Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-106 Manjanya ibu hamil



Damian menatap Hanna yang masih disuapi jeruk asam itu. Kepalanya terasa mau pecah saja, sudah masalah pekerjaan sekarang masalah statusnya dengan Hanna.


“Bu!” panggil Damian, menatap Bu Astrid. Ibunya Hanna itu menoleh menatap Damian.


“Aku kesini mau menjemput Hanna,” ucap Damian.


“Mm tidak tidak, biarkan Hanna tinggal disini saja dulu, Ibu masih kangen sama putri ibu dan cucu ibu,” jawab Bu Astrid menggelengkan kepalanya.


Damian menatap Hanna yang malah mencibirnya sambil tersenyum, ternyata Damian tidak bisa dengan mudah membawanya.


“Kau mengidam apa sayang?” tanya Bu Astrid.


“Mengidam? Mengidam apa?”Hanna malah kebingungan.


“Biasanya ibu hamil muda itu mengidam sesuatu, masa kau tidak ingin sesuatu?” tanya Bu Astrid menatap Hanna. Lalu menoleh pada Damian.


“Atau jangan-jangan kau suaminya, tidak perhatian pada istrimu yang sedang hamil? Biasanya wanita hamil muda itu mengidam. Pasti Hanna takut mengatakannya padamu. Apa kau suami yang jahat?” tuduh Bu Astrid, malah memarahi Damian.


“Tidak! Aku tidak begitu!” sanggah Damian, menggelengkan kepalanya, dia kebingungan, apa Bu Astrid tidak tahu kalau dia sangat menyayangi putrinya?


“Mana mungkin tidak begitu? Istrinya mengidam saja tidak tahu!” maki Bu Astrid, membuat Damian merasa tidak enak hati dikira tidak perhatian pada Hanna.


“Kemarin dia mengidam kalkulator, aku sudah membelikannya!” jawab Damian, asal bicara seingatnya saja.


Mendengarnya membuat Hanna cemberut, siapa yang ngidam kalkulator?


“Hanna suka berhitung jadi mengidam kalkulator, sudah aku belikan tadi malam,” lanjut Damian dengan mantap, merasa tidak ada yang salah dengan jawabannya.


Bu Astrid kebingungan mendengarnya. Dia menatap Damian lalu pada Hanna.


“Mengidammu sangat aneh, mungkin nanti bayinya akan pintar seperti..seperti ayahnya, ya kan,” kata Bu Astrid.


“Ya benar, pasti akan pintar seperti ayahnya,” jawab Damian dengan bersemangat, diapun mengangguk dengan bangga.


Mendengar perkataan Damian yang kepedean, Hanna langsung mencibir lagi. Ayah dari Hongkong? Tapi Damian tidak peduli dengan cibiran Hanna.


Bu Astrid menoleh lagi pada Damian.


“Nak Damian harus tahu, kalau ibu hamil itu apalagi hamil muda perasaannya sangat sensitif jadi kau harus memperhatikannya, jangan sampai dia tersinggung atau menangis, kau mengerti?” kata Bu Astrid.


“Ya ya, sensitif, ingin dimanja dan suka menangis,” ulang Damian, menggangguk lagi, seperti kerbau yang dicocok hidungnya, menurut saja apa yang dikatakan Bu Astrid.


Melihat  tingkahnya Damian membuat Hanna menahan tawa.


Damian menatap Hanna yang malah cengengesan. Ini yang disebut wanita hamil yang manja? Huh, maunya dia dimanja-manja begitu, Batinnya.


Bu Astrid melihat kening Hanna berkeringat.


“Sayang, kau kepanasan ya?” tanya Bu Astrid, sambil mengusap keringat dikening Hanna.


“Kau kepanasan ya? Sepertinya ACnya rusak,” kata Bu Astrid lagi, sambil berdiri mengambil remote ac yang menempel didinding di bawah AC, lalu dimatikan dan dinyalakan lagi.


“Nak Damian, coba pintunya ditutup, pantas saja AC nya tidak dingin, pintunya lupa ditutup,” kata Bu Astrid, menyuruh Damian.


Damian bangun dari duduknya lalu menutup pintu.


Bu Astrid kembali menyalakan AC.


“Iya, ternyata AC nya tidak dingin,” ucap Bu Astrid. Damian dan Hanna memperhatikan Bu Astrid. Tiba-tiba Bu Astrid memanggil Damian lagi.


“Nak Damian! Coba kau sini, kau periksa AC nya, padahal ini AC nya baru diservice,” panggil Bu Astrid.


Damian yang baru duduk, bangun lagi dan menghampiri Bu Astrid, yang langsung memberikan remotenya pada Damian.


Damianpun menerimanya dan menyalakan juga mematikan AC nya, mengotak atik settingan diremote itu, ternyata masih panas.


“AC nya rusak,” ucap Damian. Meskipun dalam hati dia bertanya-tanya, kenapa dia yang harus memeriksa AC?


“Kalau begitu coba kau buka lagi pintunya, biar ada angin,” perintah Bu Astrid lagi.


Damian menoleh pada Hanna yang malah senyum senyum melihat Damian disuruh-suruh ibunya. Bu Astrid tampak pergi meninggalkan ruangan itu.


“Kenapa ibumu menyuruh nyuruhku mengecek AC dan membuka tutup pintu? Di kantorku banyak karyawan yang bisa ku suruh suruh, disini, ibumu menyuruh- nyuruh ku,” protes Damian.


“Cuma nyuruh segitu, ga apa-apa lah, itu tandanya ibuku menganggap kau menantunya,” ucap Hanna.


“Menantu juga tidak perlu disuruh-suruh,” keluh Damian, Hanna malah tertawa melihat raut wajah Damian yang kusut.


Tidak berapa lama datang Bu Astrid membawa kipas tangan dan diberikan pada Damian.


“Apa ini?” tanya Damian.


“Kipasi istrimu, dia kepanasan, kasihan bayinya,” ucap Bu Astrid, sambil mengambil remote AC ditangan Damian. Sekarang Damian menatap kipas tangan yang ada di tangannya.


Melihatnya semakin membuat Hanna menahan tawa.


“Aduh Bu, panas sekali, aku sampai berkeringat begini,” keluh Hanna, berpura-pura.


“Nak Damian! Ayo kipasi istrimu! Kasihan dia kepasanan! Kenapa kau diam saja?’ maki Bu Astrid.


“Ya Bu,” jawab Damian sambil mendekati kursi panjang yang diduduki Hanna.


“Jadi laki-laki jangan mau enaknya saja! Suka bikinnya tapi ga mau repot!” gerutu Bu Astrid, menatap Damian yang mengipasi Hanna.


 “Jangan mau enaknya, enak apaan? Kapan aku bikin bayi denganmu?”gerutu Damian pelan, tapi terdengar oleh Hanna.


“Jangan mengeluh terus, kipasin, aku kepanansan!” kata Hanna, malah disengajakan membuat Damian sebal, tapi dia terpaksa mengipasi Hanna daripada harus diomeli ibu mertuanya.


Bu Astrid duduk dikursi dan menatap Damian yang sedang mengipasi Hanna.


“Hanna tinggal disini saja,” kata Bu Astrid.


“Tidak Bu, aku akan membawanya pulang,” jawab Damian, sambil menghentikan mengipasi Hanna.


“Duh gerah,” keluh Hanna, beracting. Damian kembali mengipasai istrinya.


“Soalnya ibu tidak percaya padamu,” kata Bu Astrid.


“Tidak percaya? Tidak percaya bagaimana?” tanya Damian dengan kaget, kembali menghentikan kipasannya.


“Mengipasi istrimu saja kau tidak mau, apalagi mengurus yang lainnya. Kasihan Hanna, dia hamil, seharusnya kau memanjakannya,” kata Bu Astrid.


“Punggungku terasa pegal,” ucap hanna.


“Kau pegal sayang?” tanya Bu Astrid, lalu menoleh pada Damian.


“Nak Damian! Pijitin istrimu, kasihan dia pegal-pegal,” perintah Bu Astrid.


“Kau pegal ya?” tanya Damian menatap Hanna yang langsung mengangguk.


“Pijat istrimu, masa memijat istrimu tidak mau juga, jangan sendirinya saja yang dipjijat, suami juga harus mau memijat istrinya,” kata Bu Astrid, mengomeli Damian lagi.


“Iya,” jawab Damian, meski dalam fikirannya kapan dia dipijat oleh Hanna? Mau dipijat waktu itu saja kan tidak jadi malah membanding-bandingkan punyanya dengan jempol kakinya, huh!


Hanna duduk membelakangi Damian.


“Mana yang pegal?” tanya Damian.


“Ini leher dan punggungku,” jawab Hanna, sambil memegang lehernya dan menggerak gerakkannya.


Damian menyimpan kipas di meja dan dia mulai memijat bahu Hanna. Diapun berbisik.


“Belum hamil saja sudah manja begini gimana kalau hamil betulan?” Bisik Damian.


Tapi Hanna tidak mengacuhkannya, dia malah memegang punggungnya.


“Punggungku juga pegal,” kata Hanna.


“Damian, punggung Hanna pegal, jangan bahunya saja yang dipijat,” kata Bu Astrid, tampak kesal pada Damian yang menurutnya ogah-ogahan mengurus Hanna.


“Iya Bu,” jawab Damian, sekarang pindah memijat punggungnya Hanna.


“Bagaimana? Enakkan dipijat?” tanya Damian.


“Yang ini pegal,” kata Hanna sambil memegang bahunya lagi, Damian memindahkan tangannya memijat bahunya Hanna. Diapun berbisik lagi.


“Untung aku mencintaimu, kalau tidak, aku tidak bakalan mau disuruh memijit mijit begini, aku bukan tukang pijat,” gerutu Damian. Lagi-lagi Hanna menahan tawanya.


“Hanna akan tetap tinggal disini, supaya dia ada yang terus menjaganya,” kata Bu Astrid.


“Tapi Bu, aku kesepian kalau tidak ada Hanna,” jawab Damian. Hanna mendelik mendengarnya, kesepian? Kata-kata apa itu?


“Ya kau bisa tinggal disini juga,” kata Bu Astrid.


“Tidak!” seru Damian dan Hanna bersamaan, sambil menoleh pada Bu Astrid, lalu mereka saling tatap.


Bagaimana mungkin mereka tinggal dirumah orangtua Hanna satu kamar dirumah ini, padahal mereka belum menikah? Apa bedanya dengan di ibukota? Mereka tinggal satu rumah. Tapi mereka waktu itu terpaksa kerena keadaan, tapi apa bedanya sekarang di rumahnya Hanna? Tentu saja berbeda karena ada orangtua kandung Hanna disini.


“Kalian kenapa? Apa salahnya kalian tinggal disini,” tanya Bu Astrid ,tidak mengerti dengan sikapnya Hanna dan Damian.


“Tidak Bu, aku banyak pekerjaan di kantor, aku juga sering pulang larut, aku lebih leluasa tinggal disana,” tolak Damian.


“Iya Bu, kami akan tinggal disana lagi,” ucap Hanna.


“Ibu tidak setuju, ibu khawatir dengan keadaanmu, apalagi suamimu sering pulang larut, kau tidak ada yang menemani,” kata Bu Astrid.


Hanna dan Damianpun terdiam.


“Tidak apa-apa Bu, aku sudah terbiasa,” ucap Hanna, kemudian.


“Tidak, tidak, ibu takut terjadi apa-apa dengan kandunganmu, lebih baik kau tinggal saja disini, biar Damian yang menjegukmu. Kalau dia mau tidur disini ya kesini saja,” kata Bu Astrid.


Hanna memikirkan perkataan ibunya. Tidak ada salahnya dia tinggal dulu bersama orangtuanya, siapa tahu dia bisa merayu ayahnya untuk kembali bekerjasama dengan Damian.


“Eh eh kenapa kau berhenti memijat, baru memijat segitu saja kau sudah tidak mau!” Tiba-tiba Bu Astrid menyemprot Damian, yang terkejut mendengarnya.


“Ya aku lupa,maaf,” ucap Damian, tangannya kembali memegang bahunya Hanna dan kembali memijatnya.


Asisten rumah tangganya Bu Astrid masuk keruang tamu itu.


“Bu, untuk menu makan siangnya apa saja yang mau dimasak?” tanya perempuan yang usianya sekitar 35 tahunan itu.


Bu Astrid menoleh pada Hanna dan Damian.


“Ibu ke belakang dulu sebentar. Ingat, Hanna tetap tinggal disini, ibu masih kangen,” kata Bu Astrid. Hanna maupun Damian tidak menjawab. Bu Astridpun pergi ke dapur menyusul asisten rumah tangganya.


“Kau akan tinggal disini?” tanya Damian pada Hanna.


“Sepertinya begitu, aku takut kalau aku ikut denganmu, ibuku akan menyusul ke kantor, jadi lebih repot. Jadi terpaksa aku tinggal dulu disini, kau tidak keberatan kan?” jawab Hanna.


“Keberatan,” ucap Damian, memijatnya pindah ke punggung Hanna, lalu kedua tangannya memeluk perut Hana, membuat Hanna terkejut, pria itu mendekapnya dari belakang, menempelkan pipinya kepipi Hanna.


“Ya untuk sementara, tidak ada pilihan lain,” kata Hanna. Merasakan nyamannya dipeluk Damian.


“Belum hamil saja semanja ini gimana kalau benar-benar hamil? Sepertinya aku tidak boleh berangkat kekantor,” ucap Damian sambil mencium pipinya Hanna.


Wanita itu malah tertawa.


“Ternyata pijatanmu enak,kau ada bakat jadi tukan pijat,” ucap Hanna.


“Seharusnya gantian kau yang memijatku,” kata Damian.


“Mau kau bayar berapa?” tanya Hanna.


“Kenapa harus bayar? Aku memijatmu gratis,” protes Damian.


“Karena pijatanku lebih enak,” ucap Hanna.


“Kau bisa saja. Aku jadi penasaran pijatanmu yang enak itu seperti apa?” tanya Damian. Hanna hanya tertawa saja.


Terdengar langkah menaiki tangga yang semekin jelas terdengar. sepertinya ada tamu yang datang.


“Permisi!”  sapa orang yang baru datang itu, bersamaan dengan Hanna dan Damian menoleh kearah pintu yang terbuka.


Merekapun sangat terkejut juga orang yang datang itu, Cristian sudah berdiri di pintu yang terbuka itu.


Wajah Cristian langsung memerah melihat Damian sedang memeluk Hanna seperti itu. Dia tahu Damian adalah suaminya Hanna tapi melihat pria itu memeluk wanita yang selama ini dicintainya, membuatnya merasa cemburu.


*************