
Damian sudah bersiap-siap akan berangkat ke Luar negeri, dia membuka ponselnya ternyata ada pesan masuk dari informannya tentang alamat rumahnya Bu Vina. Diapun berfikir tinggal di Luar negeri akan lama, apakah sebaiknya dia menemui Vina dulu? Dia ingin memastikan apa benar itu adalah Vina yang dikenalnya dimasa lalu?
Hanna memperhatikan suaminya yang membuka ponselnya dan terlihat gelisah. Dia penasaran apa yang dibaca suaminya itu.
Akhirnya Damian memutuskan akan menemui Vina dulu sebalum berangkat ke Bandara.
Damian menghampiri istrinya yang sedang duduk menunggunya di ruang tamu.
“Sayang, aku ada perlu sebentar, nanti setelah itu baru kita berangkat,” kata Damian pada Hanna.
“Iya,” jawab Hanna, menatap wajah suaminya yang terlihat banyak fikiran.
Damian menyiapkan kendaraan untuk berangkat, Hanna memperhatikannya lewat jendela.
Saat dilihatnya mobil Damian meluncur meninggalkan rumah itu, Hannapun berlari ke jalan, menyetop taxi yang lewat, dia langsung mengikuti kemana Damian pergi.
“Pak ikuti mobil itu tapi jangan terlalu dekat,” kata Hanna pada supir taxi.
Sungguh tidak pernah terbersit sedikitpun selama menikah dengan Damian akan mengalami seperti ini, dia mencurigai suaminya dan mengikutinya padahal dia tahu suaminya sangat mencintainya dan dia begitu percaya hal itu. Selama ini tidak ada tanda-tanda yang aneh pada Damian, sebelum tiba-tiba dia mencari jejak seseorang.
Damian membaca pesan yang ada di ponselnya, alamat rumahnya Bu Vina. Dia menjalankan mobilnya menuju alamat itu. Sekarang mobilnya berhenti dipinggir jalan raya, melihat sebelah kiri sebuah rumah sederhana dengan halamannya yang luas.
Di belakangnya dengan jarak yang tidak terlalu jauh, Hanna mengikuti didalam taxi itu. Dia tidak bisa melihat rumah siapa yang Damian lihat. Dilihatnya Damian turun dari mobilnya,berjalan kaki berbelok ke sebelah kiri.
Hanna segera turun cepat-cepat karena tidak melihat lagi Damian, diapun buru-buru berlari mendekat kearah Damian berbelok, lalu berhenti dibalik tembok sebuah rumah disamping halaman luas dengan rumputnya yang meninggi sepertinya halaman itu tidak terurus oleh pemiliknya. Kepalanya dimiringkan sedikit dan melihat suaminya memasuki halaman sebuah rumah.
Sayang sekali rumahnya lumayan jauh dari jalan raya jadi Hanna tidak akan bisa melihat pemilik rumah itu dengan dekat karena tidak ada tempat bersembunyi yang lebih dekat dan pasti ketahuan kalau dia mengikuti Damian.
Damian melangkahkan kakinya menuju rumah itu dengan ragu-ragu, dia tidak tahu apakah langkahnya ini benar atau tidak. Kakinya mulai menginjak teras rumah itu yang ternyata pintunya terbuka. Damian bisa melihat kedalam rumah itu yang memiliki perabotan yang sederhana. Dia menghela nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya.
Hanna melihat suaminya mematung saja di teras didekat pintu yang terbuka, dia semakin penasaran tapi sayang dai tidak bisa mengikuti lebih dekat. Jadi terpaksa dia hanya bisa berdiri di balik tembok itu.
Bu Vina yang sedang berada dikamarnya, menajamkan telinganya,dia merasa mendengar langkah kaki menginjak lantai teras rumahnya.
“Bi! BI Ijah!” panggil Bu Vina.
Damian yang sedang berada diluar mendengar suara itu, diapun menajamkan pendengarannya, mengingat-ingat apakah dia mengenal suara itu?
“Bi! Apa ada tamu diluar? Aku mendengar suara kaki diluar! Kau lihatlah!” teriak Bu Vina lagi tapi yang dipanggilnya belum menjawab.
Damian mengetuk pintu beberapa kali tanpa bicara.
“Siapa? Tunggu sebentar!” Jawab Bu Vina.
“Bi! Bi Ijah, lihat siapa diluar!” panggil Bu Vina.
“Apa Martin pulang lagi?” tany Bu Vina, tapi tidak mungkin Martin, baru saja Martin pulang.
“Tunggu sebentar!” jawab Bu Vina lagi, dia pun menggapai gapai tangannya, berusaha bangun dan berjalan dalam gelap. Dia kembali mengerjap-ngerjapkan matanya, sekarang penglihatannya benar-benar gelap, Dokter Arfan sudah memberitahu sebelumnya tentang kankernya yang akan menyerang saraf mata, sepertinya inilah saat itu dan dia harus bisa sabar menerimanya.
Bu Vina sudah sampai dipintu, tangannya memegang pintu kamarnya.
“Siapa? Tunggu sebentar,” kata Bu Vina lagi, dia kembali berjalan menggapi-gapai tembok.
Damian tidak menjawab sepatah katapun, dia hanya diam, dia merasa resah dan gelisah apakah yang akan ditemuinya ini benar-benar Vina yang dia kenal dulu?
“Kau siapa? Kau ada perlu pada siapa?” tanya Bu Vina, muncul diruangan dalam, melangkah perlahan dengan tangan yang menggapai-gapai dan meraa apapun yang ditemuinya.
Damian tertegun saat melihatnya. Wanita itu, wanita yang dicarinya itu tidak bisa melihat? Dia terkejut bukan main. Wanita yang dikenalnya sejak lama itu ada didepannya tapi tidak bisa melihat kehadirannya. Hatinya langsung merasa sedih, dia tidak tega melihatnya.
Damian akan bicara tapi terhenti tiba-tiba karena Bu Vina mulai bicara.
“Hei, apa kau masih ada disana? Kau bertamu kerumahku mau apa? Ada perlu apa?” tanya Bu Vina, tangannya terus menggapai-gapai bahkan sekarang sudah sampai di pintu rumah yang terbuka itu, tepat di depannya Damian.
Damian berdiri mematung menatapnya, dia tidak percaya dengan pandangannya, wanita itu tidak melihatnya meskipun dia berdiri didepannya.
“Tamunya sepertinya sudah pergi,” gumam Bu Vina.
Bu Vina mengerjap-ngerjapkan matanya, dia menghela nafas panjang, mencoba menangkap cahaya atau bayangan yang mungkin akan sedikit tertangkap matanya tapi sia-sia, sedikit cahaya diluarpun tidak bisa dilihatnya.
Terdengar suara seorang wanita dari belakang.
“Bu Vina! Ibu memanggil saya?” tanya suara itu.
Damian buru-buru berlindung dibalik tembok dekat pintu.
“Maaf Bu, saya ada dikamar mandi tadi, saya sakit perut,” jawab Bi Ijah.
“Tidak apa-apa, sepertinya tadi ada tamu, mungkin sekarang sudah pergi, mungkin kesal menunggu karena aku lama tidak keluar. Mataku sudah benar-benar gelap aku tidak bisa melihat jalan,” kata Bu Vina, tangannya meraba-raba pintu.
Bi Ijah langsung meraih pintu itu, matanya melihat keluar, dia hanya melihat sekilas ada mobil terparkir dipinggir jalan raya. Namanya juga jalan raya jalan umum, pasti akan ada saja mobil yang parkir disitu.
“Ibu sama sekali tidak bisa melihat sekarang?” tanya Bi Ijah sambil menutup pintu rumah.
“Iya Bi, sekarang penglihatanku sudah gelap,” jawab Bu Vina.
“Ibu yang sabar ya Bu, harusnya ibu tidak meninggalkan rumah sakit, pengobatannya belum selesai,” kata Bi ijah.
“Tolong bantu aku kekamarku lagi saja,” ujar Bu Vina.
Bi Ijah memegang tangannya Bu Vina membantunya berjalan ke kamarnya lagi.
Damian keluar dari persembunyiannya. Dia tidak tahu harus bicara apa pada Vina. Wanita itu ada tapi tidak melihat kehadirannya, ternyata benar wanita ini adalah wanita di masa lalunya.
Damian melihat jam tangannya dia terlalu lama meninggalkan ruamh, pasti Hanna sedang menunggunya. Diapun membalikkan badannya meninggalkan rumah itu.
Hanna yang berada di balik tembok, melihat Damian kembali, buru-buru berlari menuju taxinya dan segera masuk.
Tidak berapa lama mobil Damian melaju meninggalkan jalanan itu.
“Kita pulang ke rumah tadi, cari jalan memotong supaya cepat sampai,” kata Hanna pada Pak Supir.
Dia sengaja memotong jalan jangan sampai Damian sampai dirumah lebih dulu, nanti ketahuan kalau Hanna keluar rumah.
Akhirnya Hanna berhasil juga sampai lebih dulu. Tentu saja lebih dulu karena Damian menjalankan mobilnya dengan pelan, dia masih teringat wanita yang tidak bisa melihat itu, dia tidak menyangka nasib Vina akan seperti itu.
Damian mencoba menelpon seseorang tapi telponnya tidak diangkat sudah beberapa kali. Akhirnya dia melajukan mobilnya menuju rumah.
Hanna menunggu diruang tamu dengan gelisah, koper koper sudah dimasukkaan kedalam mobil tapi suaminya belum juga datang. Seharusnya suaminya tidak terlalu terlambat datang, mungkin dijalanan macet, fikirnya.
Hanna kembali memikrikan wanita yang ditemui Damian. Karena tadi dia berdiri dikejauhan dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah wanita yang ditemui Damian. Dia hanya melihat seorang yang memakai baju cream itu seorang wanita yang berdiri di pintu. Entah apa yang dibicarakan oleh Damian dengan wanita itu, karena tidak berapa lama Damian keluar dari teras itu. Tapi tunggu, bukankah tadi suaminya itu seperti bersembunyi? Dia bersembunyi dari siapa padahal dia sudah bertemu dengan wanita itu. Sangat membingungkan.
Hanna benar-benar ingin tahu wanita itu. Ada hubungan apa wanita itu dengan Damian?
Terdengar suara mobil Damian memasuki halaman rumah itu. Hanna pura-pura membaca tabloid, dia juga mimun air putih supaya dia lebih tenang.
Kini terdengar langkah kakinya Damian masuk ke rumah.
“Sayang, kita berangkat sekarang? Maaf kau menunggu lama, dijalan macet,” ujar Damian.
“Iya,” jawab Hanna, menyimpan tabloid di meja, langsung berdiri menatap suaminya.
Damian tersenyum, mendekatinya, memeluknya dan menciumnya, tapi tidak berkata apa-apa.
Tiba-tiba terdengar ponsel Damian berbunyi.
“Sayang, kau masuk duluan, aku terima telpon dulu sebentar,” ucap Damian sambil menjauh dari Hanna.
“Bapak tadi menelpon? Maaf tadi saya sedang meeting diruang lain, ponsel tidak dibawa,” kata suara disebrang telpon.
“Kau cari tahu penyakit apa yang dideritanya, kenapa dia sampai tidak bisa melihat?” tanya Damian.
“Baik Pak,” jawab suara disebrang.
“Sekalian kau cari tahu pengobatannya, apakah butuh biaya besar?” kata Damian lagi.
“Baik Pak, nanti saya hubungi rumah sakit itu,” jawab suara disebrang.
“Kau kabari aku secepatnya,” ucap Damian.
“Baik Pak.”
“Oh ya satu lagi,” kata Damian.
“Dari awal pencarian kau tidak memberitahuku, apa dia punya anak?” tanya Damian.
“Maaf Pak saya tidak membahas itu karena saya fikir informasinya tidak dibutuhkan, Bu Vina punya satu anak seorang gadis,” kata informan itu.
“Apalagi?” tanya Damian.
“Hanya itu,” jawab informan itu.
“Kau cari tahu anaknya juga, aku tidak melihat ada anaknya dirumahnya tadi,” kata Damian.
“Baik Pak,” jawab informan itu.
Tidak berapa lama telponpun ditutup. Damian segera menuju mobilnya, istrinya sudah menunggunya didalam mobil.
**********