
Hanna merasakan angin sejuk disekitarnya, tapi bukan dingin AC, membuatnya penarasan dan membukakan matanya, dilihatnya hanya selimut yang ada dipandangannya, rupanya dia masih tidur di dalam selimut. Dibukanya selimutnya itu dengan susah. Kenapa selimut itu begitu susah dibuka, hinggu Buk! Diapun terjatuh.
“Aduh!” Diapun segera menarik selimut yang menutupi wajahnya. Ternyata dia berada di dalam mobil yang terparkir. Kepalanya melihat ke kaca Jendela yang terbuka.
“Ada dimana ini?” gumamnya, lalu melihat sekeliling mobil, diapun mengerutkan keningnya, ini bukan mobil yang digunakan Damian di Bali. Jadi ada dimana dia? Pria itu juga tidak ada.
Hannapun keluar dari mobil itu, masih menggunakan baju tidurnya.
“Damian! Damian!” panggilnya, sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ternyata mobil itu terparkir disebuah rumah yang cukup besar hanya sepertinya bangunannya sudah sangat lama terlihat dari model rumahnya yang memiliki pintu dan jendela kayu yang besar besar, tapi rumah itu terlihat terawat dan bersih.
“Apa Damian ada di dalam? Tapi pintunya tertutup,” gumam Hanna. Akhirnya Hanna mencari Damian berkeliling sekitar rumah itu, tapi tidak ditemukannya juga.
“Kemana dia?” gumamnya. Langkahnya kembali ke mobil. Dilihatnya kunci mobil masih tergantung, diapun masuk dan duduk dibelakang kemudi. Menunggu Damian dengan sabar, tapi pria itu masih juga belum muncul.
Hannapun menyalakan mobilnya, menyetel radio yang ada dimobil itu, mencari-cari siaran music. Tangannya menghentikan menekan chanel saat mendengar pengumuman di radio. Berita orang hilang. Diapun mendegarkannya.
Bernama Hanna, ciri-ciri, menghilang dengan menggunakan baju pengantin, menumpang sebuah mobil. Kepalanya langsung bedenyut denyut mendengarnya. Apakah dia benar-benar harus pulang? Dia juga rindu pada ibunya. Tapi kalau pulang, dia pasti disuruh menikah lagi dengan Cristian.
“Kau sudah bangun rupanya,” terdengar suara Damian mengejutkan. Pria tampan itu sudah berdiri di dekat mobilnya.
Hanna menoleh pada Damian yang sedang menatapnya.
“Kalau dia pulang, apakah Damian akan sedih?” batinnya.
Damian menghampiri dan memberikan sebuah selebaran. Hanna mengambilnya dan membacanya. Berita orang hilang dan ada foto dirinya.
“Berita itu ada dimana-mana, di berbagai daerah,” kata Damian, bersandar pada kap depan mobil, di dekat kemudi.
“Apa kau akan pulang?” tanya Damian.
“Apa kau ingin aku pulang?” Hanna balik bertanya. Damian tidak menjawab.
“Bagaimana dengan ibumu? Apa kalian sudah bertemu?” tanya Hanna, menatap Damian, dia masih duduk dibelakang kemudi.
“Ternyata ibuku sudah pergi dari kemarin malam, jadi aku tidak bertemu dengannya,” jawab Damian dengan lesu.
“Sayang sekali. Kau tidak tahu ibumu pergi kemana?” tanya Hanna.
“Tidak, hanya ada yang melihatnya meninggalkan rumah ini kemarin malam,” jawab Damian.
“Jadi ini rumah kakek nenekmu?” tanya Hanna, sambil melihat ke rumah di depannya itu.
“Iya,” jawab Damian.
Terdengar handphone Damian berdering, diapun mengangkat telponnya.
“Ada apa?” tanya Damian.
“Tentang propsosal real estate itu Pak. Pak Louise sudah bersedia bekerja sama dan ingin bertemu untuk menindaklanjuti kerjasamanya,” jawab Pak Indra, dari sebrang sana.
“Baiklah, apa kau akan menyusul kesana? Aku mungkin sampai disana besok siang. Aku sedang berada di rumah kakek nenekku,” kata Damian. Akhirnya telponpun ditutup.
“Ayo kita pergi,” ajak Damian, sambil membuka pintu mobil.
“Kau mau bawa aku kemana lagi? Bukankah kita baru sampai?” keluh Hanna, sambil menatap Damian. Dia merasa lelah harus mengikuti Damian kemana-mana.
Damian melongokkan wajahnya ke dalam mobil menatap wajah Hanna dengan dekat, sampai Hanna memundurkan wajahnya menjauh.
“Apa lagi yang bisa aku lakukan selain membawamu?” tanya Damian, menatap mata indahnya Hanna yang bulat.
“Apa tidak bisa kita menetap dalam satu tempat? Kau lihat? Aku bahkan hanya menggunakan baju tidur dari satu kota ke kota lain,” keluh Hanna lagi, melirik bajunya sekilas.
Damian terdiam sejenak.
“Kita akan menetap kalau kita sudah menikah,” jawab Damian.
“Apa? Menikah? Kau akan menikah denganku? Ah tidak-tidak, aku tidak akan menikah denganmu!” ucap Hanna, sambil mendorong tubuh Damian keluar dari mobil, diapun turun dari balik kemudi itu.
“Memangnya kenapa tidak mau menikahku?” tanya Damian, sambil masuk ke mobil, duduk dibelakang kemudi, tempat Hanna duduk tadi.
Kini Hanna yang memasukkan kepalanya ke dalam mobil, membuat Damian terkejut, berbalik dia yang memundurkan wajahnya.
“Kau singgah dari satu kota ke satu kota yang lain, aku yakin ditiap kota itu akan banyak Maria Maria yang lain,Hem?” Hanna mencibir pada Damian.
“Kau asal bicara,” kata Damian.
Hanna mau menggerakkan kepalanya keluar, tangannya menahan pada kemudi, tapi yang dia pegang bukan pegangannya malah menekan klakson dengan keras.
Tuuuuuut! Bunyi klakson itu sangat keras.
Hannapun terkejut dan spontan menjauh dari arah suara dan Bruk, menabrak Damian yang segera memeluknya. Wajah Hanna langsung memerah, ini pertama kalinya Damian memeluknya sambil menatapnya seperti ini. Jantung Hanna berdegup kencang tidak karuan, kenapa mereka harus berpelukan seperti ini? Kenapa dari hari ke hari pelukan ini terasa lain? Beberapa detik mereka hanya diam dan menatap. Damian tidak melepas tatapannya juga pelukannya, membuat Hanna semakin salah tingkah dan gugup.
“Woi! Dilarang mesum!” tiba-tiba terdengar suara teriakan anak-anak laki-laki tanggung bersama teman-temannya sambil belarian dan tertawa-tawa.
“Kami suami istri!” balas Damian juga berteriak.
Hanna menempelkan telapak tangannya ke wajah Damian.
“Suami istri dirimu!” gerutunya, lalu melepaskan tangan Damian dari pinggangnya, diapun keluar sambil melirik pada kemudi itu, kenapa klaksonnya bebunyi keras sekali, runtuknya dalam hati.
“Aku perlu mandi!” kata Hanna.
“Ya masuklah. Nanti kita cari penginapan di jalan saja. Besok siang aku ada meeting,” jawab Damian.
Hannapun berjalan memutar, lalu masuk ke dalam mobil disamping Damian. Tidak berapa lama Damian menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Hanna memasang kedua telapak tangannya di depannya, menggerak gerakkan jarinya, seperti sedang berhitung.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Damian.
“Aku sedang berhitung,” jawab Hanna.
“Mengitung apa?” tanya Damian.
“Menghitung kira-kira berapa pacarmu jika dalam satu minggu kau berada dalam 3 kota yang berbeda,” jawab Hanna.
“Apa?” tanya,Damian terkejut, hampir saja dia ngerem mendadak.
“Iya, pacarmu ada berapa semuanya,” jawab Hanna lagi.
“Dalam sebulan, 3 hari x 4 minggu sama dengan 12, dalam setahun 12 x 12 bulan sama dengan berapa ya coba dihitung,” lanjut Hanna, Damian hanya diam saja Tiba-tiba dia benar-benar menghentikan mobilnya.
“Kenapa kau berhenti?” tanya Hanna.
“Kau mengganggu konsentrasiku menyetir,” kata Damian, sambil menggerakkan tubuhnya menghadap Hanna. Tangan kanannya memegang sandaran kursinya Hanna.
“Apa kau sudah dapat angkanya?” Damian balik bertanya.
“12 x 12 sama dengan 144. Dalam setahun pacarmu ada 144,” jawab Hanna.
“Terus?” tanya Damian.
“144 wanita dalam setahun. Apakah di tahun berikutnya kau berganti wanita atau masih wanita yang sama? Kalau berganti wanita berarti 144 x berapa tahun kau bekerja,” Hanna kembali mengerakkan jarinya, keningnya semakin berkerut mengalikan angka-angka itu. Tangan kanan damian menurunkan jari-jarinya Hanna yang direntangkan tadi.
“Daripada kau capek capek menghitung, kenapa kau tidak tanya padaku saja?” tanya Damian.
Hanna langsung menatapnya.
“Memangnya akan kau jawab?” tanya Hanna. Damian mengangguk.
“Baiklah, coba aku bertanya,” kata Hanna dengan serius. Damian mengangguk lagi.
“Damian, berapa jumlah pacarmu?” tanya Hanna.
“Kau kalikan saja masa kerjaku dikali 144 mu itu,” jawab Damian, membuat Hanna memberengut, tangannya langsung menekan klakson berkali-kali, mendelik sebal pada pria itu.
Damian kembali menjalankan mobilnya. Puas rasanya mengerjai wanita kepo itu.
“Damian, aku serius, apa pacarmu sebanyak itu?” tanya Hanna.
Damian tidak menjawab.
“Damian!” teriak Hanna. Damian masih diam saja.
“Haa sudah bisa dipastikan memang sebanyak itu,” kata Hanna.
“Apa gunanya aku bilang padamu,” akhirnya Damian bicara.
“Ya aku ingin tahu saja, berapa pacarmu? Kau tidak mungkin tidak punya pacar kan?” tanya Hanna.
“Kau ingin jawaban apa?” Tanya Damian.
“Aku?” Hanna menunjuk dadanya.
“Iya, kau ingin jawaban apa dariku?” kata Damian.
“Aku ingin kau menjawab sejujurnya,” jawab Hanna.
“Kenapa aku harus menjawab sejujurnya?” Damian balik bertanya.
“Ya aku ingin tahu saja, berapa pacarmu,” jawab Hanna.
“Jika pacarku berjumlah 144 apa kau mau jadi yang ke 145 ?” tanya Damian.
“Itu tawaran yang sangat tidak bagus!” gerutu Hanna.
“Jadi kau maunya jadi pacar yang ke berapa?” Tanya Damian.
“Ya harus pacar satu-satunya, buat apa jadi yang ke 145?” jawab Hanna.
Tiba-tiba Damian menghentikan lagi mobilnya.
“Ada apa lagi? Kenapa mobilnya berhenti?” tanya Hanna, menoleh pada Damian. Damian kembali
menghadap Hanna.
“Jadi… kau mau jadi pacarku satu satunya?” tanya Damian, menatap Hanna. Mendengar pertanyaan Damian membuat Hanna terkejut.
“Kau tidak sedang menembakku kan?” tanya Hanna.
“Aku tidak punya senapan untuk menembakmu,” jawab Damian.
“Kenapa kau bertanya begitu?” tanya Hanna lagi, balas menatap Damian, pria itu tidak melepaskan tatapannya sama sekali.
“Kau belum menjawab pertanyaanku,” kata Damian.
“Kalau aku jadi pacarmu satu-satunya?” Ulang Hanna. Damian mengangguk.
Jantung Hanna langsung saja berdetak tidak karuan, ini Damian sedang menembaknya atau apa? Kalau dia menembaknya, dia serius tidak? Bukankah seharusnya pria menyatakan cinta dengan romatis? Tidak dengan teka teki begini.
Belum juga Hanna menjawab pertanyaan Damian, terdengar bunyi klakson berkesinambungan.
Tuuuuut!! Tuuut! Toeeeet! Toeeet! Membuat mereka terkejut dan melihat ke belakang mobil, sudah mengantri mobil sepanjang jalan itu. Ternyata Damian lupa meminggirkan mobilnya saat berhenti tadi.
Toeeet! Toeeet!
“Woi Jalan! Wooi Jalan!” teriak para pengemudi, melongokkan kepala mereka keluar dari jendela mobilnya.
Hanna langsung menekan lagi klaksonnya berulang ulang, membalas klaksonan pengemudi itu. Damian hanya tersenyum dan kembali menjalankan mobilnya, barulah kemacetan akibatnya mulai terurai.
Tidak berapa lama, di depan mereka disamping kiri jalan ada sebuah hotel.
“Nah didepan ada hotel. Kita istirahat disana dulu. Kau bisa mandi dan makan disana. Aku juga ada beberapa pekerjaan yang harus aku siapkan buat besok,” kata Damian.
Hanna hanya mengangguk, badannya memang terasa gatal-gatal belum mandi seharian.
“Memangnya kau ada proyek apa?” tanya Hanna.
“Aku akan membuat real estate, di daerah yang waktu itu aku menemukanmu,” jawab Damian, membuat Hanna terkejut.
“Real Estate?” tanya Hanna.
“Iya, kan pantai ini akan di buat menjadi tempat wisata,” jawab Damian.
“Pantai? Kau membuat Real Estate daerah pantai?” tanya Hanna.
“Ya, nanti jika sudah jadi tempat wisata, Daerah itu akan menjadi daerah yang ramai,” jawab Damian.
Bukan itu yang sedang Hanna fikirkan, tapi itu artinya Damian akan datang ka daerah tempat tinggalnya. Apa yang harus dilakukannya?
***********************
Jangan lupa like dan vote ya…
Baca juga karya author yang lain, masih on going.
- “My Secretary” season 2(Love story in London)
- “Kontes Menjadi Istri Presdir”