Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-50 Perubahan sikap Damian



Hari telah pagi. Damian membuka jendela kamarnya supaya sinar matahari masuk. Dilihatnya Hanna masih tidur, biasanya dia akan mengomel karena Hanna belum bangun, tidak dengan sekarang. Dia duduk disamping tempat tidur, menatap wanita itu yang masih terlelap. Hanna tampak menggerakkan tubuhnya, mengerjapkan matanya, membukanya perlahan. Hampir saja dia berteriak kaget melihat pria tampan itu duduk menatapnya, untung dia tersadar kalau dia sedang pura-pura sakit.


“Sayang, kau sudah bangun?” tanya Damian dengan lembut. Hanna langsung melirik dengan sudut matanya. Ada angin apa pria ini memanggilnya sayang. Tapi dia ingat lagi kalau dia sedang pura-pura sakit, mana mungkin yang sakit bicaranya meledak-ledak.


“Sudah siang ya,” ucapnya dengan pelan, malah dipelan-pelankan supaya terlihat lemas.


“Iya, apa kau lebih baik sekarang?” tanya Damian.


“Kepalaku agak pusing sedikit,” jawab Hanna.


“Kau masih pusing? Mau aku pijat?” tanya Damian lagi, tanpa mendengar jawaban dari Hanna, langsung saja dia naik ke tempat tidur, duduk didekat Hanna, tangannya menyentuh kepalanya Hanna, berusaha memijatnya, meskipun pijatannya membuat Hanna meringis karena terlalu bertenaga.


“Kenapa kau memijatku seperti membenciku?” keluh Hanna.


“Terlalu keras ya? Aku pelankan ya,” kata Damian, sambil memijat lebih pelan, membuat Hanna tersenyum dalam hati, sering-sering saja dia pura-pura sakit biar dimanja Damian.


“Apa lebih baik?” tanya Damian. Hanna bertanya-tanya sendiri dalam hati, ada apa dengan Damian pagi ini begitu perhatian? Sepertinya dia benar-benar kesambet di kantor ayahnya.


“Kesebalah sini,” kata Hanna, menunjuk arah keningnya. Tangan Damian pindah memijatnya ke kening Hanna.


“Di meja sudah ada bubur, kau makan ya? “ucap Damian.


“Bubur?” tanya Hanna, merasa terkejut ternyata Damian juga sudah memesankan bubur.


“Iya, kau sarapan ya, aku suapin,” ucap Damian.


Apa? Disuapin? Hanna semakin terkejut, tapi kemudian dia berfikir pasti karena Damian mengira dia sakit. Kerjain saja sekalian, fikirnya.


“Iya,” jawab Hanna dengan lemah, letih,lesu.


Damian melepas pijatannya, menata bantal ditumpuk tumpuk disandaran tempat tidur.


“Ayo bangunlah, kau duduk disini,” ucap Damian, sambil meraih punggung Hanna membantunya bangun, Hanna merangkul Damian, pura-pura pusing. Pria itu menyandarkannya ke sandaran tempat tidur yang sudah ditumpuk bantal-bantal tadi, menyelimutinya lagi. Hanna hanya memperhatikan saja. Dalam hati dia ingin tertawa melihat sikap Damian yang sangat manis.


Damian mengambil mangkuk bubur dan gelas minum di meja sofa. Lalu menyimpan gelas di meja kecil di samping tempat tidur, diapun duduk disamping Hanna.


Tangan Damian menyiuk bubur itu, ditiupnya berapa kali dan disodorkan ke mulut Hanna, yang segera memakannya karena lapar dari semalam tidak makan, gara-gara pura-pura sakit jadi ketiduran.


“Enak buburnya?” tanya Damian, karena satu suap langsung habis. Hanna sampai lupa kalau dia pura-pura sakit, makan terlalu lahap. Dia hanya mengangguk saja, kini makan buburnya pelan pelan mengunyahnya, bisa-bisa ketahuan Damian, orang sakit makannya lahap.


“Apa kau mau ku antar ke dokter?” tanya Damian, kembali menyiduk bubur lagi buat Hanna.


“Tidak, tidak perlu, aku hanya mabuk saja, jadi mual-mual nanti juga sembuh,” tolak Hanna. Damian terdiam, sepertinya Hanna memang hamil, dia terus merasa mual, ucapnya dalam hati.


“Baiklah kalau begitu. Aku ada janji dengan Cristian dan yang lainnya mau meninjau lokasi real estate. Kau istirahat di rumah saja ya. Kalau ada apa-apa cepat menelponku,” ucap Damian. Hanna mengangguk.


Damian melihat ke dalam mangkuk buburnya yang sudah habis. Sakit juga masih tetap rakus, batinnya. Tapi kemudian dia tersadar, kata mbah google, memang yang hamil porsi makannya lebih banyak karena makan berdua dengan bayi yang ada di dalam perut. Diapun tidak mempermasalahkannya. Diambilnya gelas dimeja itu dimunimkannya pada Hanna, setelah itu kembali disimpan di meja kecil itu.


“Aku mau berangkat dulu ya, kau jaga dirimu baik-baik. Kalau kau ingin sesuatu, bilang saja. Jangan lupa menelponku kalau ada apa-apa,” kata Damian, dengan lemah lembut.


Hanna mengangguk. Damian pun bangun, dan berjalan mendekat, tiba-tiba “cup” Damian mengecup kening Hanna. Membuat Hanna kaget dan langsung panas dingin beneran. Pria itu dengan sadar mengecup keiningnya! Apa tidak salah?


“Aku berangkat ya,” kata Damian, menatap Hanna sebentar. Setelah melihat Hanna mengangguk, diapun keluar dari kamar itu.


Hanna membuka selimutnya, dia merasa gerah terus-terusan berselimut. Diapun akan turun dari tempat tidur, tapi tiba-tiba pintu kamarnya berbunyi, seperti ada yang membukanya. Diapun kembali buru-buru berbaring dan berselimut. Ternyata Damian kembali masuk ke kamar.


“Handpohoneku ketinggalan,” ucapnya. Hanna tidak menjawab, dia pura-pura tidur.


“Kau tidur lagi? Apa kepalamu pusing lagi?” tanya Damian, merasa khawatir. menatap Hanna yang berbaring berselimut lagi.


“Iya, “ jawab Hanna. Damian duduk disamping Hanna, tangannya mengusap rambut Hanna.


“Apa mau aku temani saja, biar pak Indra saja yang melihat lokasi?” tanya Damian.


“Mm tidak, kau pergi saja, aku tidak apa-apa,” ucap Hanna dengan lemah. Dia tidak mau seharian ditunggui Damian, bisa-bisa ketahuan dia sakit bohongan.


“Ya sudah, aku berangkat ya,” ucap damian lagi, tangannya kembali mengusap rambut Hanna. Hanna hanya mengangguk. Damian mengambil handphone di mejanya lalu keluar dari kamar itu. Membuat Hanna bernafas lega, hampir saja ketahuan.


Diapun bangun dan duduk di tempat tidur. Apa yang harus dilakukannya seharian di kamar itu atau bisa jadi dua tiga hari karena dia tidak mau bertemu  dengan Cristian.


Kira-kira berapa hari Damian disini? Bagaimnaa kalau lebih dari dua hari? Bisa bisa dia membusuk di kamar ini.


Hanna berjalan ke arah jendela, melihat pemandangan pantai yang indah.


“Jeruuuk! Jeruuuk!” Ada penjual jeruk di kejauhan. Penjualnya terlihat sudah tua, jadi Hanna merasa kasihan.


“Jeruk! Jeruk!” panggilnya kearah pantai yang jauh. Dia melambai lambaikan tangannya, semoga tukang jeruk itu bisa melihat tapi tentu saja tidak bisa, Karenamkamarnya entah ada di lantai berapa. Lagipula tidak mungkin penjual jeruk itu masuk ke dalam hotel. Akhirnya diapun keluar dari kamar itu, menemui penjual jeruk  yang dipantai itu.


“Harga jeruknya berapa?” tanya Hanna.


“Beda-beda harga,” jawab penjual jeruk.


“Beda? Tapi seperti sama saja,” kata Hanna.


“Yang ini lebih murah, dan ini lebih mahal,” kata penjual jeruk menunjuk jeruk-jeruknya.


“Beda-beda ya,” guman Hanna.


Hanna mengangguk angguk, ternyata ada jeruk manis dan asem.


“Tapi ini asemnya seger,” kata penjual jeruk itu.


Hanna menatap penjual jeruk yang sudah tua itu, membuat Hanna kasihan,diapun memborong jeruknya yang banyak berkilo-kilo, mau asem mau manis dia borong semua, kemudian dibawa ke kamar hotelnya dengan dibantu si penjual jeruk itu. Hannapun memberikan tips tambahan buat si penjual jeruk. Alhasil kamar itu penuh dengan jeruk-jeruk.


Damian selama di lapangan, tampak banyak melamun, dia tidak konsentrasi dengan pekerjaannya. Sebenarnya dia ingin cepat menelpon Hanna, menanyakan kabarnya, juga kabar bayinya. Hah? Kabar bayi? Langsung bermunculan di benaknya banyak bayi bayi lucu duduk berjejer dipinggir jalan raya yang mereka lalui. Dia bingung, apa benar dia akan memiliki bayi dari wanita yang sama sekali tidak dikenalnya? Kenapa ini bisa terjadi padanya? Kenapa Hanna tidak pernah bercerita kalau dia penah melakukan hal selain cuma memeluknya? Kenapa dia tidak pernah ingat padahal sudah melakukannya berkali-kali?


“Bagaimana Pak?” tanya Pak Indra, saat mereka turun dari mobil mereka, di daerah lapang yang luas.


“Mmm ini sudah dua jam dari tadi kita berangkat kan?” tanya Damian, bukannya menjawab pertanyaan pak Indra.


“Sudah pak,” jawab Pak Indra, tidak mengerti. Damian pergi menjauh dari rombongannya, mengeluarkan hpnya dan langsung menelpon Hanna.


Sudah beberapa kali panggilan tapi nadanya hanya diluar jangkauan saja. Kemana dia?


Damianpun menghampiri Pak Indra.


“Pak, aku ke hotel dulu, mau melihat istriku,” kata Damian.


Pak Indra hanya mengangguk. Damianpun meminta kunci mobilnya pada karyawannya yang menyupiri mobilnya tadi. Diapun segera menuju hotel Marbela.


Disepanjang lorong menuju hotel, dia melakukan panggilan lagi  tetapi masih tidak bisa dihubungi, dia merasa khawatir tidak tahu kabar Hanna.  Dia takut terjadi apa-apa pada Hanna dan bayinya. Hah? Bayinya lagi? Seketika bayi bayi lucu terlihat duduk berjejer disepanjang lorong hotel itu. Bahkan di tiap-tiap sudut ada bayi yang hanya menggunakan pampers mengemut jempol tangannya dengan lucu.


Diapun menggeleng gelengkan kepalanya mengghilangkan bayangan bayi bayi itu.


Begitu sampai pintu, langsung saja membuka pintu kamar itu yang ternyata tidak dikunci.


Hanna yang sedang duduk menonton tv sambil makan jeruknya, terkejut, karena tiba-tiba ada yang masuk ke kamarnya tanpa menekan bel dahulu. Diapun langsung berdiri menatap sosok yang tiba-tiba sudah ada dihadapannya, Damian.


Pria itu tampak berkeringat, seperti yang sudah berlari berkilo-kilo, menatap Hanna.


Hanna yang tidak sempat bersembunyi dibalik selimut, menjadi gugup. Dia khawatir sakit pura-puranya akan ketahuan. Dia hanya menatap Damian dengan serba salah, dengan mulutnya masih mengunyah jeruk, dan kedua tangannya memegang jeruk yang baru dikupasnya. Habis sudah, fikirnya, pasti Damian marah, ketahuan dia sakit bohongan. Keringat dingin langsung muncul dikeningnya. Dia harus beralasan apalagi biar Damian tidak marah?


“Mmm Damian aku..” Hanna bingung harus berkata apa. Tapi kemudian terkejut dengan kata-kata Damian.


“Aku mengkahawatirkanmu,”  kata Damian.


“Syukurlah kau baik-baik saja. Aku menelponmu beberapa kali handphonemu tidak aktif,” lanjut Damian.


“Sepertinya batrenya habis,” ucap Hanna.


Damian melihat Hanna sedang memegang jeruk, banyak kulit jeruk berserakan di meja. Dia juga melihat bungkusan jeruk jeruk yang begitu banyak. Hanna membeli jeruk begitu banyak buat apa? Kemudian dia teringat di artikel itu, yang mengatakan bahwa biasanya ibu hamil muda suka makan buah yang asam asam. Kadang tingkahnya juga tidak masuk akal. Dan sekarnag terbukti pada Hanna, dia membeli jeruk sangat banyak sampai berkantong kantong. Berarti benar Hanna sedang hamil.


“Kau membeli jeruk sebanyak ini?” tanya Damian.


“Iya maaf, kamarnya jadi berantakan penuh dengan jeruk,” ucap Hanna.


“Tidak, tidak apa-apa, ayo duduklah,” kata Damian, malah mengajak Hanna duduk, membuat Hanna semakin keheranan, ini Damian kenapa?


Damian pun duduk berdampingan dengan Hanna, duduk di sofa panjang. Pria itu mentap jeruk jeruk yang  berserakan di meja.


“Kau mau mencobanya?” tanya Hanna, dengan iseng dia menambil jeruk yang tadi dengan harga yang berbeda yang rasanya agak asam. Dia langsung mengupasnya, diberikan ada Damian. Damianpun menerimanya dan memakannya, seketika dia langsung menyeringai, asem.


“Puih! Asem banget,” gerutunya, mengeluarkan jeruk itu dari mulutnya.


“Masa sih? Segini manisnya,” kata Hanna sambil mengunyah jeruk miliknya,tentu saja dia memilih jeruk yang manis yang harganya lebih mahal tadi.


Melihat Hanna langsung melahap jeruk yang rasanya sangat asam itu, membuat Damian merasa yakin kalau Hanna hamil.


Diapun menatap Hanna.


“Hanna!” panggilnya.


“Hem?” tanya Hanna, menoleh pada Damian.


Damian masih menatapnya.


“Ayo kita menikah!” kata Damian, membuat Hanna terkejut.


“Apa? Menikah?” tanya Hanna, membelalakkan matanya, tidak menyangka Damian akan bicara seperti itu.


Damiann mengangguk.


“Kau sakit?” tanya Hanna.


***********************


Bersambung aja ah.. lanjut besok.


Baca juga karya author yang lain ya..


-         “My secretary” season 2 (Love Story in London)


-         “Kontes Menjadi Istri Presdir”