Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-115 Rencana pernikahan Hanna dan Cristian



Cristian sedang ada dirumah orang tuanya saat Pak Louis menutup telponnya.


“Siapa yang menelpon?”tanya ibunya.


“Pak Louis, dia ada perlu dengan ayah, mungkin akan kesini,” jawab Cristian.


Ibunya menatap Cristian yang terlihat kusut, dia akan beranjak, tapi Ibunya memanggilnya.


“Sayang, apa kau baik-baik saja?” tanya ibunya.


Cristian diam, menghentikan langkahnya.


“Kau tidak baik-baik saja,” ucap ibunya sambil mendekatinya, memegang lengan Cristian. Ditatapnya putranya itu.


“Kau mau cerita?” tanya Ibunya.


Cristian tidak menjawab, ibunya langsung menariknya duduk di kursi panjang.


“Ada masalah?” tanya ibunya. Cristian menunduk lesu.


“Hanna sudah kembali Bu,” jawab Crsitian. Ibunya langsung tersenyum lebar.


“Bukankah itu bagus? Kenapa kau tidak terlihat bahagia?” tanya ibunya.


“Tapi dia memilih bersama pria lain,” Jawab Cristian.


“Apa maksudmu memilih pria lain? Hanna sudah menikah?”tanya ibunya, tidak mengerti.


“Tidak, dia mencintai pria lain,” jawab Cristian.


“Kenapa bisa begitu sayang? Sebenarnya ada masalah apa kau dan Hanna? Selama ini kalian baik-baik saja, kami orangtuamu dan juga orang tua Hanna bingung pada hubungan kalian. Hanna tiba-tiba kabur dan sekarang kau bilang Hanna mencintai pria lain, apa dia selingkuh?” tanya ibunya, keheranan.


“Tidak seperti itu Bu, saat Hanna kabur, dia menumpang mobil seorang pria dan dia ikut dengan pria itu sekarang Hanna jadi mencintai pria itu,” jawab Cristian.


Ibunya menatap Cristian, putranya itu menoleh padanya.


“Aku tidak mau kehilangan Hanna,” jawab Cristian. Ibunya Cristian tidak bicara apa-apa lagi saat Cristian bangun dan meninggalkan ibunya.


Selang satu jam kemudian Ibunya Cristian membukakan pintu saat terdengar bel di rumahnya.


“Pak Louis, silahkan masuk Pak,” kata Ibunya Cristian, membukakan pintu dengan lebar.


“Pak Louis!” terdengar suara dari dalam, suaranya Pak Sony.


“Silahkan masuk! Silahkan! Bagaimana kabarmu?” sambut Pak Sony dengan ramah, memeluk Pak Louis dan membawanya duduk diruang tamu. Merekapun mengobrol sambil bercanda.


“Katamu ada yang ingin kau bicarkana?” tanya Pak Sony, setelah mengobrol sana sini.


“Iya, putriku sekarang sudah kembali,” jawab Pak Louis.


“Hanna sudah kembali? Syukurlah, bagaimana kabarnya?” tanya Pak Sony.


“Dia baik, aku ada rencana untuk melanjutkan lagi pernikahan Hanna dan Cristian, kau tau aku sangat tidak enak dengan kejadian yang sangat memalukan itu,” ucap Pak Louis.


Pak Sony terdiam mendengar perkataan Pak Louis, lalu dia memanggil istrinya.


“Ada apa Pak?” tanya Ibunya Cristian sambil ikut duduk tidak jauh dari suaminya.


“Ini Bu, Hanna sudah kembali ke rumah dan Pak Louis ingin pernikahan putra kita dilanjutkan, menurut ibu bagaimana?” tanya Pak Louis.


“Aku sih setuju-setuju saja, lebih cepat lebih baik, dan tidak pelcu acara terlalu mewah juga tidak apa-apa, asah mereka jadi menikah,” jawab ibunya Cristian.


“Iya aku setuju,” jawab Pak Sony.


“Cuma masalahnya…” Ibunya Cristian terdiam, tampak sedang berfikir-fikir.


“Kenapa?” tanya Pak Sony, Pak Louis menatapnya.


“Aku dengar dari Cristian kalau putrimu menyukai pria lain, apa betul begitu?” tanya Ibunya Cristian, membuat Pak Sony terkejut.  Wajah Pak Louis menjadi pucat karenanya, dia merasa tidak enak pada temannya itu.


“Hanna dan Cristian mungkin ada sedikit masalah, Hanna juga labil orangnya, dia yang menerima lamaran Cristian, dia yang kabur, sangat aneh. Tapi Ibu jangan khawatir, aku akan menyiapkan penjaga supaya Hanna tidak kabur lagi. Selain dengan Cristian, aku tidak percaya laki-laki lain bisa menjaga Hanna,” jawab Pak Louis.


Pak Sony dan istrinya saling pandang.


“Mungkin dengan berjalannnya waktu mereka akan baikan lagi,” ucap Pak Sony.


 Diangguki oleh Pak Louis.


Istrinya segera bangun dari duduknya dan pergi ke kamarnya Cristian.


“Sepertinya ada tamu,Bu?” tanya Cristian, sambil membuka pintu kamarnya.


“Pak Louis datang, ada yang mau kita bicarakan denganmu,” kata ibunya Cristian. Putranya itupun mengangguk. Merekapun kembali menuju ruang tamu.


“Paman,” sapa Cristian pada Pak Louis, sambil tersenyum. Pak Louis menatapnya. Dia bisa melihat kalau Cristian sedang kusut, terlihat dari wajahnya yang muram, itu pasti soal Hanna, dia semakin merasa tidak enak pada keluarga Pak Sony ini.


“Cristian mungkin kau bisa menebak maksud kedatanganku kesini,” kata Pak Louis.


“Maksud Paman?” tanya Cristian.


“Kau tau kan Hanna sudah kembali, jadi kalian bisa melanjutkan pernikahan kalian lagi, kau jangan khawatir aku pastikan Hanna tidak akan kabur lagi,” jawab Pak Louis.


Cristianpun terdiam, apa yang harus di lakukannya? Hanna mencintai Damian, apakah dia akan melanjutan pernikahannya ini?


Ibunya Cristian menatapnya.


“Sayang, ibu rasa tidak ada salahnya kau lanjutkan menikah dengan Hanna, meskipun sekarang mungkin kalian ada masalah, kalian coba mendekatkan diri lagi, pasti tidak akan sulit, setiap hubungan memang suka ada cobaannya,” ucap ibunya.


Pak Sony dan Pak Louis menatap Cristian.


“Baiklah, aku mau melanjutkan pernikahanku dengan Hanna,” ucap Cristian, membuat Pak Sony dan Pak Louis tersenyum lega.


“Baiklah kalau begitu, kira-kira kapan waktu yang tepat untuk pernikahan mereka?” tanya Pak Louis,kemudian.


“Nanti kita bicarakan lagi waktunya, aku mau melihat jadwal kerjaku dulu,” jawab Pak Sony.


“Secepatnya akan lebih baik,” ucap Pak Louis, diangguki Pak Sony.


Ibunya Cristian mengulurkan tangannya menyentuh tangannya Cristian, menatap putranya itu dengan haru. Mengingat putranya akan menikah, mengingatkannya pada ayah kandungnya Cristian. Putranya sampai sekarang tidak tahu kalau Pak Sony bukan ayah kandungnya. Karena hal itu tidak diketahui Cristian maka Cristian tidak tahu kalau dia punya kakak, kakak yang dibawa oleh ayah kandungnya.


Tidak berapa lama setelah bicara hal yang lainnya Pak Louispun pulang meninggalkan rumahnya Pak Sony.


Sampai di rumah, Pak Louis langsung memberitahukan rencana pernikahannya Hanna itu.


“Kau akan menikah dengan Cristian dalam waktu dekat,” kata Pak Louis, berdiri didalam kamarnya Hanna. Bu Astrid duduk di pinggir tempat tidur bersama Hanna.


Hanna yang mendengar perkataan ayahnya hanya diam, dia sudah menebak ayahnya akan melanjutkan pernikahannya dengan Cristian.


“Jadi, kau jangan bertindak macam-macam lagi, jangan membuatku malu lagi, aku tidak enak dengan keluarga Pak Sony, berbaikanlah dengan Cristian, ayah yakin kau akan cepat melupakan pria itu, kau hanya cinta buta saja dengan pria asing itu,” kata Pak Louis.


Hanna masih diam, ibunya membelai rambutnya dengan lembut.


“Pria itu akan dengan mudah melupakanmu, percaya pada ayah, pria seperti dia itu sangat mudah mencari wanita, mungkin sekarang dia juga sudah punya wanita lain, kau jangan terlalu percaya omongannya,” kata Pak Louis.


Hanna masih tidak bicara.


 “Sudah jangan menangis terus, aku sudah minta Cristian supaya datang ke rumah besok untuk menghiburmu, biasanya dia paling pandai membuatmu tersenyum, jangan memikirkan pria itu lagi, kau dengarkan apa yang aku katakan?” tanya Pak Louis. Tidak ada yang Hanna ucapkan.


Setelah kedua orangtuanya keluar kamar, Hanna berdiri di dekat jendela, menatap keluar, diluar sana ada penjaga satu orang, padahal jedelanya pakai teralis, tapi ayahnya menugaskan penjaga disana, terlihat sekali ayahnya tidak ingin dia kabur lagi.


Disentuhnya besi teralis itu, perlahan airmatanya menetes membasihi pipinya, padahal dia sudah seharian menangis, tapi airmata itu tidak pernah kering menganak sungai di pipinya.


Dia merindukan Damian. Tidak ada yang bisa dilakukannya hanya menangis. Dia juga tidak mungkin mencoba kabur-kaburan lagi, ayahnya tidak akan memaafkannya.


Dilihatnya cincin yang melingkar dijari manisnya. Kalau dia menikah dengan Cristian, mungkin cincin itu akan terlepas dari jarinya. Disentuhnya cincin itu, diusapnya dengan lembut.


Dia teringat Damian memasangkan cincin itu dijarinya. Diusapnya cincin 1 gram yang dia sebut cincin bayi itu. Kata Damian cincin itu symbol kalau dia adalah wanita satu-satunya dalam hidupnya.  Mengingatnya membuat Hanna kembali menangis. Dia tidak percaya kalau kata ayahnya Damian akan dengan mudah mencari wanita lain setelah kepergiannya, dia tidak percaya.


************


Malam semakin larut, Damian gelisah dalam kamarnya, ini adalah yang kedua kalianya Hanna pergi, dan kepergian Hanna ini sepertinya kepergian yang tidak akan pernah kembali lagi.


Dulu Hanna bisa kembali padanya, tapi sekarang, dia tidak yakin Hanna akan kembali padanya, dan diapun tidak mungkin membawa kabur Hanna karena Pak Louis pasti tidak akan membiarkannya, dan dia bukanlah pria yang asal usulnya tidak jelas, ada kantornya disini, ada banyak orang yang dikenal Pak Louis, dia tidak bisa gegabah membawa Hanna kabur.


Tidak terasa sudah masuk ke dini hari, cuaca malam itu terasa sangat dingin, Damian sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, dia gelisah, dia sangat merindukan Hanna.


Damian tahu kalau dia punya banyak uang untuk mencari wanita lain yang mungkin lebih cantik dari Hanna, tapi dia tidak mau itu, dia hanya butuh Hanna, istri palsu tercintanya. Dia sangat rindu, apa yang harus dilakukannya sekarang? Rasa rindu itu semakin menumpuk di dadanya.


Tidak terasa sinar matahari mulai muncul,hari telah pagi, Damian benar-benar tidak bisa tidur semalaman. Dia tidak kuat ingin bertemu Hanna,  bagaimana caranya supaya dia bisa bertemu? Damianpun bangun dari tidurnya, dia memikirkan cara supaya bisa bertemu dengan Hanna, dia ingin melihat keadaannya, kira-kira apa yang bisa di lakukannya untuk menemui Hanna?


*************