
Hanna cepat-cepat mengambil celemek, lalu dipasangkan pada Damian.
Pria itu menatapnya, terlihat sekali Hanna itu senang memakaikan celemeknya.
“Kenapa kau kelihatan senang sekali?” tanya Damian.
“Aku senang melihatmu memasak, kau terlihat sangat keibuan,” jawab Hanna sambil terkekeh.
Melihat kelakuan istrinya itu membuat Damian greget, dia akan menciumnya, tapi tidak jadi karena melihat Bu Astrid lewat, diapun mengurungkan niatnya.
“Ayo cepat memasak,” kata Hanna, menarik Damian supaya duduk di salah satu kursi yang diatas mejanya ada berbagai macam sayuran dan lauk.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Damian, menoleh pada Bu Astrid.
“Kau kan melihat bahan yang ada dimeja itu, terserah kau mau memasak apa,” kata Bu Astrid.
Damian menatap bahan-bahan makanan itu lalu tanpa banyak bicara diapun mengambil pisau dan memotong beberapa sayuran.
Hanna duduk tidak jauh darinya, sambil menopang dagunya dengan siku yang menyentuh meja. Dia bahagia sekali melihat si pria tampan itu bercelemek memasak dengan seriusnya.
Merasa diperhatikan, Damian menoleh kearahnya. Hanna pun tersenyum.
“I Love U,” ucap Hanna memonyongkan bibirnya tanpa bicara.
“Kau tidak ada kerjaan,” gerutu Damian. Hanna malah terkekeh.
Bu Astrid juga memperhatikan Damian memotong bahan makanan, juga memasaknya. Diapun tersenyum.
“Ternyata kau pandai memasak, apa ibumu yang mengajarkanmu?” tanya Bu Astrid.
Sekarang Damian sedang berada didekat kompor memasak makanan yang dia siapkan tadi.
“Tidak, aku dan ibuku berpisah sejak aku kecil,” jawab Damian.
Bu Astrid terdiam.
“Sejak kau kecil? Saat itu usiamu berapa tahun? Kau mengeli wajah ibumu?” tanya Bu Astrid.
“Sekitar umur 5 tahunan. Aku akan selalu ingat wajahnya, karena aku selalu memimpikannya setiap malam,” jawab Damian.
Bu Astrid terdiam, dia merasa sedih mendengarnya.
“Kau di besarkan oleh ayahmu? Apakah ayahmu menikah lagi?” tanya Bu Astrid.
“Iya ayahku menikah lagi,” jawab Damian.
Bu Astrid terdiam lagi, kenapa dia jadi teringat dengan ibunya Cristian yang berpisah dengan putranya yang masih kecil? Jangan jangan Damian putranya Bu Sony makanya mirip dengan Cristian? Tapi ah masa sekebetulan itu?
“Kenapa kau tidak bertemu dengan ibumu? Meskipun orang tua berpisah kan masih bisa bertemu,” tanya Bu Astrid.
“Ayahku membawaku pindah ke luar negeri,” jawab Damian.
Bu Astrid terdiam lagi, ceritanya hampir mirip dengan ibunya Cristian, katanya suaminya membawa anaknya ke luar negeri jadi dia tidak bisa bertemu lagi dengan anaknya itu.
“Nama ibumu siapa?” tanya Bu Astrid.
“Nama ibuku…” Belum selesai Damian menjawab, handphone disaku jasnya berbunyi, diapun menoleh pada Hanna.
“Sayang, ambilkan handphone-ku disaku jasku,” kata Damian, sambil mengecilkan api kompor lalu melap tangannya dan menuju tempat jasnya digantungkan Hanna tadi di kursi.
Hanna mengambil handphone itu. Dilihatnya ada nomornya Pak Indra.
“Pak Indra,” kata Hanna sambil memberikan handphone itu. Damian pun mengambilnya dan menerima panggilan itu, sambil berjalan ke luar dapur.
Bu Astrid menuju masakannya Damian tadi, dilihatnya memang belum matang. Lalu menoleh pada Hanna yang memperhatikan suami palsunya itu keluar dapur. Dia bisa melihat putrinya sangat menyukai pria itu, dia terlihat sangat bahagia, terlihat jelas dari senyum dan tawanya.
“Kau sangat mencintainya?” tanya Bu Astrid, mengejutkan Hanna. Putrinya itu langsung menoleh.
“Iya Bu, aku sangat mencintainya,” jawab Hanna.
Bu Astrid menghamprinya. Hanna meraih tangan ibunya.
“Jangan pisahkan aku dengannya Bu,” piñta Hanna, sambil menatap ibunya.
“Tidak sayang, kalian kan akan punya bayi, kalian tidak akan bisa berpisah,” jawab ibunya Hanna.
Hannapun terdiam, tentu saja ibunya bicara begitu karena mengira dia hamil, coba kalau tahu dia dan Damian sebernarnya belum menikah? Entah apa yang akan terjadi.
“Bu, bantu bicara dengan ayah supaya membantu pekerjaannya Damian, jangan mempersulitnya, kasihan dia, lagi pula real estate itu kan memakai namuku Bu,” kata Hanna.
“Memakai namamu?” tanya Bu Astrid terkejut.
“Iya, itu hadiah karena kehadiranku dalam hidup Damian,” jawab Hanna sambil tersipu, wajahnya menjadi merah.
Bu Astrid terdiam sejenak.
“Suamimu sangat menyangimu, ” kata Bu Astrid, sambil tersenyum. Hanna menganggukkan kepalanya masih menatap ibunya.
“Bantu bicara pada ayah ya bu, aku dan Damian ingin menggunting pita bersama nanti kalau peresmiannya,” kata Hanna.
“Baiklah nanti ibu bantu bicara pada ayahmu. Suamimu juga terlihat sangat baik,” ucap Bu Astrid, sambil menoleh kearah Damian yang terlihat bayang-bayangnya pria itu sedang menelpon, samar-samar terdengar pembicaraannya di telpon.
“Hanya saja kasihan sekali dia tidak bertemu dengan ibunya sekian lama, kasihan,” kata Bu Astrid lagi.
“Iya, dia sangat merindukan ibunya,” kata Hanna.
“Sama dengan ibunya Cristian,” kata Bu Astrid.
“Ibunya Cristian?” tanya Hanna tidak mengerti.
“Ibunya Cristian juga kehilangan putranya sejak kecil,” jawab Bu Astid.
“Aku baru tahu kalau Cristian punya kakak, dia itu kan anak tunggal Bu,” kata Hanna.
“Kata ibunya Cristian dia pernah menikah sebelum dengan Pak Sony,” jawab Bu Astrid.
“Jadi Cristian itu anaknya Pak Sony atau mantan suaminya Bu Sony, Bu?” tanya Hanna, jadi penasaran.
“Ibu tidak bertanya terlalu jauh, kan tidak enak kalau Bu Sony tidak yang cerita dulu, lagi pula tidak tega mengungkit-ungkit masa lalunya,” jawab Bu Astrid.
Percakapan mereka terhenti saat Damian kembali masuk ke dapur.
“Setelah ini aku kembali ke kantor, banyak pekerjaan,” kata Damian, sambil memberikan handphone-nya pada Hanna.
“Tapi makan dulu,” kata Bu Astrid.
Damian tidak menjawab, dia kembali ke kompor tempat memasaknya tadi.
Asisten rumah tangganya Bu Astrid sudah menyimpan makanan-makanab yang sudah matang dan menatanya di meja makan.
Damian membawa mangkuk makan yang dia masak.
“Hemm harum sekali sepertinya enak,” ucap Hanna menatap isi mangkuk itu.
“Kau harus menghabiskannya,” kata Damian.
“Aku bisa gemuk nanti, gimana kalau aku tidak cantik lagi?” keluh Hanna.
“Kata siapa wanita gemuk tidak cantik?” tanya Damian, sambil berjalan menuju meja makan menyimpan mangkuk itu.
“Serius?” tanya Hanna berdiri dekat Damian.
“Serius,” jawab Damian.
“Kalau begitu aku akan makan yang banyak,” ucap Hanna.
“Bukankah dari dulu juga kau makan banyak?” kata Damian, Hanna terkekeh diapun duduk di salah satu kursi dimeja makan itu.
“Kau ikut aku pulang ya,” ajak Damian pada Hanna.
“Kita pulang,” ulang Damian, sambil duduk disamping Hanna.
Hanna pun menoleh pada ibunya yang juga sudah duduk disebrangnya.
Bu Astrid menatap Hanna lalu menatap Damian.
“Sebenarnya ibu masih kangen, tapi karena Damian suamimu, dia lebih berhak yang memutuskan, jadi terserah kau saja,” kata Bu Astrid.
Hannapun kembali menoleh pada Damian.
“Baiklah, aku akan ikut denganmu,” kata Hanna pada Damian. Tangan Damian terulur mengusap pipinya.
“Ayo kita makan, silahkan,” kata Bu Astrid pada Damian.
“Aku ingin mencoba masakannya Damian,” seru Hanna.
“Seharusnya kau malu, masa kau kalah sama suamimu, seherusnya kau yang pintar memasak,” kata Bu Astrid.
“Ah ibu, Damian tetap mencintaiku meskipun tidak bisa memasak, ya kan sayang?” tanya Hanna sambil menoleh pada Damian.
Pria itu diam saja, menganguk tidak, menggeleng tidak, dia mulai makan.
“Damian! Kau malah diam saja!” gerutu Hanna.
“Memangnya aku harus menjawab apa?” tanya Damian.
“Iya begitu, kau tetap mencintaiku meskipun aku tidak bisa memasak,” kata Hanna.
“Nanti aku pertimbangakn ,” jawab Damian, membut Hanna cemberut, sedangkan Bu Astrid tersenyum mendengarnya.
Dia merasa bahagia melihat putrinya bahagia dengan suaminya. Bukan dia tidak kasihan dengan Cristian, tapi kalau ternyata Hanna mencintai Damian, apa boleh buat? Kasihan juga Hanna kalau terus ditekan supaya menikah dengan Cristian.
Setelah mereka makan, Damian membawa Hanna pulang kembali ke rumah kantornya.
“Aku lega rasanya,” ucap Damian, saat mobilnya sudah sampai di halaman kantornya. Diapun mematikan mesinnya lalu menoleh pada Hanna.
“Lain kali kalau kau ingin melakukan sesuatu, bicara dulu padaku,” kata Damian,manatapnya lekat-lekat.
“Maaf, aku hanya ingin membantumu,” kata Hanna.
“Kau sempat ingin mengatakan kalau kita sebenarnya belum menikah kan? Demi ayahmu membantuku bekerja?” tanya Damian.
Hanna pun terdiam.
“Apa kau ingin sampai itu terjadi?” tanya Damian.
Hanna menggeleng, sambil menundukkan kepalanya dia tidak berani menatap Damian.
“Apa kau mau kita berpisah?” tanya Damian lagi.
Hanna menggeleng lagi.
“Bagaimana kalau ayahmu sampai tahu kondisi yang sebenarnya?” tanya Damian.
“Tapi lambat laun juga akan ketahuan,” kata Hanna.
“Tidak, kalau kita benar-benar menikah,” jawab Damian, mengejutkan Hanna.
“Apa maksudmu? Kita akan menikah?” tanya Hanna.
“Mungkin itu lebih baik,” jawab Damian.
“Tapi kita belum mendapat restu dari orang tuaku,” kata Hanna.
“Orang tuamu sudah tahunya kita sudah menikah kan?” tanya Damian.
“Jadi kita akan menikah tanpa kehadiran orang tuaku dan tanpa ibumu?” tanya Hanna.
Damian menatap Hanna.
“Tidak ada cara lain, pestanya menyusul saja kalau ibuku sudah ditemukan,” kata Damian.
Hannapun terdiam, juga Damian, mereka berfikir dengan fikirannya masing-masing. Lalu Damian menoleh pada Hanna. Hanna juga menatapnya, dia langsung tersenyum.
“Kenapa kau malah tersenyum?” tanya Damian.
“Aku hanya bahagia saja selalu bersamamu,” jawab Hanna.
“Ada yang sedag aku fikirkan,” jawab Damian.
“Apa?” tanya Hanna.
“Kau ingin kita menikah dimana?” tanya Damian.
“Mmm kita ke Bali saja, aku senang tinggal dirumah dekat pantai itu,” jawab Hanna.
“Kau senang dirumah itu atau kau rindu pada teman priamu itu?” tuduh Damian, wajahnya jadi memberengut.
“Teman pria yang mana? Oh Arya! I made Arya! Aku hampir lupa! Si tampan itu!” seru Hanna langsung membuat Damian memberengut.
“Kau seneng akan bertemu denganya?” tanya Damian.
“Senang sih, tapi aku lebih senang bertemu denganmu,” jawab Hanna, dia mendekatkan wajahnya akan mencium pipi Damian, tapi pria itu malah menunjuk bibirnya.
“Kalau aku yang menciummu pasti akan ada gangguan, jadi kau saja yang mencium bibirku,” ucap Damian.
“Ih, nawar,” keluh Hanna, kini dia yang memberengut.
“Kau memilih menciumku atau wanita lain yang menciumku?” tanya Damian.
“Jangan!” teriak Hanna, membuat Damian tersenyum, setelah itu sebuah ciuman mendarat di bibirnya. Hanna akan menjauh tapi Damian malah memeluknya.
“Aku mencintaimu,” ucap Damian,
“Aku juga mencintaimu,” jawab Hanna.
Merekapun saling berpandangan.
Terdengar suara ketukan dipintu jendela. Tok tok tok. Damian melihat satpam mengetuk kaca jendela mobilnya.
“Untung kau sudah menciumku tadi,” jawab Damian, membuat Hanna tertawa.
“Pak, apa anda baik-baik saja? Saya khawatir karena anda tidak keluar keluar dari mobil!” terdengar suara satpam,
“Kalau aku menciummu sudah tidak jadi tadi,” keluh Damian, sambil membuka kaca jendela. Hanna jadi tertawa melihat Damian mengeluh.
“Aku baik-baik saja, aku hanya sedang bermesraan dengan istriku, kau malah menggangguku!” umpat Damian.
Mendapat jawaban seperti itu membuat satpam itu terkejut, juga Hanna, tidak menyangka Damian akan bicara seperti itu.
“Bermesraan? Maaf ya pak! Saya ke pos lagi!” jawab Satpam itu lalu buru-buru pergi. Hanna menoleh pada Damian yang menutup kaca jendela mobilnya.
“Kenapa kau bicara begitu?” tanya Hanna menahan tawanya.
“Aku kesal selalu banyak gangguan, jangan-jangan malam pertama kita juga akan banyak gangguan?” gerutu Damian.
Hanna merasa lucu melihat reaksi pria itu, diapun kembali mencium pipinya Damian.
*******************
Maaf ya baru up. laptopku kemarin reinstall windows, karena lama loadingnya aku cancel jadi error.
Mengotak atiknya lagi sendirian lama banget sampai berjam jam, untung berhasil, hampir saja tidak bisa nulis lagi.
Jangan lupa like vote dan komen ya.
************