
Damian berdiri menatap Hanna yang sedang mengotak atik hpnya, sambil berbaring di sofa.
“Kau membeli handphone baru?” tanya Damian, sambil naik ke tempat tidur, mau siap-siap tidur setelah seharian ini dia bekerja. Dia merasakan tubuhnya sangat lelah.
“Iya,” jawab Hanna, tanpa menoleh.
“Sayang, aku mau tidur, aku butuh pelukanmu,” ucap Damian.
“Aku akan memelukmu kalau kau sudah tidur, aku tanggung mengaktifkan kartu baru ini,” jawab Hanna tanpa menoleh.
“Bukankah aku sudah melamarmu? Masa memeluk saja harus menunggu aku tidur?” keluh Damian. Diapun berbaring, dengan kepala dimiringkan sedikit menoleh pada Hanna.
Wanita itu memutar tubuhnya jadi menelungkup, mengangkat kepalanya menatap Damian.
“Hemm kau banyak maunya sekarang,” ucap Hanna.
“Masa memeluk saja tidak boleh,” gerutu Damian.
Hanna tampak berfikir sesuatu.
“Damian!” panggilnya.
“Iya,” jawab Damian.
“Soal kontrak itu. Karena kau jatuh cinta padaku, jadi kau kena finalti kan?”tanya Hanna.
“Kenapa dalam ingatanmu finalti terus? Aku jadi curiga, katamu kau rela aku melamar dengan cincin satu gram, ternyata kau masih memikirkan finalti,” jawab Damian.
Hanna malah tertawa mendengar jawaban Damian.
“Uangnya juga tidak ada, aku pakai modal membangun real estate,” kata Damian, dengan cemberut.
Hanna lagi-lagi tertawa.
“Ada yang marah nih ye,” ucap Hanna, disela tawanya.
Damian tidak menjawab, dia tidur terlentang sambil menatap langit-langit.
“Aku ko jadi curiga ya,” ucap Damian.
“Curiga apa?” tanya Hanna, keheranan.
“Sepertinya kalau kita menikah nanti kau akan salalu itungan,” jawab Damian.
“Itungan bagaimana?” tanya Hanna tidak mengerti.
“Setiap aku menyentuhmu kau pasti sudah menyiapkan kalkulator untuk menghitung uang yang harus aku berikan padamu,” jawab Damian.
“Kalkulator?” Hanna mengerutkan keningnya tidak mengerti.
“Iya, kalkulator! Kalau aku pegang ini bayar segini, pegang yang lain bayar lagi, hah, aku akan bangkrut,” keluh Damian.
Mendengar perkataan Damian, Hanna langsung tertawa dan buru-buru berdiri sambil berseru.
“Ha! Kau benar-benar memberiku ide!” serunya.
“Ide apaan?” tanya Damian, melirik pada Hanna yang berjalan menghampiri tempat tidur dan berdiri menatap Damian.
“Aku akan membeli kalkulator!” seru Hanna.
“Buat apa?” tanya Damian.
“Ya untuk menghitung seperti tadi yang kau katakan hehhe…terimakasih kau sudah memberiku ide! Tadinya aku akan menggratiskan semuanya tapi setelah difikir-fikir, lebih baik berbayar, lebih menguntungkan!” jawab Hanna sambil tertawa.
“Kau akan membuat suamimu ini miskin!” keluh Damian.
Hanna masih senyum-senyum, diapun naik ke tempat tidur, berbaring menelungkup dengan mengangkat kepalanya menjadi dekat ke wajahnya Damian yang akhirnya menoleh kearahnya.
“Uangmu kan uangku, uangku ya uangku,” ucap Hanna.
“Huh, kau bisa saja bicara, aku yang bekerja, uangnya buatmu,” keluh Damian lagi. Meskipun bicara begitu, tapi tangannya membelai rambutnya Hanna.
“Kau kan bekerja untukku, buat siapa lagi? Buat tetangga? Kan bukan,” kata Hanna lagi sambil lagi lagi terkekeh.
“Ya terserah kau sajalah,” ucap Damian.
Tangan Damian menarik punggungnya Hanna supaya lebih dekat. Hanna merapatkan tubuhnya sambil melingkarkan tangan kirinya ke dada Damian, memeluknya. Kepalanya bersandar dibahunya Damian.
“Besok kita kembali ke pantai,” kata Damian.
Hanna mendongak, terkejut dengan perkataannya damian.
“Besok?” tanyanya menatap Damian.
“Iya besok, banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan. Sebenarnya kita juga ke Ibukota karena kau merasa jenuh dan ingin ke ibukota kan?” jawab Damian, menatap Hanna.
“Apa kita juga akan bertemu ayahku?” tanya Hanna, balas menatapnya.
“Sepertinya begitu,” jawab Damian.
Hanna tidak bicara lagi, Damian juga diam, mereka saling tatap.
“Apa kita akan kerumahku?” tanya Hanna.
Damian mengangguk. Tangan kanannya mengusap-usap legan kirinya Hanna.
Hanna kembali menempelkan pipinya ke bahu Damian.
“Apa yang akan kau katakan pada ayahku? Kau akan mengatakan kita suami istri?” tanya Hanna.
“Kita lihat situasinya dulu. Tapi sebenarya lebih bagus begitu supaya ayahmu mau menerimaku dan tidak memaksamu menikah dengan Cristian,” jawab Damian.
Hanna tidak bicara lagi, dia juga bingung dengan situasi yang sulit ini. Dia tidak mau berpisah dengan Damian tapi dia juga ingin mendapat restu dari orangtuanya.
Merekapun tidak ada yang bicara lagi, berfikir dengan fikirannya masing-masing, hingga terlelap.
***************
Keesokan harinya, setelah melakukan perjalanan yang jauh. Mobilnya Damian sampai di rumah kantornya itu. Mereka sampai saat matahari sudah tenggelam, jadi kantor sudah tutup.
Satpam membukakan gerbang tinggi itu. Damian memarkir mobilnya dihalaman rumah juga kantornya itu. Merekapun turun dari mobilnya.
“Kakak kau sudah datang!” seru Satria yang sudah berdiri diatas tangga yang menuju lantai atas yang digunakan sebagai rumah mereka.
Hanna langsung saja merasa sebal pada Satria, dia berbohong kalau Damian menyuruhnya untuk menjaganya saat survey lokasi itu. Adik ipar yang tengil, batinnya.
“Kakak ipar, kau terlihat sangat segar setelah liburan!” seru Satria, sambil tersenyum.
“Liburan, siapa yang liburan?” gerutu Hanna, mendelik sebal sambil berjalan duluan menaiki tangga rumah mereka.
“Kenapa dia? Aku kan menyapa ramah,” keluh Satria sambil menoleh pada kakaknya.
Hanna menaiki tangga itu sambil menggerutu dia masih kesal pada Satria. Tidak disadarinya ada dua orang pria yang tidak jauh dari gerbang rumah itu, berlindung dibalik pohon, berkali-kali mengambil gambarnya dengan menggunakan kamera ponselnya, yang satunya membawa camera digital.
Hanna langsung masuk ke dalam rumah.
“Semuanya baik-baik saja?” tanya Damian.
“Baik kakak, cuma ada beberapa desas desus,” jawab Satria.
“Desas desus apa?” tanya Damian.
“Ada orang-orang yang sedang mencari putrinya Pak Louis yang katanya mirip dengan kakak ipar,” jawab Satria.
Dijawab begitu, membuat Damian diam.
“Padahal orang tua kakak ipar kan ada di luarkota, mungkin karena mirip saja jadi orang-orang itu bertanya-tanya juga namanya yang kebetulan sama,” ucap Satria.
Damian hanya mengangguk-angguk dan menepuk bahu adiknya.
“Ayo kita masuk, sepertinya akan turun hujan,” kata Damian.
“Iya beberapa hari ini hujan turun dengan deras,” jawab Satria, diapun mengikuti langkah kaki kakaknya menaiki tangga masuk kedalam rumah.
Dua orang yang berada di balik pohon diluar gerbang rukannya Damian itu, melihat hasil foto di handphone dan camera digitalnya.
“Langsung kita kirim ke Pak Louis saja,” kata temannya. Pria yang satu itu mengangguk. Diapun mengirimkan fotonya Hanna ke handphone-nya Pak Louis.
Pak Louis baru saja selesai makan malam dengan istrinya saat akan duduk bersantai di sofa ruang keluarga, melihat ada pesan masuk ke handphone-nya. Diapun duduk disofa sambil meraih handphone-nya. Ternyata dari orang-orangnya Pak Fery.
Pak Louis langsung terkejut saat melihat foto-foto Hanna yang ada di rukannya Damian. Dia benar-benar shock.
“Bu! Bu!” teriaknya.
“Ya Pak, ada apa?” tanya Bu Astrid sambil menghampiri suaminya.
“Ini lihat, Hanna, Hanna ternyata istrinya Pak Damian!” seru Pak Louis yang seketika hatinya menjadi lesu.
“Kenapa Hanna tega berbuat seperti itu pada kita?” kata Pak Louis, hatinya merasa terisinggung dan sakit hati dengan apa yang Hanna lakukan.
Pak Louis tidak menyangka, setelah mempermalukan orangtuanya di hari pernikahannya, sekarang diketahui Hanna menikah diam-diam dengan Damian tanpa meminta restu orangtuanya, bahkan berpura-pura bukan Hanna saat bertemu dengannya di lokasi survey.
Tangan Bu Astrid sampai gemetar saat melihat foto-foto Hanna itu.
“Jadi, jadi benar Pak kalau Hanna istri pengusaha itu?” tanya Bu Astrid, menatap suaminya.
“Itu kantornya Pak Damian, rekan bisnisku yang membangun real estate di daerah kita, aku yang membantunya untuk pembebasan lahan-lahan penduduk,” jawab Pak Louis.
Bu Astrid terdiam dan duduk di kursi, entah rasa apa yang ada di dalam hatinya. Dia kecewa pada putrinya yang telah membohongi mereka. Tidak terasa airmata menetes di pipinya.
“Kau lihat kelakuan putri kita? Sudah membuat kita malu pada keluarganya Pak Sony, sekarang menikah diam-diam tanpa minta restu kita, anak macam apa seperti itu? Aku mendidiknya menyekolahkannya sampai ke perguruan tinggi bukan untuk jadi anak yang durhaka!” kata Pak Louis, dengan nada tinggi, amarah mulai naik ke ubun-ubun.
Bu Astrid hanya menangis, tidak ada yang bisa dia ucapkan, dia hanya merasa kecewa dengan apa yang Hanna lakukan.
Tiba-tiba terdengar suara bel pintu berbunyi. Bu Astrid menghapus airmatanya, bangun dari duduknya dan pergi menuju ruang tamu.
Dibukanya pintu rumahnya itu. Seorang wanita yang lebih muda darinya berdiri disana.
“Malam Bu. Maaf mengganggu, saya hanya mau memberikan tabloid yang dicari oleh Pak Louis. Setelah mencari-carinya, saya sudah menemukan berita pernikahannya Pak Damian,” kata wanita itu yang ternyata sekretarisnya Pak Louis, sambil memberikan tabloid Bisnis itu.
“Siapa Bu?” tanya Pak Louis, masuk ke ruang tamu.
“Bu Wina Pak,” jawab Bu Astrid.
“Ini Pak, saya mau menyerahkan tabloid yang bapak cari, sudah ketemu,” kata Bu Wina.
“Berita pernikahan Pak Damian?” tanya Pak Louis.
“Iya Pak, halamannya sudah saya lipat,” jawab Bu Wina.
Pak Louis langsung membuka tabloid yang sudah ditandai dengan melipatnya oleh Bu wina, sambil berjalan ke kursi tamu dan duduk disalah satu kursi itu. Bu Astrid dan Bu Wina mengikutinya.
Pak Louis membaca tabloid itu dengan cepat. Nama Hanna Ananta putri tertera disitu dengan nama Damian juga ada nama orang tua palsunya Hanna, nama karangan asal saja, Sanjaya dan Sulastri, siapa mereka? Pak Louis merasakan darahnya mendidih saat membacanya, belum lagi saat dilihatnya foto di acara resepsi itu ada dua orang pria dan wanita yang tidak dikenalnya bersanding dengan pengantin.
Amarahnya Pak Louis pun memuncak, dia pun membanting tabloid itu dengan keras ke atas meja.
“Anak Durhaka! Anak kurang ajar!” teriaknya dengan marah.
Bu Astrid dan Bu Wina tampak terkejut melihat reaksi Pak Louis itu.
Bu Astrid buru-buru mengambil tabloid yang dulu pernah dibacanya, Cuma waktu itu dia tidak berfikir kalau yang ada di foto itu benar-benar Hanna karena ada orangtua yang mendampingi pengantin.
Bu Astrid tidak bisa membendung lagi rasa sedih dan kecewanya, diapun menagis.
Pak Louis berdiri dari duduknya dengan kesal.
“Anak tidak tahu diri!” teriaknya, berjalan mondar mandir menahan marahnya.
Bu Astrid hanya menangis saja dipeluk oleh Bu Wina yang kebingungan.
“Benar-benar tidak menghargai orangtua!” keluh Pak Louis, menahan marah yang semakin memuncak.
“Sudah, tidak perlu menagis, apa yang kau tangisi? Anak durhaka itu?” bentak Pak Louis, menoleh pada Bu Astrid.
“Apa maunya anak itu?” bentaknya lagi.
Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya Bu Astrid, pembelaan apa lagi yang bisa dia lakukan? Hanna telah bersalah, Hanna telah mempermalukan keluarganya juga tidak menghargai mereka dengan pernikahan yang tanpa restu dan membawa sepasang laki-laki dan wanita yang menjadi orangtua mempelai, tidak ada yang bisa dia bela. Sebagai ibunya juga Bu Astrid merasa tersakiti dengan kenyataan ini.
“Aku tidak akan pernah mengakui dia anak lagi!” teriak Pak Louis, sambil beranjak meninggalkan Bu Astrid yang masih dipeluk Bu Wina.
Bu Astrid hanya bisa menangis dan menangis. Kenapa Hanna tega melakukan semua ini pada mereka? Dibesarkan dari kecil penuh dengan kasih saying, setelah besar malah membuat orangtuanya malu dengan kabur dihari pernikahannya. Sekarang menikah diam-diam tanpa restu mereka dan membawa orangtua lain di hari pernikahannya, benar-benar hatinya merasa sakit.
***************