Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-80 Obrolan di malam hari



Damian masih menatap Hanna yang juga menatapnya. Setelah mandi dan berkeramas, dia terlihat lebih segar dan harum dari rambutnya tercium wangi oleh hidungnya Damian.


“Jadi ibunya Cristian ada disini?” tanya Damian, tidak bosan-bosannya dia menatap mata itu.


“Iya, apa aku boleh menemuinya?” tanya Hanna lagi.


Ternyata Damian diam, matanya kini beralih ke laptopnya.


“Ini interiornya kau mau lihat? Kamar-kamarnya berukuran besar,” ucap Damian.


Hanna teringat kata-katanya Satria, kalau Damian itu cemburu pada Cristian. Seharusnya dia tidak bicara soal menemui ibunya Cristian. Hanna ingin bertemu ibunya Cristian karena dia merasa bersalah telah menyakiti Cristian. Mungkin diamnya Damian tandanya dia tidak mengijinkannya.


“Ini interiornya? Ada ruangan apa saja?” tanya Hanna, Damian tidak menjawab. Benar, sepertinya Damian sedang cemburu.


“Ada berapa kamar?” tanya Hanna, Damian masih diam.


“Apa akan dibuatkan taman juga?” tanya Hanna lagi. Ternyata Damian masih diam.


Hanna menoleh menatap Damian.


“Kau marah?” tanya Hanna. Damian tidak menjawab, tidak ada senyum sama sekali membuat Hanna bingung harus berbuat apa. Diapun memutar otaknya mencoba mencari cara supaya Damian tidak marah.


Hanna menggeser duduknya, akan menjauh tapi tiba-tiba dia terkejut saat tangan kirinya Damian menarik pinggangnya sehingga bergeser ke dekatnya lagi,


Hannapun jadi mengalah, bukankah Damian lagi marah? Tapi kenapa dia memeluk pinggangnya, mungkin dia masih ingin memperlihatkan gambar gambar rumah itu.


“Apa kau masih marah? Kalau kau tidak suka aku bertemu ibunya Cristian aku tidak apa-apa, aku akan mengerjakan yang lain saja kalau bosan di rumah,” kata Hanna. Damian masih tidak bciara. Hanna menghela nafas panjang, susah amat membujuk Damian kalau lagi ngambek begini.


“Damian, katamu kan kalau real estate itu menggunakan namaku? Namanya apa?” tanya Hanna mencoba mencairkan suasana dengan mengalihkan pembicaraan. Eh ternyata Damian masih tidak bicara juga.


“Kau mendadak bisu, aku ajak bicara diam saja, ya sudah aku mau pergi,” kata Hanna dengan cemberut, sepertinya usahanya tidak akan berhasil membuat Damian bicara. Diapun bergerak akan menjauh, lagi-lagi tangan itu menarik pingganganya membuat tubuhnya kembali ke dekat Damian.


“Kau kan sedang marah, mana ada yang marah memeluk begini,” keluh Hanna. Diapun kembali akan menjauh tapi ternyata tangan Damian memeluknya sangat erat. Hanna kembali cemberut akhirnya dia menempelkan punggungnya ketubuh Damian. Ternyata nyaman juga ya dipeluk seperti ini, fikirnya. Terasa tangan kiri Damian semakin erat memeluknya.


“Jadi apa nama real estate itu, aku ingin tahu,” kata Hanna. Damian masih diam.


“Hemm kau tidak mau bciara. Baiklah akan aku tebak. Namanya apa ya..” Hanna terus berfikir.


“Hanna real estate?” tebak Hanna. Damian tidak menjawab.


“Apa ya namanya?” gumam Hanna lagi. Damian masih diam.


“Hanna Griya!”tebak Hanna lagi.


“Masa griya? Kaya perumahan,” gumamnya.


“Atau namanya…” Hanna terus berfikir, sambil jari-jari tangan kanannya mengetuk-ngetuk pipinya.


Tiba-tiba sebuah ciuman menempel di pipinya yang diketuk ketuk tadi, membuatnya terkejut dan hampir saja jantungnya copot saking tidak menyangkanya Damian akan mencium pipinya.


“Kenapa kau menciumku?” teriaknya kaget sambil menutup pipi kanannya dengan telapak tangannya, dan  langsung menoleh pada Damian dengan wajahnya yang merah.


“Kau kan yang minta,” akhirnya Damian bicara juga.


Hanna menjauhkan wajahnya dari Damian dan menatapnya.


“Aku tidak minta,kapan aku minta kau cium?” keluh Hanna.


“Tadi, kau mengetuk ngetuk pipimu dengan jarimu” jawab Damian tanpa menoleh, matanya masih ke layar laptop dan tangannya kanannya masih memegang mouse.


“Itu bukan minta kau cium, tapi aku sedang berfikir. Bilang saja kau mau menciumku jangan banyak alasan,” keluh Hanna, sambil mengusap-usap pipinya yang tadi dicium Damian. Mulutnya mengumpat tapi hatinya deg degan kencang tidak beraturan. Tangannya masih mengusap-usap pipinya. Kini Damian menatapnya.


“Apa?” tanya Hanna.


“Kau mengusap-usap pipimu, apa kau minta dicium lagi?” tanya Damian.


“Tidak!” teriak Hanna, sambil menurunkan tangannya tidak lagi mengusap pipinya. Jantungnya bisa benar-benar copot kalau dicium Damian lagi, batinnya.


Damian kembali melihat layar laptopnya, tangan kirinya kembali menarik pinggang Hanna supaya mendekat.


“Ada apa pria ini terus saja menarik narikku mendekat begini, apa dia tidak tahu jantungku rasanya mau copot,”keluh Hanna dalam hati, diapun jadi ke posisi semula menatap layar laptop dan punggungnya yang menempel ke dada Damian.


Damian mengetikkan sesuatu di keyboard laptopnya dengan tangan kanan, tangan kirinya hanya sesekali mengetik jika hurufnya ada di sebelah kiri.


Duk! Aduh dadanya menyentuh punggung Hanna, wanita itu sampai ikut ikutan menunduk karena badan Damian condong ke depan untuk menulis.


Hanna melirik tangan kiri Damian yang mengetik huruf sebelah kiri. Pria itu mengetik sambil dia ada di depannya, repot amat.


“Ini tamannya, ada kolam renang juga dibelakang,” kata Damian, kepalanya ada disamping kepala Hanna.


Hanna meliriknya, pria itu sibuk dengan gambar-gambar di depannya, kemudian dilihatnya tangan  Damian yang masih mengetik. Hanna pun tersenyum bukankah ini posisi yang sangat romantis, Damian mengetik sambil memeluknya, batin Hanna sambil menatap wajah Damian.


“Jangan berfikir macam-macam, ayo lihat sini,” ucap Damian, membuyarkan lamunan Hanna.


“Apa yang macam-macam?” keluh Hanna, sambil menoleh ke layar laptop.


“Ini namanya,” kata Damian, menujuk tulisan yang ada di layar.


“Hanna grand lakeside?” gumam Hanna membaca tulisan di layar itu.


“Kenapa lakeside? Ini kan pantai bukan danau,” protes Hanna.


Damian menoleh ke arahnya, karena tadi dia sambil mengetik, jadi wajahnya itu begitu dekat dengan wajah Hanna. Hanna tidak menoleh kearah Damian nanti bisa-bisa mereka besentuhan. Ah tidak, cukup sampai disini, jangan membuat jantungnya benar-benar copot. Damian mengetik sedangkan dia berada di pelukannya saja rasanya dag dig dug tidak karuan apalagi kalau yang lebih dari itu. Lebih dari itu? Lebih dari itu apa?


“Kau mulai berfikir macam-macam lagi?” tanya Damian membuat Hanna tersadar, diapun tertawa. Tawanya langsung hilang saat tangan kiri Damian memeluk  kepalanya ditarik ke dekatnya, membuat Hanna kembali bersandar ke dadanya.


Apa sekarang mereka sedang pacaran ya? Batinnya. Ternyata bersandar  dipelukan Damian seperti ini sangat membuatnya nyaman.


“Jangan tidur, nanti air liurmu menempel dibajuku,” ucap Damian tiba-tiba, membuat Hanna menjauhkan tubuhnya dan langsung menyemprot Damian.


“Kau ini! Mengganggu momen romatis saja!” makinya dengan kesal.


Damian malah tertawa.


“Momen romantis apa?” tanyanya.


“Ya momen romantis,” jawab Hanna, sambil bingung bagaimana menjelaskannya, ternyata bagi Damian ini tidak romantis, haa Damian suka begitu Huh.


Lagi-lagi Damian tertawa, tangan kirinya kembali memeluk kepala Hanna supaya bersandar lagi padanya.


“Damian, kau tau tidak?” tanya Hanna, menikmati bersandar ke tubuhnya Damian.


“Tidak,” jawab Damian.


“Ini bukan pertanyaan tidak perlu kau jawab,” protes Hanna.


“Baiklah, apa?” tanya Damian.


“Kau tahu cara menilai apakah pria itu mencintai kita atau tidak?” tanya Hanna.


“Tidak, aku tidak suka pria,” jawab Damian.


“Bukan itu,” protes Hanna.


“Jadi apa?” tanya Damian, dia masih fokus kelayar laptopnya, dengan tangan kanannya yang mengklik klik mouse, sesekali mengetik dengan kedua tangannya membuat Hanna terbawa kedepan lalu mundur lagi ke belakang mengikuti gerakan tubuhnya Damian.


“Jadi untuk menilai pria itu cinta pada kita atau tidak adalah dari jumlah uang yang dia beri,” ucap Hanna.


Damian langsung menghentikan gerakannya. Lalu mendorong tubuh Hanna ke depan diputar bahunya supaya menghadap ke arahnya.


“Apa maksudnya itu?” tanyanya tidak mengerti.


“Jadi lihatlah berapa uang yang pria itu beri,” jawab Hanna.


“Aku masih tidak mengerti,” Damian menggeleng.


“Jadi kalau pria itu banyak memberimu uang berarti di mencintaimu sebesar itu, begitu,” jawab Hanna.


Damian mengernyitkan dahinya masih tidak mengerti.


“Masa melihat cinta seseorang dari uang,” ucapnya.


“Tentu saja, coba kau fikr. Kalau ada orang minjam uang apa kau tagih? Tentu kau tagih kan?” tanya Hanna.


Damian mengangguk dan masih menatapnya, dia mencoba mencerna apa yang Hanna bicarakan.


“Nah kalau teman?” tanya Hanna.


“Aku tagih,” jawab Damian.


“Kalau saudara?” tanya Hanna lagi.


“Nah, kalau yang meminjam uang pacarmu, kau tagih tidak?” tanya Hanna lagi. Damian berfikir sebentar.


“Tentu saja tidak, bisa marah dia kalau kutagih, entar diputusin,” kata Damin.


“Nah itu tandanya kau cinta pada wanita itu,” kata Hanna.


“Apa benar begitu?” tanya Damian.


“Ya seperti itu kan?” jawab Hanna. Damian masih berfikir.


“Jadi kalau pria itu menagih uang pada wanitanya itu tandanya dia tidak cinta. Kalau dia cinta dia akan memberikan uang yang banyak tanpa dia tagih. Jadi..besarnya cinta pria itu dilihat dari banyaknya uang yang dia beri,” kata Hanna panjang lebar.


“Jadi..kalau pria itu bilang cinta tapi tidak memberi uang, dia itu tidak cinta, bohong cintanya,” lanjut Hanna.


“Begitu ya?” tanya Damian. Hanna mengangguk.


Damian menatap Hanna lekat-lekat.


“Maksudmu bicara begitu apa?” tanya Damian.


“Ya tidak apa-apa aku hanya cerita saja,” jawab hanna.


“Kau mau minta uang padaku?” tanya Damian.


“Bukan, aku tidak minta uang padamu. Aku hanya bercerita saja,” jawab Hanna menggeleng.


“Berarti kalau aku memberimu uang sedikit berarti cintanya sedikit?” tanya Damian.


Hanna mengangguk.


“Kalau memberi uangnya banyak cintanya besar, begitu?” tanya Damian lagi.


“Iya begitu,” Hanna menngangguk.


“Kau benar, aku juga tidak pernah memberimu uang,” jawab Damian.


“Kau benar! Kau tidak pernah memberiku uang, kau hanya membayarku saja. Jadi tandanya kau tidak cinta..Ha?” seru Hanna, dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Damian tidak bicara lagi, dia kembali mengetik. Tiba-tiba Hanna tersadar sesuatu yang dikatakan Damian tadi.


Hanna langsung memiringkan kepalanya menghalangi  penglihatan Damian ke laptop.


“Kau tidak memberiku uang, jadi kau tidak cinta!” serunya. Damian menatapnya.


“Ternyata kau tidak cinta! Uang yang kau beri itu uang jasa memelukmu,bukan karena kau cinta! Kenapa aku baru sadar! Ternyata kau tidak cinta!” serunya. Damian menatap wajah yang menghalangi pandangannya ke laptop itu.


“Kau ini bicara apa?” tanya Damian.


“Kau tidak memberiku uang, Damian! Jadi kau tidak cinta!” seru Hanna, sambil menatap Damian. Begitu juga Damian.


“Yang bilang aku cinta padamu siapa?” tanya Damian.


“Mmm waktu itu kau bilang begitu,” ucap Hanna.


“Kapan?” tanya Damian.


“Waktu aku tidur,kau bilang cinta padaku,” ucap Hanna.


“Kau tidur? Mungkin kau bermimpi,” kata Damian.


“Tidak, aku mendengar kau mengucapkan cinta padaku,” ucap Hanna.


“Ya kau lihat saja, apa aku memberimu uang?” tanya Damian.


“Tidak,” jawab Hanna menggeleng.


“Itu artinya…” Damian menghentikan bicaranya.


“Tidak cinta,” jawab Hanna. Dan langsung diam. Damian menyingkirkan kepalanya Hanna yang menghalangi layar.


“Ah tidak, kau cinta padaku!” protes Hanna.


“Tidak,” jawab Damian.


“Cinta!” seru Hanna.


“Tidak!” ucap Damian lagi, tidak menghiraukan Hanna yang kelabakan.


“Tidak!” seru Hanna.


“Cinta!” jawab Damian dan langsung diam. Hanna langsung saja tertawa, Damian keceplosan bilang cinta.


“Pekerjaanku tidak akan beres beres kalau kau temani,” keluh Damian.


Hanna masih tertawa, pria itu terlihat kesal padanya. Damian menghela nafas sebentar lalu mengerjakan pekerjaannya lagi.


“Damian!” panggil Hanna.


“Apa? Sekarang mending kau tidur saja,” kata Damian.


“Nanti kalau peresmian real estate, aku yang gunting pita ya,” ucap Hanna.


“Kenapa kau?” tanya Damian tanpa menoleh.


“Karena real estatenya menggunakan namaku,” kata Hanna.


“Kan aku yang membangunnya masa kau yang gunting pita,” Damian protes.


“Kalau begitu kita berdua yang gunting pita. Bilang pada panitia supaya menyediakan dua gunting,” ucap Hanna.


“Itu kan masih lama beberapa tahun lagi,” kata Damian, sambil merubah posisi duduknya jadi bersila dan laptop yang dialas bantalnya disimpang diatas pangkuannya.


“Berapa lama?” tanya Hanna.


“3,4,5 tahun lagi,” jawab Damian.


“Ha? Cuma mau gunting pita nunggunya bertahun tahun, kelamaan,” keluh Hanna.


“Kan yang dibangun banyak,” kata Damian.


“Tapi tidak apa-apa lah. Yang pasti aku ikut gunting pita ya, kita berdua, berdua,” ucap Hanna dengan semangat.


“Bertiga,” jawab Damian.


“Apa? Bertiga? Bertiga dengan siapa? Kau selingkuh?” Hanna langsung saja marah. Damian tidak menjawab.


“Kau mau ada dua wanita yang mendampingimu gunting pita?” tanya Hanna,dia langsung cemberut.


“Tidak, tidak boleh! Kenapa jadi bertiga? Aku tidak mau gunting pita bertiga!” tolak Hanna. Damian mengacuhkannya.


“Ternyata kau pria yang tidak setia, Huh!” keluh Hanna. Dia membaringkan tubuhnya sambil


terus mengegerutu.


“Kenapa harus ada wanita lain yang menggunting pita, menyebalkan,” gerutunya.


Tiba-tiba Hanna berseru sambil bangun membuat Damian terkejut.


“Ha! Aku tahu!” seru Hanna.


“Apa? Kau mengagetkanku saja!” keluh Damian.


“Pasti ibumu, iya kan?” tanya Hanna.


Damian menghela nafas lagi. Hanna bodoh ko dipiara, batinnya.


“Jangan mengatai aku bodoh! Aku juga tahu apa maksudmu,” ucap Hanna. Damian tidak bicara.


“Bertiga dengan si kecil kan ya,” tanya Hanna, Damian tidak menjawab.


Hanna tersenyum senang.


“Benar kan? Kau ini membuatku jantungan saja,” ucap Hanna , kembali berbaring dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya. Ternyata Damian memikirkan si kecil, buah hati mereka, ah membuat hatinya bahagia saja.


*************


Maaf ya isinya obrolan doang hehe…


Aduuh maaf banyak typo..nulisnya sambil ngerjain pekerjaan yang lain..