedang berdiri menerima telpon. Shezie menyimpan kopi diatas meja lalu menghampiri Henry, berdiri menatap Henry dan berkacak pinggang, menatap pria itu yang juga menatapnya sambil menelpon.


Akhirnya Henrymmenutup telponnya.


“Ada apa? Kenapa kau memelototiku?” tanya Henry.


“Apa maksudmu kau menciumku lalu kau pergi?” tanya Shezie.


“Memangnya setelah menciummu aku harus apa? Kau ingin lebih dari ciuman?” tanya Henry.


“Bukan, bukan itu! Ya ya maksudku…” Shezie akan menjawab tapi dia bingung harus berkata apa.


“Kau tidak seharusnya menciumku!” teriak Shezie.


“Kenapa tidak? Kau istriku kan?” kata Henry.


“Tapi kita akan bercerai,” jawab Shezie.


“Tidak akan ada perceraian, aku tidak mau bercerai,” kata Henry.


“Tapi Henry, aku akan menikah dengan Martin, kau sudah tahu itu, kau sudah menyetujui kita akan bercerai!” ujar Shezie.


Henry berjalan mendekat beberapa langkah.


“Setelah aku fikir-fikir, aku berubah fikiran,” ucapnya.


“Maksudmu?” tanya Shezie.


“Aku tidak mau bercerai. Pria brengsek itu kalau mau patah hati, patah hati saja sana, yang pasti aku tidak akan menceraikanmu, titik!” jawab Henry.


“Kau ini sangat aneh, apa alasanmu berubah fikiran begitu?” tanya Shezie malah menatap Henry.


“Tidak ada yang aneh, biasa saja,” jawab Henry.


Shezie mengerutkan keningnya, dia jadi bingung, kenapa jadi seperti ini?


Henry melangkah lagi lebih dekat.


“Kau mau apa?” tanya Shezie.


“Daripada kita bertengkar, lebih baik kita tidur, ayo tidur!” ajak Henry, memalingkan kepalanya kearah tempat tidur.


“Apa? Tidur?” tanya Shezie, dia masih bingung.


“Iya, karena besok pagi kita akan pergi berbulan madu,” jawab Henry.


“Apa? Bulan madu? Kita ini akan bercerai kenapa jadi bulan madu?” tanya Shezie, semakin bingung saja.


“Kau cerewet! Kita memang belum pernah bulan madu kan? Kita berangkat ke Paris besok pagi,” jawab Henry.


Sebelum Shezie menjawab, dia terkejut saat tiba-tiba pria itu mengulurkan kedua tangannya langsung memeluk tubuhnya dan mengangkatnya.


“Henry! Apa yang kau lakukan?” teriak Shezie, sambil memeluk tubuh Henry, jangan sampai terjatuh. Tapi pria itu tidak mendengarnya, malah membaringkannya ke tempat tidur, lalu menarik selimut, menyelimuti seluruh tubuh Shezie sampai ke leher.


“Henry! Apa-apaan ini?” protes Shezie.


Henry merapihkan bantal dan selimutnya Shezie.


“Cepat tidur, jangan banyak bicara!” kata Henry, telapak tangannya malah menepuk-nepuk dahinya Shezie.


“Henry! Kita perlu bicara!” Shezie bangun dan menatap Henry yang juga naik ke tempat tidur. Pria itu menarik selimutnya juga.


“Kau memang susah diatur,” keluh Henry, sambil menarik bahunya Shezie supaya berbaring dan menyelimutinya lagi.


“Henry kita akan bercerai, kenapa malah bulan amdu? Aku tidak bisa meninggalkan ibuku!” kata Shezie.


“Aku sudah menyuruh orang untuk mengurus ibumu beberapa hari, jadi kita bisa pergi bulan madu,” jawab Henry sambil berbaring disamping Shezie.


“Sudah aku katakan berulang kali, tidak ada perceraian, titik!” jawab Henry.


“Tapi kenapa?” tanya Shezie.


“Karena kau istriku, sudah sewajarny kan aku mengajakmu bulan madu?” jawab Henry, kini menoleh pada Shezie.


“Apa alasanmu mengajakku bulan madu?” tanya Shezie, balas menoleh pada Henry. Mata merekapun bertemu, dan mereka saling tatap.


“Tadi aku sudah mengatakannya. Karena kau istriku,” jawab Henry.


“Hanya itu alasannya?” tanya Shezie.


“Kau mau alasan apa?” Henry balik bertanya.


Shezie tidak menjawab. Dia juga bingung harus menjawab apa, dia fikir Henry tidak mau menceraikannya karena dia mencintainya, tapi ternyata pria itu tidak mau mengatakannya.


Henry mencondongkan tubuhnya mendekati Shezie. Gadis itu menahan nafas, kenapa Henry mendekatkan tubuhnya? Mau apa dia? Apakah Henry akan menciumnya lagi? Jantung Shezie kembali berdebar-debar saat merasakan tubuh itu semakin menempel ke tubuhnya.


Apa yang harus dilakukannya jika Henry menciumnya lagi? Tubuh itu semakin mendekat keatasnya, perasaan Shezie semakin tidak karuan. Tapi kemudian. Cekrek! Ternyata Henry menyalakan lampu tidur disebelah Shezie, dan mematikan lampu utama, membuat Shezie bernafas lega.


Sekarang kamar itu menjadi temaram dan hanya lampu tidur saja yang menyala. Henry menatap wajah yang ada dibawahnya itu.


“Kalau tidur itu kau harus memejamkan mata,” ucap Henry, karena Shezie malah menatapnya.


“Kau juga bicara terus tidak tidur-tidur,” jawab Shezie, menatap bola mata Henry yang bersinar karena lampu.


“Aku juga akan tidur, selamat malam,” ucap Henry, lalu menjauh dari tubuhnya Shezie.


“Malam,” jawab Shezie, merasakan tubuh itu semakin menjauh. Diliriknya Henry berbaring disampingnya dan memejamkan matanya.


Shezie tidak langsung tidur, dia malah menatap wajah pria itu. Diapun tersenyum, pria itu mengajaknya bulan madu, dia benar-benar bukan pria yang romantis. Akhirnya diapun memejamkan matanya berusaha untuk tidur.


Shezie terkejut saat tangan Henry memeluk kepalanya menariknya lebih dekat dan memeluk bahunya. Shezie hanya diam merasakan tubuhnya semakin dekat pada tubuhnya Henry. Rasa nyaman dipelukan suaminya, membuat Shezie berfikir, apa dia yakin akan meninggalkan Henry dan memilih menikah dengan Martin? Atau dia akan tetap mempertahanakan pernikahannya sesuai dengan keinginan Henry? Kenapa sekarang dia merasa bingung dengan pilihannya?


************


Setelah kepergian Henry, Damian mengajak istrinya pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


“Kau jangan bekerja lagi, ini sudah larut,” kata Hanna, sambil berbaring dan menyelimuti dirinya. Damian menutup pintu kamar mereka.


“Tidak, aku juga lelah,” jawab Damian. Tiba-tiba terdengar suara dering ponselnya.


“Siapa lagi yang menelpon? Sudah biarkan saja, kita tidur,” kata Hanna.


“Aku matikan dulu ponselnya,” jawab Damian, sambil meraih ponsel diatas meja itu, dilihatnya dilayar ada angka-angka muncul di layar. Dia tidak langsung mematikannya.


“Sayang, katanya mau kau matikan, tapi ponselmu bunyi terus,” keluh Hanna.


“Aku terima telpon dulu sebentar,” jawab Damian, sambil beranjak membawa ponselnya keluar dari kamar itu.


Hanna keheranan melihat sikap suaminya, tadi jelas-jelas suaminya mengatakan akan mematikan ponselnya, kenapa sekarang malah mau menerima telpon dan keluar dari kamarnya? Sebenarnya siapa yang menelpon?


Hanna bangun dari tidurnya, berjalan perlahan menuju pintu, dibukanya pintu kamarnya perlahan, lewat celah pintu, dia melihat Damian berbicara dengan si penelpon.


“Jadi kau sudah dapat alamat tempat tinggalnya di ibukota?” tanya Damian.


Hanna semakin merucingkan telinganya. Siapa yang tinggal diibukota itu?


“Bu Vina sedang sakit Pak, sekarang dirawat di Rumah sakit Metro Medica,” jawab suara disebrang.


“Baiklah kau kirmkan saja alamatnya, nanti aku kesana,” jawab Damian.


Mendengar perkataan Damian semakin membuat Hanna penasaran, sebenarnya siapa yang akan Damian temui itu? Kenapa Damian tidak bercerita soal orang yang dicarinya itu?


Melihat Damian mematikan ponselnya, Hanna buru-buru menutup pintu dan berlari ke tempat tidur, segera berselimut, pura-pura tidur.


Terdengar suara pintu kamar dibuka, juga langkah kaki mendekati, kemudian terdengar suara deritan tempat tidur yang menandakan ada yang naik ke tempat tidur disampingnya.


Tiba-tiba Hanna merasakan ada tangan yang memeluk pinggangnya. Hanna bisa merasakan itu tangan suaminya. Biasanya dia akan balas memegang tangan suaminya, tapi tidak kali ini, dia kesal ada yang disembunyikan suaminya darinya dan dia harus mengikuti suaminya menemui orang itu, dia harus tahu siapa yang akan ditemui Damian itu. Kalau tidak ada hubungan apa-apa buat apa Damian menerima telponnya harus menghindar darinya? Sebenarnya apa yang  di sembunyikan Damian?


********