Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-118 Lamaran buat Hanna



Mobil yang dikemudikan oleh Satria berhenti di depan gerbang rumahnya Pak Louis. Dua penjaga itu masih berdiri tegak siap siaga di gerbang itu.


“Ini rumahnya?” tanya Ny.Sofia melihat rumah megah itu. Ternyata Hanna juga putra dari pengusaha kaya? Kira-kira apa yang bisa membuat Damian diterima keluarga itu? Kalau uang kayanya tidak mungkin berhasil, Ny. Sofia terus berfikir.


“Kenapa rumahnya dijaga seketat itu?” tanya Ny.Sofia lagi.


“Mungkin supaya kakak ipar tidak kabur,” jawab Satria. Sedangkan Damian hanya diam saja.


Satria membunyikan klakson. Ny.Sofia membuka jedela kacanya, melongokkan kepalanya.


“Aku ada perlu dengan keluarga Pak Louis,” kata Ny.Sofia agak keras, karena dia tidak turun dari mobil.


 “Dari siapa Nyonya?” tanya penjaga itu.


“Ny. Sofia dari ibukota,” jawab Ny.Sofia.


Penjaga itu mengangguk lalu menghampiri pos satpam, bicara dengan satpam, satpam itupun menelpon dari telpon pos jaganya.


“Ya boleh masuk,” kata Pak Satpan. Penjaga satunya membukakan gerbang besi yang tinggi itu.


Satria menjalan mobilnya memasuki halaman rumahnya Pak Louis.


Damian menghela nafas panjang, dia tidak tahu apakah kedatangannya kesini dengan ibu tirinya akan berhasil atau tidak, dia sangat gelisah. Tapi semua ini harus dilakukannya, dia harus mencoba berbagai cara supaya Hanna bisa kembali padanya.


Bu Astrid membukakan pintu rumahnya, agak terkejut melihat kedatangan tiga orang itu. Ada Damian, satu pria lebih muda yang sekilas mirip Damian, Bu Astrid fikir itu pasti adiknya, dia pun jadi ingat Cristian, sepertinya kalau mereka bertiga dijajarkan akan seperti tiga bersaudara, karena memiliki bentuk tubuh yang hampir sama, tinggi dan gagah.


Selain Damian dan satu pria muda itu, ada seorang wanita yang mungkin usianya tidak jauh dengan dirinya, wanita yang sangat cantik dan terlihat glamour, mungkin ini ibu tirinya Damian, fikir Bu Astrid, karena dia tahu Damian berpisah dengan ibunya dan sampai sekarang belum bertemu dengan ibunya itu.


Bu Astrid menatap Damian, belum langsung mempersilahkan masuk.


“Ibu, Ibu tiriku,Ny.Sofia,” kata Damian, seakan tahu arti pandagannya Bu Astrid.


“Saya Sofia, ibu tirinya Dmaian,” ucap Ny.Sofia mengulurkan tangannya yang disambut Bu Astrid dengan bingung.


“Saya ada perlu dengan orangtuanya Hanna,” kata Ny,Sofia.


“Saya ibunya, mari masuk, silahkan dudukl,” jawab Bu Astrid sambil membuka pintu dengan lebar.


Ketiga tamunya langsung masuk dan duduk dikursi ruang tamu itu, Bu Astrid segera memanggil suaminya yang sedang menonton Tv dengan Hanna yang duduk di sofa sambil memeluk bantalan sofa dengan pandangan hampa, matanya kearah televisi tapi hatinya teringat pada Damian.


“Pak, ada Damian dan ibunya juga seorang pria mungkin adiknya,” kata Bu Astrid.


Mendengar Damian disebut, Hanna langsung menoleh pada Bu Astrid, dia sangat terkejut mendengarnya, kaki yang ditekuk diatas sofa, segera diturunkan, tangannya menyimpan bantal ke pinggirnya.


“Damian dan ibunya?” tanya Pak Louis.


“Iya. Ny, Sofia,” jawab Bu Astrid.


Pak Louis bangun dari duduknya, begitu juga dengan Hanna.


“Kau masuk kamar,” kata Pak Louis pada Hanna. Gadis itupun diam, dia ingin keluar bertemu dengan Damian.


“Kau masuk!” ulang Pak Louis.


Hanna tidak bicara apa-apa lagi, dia pun beranjak meninggalkan ruang keluarga itu pergi menuju kamarnya.


Pak Louis dan Bu Astrid segara ke ruang tamu menemui tamunya.


Ny.Sofia langsung berdiri saat Pak Loius muncul, begitu juga dengn Damian dan Satria merekepun bersalaman dengan pemilik rumah ini.


Suasana mulai tenang saat Pak Louis dan Bu Astrid sudah duduk berhadapan dengan tamunya. Matanya Damian melirik-lirk kedalam rumah, kenapa Hanna tidak keluar menemuinya?


“Ada keperluan apa?” tanya Pak Louis, menatap Ny.Sofia.


“Ada yang ingin aku sampaikan, tentang putraku,” jwab Ny,Sofia. Damian tidak bicara apa-apa.


“Tentu Pak Louis sudah mengenal putraku dan aku juga yakin Pak Louis sudah mengetahui apa yang terjadi antara Damian dan Hanna tentang status pernikahan mereka,” kata Ny.Sofia. Pak Louis belum bicara apa-apa.


“Putraku, mm maksudku, anak tiriku, jadi Damian buak anak kandungku,tapi sudah aku anggap putraku sendiri,” kata Ny.Sofia.


“Sejak berpisah dengan Yulia,maksudku ibunya, Damian tinggal bersamaku dan  ayahnya di Luar negeri, jadi Damian belum bertemu lagi dengan ibunya sampai sekarang,” lanjut Ny.Sofia.


Keringat dingin langsung membasahi tangan Bu Astrid yang gemetaran. Dia melirik pada suaminya yang tampak tidak menyadari dengan perkataan Ny. Sofia. Tentu saja karena Ibunya Cristian jarang bertemu mereka dan tida pernah menggunakan namanya selain nama suaminya.


“Jadi aku kesini mewakili Damian, karena ayahnya Setiaji Nugraha, sudah lama meninggal dunia,” kata Ny.Sofia.


Sekarang yang terkejut adalah Pak Louis. Dia merasa familiar dengan nama Setiaji Nugraha itu.


“Mungkin sebagian orang familiar dengan nama itu biasanya dipanggil Pak Aji saja, ayahnya Damian seorang pengusaha besar, maaf mungkin anda juga pernah mendengarnya, sepertinya kalau dikalangan pengsusaha, ayahnya Damian lumayan terkenal,” kata Ny.Sofia, seakan mengagulkan suaminya membuat Damian agak tidak suka mendengarnya. Padahal maksud Ny.Sofia supaya Pak Louis terpengaruh dengan perkataannya.


Pak Louis terdiam, siapa yang tidak kenal dengan nama pengusaha besar itu? Bahkan di televisi televisi juga sudah bagaikan selebritis, karena kerajaan bisnisnya yang luas. Jadi Damian itu putra dari pengusaha terkenal itu? Saat membaca tabloid itu dia tidak terlalu focus dengan siapa ayah dari Damian karena memang tidak diulas dalam tabloid itu.


“Aku ingin melamar Hanna untuk menjadi istrinya Damian,” lanjut Ny.Sofia.


Bu Astri tampak semakin pucat saja mendengarnya. Bagaimana kalau ternyata Damian adalah putranya Bu Sony, ibunya Cristian? Kalau benar mereka adalah adik kakak kandung. Apa yang terjadi dengan semua ini? Adik kakak satu ayah satu ibu itu menyukai putrinya?


“Aku minta maaf atas kesalah fahaman yang terjadi. Jadi resepsi yang aku adakan dulu itu karena aku mengira mereka sudah menikah, begitu juga dengan kerabat dan rekan bisnisnya Damian, aku tidak tahu kalau semua itu kesalahfahaman dan akhirnya menjerat hubungan Damian dan Hanna dalam pernikah yang tidak sebenarnya,” ucap Ny.Sofia, menarik nafas sebentar, lalu melanjutkan bicaranya lagi.


“Sekarang kan kita tahu kalau Damian dan Hanna belum menikah, jadi aku sekarang kesini melamar Hanna untuk Damian, supaya pernikahan mereka disahkan, karena mereka juga saling mencintai,” kata Ny.Sofia.


Pak Louis menoleh pada istrinya yang terlihat pucat, dia fikir dengan pucatnya istrinya itu karena Damian melamar Hanna, Pak Louis tidak tahu padahal bukan itu yang sedang difikirkan Bu Astrid, tapi kenyataan bagaimana jika ternyata Damian adalah putra dari Bu Sony, kakak kandungnya Cristian.


“Sekali lagi atas nama putraku, aku minta maaf atas kesalah fahaman ini. Aku harap kita bisa melupakan masa lalu dan diawali dengan satu kebaikan,” ucap Ny. Sofia.


Pak Louis menatap Ny. Sofia.


“Kau benar, semua yang telah terjadi biarlah berlalu,  kita mulai hal baru dangan satu kebaikan,” ucap Pak Louis. Ny.Sofia mengangguk.


“Aku beterimakasih atas niat Nyonya sekeluarga, tapi aku minta maaf yang sebesar-besarnya aku tidak bisa menerima lamaran ini,” kata Pak Louis.


“Kenapa?” tanya Ny.Sofia, kecewa karena usahanya tidak berhasil.


“Karena pernikahan Hanna dan Cristian sudah diputuskan, mereka akan melanjutkan pernikahannya kembali,” jawab Pak Louis.


Mendengar perkataan Pak Louis, Damian sangat terkejut ternyata dugaannya benar, Hanna akan dinikahkan kembali dengan Cristian. Terus bagaimana dengan nasib dirinya? Apakah dia akan patah hati?


Diapun segera menyela.


“Tapi Pak, Hanna mencintaiku, aku tahu itu,” kata Damian.


Pak Louis menatap Damian.


“Maaf Nak Damian, dengan sangat menyesal kau tetap harus melupakan Hanna, karena Hanna akan menikah dengan Cristian secepatnya,” jawab Pak Louis.


Hati Damian langsung hancur seketika, lamarannya ditolak.


“Pak Louis, aku benar-benar minta maaf atas semua kesalahanku, aku minta maaf, tolong jangan pisahkan aku dengan Hanna, aku sangat mecintainya, aku serius benar-benar ingin menikahinya, aku yakin Hanna juga mencintaiku, tolong jangan pisahkan kami,” pinta Damian, seumur hidupnya dia tidak pernah memohon-mohon seperti ini, tapi demi Hanna kembali kepadanya, dia mau melakukan apapun, dia mau menurunkan harga dirinya.


Semua yang ada dalam ruangan itu hening. Pak Louis kembali menatap Damian.


“Maaf Nak, pernikahan Hanna sudah ditentukan, aku yakin pria sepertimu akan cepat mendapatkan pengganti putriku,” kata Pak Louis.


“Aku tahu, tapi aku hanya ingin menikahi putrimu. Kalau Bapak punya permintaan katakan saja, aku akan melakukannya asal Bapak merestui kami untuk menikah,” kata Damian.


Wajah Bu Astrid sekarang malah berubah memerah, hatinya sudah tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata, gelisah, cemas, menyelimutinya, dia sangat ingin memastikan bahwa Damian itu putranya Bu Sony atau bukan? Apa yang harus dilakukannya sekarang?


Terdengar lagi Pak Louis bicara.


“Soal pekerjaan, kau jangan khawatir kau bisa melanjutkan proyekmu, aku tidak akan membatalkan perjanjian kerjasama kita,” kata Pak Louis.


“Tidak Pak, Justru aku akan melepaskan proyekku jika kau ingin aku pergi dari kota ini, aku akan pergi tapi aku ingin Hanna ikut bersamaku kembali ke kota sebagai istriku. Aku tidak peduli berapa kerugian yang aku tanggung asal Hanna tetap bersamaku,” ucap Damian, menatap Pak Louis.


Suasana kembali hening, merasa trenyuh dengan keinginannya Damian. Pak Louis kembali menatap Damian.


“Maaf nak Damian, aku harus menghormati keluarganya Cristian, mereka sudah lebih dulu melamar Hanna,” kata Pak Louis.


Mendengar jawaban Pak Louis yang sepertinya sudah final, Damian tidak bicara lagi. Sungguh dia tidak tahu harus berkata apalagi, dia sangat mencintai Hanna, entah harus dengan bukti apalagi supaya restu itu diberikan padanya. Sepertinya dia hanya bisa menunggu keajaiban berpihak padanya.


Tidak adalagi yang bisa dibicarakan di ruangan itu, Pak Louis tetap dengan keputusannya. Sedangkan Bu Astrid hanya diam saja dengan perasaannya yang campur aduk. Dia hanya menatap kepergian tamu-tamunya yang akhirnya meninggalkan rumahnya dengan perasaan yang kecewa, kerena tidak berhasil melamar Hanna. Yang harus dilakukannya adalah segera menemui Bu Sony, memastikan apakah Damian putranya Bu Sony atau bukan.


**************