
Satpam yang bertugas di gerbang rumahnya Pak Louis, tampak sedang berada didalam pos, sedangkan dua orang lagi berdiri didepan gerbang.
Sebuah motor bebek dengan begitu banyak barang di depannya berhenti tepat di depan gerbang rumahnya Pak Louis. Tampak seorang pria menggunakan jaket hitam yang menutupi seragam kemeja berwarna merah di modifikasi dengan warna putih, menggunakan helm berwarna merah dan berkaca gelap.
Tiid Tiid Tiid! Pengendara motor itu membunyikan klaksonnya.
“Paket!” teriak pengendara motor itu.
“Buat siapa?” tanya pria tinggi besar yang berjaga digerbang.
Kurir itu turun dari motornya, mengambil sebuah paket lalu melihat plat nomor rumah yang menempel di tembok samping gerbang .
“Nomor 112,” gumamnya.
“Betul ini!” ucap pengendara itu masih menggunakan helmnya.
“Paket buat siapa?” tanya satpam, melongokkan kepalanya dari pos.
Kurir itu membaca lagi sebuah paket yang dipegangnya.
“Buat Hanna Ananta putri,” jawab kurir itu.
“Sini paketnya!” kata penjaga, mengulurkan tangannya lewat pagar. Tapi tentu saja paket itu lumayan besar tidak akan bisa lewat besi-besi pagar itu.
Pak Satpam membuka pagar rumah Pak Louis.
“Mana paketnya?” tanya Satpam.
“COD Pak,” jawab kurir itu.
“COD?” tanya Satpam yang berdiri di samping pagar yang terbuka itu.
“Bayar ditempat, harus ditandatangani dan difoto oleh penerima langsung, notesnya begitu,” jawab kurir.
Para penjaga itu saling pandang.
“Ya sudah boleh masuk, bawa motormu, aku panggilkan non Hanna,” kata Satpam.
Kurir itu kembali naik ke motornya, lalu dinyalakannya, menjalankannya masuk kehalaman rumahnya Pak Louis.
Pak Satpam masuk ke teras rumah, mengetuk pintu beberapa kali.
“Non! Non Hanna!” pangilnya. Pintu itupun terbuka, seorang Asisten rumah tangga menatap pria itu.
“Ad apa? Non Hanna ada dikamarnya,” ucapnya.
“Ada paket COD harus diterima non Hanna langsung,” kata Satpam itu.
“Ya sudah, kau kembali ke pos, aku mau memanggil non Hanna,” kata Asisten rumah tannga itu, sambil masuk kedalam rumah.
Kurir itu turun dari motornya tanpa melepas helm dan membawa lagi paket yang tadi, beserta kertas dan sebuah handphone.
Asisten rumahtangga itu mengetuk pintu kamar Hanna beberapa kali.
“Non! Ada paket! COD! Katanya harus diterima langsung oleh Non!” kata ART itu.
Hanna yang sedang berada dikamarnya dengan aktifitas yang tidak jelas, hanya tiduran saja.
“Apa? Paket COD?” tanya Hanna, dia keheranan karena dia tidak merasa belanja barang online, hapenya saja ada di rumahnya Damian.
“Iya COD,” jawab ART itu.
Akhirnya Hanna bangun dengan malas meskipun bingung, COD apa, berapa dia harus membayar barang itu? Dia tidak merasa belanja apa-apa.
“Mana?” tanya Hanna sambil membuka pintu.
“Abang kurirnya di depan,” jawab ART itu, lalu dia pergi menuju ruang belakang rumah.
Hanna melihat seorang pria berjaket hitam dengan dalaman kemeja seragam merah modifikasi putih dan helm yang juga merah berdiri dipintu dengan sebuah paket terbungkus rapih.
Hanna menghampiri kurir itu, yang malah berdiri menatapnya, saat dia muncul dipintu.
“Paket dari mana? Aku tidak merasa membeli barang online,” tanya Hanna, menatap pria berhelm tertutup kaca hitam itu lalu pada paket yang dipegangnya.
“Ini paketnya,” kata kurir itu memberikan paket itu, Hannapun menerimanya.
“Paket apa sih? Berapa aku harus membayar, ini apa sih isinya,” gumam Hanna sambil membaca tulisan di paket itu lalu membolak balik kotak itu.
“Berapa?” tanya Hanna.
“Sudah dibayar,” jawab kurir itu membuat Hanna terkejut.
“Sudah dibayar?” tanya Hanna, sambil menatap kurir itu.
Kurir itu membuka kaca helmnya. Hanna terkejut saat melihat sepasang mata cantik itu, matanya Damian.
“Damian?” gumamnya, dengan bibir yang bergetar. Hanna tidak menyangka pria itu nekat datang ke rumahnya menyamar sebagai kurir. Damianpun menatapnya.
Spontan saja, matanya Hanna langsung memerah, mendengarnya. Butiran airmata itu sudah menggenang di matanya.
“Jangan, jangan menangis,” ucap Damian, dia tidak tega melihat Hanna menangis. Tangannya mengulur mengusap beberapa butir tetes airmata yang jatuh kepipinya Hanna.
“Jangan, jangan menangis,” ulangnya. Hanna tidak bisa berkata-kata apa-apa. Dadanya tiba-tiba saja terasa sesak.
“Kemana Ibumu?” tanya Damian.
“Ibu sudah berangkat ke restaurant,” jawab Hanna, masih menatap Damian.
Sebenarnya dia ingin memeluknya tapi di depan sana ada dua pria yang berjaga di gerbang dan Pak Satpam diposnya, mereka pasti bisa melihat kalau mereka berpelukan.
Jari Damian menyentuh wajah Hanna, mengusap keningnya, ke pipinya, ke hidungnya, terhenti ke bibirnya, karena dia berhelm dia tidak bisa mencium Hanna.
“Aku merindukanmu,” ucap Damian. Menatap Hanna dari balik helmnya.
“Aku juga,” jawab Hanna, tangannya memegang tangan Damian yang ada di pipinya.
“Kau nekat datang kemari,” ucap Hanna.
“Aku tidak tahan ingin melihatmu,” jawab Damian.
Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil di depan pagar. Hanna menoeh kearah pagar, sedangkan Damian menutup kaca helmnya.
“Cristian! Sebaiknya kau pulang,” ucap Hanna, saat melihat mobil itu sekarang masuk ke halaman rumah itu adalah mobilnya Cristian.
Ada rasa cemburu menjalar di dadanya Damian. Cristian bisa dengan bebas masuk kerumah ini, sedangkan dirinya harus berpura-pura menjadi kurir COD an.
Damian menutup kaca helmnya yang hitam.
Mobil Cristian berhenti di dekat motornya Damian. Cristian menoleh pada motor itu. Sepertinya ada petugas paket, diapun turun dari mobilnya.
“Sebaiknya kau pulang,” ucap Hanna, menatap Damian.
”Aku mencintaimu,” ucap Damian.
“Aku juga mencintaimu,” balas Hanna.
“Hanna!” terdengar suara Cristian memanggilnya, membuat Hanna menoleh.
“Ada pengantar paket?” tanya Cristian.
“Iya, aku belanja online,” jawab Hanna.
“Oh,” ucap Cristian, setelah dekat.
Damian membalikkan badannya melangkah melewati Cristian.
“Tunggu!” ucap Cristian, membuat Damian menghentikan langkahnya.
Hanna langsung deg-degan saja melihat Cristian menghentikan Damian.
Cristian mendekati Damian yang membelakanginya.
“Sekarang Hanna milikku, aku akan menikah dengannya, aku harap kau tidak menemuinya lagi,” kata Cristian, mendengar perkataan Cristian, Hanna terkejut, jadi Cristian mengenali kalau kurir itu Damian.
“Kau ini bicara apa? Dia petugas paket,” ucap Hanna.
Cristian mengabaikan perkataan Hanna, dia masih menatap Damian yang memunggunginya.
“Hanna tidak pernah belanja online, biasanya aku yang mengantarnya belanja,” kata Cristian.
Mendengar perkataan Cristian, emosi Damian tersulut, diapun membalikkan badannya, tapi Hanna segera berdiri diantara dua pria itu.
Dia menatap Damian.
“Paketnya sudah aku terima,” kata Hanna, maksudnya supaya Damian segera pergi.
Damian menahan nafas mencoba menguasai dirinya, menatap Hanna sebentar lalu membalikkan badannya melangkah menuju motor yang terparkir itu.
Hanna berdiri menatap kepergian Damian, hatinya merasa sedih harus berpisah lagi dengan Damian, hatinya sedih untuk bisa bertemu dengannya saja Damian harus berpura-pura jadi kurir segala. Dilihatnya paket yang ada di tangannya. Lalu membalikkan badannya menatap Cristian.
Hanna tidak bicara apa-apa, dia masuk ke dalam, Cristian mengikutinya.
Damian menghentikan motornya di luar gerbang, dia pura-pura merapihkan barang-barangnya, padahal melihat Hanna yang masuk kedalam rumah dengan Cristian.
Hatinya semakin hancur, dia merasa sangat patah hati, wanita yang di cintainya telah pergi, entah harus memakai cara apa supaya Hanna bisa kembali padanya. Melihat Cristian dengan mudahnya masuk kerumah itu Damian menebak kalau mereka ada kemungkinan akan dinikahkan kembali. Tidak bisa, dia tidak boleh sampai didahului Cristian.
Damian teringat sarannya Satria meminta ibu tirinya untuk melamar Hanna, apa dia perlu melakukannya? Meminta bantuan pada ibu tiri yang telah memisahkannya dengan ibunya?
Setelah melihat Cristian dan Hanna masuk, Damian pun kembali naik motornya, menjalankannya pelan menyusuri jalanan yang ramai itu, dia kembali menuju rumahnya.
**************