
Ternyata benar kata Satria, bekerja dengan Damian itu sangat tidak menyenangkan. Dia sangat cerewet, lebih cerewet dari emak-emak, banyak protes, bawel banget, ini diomong itu diomong, harus begini harus begitu segala urusan harus perfect. Hanna benar-benar sibuk melayani permintaannya.
“Hanna, coba tanya bagian keuangan harga barang-barang matrial itu sudah dapat yang bagus dan lebih murah tidak?” perintah Damian.
“Hanna, tanyakan juga klausul kontrak kerjasama pihak ketiga, aku ingin lihat daftar harga yang diajukan,” kata Damian, sambil sibuk dengan berkas-berkas di mejanya, tanpa menoleh pada Hanna.
“Hanna blab bla bla…” Damian tidak henti-hentinya memerintah. Entah berapa puluh kali dia masuk ke ruang keuangan, ke ruang administrasi, dan ruang ruangan lainnya, disuruh mengecek ini mengecek itu, kakinya teras pegal, rambutnya acak-acakan, yang tadi pagi sudah berdandan secantik mungkin, kini berubah menjadi kusam dan terlihat lelah.
Keluar dari sebuah ruangan dia bertemu dengan Satria yang langsung menatapnya.
“Apa kau lihat-lihat?” bentak Hanna kesal melihat tatapan Satria yang seperti menertawakannya.
“Hemmm kau sangat mengkhawatirkan,” ucap Satria sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat Hanna kesal dan memukulnya dengan berkas ditangannya.
“Hanna!” terdengar lagi teriakan Damian dari dalam ruangan.
Satria malah cengengesan.
“Hem!” cibir Hanna pada adik iparnya itu, lalu buru-buru keruangannya Damian, kalau tidak, dia akan berteriak lagi memanggil namanya.
Hanna masuk ke dalam ruangan.
“Mana berkasnya? Kau lambat sekali,” ucap Damian, membuat Hanna kesal, dia sudah bekerja secepat mungkin masih disebut lambat. Tidak tahu apa kondisinya sudah acak acakan begini? Kalau tau begini, dia akan buru-buru menelpon Pak Indra supaya kembali bekerja, dia kapok menjadi asistennya Damian.
Hanna berdiri dekat mejanya Damian, pria itu begitu serius membaca berkas ditangannya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Rasa-rasanya dia tidak pernah melihat Damian berteriak-teriak pada Pak Indra, kenapa padanya berteriak teriak? Menyuruh ini menyuruh itu sampai sampai kaya setrikaan bolak balik terus. Belum sepatu hak tinggi yang dipakainya, kakinya terasa pegal dan perih, wajah Hanna langsung cemberut.
“Kenapa? Kau kapok bekerja denganku?” tanya Damain bersandar ke kursinya tanpa menoleh pada Hanna, matanya masih tertuju pada berkas di tangannya.
Hanna menatap wajah Damian. Dia akan bicara tapi terdengar bunyi handphonenya Damian.
“Bu Susan! Apa? Kau sudah menungguku? Memangnya ini jam berap? Apa? Jam 11.30? Aduh Bu Susan, aku minta maaf, aku akan segera menemuimu,” kata Damian lalu telpon pun ditutup.
Damian menatap Hanna yang juga menatapnya.
“Kau tau apa kesalahanmu?” tanya Damian.
“Apa?” tanya Hanna.
“Kau membuat Bu Susan menunggu, tadi aku sudah bilang ingatkan aku jam 11!” maki Damian.
Mendengar Damian memakinya, membuat Hanna merasa sedih. Ingin menangis rasanya saat itu juga. Tapi tidak ada yang dilakukannya. Dia shock Damian segalak itu padanya. Ternyata benar, Damian tidak mencintainya, kalau dia mencintainya dia tidak mungkin tega marah-marah seperti itu padanya.
Damian bangun dari duduknya.
“Aku mau pergi menemui Bu Susan,” ucap Damian. Hanna terdiam, melihat pria itu pergi tanpa mengajaknya.
Sebutir dua butir air matanya menetes disudut matanya. Dia menangis. Apa dia harus berbuat seperti ini hanya untuk mengetahui siapa wanita yang Damian nikahi? Untuk apa? Bukankah itu artinya Damian tidak mencintainya? Kalau Damian mencintainya dan mau menikah dengannya, dia akan mengtakannya sendiri, buat apa dia mencari cari tahu segala? Kalau memang Damian menyukai wanita lain, dia tidak bisa memaksanya untuk menyukainya.
Hanna berjalan menuju sofa diruangan itu, ada rasa perih dikakinya, dilepasnya sepatunya, ternyata kakinya lecet-lecet.
“Aduuh..” keluhnya karena lecet lecetnya terasa pedih, diapun membungkuk meniup niup luka lecet itu.
Dilihatnya ada sepasang sepatu berdiri di dekatnya, lalu dia menengadah melihat siapa yang berdiri itu, ternyata Satria.
“Mau apa kau kemari? Kau mau meledekku?” tanya Hanna.
“Tentu saja, apalagi?” jawab Satria menyebalkan.
“Seharusnya kau mengambilkanku obat untuk mengobati kaki yang lecet lecet ini,” kata Hanna, sambil terus meniup niup kakinya.
“Kalau kakakku tahu aku perhatian padamu, dia akan marah padaku,” ucap Satria sambil melihat kedua tangannya didadanya.
“Dasar kau adik ipar menyebalkan!” gerutu Hanna. Satria hanya diam memperhatikannya.
“Lagipula, dia tidak akan peduli padaku, dia juga tidak akan membawakan obat untukku, dia sedang sibuk dengan Bu Susan itu!” kata Hanna, masih menunduk melihat luka lukanya sambil ditiup tiup.
“Kau yakin?” tanya Satria.
“Tentu saja, mana peduli dia padaku,” gerutu Hanna, lalu menegakkan badannya kembali, menengadah menatap satria, tapi dia terkejut saat melihat yang berdiri di dekatnya bukan Satria tapi Damian. Pria itu memegang sebuah kotak obat dan sepasang sepatu teplek.
Hanna menatap sepatu itu. Dia bingung kenapa jadi Damian yang berdiri di dekatnya? Bukankah Damian tadi mau pergi menemui Bu Susan?
Tanpa bicara apa-apa, Damian berjongkok dan menarik kakinya, mengobati luka lecet itu dengan obat luar.
Hanna meringis merasa perih. Lalu Damian memasang tensoplast di luka luka itu. Hanna juga tidak bicara apa-papa melihat pria itu mengobati luka dikakinya.
“Pakai ini,” ucap Damian sambil mengambil sepatu teplek itu. Hanna memakai sepatu itu, sekarang kakinya tidak terlalu pegal jika berjalan lagi. Hanna masih bingung, ternyata Damian keluar tadi mengambil sepatu tepleknya ke rumah.
“Terimakasih,” jawab Hanna.
“Iya Bu Susan, istriku sakit, sebentar lagi aku kesana,” jawab Damian.
Ada rasa sejuk dihati Hanna saat Damian menyebutnya istrinya, dia sudah lupa kalau tadi Damian marah marah padanya.
“Ayo, Bu Susan sudah menunggu,” ajak Damian, meliriknya sebentar lalu melangkah keluar ruangan. Hanna bangun dari duduknya, diapun melangkah mengikuti Damian. Dilihatnya ternyata satria duduk di kursi kerja kakaknya bersandar menatapnya.
“Punya kakak ipar, banyak tingkah,” keluh Satria dengan pelan tapi terdengar oleh Hanna.
“Awas kau!” maki Hanna.
“Hanna!” teriak Damian.
Satria langsung saja tertawa mendengar kakaknya memanggil kakak iparnya itu.
“Iya!” jawab Hanna sambil buru-buru keluar, tidak memperdulikan Satria yang menertawakannya.
Di jalan tidak ada yang mereka bicarakan. Hanna masih diam, hatinya tidak nyaman Damian marah marah padanya, dia jadi malas bicara dengannya meskipun pria itu sudah mengobati lukanya dan membawakan sepatunya.
Tibalah mereka di restaurant tempat janji Damian dengan Bu Susan.
Hati Hanna kembali down, dia akan kecewa lagi. Dia benar-benar tidak ada artinya buat Damian. Dia menunduk saja berjalan dibelakang Damian.
Melihat Hanna berjalan dibelakangnya, Damian menghentikan langkahnya, dia menoleh ke belakang dan meraih tangannya membawanya masuk.
Lagi-lagi hati Hanna merasa sejuk melihat tangannya di genggam pria itu. Hatinya kembali berbunga-bunga, tapi setelah itu dia kembali bersedih, karena dia sekarang menemani Damian menemui seorang wanita yang dipuji Damian cantik.
Hanna jadi teringat bagaimana berseri-serinya wajah Damian saat menerima telpon dari wanita bernama Bu Susan itu. Hanna menarik nafas panjang, dia harus menguatkan hatinya jika ternyata dia melihat Damian bersikap mesra pada wanita itu. Dari telpon saja bisa seakrab itu pasti kalau beretemupun mereka sangat akrab.
Lagi-lagi Hanna menghela nafas panjang, dia mencoba menenangkan hatinya.
“Selamat siang Pak,” sapa seorang pelayan restaurant.
“Meja nomor 24,” kata damian.
“Iya, silahkan, mari ikut saya,” kata pelayan restaurant itu menunjukkan jalan menuju meja nomor 24.
Hanna menunduk saja mengikuti langkahnya Damian. Dia merasa sedih, dia teringat kata-kata Satria, tidak ada wanita yang bisa menolak Damian. Pria itu tampan dan kaya, semua wanita akan menyukainya, termasuk Bu Susan. Apalah artinya dirinya, dia hanya seorang istri palsu, yang akan ditinggalkan kalau Damian memiliki istri sahnya.
“Selamat siang Bu Susan, maaf kau menunggu lama!” terdengar Damian menyapa seseorang, Damian pun membungkukkan badannya menyalami orang yang duduk itu.
Hati Hanna semakin sedih, ternyata bukan Bu Susan yang berdiri menyambut Damian, tapi malah Damian yang membungkukkan badannya.
“Perkenalkan ini istriku,” kata Damian, menarik tangan Hanna supaya mendekat lalu merangkul bahunya.
Hanna pun menguatkan hatinya dan terpaksa menatap wanita yang bernama Bu Susan itu, sebenarnya dia agak terkejut Damian memperkenalkannya dirinya dengan sebutan istri.
“Halo, aku Susan,” kata wanita itu mengulurkan tangannya ke atas kearah Hanna.
Hanna semakin terkejut, kenapa uluran tangan itu dari bawah, diapun menatap wajah Bu Susan. Melihatnya semakin terkejut lagi, ternyata semua tidak seperti yang dibayangkannya, ternyata Bu Susan bukan wanita cantik sexy yang genit, yang akan merayu Damian, tapi Bu Susan seorang wanita paruh baya yang menggunakan kursi roda. Hanna pun menyambut uluran tangannya Bu Susan.
“Hanna,” jawab Hanna.
“Duduklah, silahkan duduk,” kata Bu Susan.
Damian menggeserkan kursi buat Hanna duduk, sekilas Hanna menoleh pada pria itu, rasanya sikap Damian berubah jadi manis begini.
“Duduklah,”ucap Damian. Hannapun duduk. Setelah Hanna duduk, barulah Damian ikut duduk.
“Maaf kau sudah menunggu lama,” ucap Damian pada bu Susan.
“Tidak apa-apa. Aku mengerti, karena istrimu sakit kan? Bagaimana kau sekarang kau baik –baik saja?” tanya Bu Susan kini menoleh pada Hanna.
Mendengarnya Hanna merasa malu, Damian mengatakan istrinya sakit padahal cuma lecet-lecet doang.
“Aku sudah lebih baik, terimakasih,” ucap Hanna.
“Syukurlah,” ucap Bu Susan lalu menoleh pada Damian.
“Seorang suami memang harus begitu bukan? Harus perhatian pada istrinya, suami juga bekerja kan untuk istri,” ucap Bu Susan.
Wajah Hanna semakin memerah saja, dia merasa malu, dia sudah berprasangka buruk pada Damian. Diliriknya pria disamping itu, kenapa pria itu terlihat sangat tampan sekarang? Tidak seseram saat marah-marah tadi.
Hanna tidak menghiraukan apa yang dibicarakan Damian dan Bu Susan, Hanna tidak begitu mendengarkan obrolan bisnis mereka, yang dia perhatikan adalah suaminya itu terlihat sangat manis.
****************
Jangan lupa like vote dan komen