Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-85 Ada Maunya



Hanna mondar mandir didalam kamarnya. Dia benar-benar gelisah, bagaimana caranya supaya bisa mengajak Damian sementara ke ibukota. Dia tidak mau kalau sampai keberadaannya diketahui ayahnya, apa yang harus dikatakan soal statusnya? Apa berani dia membohongi ayahnya kalau mereka pasangan suami istri padahal sebenarya belum menikah?


Kalau dia berbohong pada ayahnya, terus ternyata ketahuan berbohong bagaimana? Damian tidak ada gelagat menikahinya secepatnya. Pia itu ingin pernikahannya dihadiri ibunya, sedangkan ibunya tidak tahu dimana.


Hanna duduk dipinggir tempat tidur sebentar, lalu beranjak lagi berjalan memutari kamar itu, entah berapa puluh kali dia melakukannya.


Cara yang terbaik adalah mengajak Damian ke ibukota, dia harus menghindari sampai tidak ada lagi pencarian dirinya disekitar pantai. Dia harus menghilang ke ibukota dengan Damian. Masalahnya, alasan apa yang akan diajukan pada Damian supaya menuruti permintaannya?


Hanna terus berfikir dan berfikir, fikirannya benar-benar buntu.Hatinya merasa lesu, meskipun dia melihat ayahnya akrab dengan damian, tapi ayahnya tidak tahu kalau Damian adalah suami palsunya. Kalau tahu dia adalah suami palsu, mungkin ayahnya akan membenci Damian dan jangankan untuk menikah dengan Damian, bertemu saja pasti tidak boleh.


Hingga malam menjelang. Saat makan malam dia terdiam seribu bahasa, makanan pun hanya diaduk aduknya saja.


“Kau kenapa?” tanya Satria.


Hanna tidak menjawab. Mereka makan malam dirumah hanya berdua saja, karena Damian belum pulang.


“Aku sedang bosan,” jawab Hanna.


“Bosan kenapa? Kau kan tidak ada kerjaan, kau tinggal jalan-jalan saja, “ kata Satria.


“Kakakmu kan sibuk, mana bisa aku mengajaknya jalan-jalan, dia pulang juga selalu larut malam,” ucap Hanna, masih mengaduk-aduk makanan.


“Kau benar, kakakku sangat sibuk, dia pekerja keras,” jawab Satria.


Tiba-tiba Hanna ingat sesuatu.


“Satria!” panggil Hanna.


“Apa?” tanya Satria, tanpa menoleh.


“Kau kan adiknya, pasti kau tahu kan kalo kakakmu punya kelemahan,” jawab Hanna. Membuat Satria menoleh,


“Kelemahan? Maksudmu kelemahan apa?” tanya Satria.


“Ya kelemahan,” jawab Hanna.


“apa ya,” Satria terus berfikir. Lalu dia menatap Hanna.


“Katakan padaku kelemahannya apa?”tanya Hanna, tidak sabar.


“Kau sendiri yang tahu,” jawab Satria.


“Ko aku yang tahu? Aku tidak tahu makanya bertanya,” ucap Hanna.


“Kakakku kan sangat mencintaimu, kau minta apa saja pasti dikasih, itu kelemahannya, kau!” kata Satria.


Hanna menimbang-nimbang perkataannya Satria. Apa benar kelemahan Damian adalah dirinya? Apapun yang dia inginkan akan dituruti? Kalau minta pindah dulu ke ibukota memangnya akan dituruti? Disini kan sedang banyak pekerjaan. Rasanya tidak mungkin Damian mau melakukannya.


“Menurutmu begitu? Apapun yang aku pinta akan kakakmu berikan?” tanya Hanna, menatap Satria.


“Kalau menurutku sih begitu,” ucap Satria.


“Ko kamu bicaranya begitu?” tanya Hanna merasa tidak enak dengan nada bicaranya Satria.


“Kau kan tidak secantik pacarnya kakakku,” jawab Satria membuat Hanna kesal, dia melempar timun kearah Satria yang segera melengos menghindari lemparannya.


“Tidak perlu marah, memang kenyataannya begitu, “ jawab Satria lagi sambil kembali makan.


Hannapun terdiam. Apa benar begitu? Sebenarnya sih ada benarnya juga, dia tidak secantik Maria, tapi Damian mencintainya, hem meskipun ungkapan cintanya saat dia tidur, dan masih mengelak elak sampai sekarang. Damian juga diam-diam membeli cincin ukuran jarinya, itu artinya apa kalau tidak mencintainya, tapi…pria itu selalu tidak mau jujur kalau dia mencintainya.


“Aku tidak mau makan lagi, bicara denganmu membuat perutku kenyang,” kata Hanna, sambil berdiri, sedangkan Satria hanya cuek saja.


Lagi  lagi Hanna mondar mandir dikamarnya, dia belum mendapatkan solusi apapun untuk mengajak Damian ke ibukota. Hingga tidak disadarinya hari sudah larut malam, saat seseorang membuka pintu kamarnya.


Hanna langsung menyambutnya kepintu, saat dilihatnya Damian pulang.


“Suamiku,kau sudah pulang!” seru Hanna, menyambutnya dan langsung memeluk tangan Damian.


Damian mengernyitkan dahinya, ini Hanna mau apalagi nih menmanggil manggil suamiku segala.


“Apa kau mau langsung mandi? Aku siapkan air hangat ya,” ucap Hanna.


Damian semakin curiga saja, diapun duduk di pinggir tempat tidur dan membuka jasnya.


Hanna langsung membantunya menyimpan jas itu di kapstok. Semakin tambah curgia saja Damian, Hanna baik-baik begini.


“Kau memangilku Suamiku, menawarkan air hangat utukku mandi, membantuku menyimpan jasku,pasti ada maunya. Katakan kau mau apa?” tanya Damian sambil membuka sepatu dan kaos kakinya.


“Tidak ada apa-apa, aku murni tulus perhatian padamu,” ucap Hanna. Dia buru-buru menyimpan sepatunya Damian ke rak sepatu. Lalu dia kembali lagi mendekati Damian, duduk disampingnya. Tiba-tiba tangannya menyentuh pahanya Damian.


“Apa kau pegal, kau mau dipijat?” tanya Hanna.


Damian menatap wanita itu yang sekarang memijat pahanya sambil menunduk.


“Dimana-mana memijat itu betis, bukan paha!” kata Damian, membuat Hanna terkejut, karena salah memijat. Damian tidak bisa membayangkan kalau Hanna terus memijat pahanya dan menyentuh bagian lain yang sensitif.


“Oh iya, salah ya, mana betismu? Sini sini aku pijat,” ucap  Hanna, hatinya jadi mau tertawa kenapa dia memijat-mijat pahanya Damian, bikin malu saja.


Damian bergerak mundur ke tempat tidur, Hanna langsung memijat kakinya, bukan itu saja, kakinya disimpan dipangkuannya, membuat Damian semakin curiga saja pasti Hanna punya keinginan makanya bersikap begitu padanya. Sepertinya lebih baik dikerjain saja sekalian, fikir Damian.


“Kurang keras memijatnya,” ucap Damian.


“Oh kurang keras ya,” kata Hanna, diapun mengeluarkan segenap tenaganya untuk memijat kaki Damian.


“Jangan melihat jempol kakiku lagi!” kata Damian mengingatkan, dia tidak mau Hanna membayangkan punyanya mirip jempol kakinya.


“Tidak, aku hanya ingin memijatmu,” jawab Hanna dengan serius, membuat Damian merasa ingin tertawa tapi ditahannya.


“Sebelah kiri, jangan kanan terus,” kata Damian. Tangan Hannapun pindah memijatnya kesebelah kanan.


“Enak tidak pijatanku?” tanya Hanna sambil terus memijat kakinya Damian.


“Ya lumayan,” jawab Damian. Biasanya kalau dalam situasi normal, Hanna akan marah kalau dijawab begitu tapi tidak dengan sekarang, dia adem ayem  terus aja memijat, membuat Damian penasaran saja mau apa sih Hanna ini sampai rela memanjakannya?


“Katakan saja , kau pasti ada maunya,” kata Damian, menatap Hanna.


“Tidak, aku tidak mau apa-apa, aku hanya merasa kasian saja kau bekerja seharian pasti lelah,” ucap Hanna, menoleh pada Damian sebentar dan tersenyum


Damian semakin curiga saja wanita ini ada maunya, sampai ga ngaku segala, dia sudah tahu akal bulus wanita ini.


“Kau sedang belajar jadi istri yang baik begitu? Yang perhatian pada suaminya?” tanya Damian.


Hanna mengangguk, tanpa menghentikan pijatannya. Semakin membuat Damian penasaran sebenarnya apa sih keinginan Hanna ini?


“Aku gerah sepertinya aku mau mandi dulu,” kata Damian.


“Aku siapkan air hangat dan bajumu ya,” kata Hanna, menghentikan pijatannya, turun dari tempat tidur.


Damian hanya memperhatikan wanita itu pergi ke kamaa mandi menyiapkan air hangat untuknya, lalu ka lemari membawakan baju tidur untuknya juga handuk baru, lalu ke kamar mandi lagi.


“Aku sudah menyiapkan air hangat, cepatlah mandi,” ucap Hanna sambil tersenyum menatap Damian yang juga menatapnya. Damian semakin penasaran apa sih keinginan Hanna itu?


“Tidak sekalian memandikanku? Punggungku sudah lama tidak digosok,” kata Damian.


“Kau ingin aku mandikan?” tanya Hanna, pura-pura berfikir menimbang-nimbang padahal dalam hati menggerutu, dia yakin Damian mengerjainya karena tahu dia punya kenginan.


“Akan aku mandikan!” jawab Hanna, membuat Damian terkejut.


“Kau serius akan memandikanku?” tanya Damian, tidak percaya.


“Iya,” jawab Hanna mengangguk.


“Kau mau menggosok punggungku?” tanya Damian.


“Iya,” jawab Hanna. Membuat Damian semakin bengong saja.


“Kau mau memandikanku juga menggosok punggungku?” tanya Damian lagi memastikan.


“Iya,” jawab Hanna.


Damian tersenyum meski banyak pertanyaan dalam hatinya, dia semakin curiga pasti permintaan Hanna sesuatu yang berat.


Damianpun masuk kekamar mandi. Tapi ternyata Hanna tidak mengikutinya.


“Hanna!” panggil Damian.


“Iya!” jawab Hanna sembil menoleh, dia sedang merapihkan tempat tidur, menyusun bantal-bantal.


“Katanya mau memandikanku, mau menggosok punggungku? Ko tidak ikut ke kamar mandi? Aku sudah membuka bajuku,” tanya Damian, melongokkan kepalanya keluar pintu kama mandi, hanya terlihat bahunya yang sudah tidak berpakaian.


“Kenapa harus ikut ke kamar mandi? Kan memandikanmu nya juga didalam mimpi, menggosok punggungmu juga di dalam mimpi,” jawab Hanna tanpa rasa bersalah, kini dia melipat selimut. Tentu saja jawabannya membuat Damian kesal.


“Kau mempermainkanku! Tadi kau tidak bilang dalam mimpi, alasan saja,” gerutunya dan menutup pintu kamar mandi dengan keras. Brugh!


Hanna menahan tawanya melihat pintu kamar mandi itu ditutup.


Damian mandi dengan perasaan kesal, apa maunya sih Hanna itu? Bikin penasaran saja. Dia sudah senang akan dimandikan dan digosok punggungnya, eh ternyata dalam mimpi, sama juga bohong. Kalau di dalam mimpi sih bisa lebih dari memandikan dan menggosok


punggungnya, dasar Hanna!


Setelah mandi dan berpakaian Damian melihat wanita itu sedang duduk di sofa sambil menonton televisi, padahal biasanya dia main game di hapenya. Sikap wanita itu sangat manis malam ini, semakin membuatnya tidak tahan untuk tahu apa keinginannya.


“Hanna!” panggilnya sambil duduk dipinggir tempat tidur.


“Iya, ada apa?” tanya Hanna, menoleh dengan suara yang lembut. Biasanya ada nada ketus dan reseh, sekarang tidak ada tanda-tanda menyebalkan, benar-benar manis.


“Katakan padaku, sebenarnya kau mau apa?” tanya Damian.


“Apa maksudmu bicara begitu? Aku tidak mau apa-apa,” jawab Hanna menggeleng, sambil melipat kedua kakinya naik ke sofa, bersandar dengan santai.


“Serius kau tidak mau apa-apa?” tanya Damian.


“Benar, aku tidak mau apa-apa, aku sedang menonton tv,” jawab Hanna tanpa menoleh.


Damian melihat kearah TV,ada acara memasak, memangnya Hanna suka memasak? Kan dia tidak bisa memasak.


“Memangnya kau mau belajar memasak?” tanya Damian.


“Iya, nanti aku akan belajar memasak kalau sudah menikah, biar suamiku betah dirumah,” jawab Hanna.


“Betah dirumah, tidak kerja dong!” kata Damian.


“Ya kerja dong! Maksudnya, biar bisa selalu makan  dirumah,” jawab Hanna, dia masih menonton televisi. Damian semakin merasa penasaran saja, biasanya Hanna akan menyela, tapi kali ini masih  serius, membuatnya semakin tidak tahan ingin tahu apa keinginannya Hanna.


“Stop! Jangan berpura-pura lagi, katakan kau mau apa?” tanya Damian.


Hanna kembali menoleh kearahnya.


“Tadi sudah aku katakan, aku tidak mau apa-apa,” jawab Hanna.


“Sudah jangan berbohong, katakan saja, aku pasti akan mengabulkannya,” kata Damian akhirnya, saking penasarannya apa yang dimau Hanna.


“Tidak aku tidak ingin apa-apa,” jawab Hanna, membuat Damian kesal.


Padahal dalam hati Hanna sudah bersorak, Damian berjanji mengabulkan apa pun keiginannya.


“Katakan saja, apapun yang kau inginkan aku turuti, katakan saja,” ucap Damian dengan serius.


Hanna menoleh kearah Damian yang menatapnya.


“Benar?” tanya Hanna.


“Iya benar, katakan saja,” jawab Damian.


“Kau pasti mengabulkan permintaanku?” tanya Hanna.


“Iya, aku akan mengabulkannya. Jadi katakan saja kau mau apa,” jawab Damian dengan serius.


Hanna tampak terdiam, menimbang-nimbang lagi keinginannya.


“Cepat katakan,” ucap Damian tidak sabar.


Hanna menatap Damian lagi.


“Aku ingin kembali ke ibukota,” jawab Hanna.


“Apa? Kembali ke ibukota?” tanya Damian, terkejut dengan permintaan Hanna.


****************


Lanjut bab berikutanya ya…udh 1700  kata ini. ga cukup 1 bab


Udah jam 1 malam, ngantuk, ketik ketik langsung up.


Jangan lupa like vote dan komen