
Hanna masuk ke kamarnya dengan lesu. Dia merasa lelah sekali hari ini. Kakinya yang lecet-lecet terasa sakit. Diapun duduk di sofa, melepas kedua sepatunya. Dilihatnya kakinya sekali lagi, sepertinya tensoplasnya harus diaganti, apalagi sebentar lagi dia mau mandi pasti jadi basah, fikirnya.
Diapun mengedarkan pandangannya ke ruangan itu, barangkali ada kotak obat di kamar itu. Dia baru ingat kotak obat dibawa Damian tadi ke kantornya.
Hannapun mengeluarkan handphone di tasnya. Seharian ini dia tidak membuka hanpdhonenya. Dia ingin beristirahat sebentar sambil main game. Dilihatnya handphonenya mati, sepertinya batrenya habis.
Hanna bangun dari duduknya, menuju tempat biasa dia mencas Hpnya tapi ternyata tidak ada charger disana.
“Damian menyimpan charger dimana ya?” gumamnya, diapun mencari-cari ke laci-laci yang ada dilemari di kamar itu.
Saat membuka sebuah laci paling bawah, dia terkejut saat melihat sebuah kotak beludru berwarna merah.
“Apa ini? Seperti kotak cincin,” gumamnya.
Diambilnya kotak itu dan perlahan dibukanya. Ternyata benar isinya sebuah cincin berlian yang cantik.
“Cincin? Cincin siapa ini?” gumamnya lagi. Dia mengerutkan keningnya mengingat-ingat apa cincin ini punya pemilik rumah ini? Masa cincin semahal ini ketinggalan di rumah ini? Atau jangan jangan..jangan ini cincin punya Damian? Tapi cincinnya buat siapa?
Hanna teringat perkataan Damian tadi kalau dia sudah jadi istrinya dan tidak ada yang perlu dicurigai. Apa cincin ini untuk melamarnya? Hanna kembali melihat-lihat cincin itu. Dengan iseng dicobanya ke jarinya, ternyata cukup. Diapun merentangkan tangannya ke depan, melihat-lihat cincin itu, sangat cantik ada di jarinya. Tapi siapa pemilik cincin ini? Hanna melepas kembali cincin itu.
“Sangat aneh Damian menyimpan cincin berlian dikamar ini,” gumamnya.
“Sebenarnya ini cincin buat siapa? Akhir-akhir ini pria itu sangat membingungkan,” ucapnya lagi dan kembali memasukkan cincin itu ke tempatnya. Hannapun menyimpan kembali kotak cincin itu dalam laci.
Dicarinya lagi chragernya, akhirnya dia menemukannya dilaci yang lain.
Setelah mencas Hpnya, diapun merebahkan dirinya di tempat tidur. Bekerja seharian dengan Damian membuatnya benar-benar lelah. Dia harus cepat-cepat menelpon Pak Indra supaya masuk kerja lagi. Dia kapok kerja dengan Damian, pria itu sangat galak padanya.
Diapun teringat kembali pada cincin itu, kepalanya terus berfikir menebak-nebak pemilik cincin itu. Apa mungkin sebenarnya Damian akan melamarnya? Mungkin dia akan memberikan surprise, makanya dia hari ini menyebalkan, ah masa segitunya yang mau ngasih cincin.
Sebaiknya kalau Damian pulang dia harus bertanya soal cincin itu. Bisa saja cincin itu untuknya ya? Ah tidak tahu juga, pria yang mencintai wanitanya tidak akan membentak bentak seperti itu, hati Hannapun kembali lesu. Sudah perkataan pernikahan yang mencurigakan sekarang ditemukan cincin di laci, sangat aneh.
Akhirnya Hanna bangun dari tidurnya dan menuju kamar mandi untuk mandi.
****
Malam semakin larut, Damian melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Badannya terasa lelah, diapun bersandar ke kursinya. Beberapa saat kemudian diapun bangun, keluar dari ruangannya, pulang ke rumah dilantai atas.
Saat menaiki tangga, dia terkejut melihat Hanna ada duduk di tangga sendirian, memeluk kedua lututnya, menatap langit yang gelap hanya ada cahaya bintang dan bulan.
Damian menghentikan langkahnya menatap wanita itu yang belum menyadari kedatangannya.
Wanita itu selalu menunggunya pulang, menemani tidurnya setiap malam hanya untuk memeluknya memberikan kenayman padanya supaya tidak bermimpi buruk. Ada perasaan tidak nyaman dihatinya. Karena dia tahu kalau Hanna bukanlah wanita murahan yang suka merayu atau menggoda pria-pria kaya. Waniat itu tulus mengerjakan pekerjaannya yang aneh ini.
Untu saat ini dia tidak bisa berjanji apa-apa pada wanita ini, dia ingin segera menemukan ibunya supaya bisa menyaksikan pernikahannya.
“Kau sedang apa?” tanya Damian, mengagetkan Hanna.
Wanita itu tampak kaget lalu menoleh ke arah Damian dan tersenyum.
“Kau sudah pulang? Aku menunggumu,” jawab Hanna.
“Aku kan sudah bilang kalau aku pulang malam jangan menungguku,” kata Damian.
Hanna hanya tersenyum menatap Damian.
“Ayo masuklah,”ajak Damian mengulurkan tangannya pada Hanna yang segera menyambut tangannya dan berdiri.
Merkapun masuk ke rumah. Damian menutup pintu rumah.
“Kenapa kau pulang terlalu larut, ini bahkan sudah dini hari, kau jangan terlalu lelah nanti kau sakit,” kata Hanna, berdiri menatap Damian yang melepas sepatunya, kemudian pria itu masuk ke kamar mandi.
“Aku sudah terbisa melakukannya,” jawab Damian. Kemudian terdengar suara pintu kamar mandi ditutup.
Hanna melihat handphonenya sudah penuh, diapun tiduran di sofa sambil membuka-buka handphonenya. Ada sebuah pesan muncul disana, tidak ada namanya. Diapun membuka pesan itu, lalu dibacanya.
“Hanna, aku Cristian, bisakah besok kita bertemu? Ada yang ingin aku bicarakan. Kalau kau perlu izin Damian, aku bisa minta izin padanya,” tulis pesan itu ternyata dari Cristian.
Hanna terkejut saat membacanya. Ada apa Cristian mengajaknya bertemu bahkan dia mau minta izin pada Damian segala. Tapi sebaiknya Damian tidak perlu tahu kasihan dia sangat lelah dengan pekerjaannya, Hanna tidak mau menambah masalah lagi.
“Baiklah,” akhirnya Hanna menjawab pesan itu.
Terdengar suara pintu kamar mandi dibuka, Damian sudah mandi dan berpakaian.
Dilihatnya Hanna sedang tiduran di sofa dengan mengotak atik handphonenya.
“Kau sudah mandi?” tanya Hanna tanpa menoleh.
“Hem,” jawab Damian sambil naik ke tempat tidur, dia ingin cepat-cepat beristirahat.
“Damian!” panggil Hanna sambil bangun dari tidurnya, menatap Damian yang merebahkan diri ditempat tidur.
“Ada apa? Aku mengantuk. Kemarilah, bukankah kau harus memelukku,” jawab Damian.
“Aku memelukmu kalau kau sudah mengigau,” jawab Hanna.
Damian tidak menjawab lagi, dia berbaring miring dengan satu tangan dibawah bantal, diapun memejamkan matanya berusaha tidur.
“Aku menemukan cincin di lemari, itu cincin siapa?” tanya Hanna.
“Cincin?” tanya Damian, agak terkejut, tapi dia sudah sangat mengantuk jadi reaksinya antara sadar dan tidak sadar.
“Apa cincin itu untukku?” tanya Hanna.
“Ya, pakailah,” jawab Damian dalam kantuknya.
“Boleh aku pakai?” tanya Hanna lagi.
“Ya,” jawab Damian.
“Kau serius?” tanya Hanna dengan wajah berseri-seri. Jadi benar cincin itu untuknya. Tapi apa arti cincin itu? Masa lamaran tidak ada hari yang istimewa atau romantis? Diapun mengerucutkan bibirnya. Tapi ah masa bodoh romantis yang penting itu cincin untuknya dan Damian menyuruhnya memakainya.
“Damian!” panggil Hanna, tidak ada jawaban, sepertinya pria itu sudah tertidur.
Hannapun segera berjalan menuju lemari tadi. Mengambil cincin yang ada di laci tadi dan memakainya. Meskipun tidak ada momen romatis, tidak apalah, yang penting cincin itu buatnya dan bukan untuk wanita lain.
Kemudian diliriknya Damian yang tertidur dan mulai mengigau memanggil ibunya. Sebenarnya Hanna merasa sedih melihatnya masih seperti itu. Damian sangat merindukan ibunya. Apakah dia akan bertemu dengan ibunya lagi atau tidak?
Hannapun naik ke tempat tidur, duduk disamping Damian, meraih kepala Damian supaya berbaring dipangkuannya. Diusapnya keringat yang mulai membasahi kening pria tampan itu.
“Tidurlah, aku bersamamu,” ucapnya, mengusap usap rambut Damian. Pria itu masih mengigau memanggil ibunya. Hanna kembali menenangkannya. Tangan kirinya mengusap kening Damian. Saat mengusap kening tu, dilihatnya cincin yang tadi dipakainya yang ada di jari manis ditangan kirinya. Diapun tersenyum, cincin itu sangat cantik di jarinya. Ternyata Damian hafal ukuran jarinya, karena cincin itu begitu pas ditangannya.
Lambat laun Hannapun mengantuk, diapun merebahkan diri disamping Damian yang sudah tidak mengigau lagi, lama-lama diapun tertidur.
Damian membuka matanya perlahan, dilihatnya wanita itu juga masih tidur disampingnya dengan menghadap kearahnya. Dilihatnya jam di dinding ternyata sudah siang.
Damian melihat pada Hanna lagi, tiba-tiba matanya tertuju pada sesuatu yag bersinar dijari Hanna. Diraihnya jari Hanna itu, jari itu menggunakan sebuah cincin, tapi bukan cincin pernikahannya tapi seperti cincin yang dia punya yang dulu akan diberikan pada Hanna untuk melamarnya.
Damian pun buru-buru bangun dan pergi ke lemari meraih laci paling bawah dan mengambil kotak cincin disana. Dibukanya kotak itu ternyata isinya kosong. Jadi Hanna memakai cincin yang ada di laci?
“Damian, apa kau sudah bangun?” terdengar suara Hanna dengan pelan, sepertinya wanita itu masih mengantuk.
Damian berjalan mendekati tempat tidur.
“Katakan padaku, kenapa kau memakai cincin itu?” tanya Damian dengan nada tidak suka.
“Cincin apa?” tanya Hanna masih mengantuk.
“Cincin yang kau pakai itu, ayo lepas!” ucap Damian.
“Cincin? Cincin?” tanya Hanna tiba-tiba diapun teringat cincin itu, diapun segera bangun.
“Kembalikan cincinnya,” ucap Damian sambil mnegulurkan tangannya.
Hannapun bangun dan duduk menatap Damian.
“Kenapa harus dikembalikan? Ini kan cincin untukku,” kata Hanna, cemberut.
“Cepat kembalikan,” kata Damian.
“Tidak mau,” ucap Hanna menggeleng.
“Aku bilang kembalikan, kembalikan!” kata Damian dengan nada keras.
“Tidak mau! Kau sudah menyuruhku memakainya tadi malam,” ucap Hanna.
“Yang benar saja, kembalikan cincinnya!” kata Damian lagi. Tangannya akan meraih tangan Hanna, tapi Hanna menarik tangannya menjauh.
“Tidak mau! Kau sudah menyuruhku memakainya masa dikembalikan,” gerutu Hanna sambil menyembunyikan tangannya ke belakang punggungnya.
Damian mencondongkan tubuhnya, mau menarik tangannya Hanna.
“Kembalikan!” ucapnya.
“Tidak mau!” teriak Hanna, masih menyembunyikan tangannya ke belakang.
“Kau ini, kembalikan!” kata Damian lagi tidak mau mengalah, Hanna masih bersikukuh menyembunyikan tangannya ke belakang. Damian menatapnya, begitu juga Hanna, yang satu minta dikembalikan yang satu tetap tidak mau mengembalikan.
Tiba-tiba Damian menarik tubuh Hanna ke pelukannya, membuat Hanna terkejut. Tangannyapun berhasil meraih tangan Hanna yang ada di punggungnya.
Tangan Damian menggengam jemari Hanna yang ada cincinnya. Akhirnya dia mendapatkan jari wanita itu.
“Kembalikan cincinnya,” ucap Damian, tangannya meraba-raba jemari Hanna, tapi kemdian dia tersadar kalau dia memeluk tubuh wanita itu terlalu erat ke dadanya, sampai tubuh Hanna terasa menempel ketubuhnya, bahkan wajahnya menempel disamping wajahnya Hanna. Sejenak mereka berdua terdiam, rasa kaget dan serba salah bercampur aduk.
“Cincinnya,” ucap Damian, dia segera melepas tangan Hanna yang dia genggam, lalu melepas pelukannya dan tidak jadi melepas cincin itu. Diapun menjauh.
Hanna terdiam beberapa saat, dia melepas cincinnya itu dan disimpan di tempat tidur.
“Ini cincinnya aku kembalikan,” ucapnya dengan sedih dan menunduk.
Damian terdiam melihatnya. Lalu tiba-tiba.
“Huaaaa!” Wanita itu menangis sangat kencang sampai sesenggukan.
Damian terbengong melihatnya, dia bingung melihat Hanna menangis seperti itu.
“Hanna, kau kenapa?” tanya Damian.
“Huuuaaa huuaaa.” Hanna terus saja menangis.
“Hanna kau kenapa?” tanya Damian lagi. Bukannya reda, tangis Hanna malah semakin kencang.
“Ada apa? Kenapa? Sudah jangan menangis!” kata Damian, dia jadi bingung dan serba salah. Akhirnya diapun duduk didekat Hanna yang masih terus menangis dengan kencang. Damian sampai bingung, dia tidak enak kalau sampai Satria mendengar Hanna menangis, nanti dikiranya dia sudah menyakiti Hanna.
“Sudah jangan menangis. Kau mau cincinnya?” tanya Damian, menatap Hanna.
Hanna masih saja menangis dan tidak mau menjawab. Membuat Damian tidak tega.
“Ya sudah, kau boleh memakainya,” ucap Damian. Tapi Hanna masih menangis.
Damian mengambil cincin yang ada ditempat tidur itu, lalu meraih tangan kiri Hanna dan memakaikannya.
“Sudah, cincinnya sudah ada di jarimu, kau sudah memakainya,” kata Damian.
Tapi Hanna masih juga menangis, membuatnya bingung saja.
“Sudah cincinnya sudah kau pakai,” ulang Damian, sambil memegang telapak tangan Hanna yang sudah diberi cincin dan diperlihatkan pada Hanna.
“Lihat, sudah kan,” kata Damian.
Perlahan Hanna menghentikan tangisnya, menatap telapak tangannya yang dipegang Damian, sudah ada cincin dijarinya.
Tiba-tiba dia tersenyum.
“Akhirnya kau memakaikan cincinnya juga di jariku,” ucapnya, tersenyum senang.
Melihat Hanna tersenyum senang membuat Damian memberengut.
“Kau membohongiku pura-pura menangis supaya aku memakaikan cincin itu?” tanya Damian, tidak percaya.
Hanna langsung tertawa dan turun dari tempat tidur.
“Ini artinya kau sudah melamarku kan?” kata Hanna.
“Apa?” Damian terbengong.
“Kau melamarku!” seru Hanna sambil tertawa dan berlari menuju pintu kamar mandi.
“Tidak, masa melamar seperti itu!” elak Damian.
“Iya, kau sudah melamarku!” teriak Hanna sambil masuk ke kamar mandi dan Brugh! Pintu kamar mandi itu ditutup.
Damian sejenak terdiam kemudian jadi tersenyum melihat tingkahnya Hanna, dia menggeleng-gelengkan kepalanya hampir saja dia jantungan melihat Hanna menangis-nangis seperti itu.
************
Masih flat readers...jangan lupa Votenya ya...sebenarnya aku nulis tiap bab rata-rata 1700 1800 kata hampir 2000 kata tapi aku ga sempet urusin buat pengajuan rekomendasi di beranda, waktu ngurusin novelnya sedikit. Ini juga sudah ngantuk banget.