Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH 49 Martin mengetahui status Shezie



Martin yang melihat Henry memeluk Shezie semakin dibakar cemburu. Dia merasa sudah berbuat sebaik mungkin demi Shezie tapi selalu mendapat penolakan, sedangkan pria itu, dia yakin pria itu baru dikenal Shezie tapi Shezie mau dipeluknya. Benar-benar membuatnya kesal dan tidak bisa menahan amarahnya padahal tadinya dia akan menyimpan dulu rahasia ini tapi melihat kemesraan mereka dia sangat cemburu.


“Jadi begini kelakuanmu? Jadi istri pura-puranya pria ini? ” Tiba-tiba Martin muncul mengagetkan mereka.


Henry dan Shezie menoleh kearah Martin, mereka sangat kaget ada pria itu disini, Henrypun melepaskan pelukannya.


Martin menatap Shezie dengan tajam.


“Kau benar-benar keterlaluan Shezie, aku jelas-jelas beritikad baik menikahimu tapi kau malah jadi istri pura-puranya pria ini, benar-benar kau merendahkanku!” umpat Martin.


“Kau ini bicara apa? Aku dan Henry tidak ada hubungan apa-apa, kami hanya teman,” ucap Shezie mencoba mengelak.


“Sudahlah, aku sudah mendengar semuanya, tidak usah berpura-pura lagi, aku sudah tahu kalau kau pura-pura menjadi istrinya. Aku jadi ingin tahu bagaimana reaksi ibumu nanti kalau tahu hal ini,” kata Martin sambil tersenyum sini.


Mendengarnya membuat Shezie takut dan khawatir pada kesehatan ibunya, diapun menghampiri Martin.


“Martin, tolong jangan beritahu apa-apa pada ibuku,” pinta Shezie.


Martin diam saja, masih tersenyum sinis, berlagak sok jual mahal.


“Martin berjanjilah kau tidak akan mengatakan apa-apa pada ibuku,” pinta Shezie lagi, sambil memegang tangan Martin.


Melihat tangannya yang dipegang Shezie tentu saja membuat Martin senang, sepertinya dia sudah mendapatkan kartu As untuk mendapatkan Shezie.


“Kau tidak perlu memohon padanya,” kata Henry, membuat Shezie menoleh.


“Tidak Henry, aku tidak mau terjadi hal buruk pada ibuku,” ucap Shezie.


Henrypun diam, sedangkan Martin tersenyum penuh kemenangan.


Martin menatap wajah Shezie yang sedang memohon padanya. Dia sangat menyukai momen ini, momen gadis yang selalu menolaknya kini sangat membutuhkannya.


“Baiklah sayang, aku tidak akan bicara apa-apa pada ibumu. Tapi kau harus berjanji padaku untuk menurut padaku, jangan membantah lagi,” ucap Martin, tersenyum pada Shezie sambil mengusap rambut gadis itu.


Henry merasa kesal melihat Martin menyentuh Shezie, tapi tidak ada yang bisa dilakukannya apalagi membuat keributan di rumah sakit.


“Ya baiklah,” jawab Shezie dengan lesu, tidak ada lagi yang dia fikirkan sekarang ini adalah kesembuhan ibunya.


Tiba-tiba  Bi Ijah berlari menghampiri Shezie.


“Non! Dokter sudah selesai memeriksa Bu Vina!” teriak Bi Ijah.


“Benarkah?” Shezie menoleh pada Bi Ijah, lalu tanpa bicara apa-apa lagi bergegas menuju ruang ICU,  Henry dan Martin mengikutinya begitu juga dengan Bi Ijah.


“Bagaimana kondisi ibu Dok?” tanya Shezie pada Dokter Arfan.


“Besok kita kemo, jadwal dipercepat dari yang seharusnya,” jawab Dokter Arfan.


“Kondisi ibuku memburuk?” tanya Shezie, matanya sudah berair saja.


“Tolong dijaga emosinya supaya stabil, jangan diberi beban terlalu berat yang akan membuatnya Stress.  Kemo besok lebih beresiko dan banyak efek samping yang dihasilkan, jadi tubuh pasien harus benar-benar siap, jadi butuh support secara mental juga,” jawab Dokter Arfan.


“Efek samping Dok? Seperti apa?” tanya Shezie.


“Mual muntah yang amat sangat, penglihatan juga akan mulai kabur, lebih jelasnya bisa nanti keruangan saya,” jawab Dokter Arfan.


Mendengarnya membuat Shezie semakin sedih saja, tangannya mengusap airmata dipipinya. Sedangkan Martin tersenyum dalam hati, itu artinya Shezie tidak akan mengadu macam-macam pada ibunya atau ibunya akan semakin drop.


“Aku boleh menengok ibu?” tanya Shezie.


“Silahkan, tapi tunggu pasien dipindahkan ke ruang perawatan,” jawab Dokter.


“Baiklah, terimakasih, Dok!” kata  Shezie.


Gadis itu menoleh pada Henry yang berdiri disampingnya, kenapa dia seolah olah merasa Henry yang bisa menghiburnya.


“Kau harus sabar,” ucap Henry, tangannya mengusap airmata di pipinya Shezie.


Melihat gadis itu bersedih Henry juga ikut sedih. Selama ini dia tidak pernah mengalami banyak kendala dalam hidupnya, semua serba gampang dan mudah. Melihat Shezie yang memiliki banyak beban, membuatnya sangat merasa simpati pada gadis itu.


Martin semakin sebal saja melihat Henry bersikap perhatian pada Shezie.


Mereka melihat perawat memindahkan tubuhnya ibu Shezie menuju ruang perawatan. Henry langsung meraih tangan Shezie mengikuti perawat itu, begitu juga Martin dan Bi Ijah.


Martin berjalan mengikuti dengan perasaan yang kesal lagi-lagi Henry bersikap perhatian pada Shezie apalagi berjalan sambil memegang tangannya Shezie, semakin membuatnya cemburu.


Martin jadi merasa khawatir Henry akan menyukai Shezie apalagi melihat Henry yang memeluk Shezie tadi sekarang memegang tangannya, dia saja yang tunangannya tidak pernah dibiarkan Shezie menyentuhnya, bisa bisa mereka malah jadi jatuh cinta beneran. Ini tidak bisa dibiarkan. Sebelum mereka benar-benar jatuh cinta dia harus secepatnya memisahkan Shezie dengan Henry.


Tiba-tiba Martin menepiskan tangannya Henry, membuat Henry kaget dan menatapnya.


“Kau cuma suami pura-puranya, aku tunangannya, aku calon suami yang sesungguhnya,” ucap Martin sambil memegang tangan Shezie.


Shezie mencoba melepaskan tangan Martin tapi Martin menatapnya penuh ancaman, akhirnya diapun diam membiarkan Martin memegang tangannya. Martin lalu menarik tangan Shezie mengikuti perawat -perawat itu, kini giliran Henry yang menatap tangan Shezie dipegang Martin.


“Apa kau perlu bantuanku?” tanya Henry pada Shezie.


“Bantuan apa?” tanya Shezie menoleh pada Henry.


“Kalau kau kurang uang untuk biaya pengobatan ibumu aku bisa membantumu,” jawab Henry.


“Tidak, untuk pengobatan kali ini Martin sudah memberikan deposit pada rumah sakit ini,” jawab Shezie, membuat Martin tersenyum bangga padahal dia tidak pernah membayarnya.


Henry tidak bicara lagi, Jadi itu makanya Shezie masih bersikap baik pada Martin karena dia berhutang budi pada pria itu.


Shezie melihat pergerakan dari ibunya.


“Bu, ini aku, Shezie, apa ibu mendengar?” tanya Shezie.


Bu Vina perlahan membuka matanya, dilihatnya putrinya sedang duduk didekatnya dan memegang tangannya.


Tiba-tiba Bu Vina teringat perkataan Martin dan pengakuan Henry kalau dia suaminya Shezie. Bu Vina langsung menarik tangannya dari pegangan Shezie, dan memalingkan mukanya.


“Bu!” Shezie terkejut melihat sikap ibunya.


“Bu aku minta maaf atas kesalah fahaman ini. Itu..itu…Temanku, namanya Henry,” kata Shezie sambil menunjuk Henry, lalu tangannya melambai meminta Henry mendekatinya.


Henrypun  segera menghampirinya.


“Henry ini temanku yang di travel itu Bu, Henry bukan suamiku. Henry hanya bercanda, dia tidak tahu kalau ibu sakit parah, tolong maafkan Henry,” kata Shezie, sambil tangannya memegang lengannya Henry dan menggoyang-goyangkannya.


Henry sebenarnya tidak suka kalau harus mengaku sebagai temanya Shezie di travel, dia memang suaminya Shezie yang sah.


“Henry!” panggil Shezie sambil menengadah menatapnya karena Henry diam saja. Melihat tatapan permohonan  itu hati Henrypun luluh.


“Aku minta maaf Bu, aku bukan suaminya Shezie, aku temannya di travel,” kata Henry. Martin yang mendengarnya tersenyum senang, dia semakin merasa menang saja.


“Tuh kan Bu, ini hanya salah faham, Henry menyukaiku jadi suka becanda mengaku suamiku, itu hanya bercanda, ya kan Henry? Kau menyukaiku kan? Katakan kau menyukaiku,” kata Shezie kembali menengadah menatap wajahnya Henry yang masih berdiri disampingnya.


Ditanya begitu Henry tidak langsung menjawab.


“Henry! Katakan kau menyukaiku jadi kau cemburu pada Martin,” kata Shezie lagi, kembali menggoyang goyangkan tangannya Henry.


Henry melirik tangannya Shezie yang masih terus memegang lengannya, lalu pada wajah yang sedang menatapnya, diapun balas menatap mata itu lekat-lekat, mata merekapun bertemu.


“Ya, aku menyukaimu,” ucap Henry, masih menatap Shezie. Mendengar ucapan Henry dan tatapan matanya itu, jantung Shezie langsung berdebar kencang dan merasa gugup, apa Henry mengatakan yang sebenarnya kalau dia menyukainya?


Henry merasakan  ada sesuatu yang berbeda  saat mengatakannya. Apakah dia mengatakannya dengan setulus hati?


Ibunya Shezie menatap Henry. Yang ada dibenaknya bukan apa yang dikatakan Shezie dan Henry, tapi wajah pria itu mengingatkannya dengan seseorang di masa lalunya.


“Ibu mau memaafkan aku kan Bu? Sama Henry juga?  Henry juga sudah baik membantuku bekerja di travel dan meminjamiku uang untuk biaya ibu kemo, ya kan Henry?” kata Shezie, kembali menengadah menatap Henry.


Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Henry selain mengangguk sesuai dengan keinginannya Shezie.


“Kau harus melupakan Shezie, Shezie sudah bertunangan dengan Martin,” kata Bu Vina.


Henrypun diam, bagaimana dia bisa melupakan Shezie, justru ini adalah awal awalan dia merasakan perasaan yang berbeda pada gadis itu.


Shezie kembali menggoyangkan tangannya Henry.


“Iya, Bu,” Shezie yang menjawab karena Henry hanya diam saja.


“Aku akan menemani ibu bermalam disini,” kata Shezie, lalu menoleh pada Henry, seakan ingin memberitahu kalau dia tidak pulang malam ini.


“Apa kau akan pulang?” tanya Shezie kemudian.


Henry melihat jam tangannya. Sebenarnya pekerjaannya banyak tapi dia akan merasa sepi kalau di rumah sendirian.


“Aku akan menemanimu sebentar,” jabab Henry.


Tiba-tiba Martin menyela.


“Tidak, tidak, sebaiknya kau pulang saja. Aku yang akan menemani Shezie, kau sudah tahu kan aku ini tunangannya, calon suminya,” ucap Martin, sengaja menegaskan statusnya lagi.


Sebenarnya Henry juga bisa ego mengatakan kalau Shezie itu istrinya daripada Martin yang baru calon suami, tapi dia tidak mau bertengkar di depan ibunya Shezie yang sakit seperti itu. Diapun menoleh pada Shezie.


“Aku pulang, ingat kau juga harus menjaga kesehatanmu jangan sampai jatuh sakit,” ucap Henry.


“Iya,” jawab Shezie. Dalam hati dia lebih memilih ditemani Henry daripada Martin tapi tidak ada yag bisa dilakukannya selain mengangguk.


“Bu, aku pulang, semoga cepat sembuh,” kata Henry pada ibunya Shezie yang hanya menatapnya saja. Dia bisa melihat pria itu memang menyukai putrinya.


Akhirnya Henry keluar dari ruangan itu, kembali menuju kantor tempatnya bekerja. Untuk sementara dia membiarkan Shezie bersama Martin meskipun hatinya cemas dan tidak rela Shezie dekat-dekat dengan pria brengsek itu.


******