Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-66 Aku tau kau Hanna



Malam telah tiba. Damian dan Hanna sudah bersiap-siap akan makan malam diluar diundang Cristian. Saat membuka pintu, ternyata Satria sudah siap dan duduk di kursi menunggu mereka.


“Kalian sudah siap? Cristian sudah menunggu di luar,” kata Satria.


“Sudah, ayo,” jawab Damian. Hanna tidak bicara apa-apa. Setiap mendengar nama Cristian rasanya jantungnya mau copot saja, dan kegelisahan menguasai dirinya. Dengan spontan dia memeluk tangan Damian. Sebenarnya Damian merasa aneh dengan sikap Hanna yang seperti tidak mau jauh darinya, tapi dia mencoba membuang jauh-jauh segala pertanyaannya.


Merekapun keluar rumah menemui Cristian yang sedang berdiri bersandar di mobilnya. Dia terlihat sangat tampan malam ini. Sekilas Hanna melihat sosok pria itu memang mirip dengan Damian, kenapa dia selalu merasa seperti itu terus? Mungkin karena body dan tingginya Cristian sama dengan Damian jadi serasa mirip dengan Damian. Padahal sebelum mengenal Damian, dia tidak pernah memperhatikan hal itu. Hanna hanya menunduk saja saat mereka berjalan semakin dekat pada Cristian.


“Kalian mau ikut mobilku semua atau bawa mobil sendiri?” tanya Cristian. Deg! Lagi-lagi jantung Hanna serasa copot, rasanya akan sangat tersiksa setiap saat ada Cristian bersama mereka. Tangannya masih memeluk tangan Damian.


“Aku bawa mobil bersama istriku, mungkin Satria yang akan ikut denganmu,” kata Damian, sambil menoleh pada Satria, membuat hati Hanna tenang tidak jadi ikut mobilnya Cristian.


“Tentu saja, aku akan ikut Cristian, aku tidak mau mengganggu kalian berdua,” sindir Satria sambil tertawa. Tidak ada yang tertawa, akhirnya Satria diam. Bukankah gurauannya lucu? Kenapa mereka tidak tertawa? Tentusaja Cristian merasa cemburu melihat pengantin wanitanya bersama pria lain. Jangankan tertawa, senyum saja dia sebenarnya sangat berat.


“Ayo sayang,” ajak Damian pada Hanna, yang cuma menggangguk dan sama sekali tidak mau menoleh pada Cristian. Entah kenapa Satria merasa ada yang aneh yang dia sendiri tidak tahu apa, serasa ada yang ganjil, sesuatu yang tidak dia ketahui. Diapun masuk ke mobilnya Cristian.


Disepanjang jalan Hanna tidak banyak bicara. Damian meliriknya.


“Apa kau sakit?” tanyanya, kembali focus pada jalanan.


“Tidak, aku baik-baik saja, hanya merasa lelah sedikit,” jawab hanna.


“Sepulang makan, kau tidurlah. Aku ada perkerjaan dengan para arsitek untuk pembuatan siteplan real estate. Jangan menungguku,” kata Damian.


“Aku akan menunggumu untuk memelukmu, aku tidak mau kau mengigau dimalam hari karena pekerjaanmu sangat banyak sekarang, aku tidak mau lelah,” ucap Hanna.


Damian terdiam, apakah itu suara hati Hanna yang mengkhawatirkannya? Tidak terasa ada senyum dibibirnya. Bukankah itu tandanya Hanna perhatian padanya? Dan sepertinya Hanna benar-benar tulus mengatakannya, bukan candaan lagi seperti biasanya atau terdengar seperti sebuah kewajiban yang biasa dia lakukan, memeluknya saat mengigau. Dia merasa bahagia diperhatikan.


“Kau mengkhawatirkanku?” tanya Damian.


“Tentu saja kau kan suamiku,” jawab Hanna, kini tersenyum dan menoleh pada Damian. Pria itu hanya tertawa. Selangkah lagi Hanna selangkah lagi, bersabarlah, aku ingin membawamu menemui ibuku, semoga ibuku bisa cepat ditemukan, batin Damian.


Sampailah mereka di sebuah restaurant. Hanna menatap restaurant itu. Dulu dia pernah makan disini dengan Cristian juga Sherli. Mereka jarang makan ditempat seperti ini, biasanya mereka lebih banyak nongkrong di café sepulang kuliah.


Cristian dan Satriapun tiba duluan di tempat itu, mereka sudah menunggu Damian diluar mobilnya.


“Ayo,” ajak Cristian, pada mereka. Dia masih sempat melirik Hanna yang masih memeluk tangan Damian. Apa salah yang dilakukan Hanna? Tentu saja tidak, karena Damian adalah suaminya, fikir Cristian. Berbeda dengan apa yang difikirkan Hanna, dia seperti merasa Cristian akan memisahkannya dengan Damian.


Saat mereka mendapatkan kursi yang sudah dipesan Cristian, lagi-lagi suasana semakin membuat Hanna terpojok, karena Cristian duduk tepat berada di depannya. Dia duduk bersama Satria yang duduk di depan Damian. Kenapa posisi duduk jadi seperti ini? Sebenarnya Hanna ingin meminta Damian supaya berganti tempat duduk, tapi jika dia mengatakannya bukankah itu terasa sangat aneh? Nanti Damian mengira dia ingin dekat-dekat dengan Satria.


Cristian tampak memanggil pelayan, tidak berapa lama menu segera dihidangkan karena Cristian sudah memesannya lebih dulu.


“Di restaurant ini menu yang terkenal adalah sup ikan, selain ikan bakar tentunya. Kalian pasti menyukainya. Dan ikannya disuplay dari pelelangan ikannya Pak Louis,” kata Cristian. Deg! Jantung Hanna lagi lagi terasa akan copot saat nama ayahnya disebut. Sepertinya Cristian benar-benar ingin membuktikan kalau dirinya adalah Hannanya. Dan itu semakin membuatnya resah gelisah sangat tidak tenang dan gugup. Wajahnya langsung saja berubah pucat.


“Benarkah? Aku langsung merasa lapar,” kata Satria, menatap sup itu yang baunya sangat harum.


“Pak Louis memiliki tempat pelelangan ikan?” tanya Damian.


“Iya, istrinya juga memiliki restaurant seafood yang terkenal, benarkan Hanna?” tanya Cristian keceplosan menoleh pada Hanna, dia merasa terkejut, apalagi Hanna. Tapi Hanna pura-pura tidak mengerti.


“Oh maaf, maksudku apa Nyonya Damian menyukai menu-menu ikan laut?” tanya Cristian meralat kata-katanya.


“Aku tidak terlalu suka ikan,” jawab Hanna, padahal dia suka dengan sup ikan, dia tidak mau, tetap tidak mau mengatakan pada Cristian kalau dia Hannanya.


“Benarkah? Masih ada menu yang lain mungkin kau akan suka,” kata Cristian dengan kecewa, padahal dalam hati dia bicara. Bagaimanapun kau menyangkalnya, aku tau kau Hanna, ucapnya dalam hati.


“Bukankah ikan sangat bagus untuk wanita hamil?” kata Satria menoleh pada Hanna.


“Tapi aku tidak suka,” jawab Hanna, pendek. Satria merenung. Bukankah di rumah mereka Hanna suka makan ikan?


“Mungkin karena kau sedang kurang berselera, kau bisa memesan yang lain,” ucap Damian, juga menoleh pada Hanna.


Tampak beberapa pelayan membawakan menu yang lain ke atas meja mereka.


“Semoga kalau yang ini kau suka,” kata Cristian. Hanna menatap menu itu. Dan dia mengangguk. Dia tidak mungkin menolak semua hidangan yang Cristian pesan, itu akan membuat suasana semakin tidak nyaman. Hanna menatap menu di depannya salah satunya steak daging sapi. Sangat aneh Cristian memesankan steak, Ingatannya kembali pada acara makan malam dengan Damian, Steak yang ternyata tidak ada cincinnya. Apa kali ini steak itu ada cincinnya? Masa setiap steak ada cincinnya? Tidak mungkin Cristian memasukkan cincin ke dalam Steak. Cristian sudah melamarnya kepada orangtuanya dan waktu itu Hanna menerima lamarannya Cristian. Apa sekarang Cristian sengaja untuk mengingatkannya kalau dia pernah menerima lamarannya. Rasanya Hanna semakin tidak sanggup melanjutkan acara makan malam ini.


“Aku makan steak saja,” ucapnya. Damian menoleh kepada wanita yang duduk disampingnya itu. Dia juga teringat kalau Hanna menebak-nebak steak yang ada cincinnya itu, padahal cincinnya ada disakunya dan tidak jadi dia berikan karena Hanna menjatuhkan gelas-gelas dan lilin yang membuat tangannya terluka. Akhirnya lamarannya tertunda. Entah kapan dia ada waktu untuk melamarnya lagi. Dia ingin mengatakan cinta pada wanita ini, tapi kenapa begitu sulit menyatakannya langsung?


“Makanannya untuk dimakan kan? Bukan untuk dilihat saja? Aku sudah lapar,” keluh Satria, dia memegang perutnya yang terasa melilit.


“Ya ya silahkan makan, semoga kalian suka ya,” kata Cristian, dengan ramah.


Mereka makan sambil bercengkrama dan sesekali tertawa jika ada yang lucu. Tidak dengan Hanna. Makanan dimulutnya itu terasa sangat pahit, begitu pahit.


“Sayang, apa kau sakit? Makanmu sedikit sekali?” tanya Damian. Saat melihat Hanna hanya memotong motong steaknya.


Cristian dan Satria menoleh ke arahnya. Hanna lupa kalau seharusnya dia tidak boleh mengundang perhatian semua orang.


“Maaf, aku hanya merasa lelah saja,” jawab Hanna.


“Ya dicoba ya, benar kata Cristian, supnya sangat enak,” kata Damian, sambil mengambil mangkuk kosong dan diisikan dengan sup ikan.


“Ayo makanlah,” Damian menyiukkan sendok ke dalam mangkuk, akan menyuapi Hanna, tapi Hanna buru-buru meraih sendok ditangan Damian.


“Biar aku saja,” kata Hanna, menatap Damian.


“Ya, coba makanlah,” ucap Damian mengalah, membiarkan sendok itu diambil Hanna. Terpaksa Hanna mencoba makan sup itu. Dia sangat suka sup itu, sebenarnya sup itu sangat enak, hanya suasananya yang tidak membuatnya enak.


Perhatian Damian pada Hanna itu membuat Cristian merasa cemburu, biasanya dia yang bersikap perhatian pada Hanna, tidak dengan sekarang, Hanna sudah menikah dengan pria lain. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, nasi sudah menjadi bubur. Dia hanya ingin tahu kenapa Hanna melakukan ini semua padanya? Kenapa Hanna menyakitinya? Kenapa? Apa salah yang telah dia perbuat sampai Hanna berbuat seperti ini? Mempermalukannya dipernikahan, menghianatinya menikah dengan Damian. Apa salah dirinya?


Beberapa menit kemudian, Satria mengambil tisue dan melap mulutnya dengan tisue itu.


“Maaf, aku mau ke toilet,” kata Satria, saat menu makanan di piringnya sudah habis, diapun langsung berdiri meninggalkan meja itu.


Terdengar suara dering telpon Damian. Pria itu melihat handphonenya.


“Maaf aku terima telpon dulu,” kata Damian. Sambil beranjak menjauh dari meja itu, dia pergi  keluar restaurant. Kini hanya mereka berdua, Hanna dan Cristian.


Hanna bangun dari duduknya.


“Maaf aku mau ke toilet,” ucap Hanna.


“Aku butuh penjelasan darimu,” kata Cristian, sambil melap tangannya, suaranya terdengar masih tenang.


“Maaf Pak Cristian, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, permisi,” ucap Hanna, mengelak, dia tetap akan melangkah.


“Mau sampai kapan kau berbohong padaku? Seribu kali kau berbohong padaku kau tidak bisa membohongiku, aku sangat mengenalmu,” kata Cristian, terdengar ada nada kesal sekarang.


“Sekali lagi maaf Pak Cristian, kau salah orang, aku Ny.Damian,” jawab Hanna, dan tanpa menoleh lagi dia cepat-cepat meninggalkan meja itu.


Cristian menghela nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya, kenapa Hanna tidak mau bicara juga dengannya? Kenapa? Apa sekarang Hanna sudah begitu membencinya? Tapi kenapa? Kenapa dia membencinya? Salahnya apa?


Hanna buru-buru menuju toilet, karena tergesa gesa, dilorong dia menabrak seseorang.


“Kakak ipar!” ternyata Satria yang dia tabrak, dia sudah selesai dari toilet pria.


“Satria, maaf,” ucap Hanna agak terkejut, saat menabrak Satria. Buru-buru dia pergi ke toilet wanita. Satria terdiam menatap Hanna pergi, kenapa kakak iparnya itu suka sekali membuntutinya ke toilet? Apa hanya perasaannya saja, kalau ada yang aneh dengan kakak iparnya? Dari awal kakaknya menikah, banyak sekali hal yang ganjil menurutnya, tapi dia tidak terlalu banyak curiga meskipun kakak iparnya suka menyebutnya si kepo.


Setelah selesai makan malam, tidak ada kegiatan apa-apa lagi yang mereka lakukan, mereka langsung pulang.


“Kau akan membantu pekerjaanku?” tanya Damian pada Satria, saat mereka tiba di rumah, sedangkan Cristian pulang sendiri dengan mobilnya.


“Iya, sebentar aku mau menelpon temanku dulu,” kata Satria sambil duduk di kursi ruang tengah itu dan mengeluarkan handphonenya.


Hanna benar-benar merasa lega akhirnya sudah pulang ke rumah. Dia langsung masuk ke kamarnya. Tidak berapa lama Damian mengikutinya.


Dilihatnya wanita itu tidak ada di kamarnya, hanya terdengar suara air dari kamar mandi, mungkin Hanna sedang ada di kamar mandi. Dan benar, tidak berapa lama Hanna keluar dari kamar mandi sepertinya sudah cuci muka. Damian hanya memperhatikannya saat wanita itu duduk di kursi meja rias, melap mukanya yang basah dengan handuk.


“Aku ke kantor dulu, kau cepatlah istirahat, sepertinya kau sedang kurang sehat,” kata Damian.


“Iya,” jawab Hanna.


“Jangan menungguku, kau tidur saja,” ucap Damian lagi. Hanna tidak menjawab kalau yang ini. Dia ingin menunggu Damian pulang, menunggu pria itu tidur mengigau dan akan memeluknya. Tapi dia tidak mengatakannya pada Damian.


Terdengar suara pintu ditutup Damian. Pria itu sudah pergi. Kemudian terdengar suara langkah-langkah kaki menjauh dan menuruni tangga, sepertinya Damian dan Satria sudah keluar rumah.


Hari semakin larut, Hanna masih belum tidur, dia membuka handphonenya membuka galeri, muncul foto-foto rumah di tepi pantai. Hingga tangannya terhenti pada sebuah gambar rumah yang pernah dikirimkan oleh agen penjualan rumah itu, rumah di Bali. Dia menyentuh rumah itu dan tersenyum.


Senang rasanya saat berada di rumah yang harganya 200M itu. Harga yang sangat tinggi yang mungkin tidak akan bisa dia beli, kecuali sekelas Damian.


Jangankan menemani Damian 6 tahun, satu tahun saja rasanya begitu berat. Dia tidak bisa menahan perasaannya, dia sudah melanggar surat perjanjian kalau dia tidak akan jatuh cinta pada Damian. Kini uang yang ber M M itu sudah tidak ada artinya lagi. Yang ada dia sudah jatuh cinta pada pria itu dan sekarang terasa berat untuk melepasnya.


Dilihatnya jam dinding sudah sangat larut, Damian masih belum pulang, Hanna sama sekali tidak mengantuk. Padahal kantor Damian ada dibawah rumah itu, tapi rasanya begitu jauh, sangat jauh. Apa karena dia merasa akan kehilangan Damian?


Hanna membuka pintu rumah, angin dingin terasa masuk ke dalam rumah dan menyentuh kulitnya. Sinar bulan malam ini sangat terang, tapi tidak seterang hatinya. Hanna duduk di tangga rumah itu, memeluk kedua lututnya yang tertekuk. Menatap bulan dan bintang-bintang di langit itu.


Terdengar suara derap langkah menaiki tangga. Sosok yang dia tunggu tunggu datang.


“Kenapa kau belum tidur? Kau menungguku? Sudah aku bilang kau jangan menungguku, kenapa kau tidak tidur?” tanya Damian, keheranan melihat Hanna sedang duduk ditangga sendirian padahal malam sangat larut, bahkan sudah masuk dini hari.


“Aku takut ketiduran dan tidak melihatmu lagi,” ucap Hanna. Damian hanya tersenyum mendegar candaan Hanna.


“Itu bukan candaan Damian, aku serius, aku tau aku tukang tidur, aku takut saat aku terlelap, begitu aku bangun aku tidak bisa melihatmu lagi,” kata Hanna hanya dalam hati, tidak terucap lewat bibirnya.


“Ayo masuklah,” ajak Damian. Hanna segera bangun dan masuk ke rumah diikuti Damian.


*****************