
Hanna dan ojol keluar dari super mall itu. Toko perhiasan itu memang berada di supermall, mall yang menjual barang barang mewah dan branded.
“Mana motormu?” tanya Hanna pada ojol itu. Di depan Hanna terparkir sebuah Moge yang keren abis, Harley Davidson.
Mata Hanna celingak celinguk mencari motor bebek.
Ojol itu mengambil helm di motor Moge itu, lalu diserahkan pada Hanna.
“Kau Ojol Moge? Yang benar saja? Apa ada Ojol Moge?” tanya Hanna, terkejut.
“Ayo naiklah,” kata ojol itu.Hanna menatapnya ragu-ragu, lalu pada Moge itu. Untungnya model Moge Ojol itu ada boncengannya, meskipun sebulat pantat saja.
“Wah ongkosnya pasti mahal,” seru Hanna.
“Tidak, ayo naik,” Ojol itu segera menaiki Mogenya dengan duduk lebih rendah, stang lebih tinggi dari badan.
Hanna berfikir lagi, tidak apa-apalah sesekali boncengan naik Moge. Bukankah biasanya Moge tempat duduknya satu, ko ini dua? Mungkin di modif khusus untuk ojol, fikirnya. Akhirnya setelah memakai helmnya dia naik dibelakang pria tadi.
“Kita ke salon ya,” kata Hanna.
“Siap!” jawab si Ojol.
Menaiki Moge keren ini, membuat Hanna merasa terhibur, angin berhembus meriakkan rambut rambutnya yang tergerai. Dia membayangkan pacaran dengan boncengan naik motor bebek juga asal dengan pria yang dicintai asyik asyik saja, apalagi dibonceng Moge seperti ini, pasti seru, tapi kan sekarang bukan lagi pacaran, tapi lagi naik Ojol Moge. Di sepanjang jalan dia berfikir, emang ada gitu Ojol Moge? Baru tahu dia. Bayarannya berapa ya, hatinya bertanya-tanya.
Sampailah mereka di depan salon.
“Ojol, kau tunggu sebentar, aku mau lihat dulu di dalam penuh tidak. Kalau penuh, kau antar aku pulang saja,” kata Hanna pada si Ojol yang mengangguk.
“Kau duduk saja disana,” ucap Hanna lagi menunjuk deretan kursi di depan kaca salon.
Begitu masuk, dia sudah disambut petugas salon.
“Aku mau perawaan dari ujung rambut sampai ujung kaki,” kata Hanna.
“Tapi..mungkin luluran saja dulu, sekalian pijat, badanku agak pegal-pegal,” ucapnya pada petugas salon itu.
“Kebetulan lagi kosong, ayo masuk,” kata petugas itu, Hannapun memasuki ruangan untuk luluran, dia senang sekali dipijat membuat tubuhnya menjadi rileks. Dia lupa kalau Ojol menunggunya di depan.
Berjam-jam disalon itu dia tidak keluar-keluar. Dilihatnya di kaca dia sudah terlihat cantik, badannya juga lebih segar, kulitnya lebih mulus dan harum, dia merasa cantik sekarang. Diapun membayar ke kasir. Ketika keluar dari pintu salon itu, dia terkejut melihat si Ojol tidur di kursi tunggu di depan salon itu.
“Ojol bangun! Ojol! Aku lupa kalau belum membayarmu!” seru Hanna, sambil membangunkan si Ojol. Pria itu menggosok gosokkan matanya dengan tangannya, lalu melihat Hanna.
“Kau sudah beres?” tanya Ojol.
“Aku minta maaf, aku lupa kalau kau menungguku,” jawab Hanna.
“Ya kau lama sekali di dalam, jadi kita kemana lagi?” tanya Ojol.
“Mmm kau antar aku pulang saja, nanti aku bayar sekalian,” jawab Hanna.
“Oke” kata Ojol. Diapun kembali memberikan helmnya. Hanna ragu-ragu soalnya tadi dia sudah creambath juga. Tapi karena kasihan sama Ojol yang sudah nunggu, jadi dia memakai helm itu. Gampanglah nanti creambath lagi.
Merekapun kembali ke jalan raya, mengendarai Moge itu.
“Ojol, kau ngojek berapa pendapatanmu ? Pasti besar ya,” jawab Hanna.
“Tidak juga,” jawab si Ojol.
“Kau tau kan alamat yang tadi ku sebutkan,” Tanya Hanna lagi.
“Iya. Kau tinggal disana?” tanya Ojol.
“Iya, aku baru beberapa hari tinggal disana,” jawab Hanna.
Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah kediamannya Damian. Moge itu parkir tepat di halaman parkir depan.
Hanna turun sambil membuka helmnya.
“Berapa?” tanya Hanna.
“Gratis,” jawab Si Ojol.
“Gratis gimana? Nanti kau rugi. Berapa? Aku bayar,” ucap Hanna sambil mengeluarkan uang ratusan.
“Terserah kau saja,” jawab Ojol.
“Masa terserah. Biasanya berapa? Ini cukup tidak?” Hanna memberikan dua lembar ratusan.
“Ya terserah kau saja,” jawab Ojol itu.
“Kau terserah terserah saja. Kau kan cape bekerja,” ucap Hanna sambil memberikan uang itu ke tangan si Ojol, yang terpaksa menerimanya.
Setelah membayar Ojol, diapun masuk ke rumah yang ternyata pintunya tidak dikunci. Setelah masuk, pintu kembali ditutup dan dikuncinya. Baru juga beberapa langkah, terdengar suara bel pintu. Diapun membalikkan badannya, kembali kepintu dan membukanya. Pria Ojol itu berdiri di pintu.
“Apa lagi? Aku sudah membayarmu. Masih kurang? Ini aku tambah, aku rasa sudah lebih dari cukup,” ucap Hanna, sambil memberikan uang seratus ribu ke tangan OJol itu lalu menutup pintunya dan menguncinya kembali.
“Tadi katanya terserah, sudah diberi dua ratus ribu masih kurang,” gerutunya, kembali berjalan menjauh. Bel pintu kembali berbunyi. Ting nung! Hanna kembali membalikkan badannya menuju pintu.
“Siapa lagi sih ini?” tanyanya dalam hati. Dibukanya kembali pintu itu, ternyata masih si Ojol yang berdiri.
“Oh itu kantong belanjaan kosmetikku yang dari salon tadi. Aduh hampir aku lupa. Terimakasih ya,” ucapnya, sambil mengambil kantong itu, lalu menutup pintu dan menguncinya.
Sekarang dia pergi ke kamarnya dan tidak ada lagi suara denting denting pintu lagi.
Di dalam kamar dia becermin, hemm dia terlihat kinclong sekarang. Untung helm itu standar SNI jadi menutupi wajahnya yang sudah facial di salon tadi sehingga tidak kena debu. Hanya rambutnya saja yang awut awutan kena angin.
Setelah merapihkan rambutnya, Hanna membuka tasnya mengambil kotak cincin itu, cincin yang cantik. Diapun tersenyum, senangnya melihat cincin itu. Diapun teringat mau menemui Ny.Sofia, untuk memberitahu kalau cincin sudah diambil.
Hannapun keluar dari kamarnya sambil membawa kotak cincin itu. Tapi dia tidak tahu ada dimana Ny.Sofia. Coba dia tanya orang di dapur, mungkin Pak Wardi ada di dibelakang, fikirnya. Diapun berjalan menuju ruang belakang.
Dilihatnya seseoang sedang makan di meja makan. Seorang pria yang membelakanginya. Diapun mengerutkan keningnya. Siapa pria itu? Bukankah selain Damian, tidak ada lagi anggota keluarga di rumah ini?
“Hai,” sapa Hanna pada pria yang sedang makan itu. Pria itu tidak menggubrisnya. Masih terus saja makan. Membuat Hanna penasaran, diapun mendekat.
Setelah dekat, dia kaget melihat ada jaket hijau di kursi yang lain yang kososng.
Diapun menoleh pada orang yang sedang makan itu.
“Ojol?” tanyanya dengan kaget, saat melihat orang yang makan itu ternyata Ojol tadi.
“Kau! Sedang apa kau disini? Kau masuk rumah orang sembarangan dan makan seenaknya! Kau sangat tidak sopan!” seru Hanna, sambil meraih piring nasi si Ojol.
Pria itu menatapnya dengan kesal.
“Apa yang kau lakukan? Kembalikan makananku! Aku sudah kelaparan dari tadi,” kata si Ojol.
“Kau ini benar-benar tidak sopan ya. Masuk ke rumah orang seperti maling, dan seenaknya makan disini. Kau kan sudah mendapat uang, kau beli saja makan di luar, jangan menyelinap nyelinap makan di rumah orang. Kau seperti maling saja! Hei jangan-jangan kau mau maling juga ya? “ Omel Hanna, kini menatap si Ojol dengan panadangan curiga. Tangannya masih memegang piring makanan si Ojol.
“Kau membuatku kesal, kembalikan makananku!” teriak si Ojol.
Hanna menyimpan piring di atas meja. Lalu meraih jaket hijau si Ojol.
“Ayo keluar dari sini! Kau lewat mana tadi? Lewat pintu dapur? Ayo keluar! Nanti kalau mertuaku tahu, kau bisa dilaporkan ke polisi, cepat pergi!’ usir Hanna. Sambil menarik tangan si Ojol supaya berdiri, lalu memberikan jaket hijaunya itu ke tangan si Ojol.
“Ayo cepat keluar, ayo! Kau tadi masuk jalan mana? Aku juga tidak tau pintu dapur,” ucap Hanna, sambil melihat sekeliling, mencari pintu keluar dari ruang makan itu.
“Kau tadi lewat mana?” tanya Hanna pada si Ojol. Yang tangannta menunjuk kea rah sebuah Pintu yang tertutup.
“Ayo, ayo cepat keluar, sebelum ketahuan mertuaku. Nanti masa depanmu suram kalau kau sampai ditangkap polisi. Kau kan sudah aku beri uang, beli makan di luar dengan uang jerih payahmu, jangan menyelinap makan dirumah orang, “ usir Hanna, sambil mendorong tubuh si Ojol keluar dari ruang makan itu.
“Ada apa ini?” terdengar suara Ny.Sofia masuk ke ruang makan. Hanna buru-buru menghalangi si Ojol.
“Ini bu si Ojol, mau keluar, tadi sudah mengantarku,” jawab Hanna, melindungi si Ojol.
“Ojol, ayo cepat keluar. Aku kan sudah membayarmu. Terimakasih ya,” ucap Hanna, pura-pura, kembali mendorong tubuh si Ojol yang masih juga belum mau pergi.
“Aku tidak mau pergi,” kata si Ojol.
“Kenapa? Ayo cepat, nati kau dilaporkan ke polisi, ayo keluar,” usir Hanna lagi.
Ny. Sofia menoleh pada si Ojol, senyumnya langsung mengembang.
“Satria, kau sudah pulang?” tanya Ny.Sofia.
“Iya bu,” jawab si Ojol, sambil menghampiri Ny.Sofia dan memeluknya. Hanna terkejut melihatnya. Kenapa si Ojol memanggil Ny,Sofia dengan sebutan ibu? Siapa si Ojol ini? Eh dia baru ingat, kata Damian dia memiliki adik yang sering hiking jarang pulang. Apakah si Ojol ini adiknya Damian? Keringat dingin langsung membasahi keningnya Hanna, tangannya gemetar dan mulai gugup. Jangan-jangan si Ojol memang adiknya Damian. Gawat ini!
“Kenapa kau tidak mengabari ibu?” tanya Ny.Sofia.
“Biasanya juga tidak hahaha..” jawab si Ojol sambil tertawa.
Ny. Sofia menoleh pada Hanna.
“Hanna, ini Satria, adiknya Damian, jadi dia adik iparmu,” kata Ny.Sofia, membuat Hanna terkejut. Ternyata dugaannya benar si Ojol Moge ini ternyata adiknya Damian. Wajah Hanna langsung pucat. Dilihatnya pria si Ojol itu yang menatapnya, seperti akan memakannya.
Bagaimana ini? Dia sudah mengusir usir adiknya Damian, yang berarti adik iparnya. Pantas saja si Ojol ini begitu tampan dan sekilas mirip Damian ternyata adiknya.
Satria mendekati Hanna menatapnya dari atas sampai bawah.
“Kau benar istri kakakku?” tanya Satria.
“I iya,tentu saja, kenapa kau bicara begitu?” Jawab Hanna agak gugup.
Satria menatap Hanna lagi dari atas sampai bawah.
“Kau bukan tipe kakakku,” ucap Satria.
“Apa?” Hanna terkejut.
******************
Lanjut besok ya…
Jangan lupa like, Vote dan komen
Baca juga “My Secretary” season 2 (Love Story in London)