Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-97 Hanna menemui Bu Vina



Martin marah-marah sepanjang jalan, dia terus mengeluh soal Shezie yang menemui Henry saat di toilet.


“Aku heran mau sampai kapan kau bersikap begini?” maki Martin, saat mereka sudah berada di teras rumahnya Shezie dan tidak jadi melanjutkan makan malamnya di restaurant lain.


Shezie tidak menjawab, dia hanya membuka pintu rumahnya.


“Kau ini akan menikah denganku! Apa kau lupa? Kau ingin menggagalkan rencana pernikahan kita? Jangan mempermainkan keluargaku! Aku bisa membuat ibumu masuk kepenjara! Kau juga sudah menandatangani perjanjian untuk menikah denganku! Kau masih terus saja membuat masalah!” maki Martin, tidak henti-hentinya.


Shezie masih terdiam, telinganya terasa begitu sakit mendengar omelannya Martin sepulang dari restaurant.


Mendengar suara ribut-ribut diluar, Bu Vina yang berada dalam kamarnya, meruncingkan pendengarannya. Apa dia tidak salah dengar? Martin memarahi putrinya dengan nada tinggi.


“Kau benar-benar wanita yang tidak tahu berterimakasih!” maki Martin lagi.


Bu Vina yang mendengar ucapannya Martin merasa terkejut, kenapa pria itu memarahi putrinya dengan kasar?


“Sekali lagi kau menemui pria itu, maka aku tidak akan segan segan menyakitimu!” ancam Martin.


Shezie tidak bicara sepatah katapun, dia tidak bisa membela diri, dia memang mengakui kalau dia masih mencintai Henry.


“Ada apa ini?” tanya Bu Vina, tiba-tiba sudah dipintu, menatap Marin dan Shezie yang masih berdiri di depan pintu.


Martin menoleh pada ibunya Shezie.


“Tanyakan sendiri pada anakmu ini!” jawab Martin dengan ketus, semakin membuat Bu Vina terkejut, tidak pernah Martin seketus itu padanya, pasti Shezie sudah melakukan kesalahan, fikirnya.


Bu Vina menoleh pada Shezie.


“Sayang, ada masalah apa?” tanya Bu Vina, tapi  Shezie tidak menjawab.


Martin menatap Shezie dengan kesal.


“Kenapa kau tidak bilang pada ibumu kalau kau menemui Henry?” bentak Martin membuat ibunya Shezie terkejut.


“Apa? Kau menemui Henry? Kau ini apa-apaan?” Bu Vina sontak ikut marah.


“Tidak sengaja Bu, aku bertemu Henry saat setelah dari toilet,” jawab Shezie.


Bu Vina menoleh pada Marin.


“Nak Martin, Shezie tidak sengaja bertemu Henry, itu hanya salah faham saja, kau harus memaafkannya,” kata Bu Vina, mencoba meredam kemarahannya Martin.


Martin balas menatap Bu Vina.


“Bu, sekarang aku tidak ada toleransi lagi. Kalau Shezie menemui Henry lagi, keluargaku terpaksa akan membawamu ke jalur hukum! Aku tidak mau dipermainkan terus menerus!” ancam Martin membuat Bu Vina terkejut.


“Iya Nak Martin, ibu minta maaf,” kata Bu Vina.


“Tidak Bu, tidak perlu minta maaf pada Martin, aku yang salah,” ucap Shezie , lalu menoleh pada Martin.


“Martin, aku yang salah, aku minta maaf, aku tidak akan menemui Henry lagi,” ucap Shezie.


“Bagus, aku pegang janjimu!” ucap Martin, tanpa bicara lagi, dia beranjak meninggalkan tempat itu.


Shezie menoleh pada ibunya.


“Aku minta maaf Bu,” ucap Shezie.


Bu Vina tidak menanggapi, dia memutar kursi rodanya dan meninggalkan Shezie yang masih diam mematung.


Hati Shezie sungguh bingung, hatinya masih terasa begitu berat meninggalkan Henry meskipun mereka sudah bercerai.


*************


Keesokan harinya…


Pagi-pagi sekali ada ketukan pintu dirumahnya Shezie.


Shezie yang sedang berdandan bersiap-siap ke cafenya, hanya mendengar langkah Bi Ijah terburu-burur ke pintu depan untuk membukakan pintu rumahnya.


“Ada perlu dengan siapa?” tanya Bi Ijah, menatap seorang wanita yang berdiri di depan pintu itu.


“Bu Vina, ibunya Shezie, apakah dia ada?” tanya wanita itu.


“Dari siapa?” tanya Bi Ijah, meskipun dia pernah melihat wanita itu di rumah sakit, tapi dia tidak tahu pasti siapa wanita itu.


“Hanna, ibunya Henry,” jawab wanita itu yang ternyata Hanna.


Setelah permbicaraannya dengan Damian malam itu, Hanna memutuskan untuk pergi menemui ibunya Shezie secepatnya. Sebenarnya hati kecilnya masih was was akan ada CLBK antara Damian dengan ibunya Shezie, meskipun Damian sudah berjanji itu tidak akan terjadi tapi belum tahu bagaimana dengan ibunya Shezie yang masih memendam perasaan cintanya pada Damian. Tapi demi kebahagiaannya Henry, Hanna rela memupus rasa was-wasnya itu.


“Ditunggu sebentar, saya bicara dulu dengan Bu Vina,” jawab Bi Ijah, lalu bergegas menuju kamarnya Bu Vina.


Shezie mendengar Bi Ijah mengetuk-ngetuk pintu kamarnya Bu Vina, lalu mendengar suara ibunya keluar kamar.


“Ada tamu Bu,” jawab Bi Ijah.


“Siapa?” tanya Bu Vina.


“Bu Hanna, ibunya Pak Henry,” jawab BI Ijah, membuat Bu Vina terkejut. Diapun bergegas keluar dari kamarnya dengan dibantu Bi Ijah yang mendorong kursi rodanya.


Hanna segera melangkah masuk saat melihat Bu Vina muncul dengan kursi rodanya, hatinya mendadak merasa terbakar cemburu saat menyadari siapa yang ada didepannya itu, dia adalah wanita yang pernah dicintai Damian.


Hanna membayangkan sejauh mana hubungannya Damian dengan ibunya Shezie dulu. Bayangan bayangan buruk melintas begitu saja dibenaknya, semakin hatinya merasa cemburu. Kalau bukan karena tidak mau melihat putranya menderita, dia tidak mungkin mau menemui ibunya Shezie lagi.


“Kau, mau apa kau kemari?” tanya Bu Vina dengan ketus. Penglihatannya yang sudah berangsur-angsur pulih, bisa melihat lebih jelas seperti apa wanita yang dinikahi oleh pria yang pernah menjadi kekasihnya itu. Dia bisa menilai kalau wanita itu dari kalangan yang sebanding dengan Damian, pantas saja Damian memilih menikah dengan wanita itu, batinnya.


Bi Ijah pergi meninggalkan Bu Vina dengan tamunya. Saat melewati kamarnya Shezie, bersamaan dengan Shezie membuka pintu kamarnya.


“Ada tamu siapa?” tanya Shezie pada Bi Ijah.


“Bu Hanna, ibunya Pak Henry,” jawab Bi Ijah membuat Shezie terkejut, diapun buru-buru keruang tamu tapi langkahnya terhenti saat terdengar bekas ibu mertuanya itu bicara, diapun bersembunyi dibalik tembok, mendengarkan percakapan mereka.


“Ada yang ingin aku bicarakan,” jawab Hanna, sambil menahan rasa tidak sukanya pada ibunya Shezie, apalagi mengingat bagaimana besarnya perhatian Damian pada wanita itu bahkan Damian memeluknya di taman.


“Soal apa lagi? Shezie sudah bercerai dengan Henry, aku rasa sudah tidak ada yang bisa dibicarakan lagi,” kata Bu Vina, masih dengan nada tinggi.


Hanna bisa membaca kalau percakapan ini tidak akan mudah. Dia dan ibunya Sezie sama-sama tidak menyukai pertemuan ini.


Hanna mencoba menenangkan hatinya dan menurunkan egonya.


“Aku ingin Henry kembali rujuk dengan Shezie,” jawab Hanna.


“Apa?” Bu Vina terkejut dan langsung saja tersenyum sinis.


“Apa aku tidak salah dengar?” tanya Bu Vina, kemudian.


“Tidak. Aku tahu kalau Henry dan Shezie masih saling mencintai dan aku tidak tega memisahkan mereka, jadi aku ingin Henry rujuk dengan Shezie,” jawab Hanna.


Bu Vina langsung tertawa mendengarnya.


“Kau serius mau berbesan denganku?” tanya Bu Vina menghentkan tawanya, menatap Hanna dengan hati yang terbakar-bakar, menatap wanita yang telah menyingkirkan posisinya di hati Damian.


“Terpaksa, itu kulakukan demi kebahagiaan putraku,” jawab Hanna, dengan jujur.


Bu Vina masih tersenyum sinis.


“Dan tentu saja dengan perjanjian Damian tentunya,” kata Hanna, membuat Bu Vina keheranan.


“Apa maksudmu?” tanya Bu Vina.


“Damian sudah berjanji untuk tidak pernah tergoda lagi olehmu, atau dia perhatian padamu, dia sudah mengatakan kalau aku adalah wanita satu-satunya yang dicintainya dan kisah diantara kalian sudah usai,” jawab Hanna, membuat hati Bu Vina terasa sakit mendengarnya ternyata Damian benar-benar sudah melupakannya.


“Jadi aku harap kaupun bisa melakukan hal yang sama, tidak perlu mencari-cari simpatinya Damian,” lanjut Hanna.


“Ternyata kau takut Damian kembali padaku?” tanya Bu Vina dengan nada ejekan.


“Aku hanya tidak mau pernikahanku dengan Damian berantakan gara-gara masalalu kalian. Jujur saja kemunculanmu merusak kebahagiaan keluargaku,” kata Hanna.


Bu Vina menatap Hanna dengan tajam.


“Apa kau tidak sadar dengan apa yang kau katakan? Kehadiranmu yang telah membuat aku dan Damian berpisah! Kau yang merusak kebahagiaan kami!” kata Bu Vina hampir beteriak.


“Damian sudah mengatakannya padamu kan? Dia jatuh cinta padaku, mana aku tahu kalau dia pacaran denganmu? Selama aku mengenal Damian, hanya satu teman wanitanya yang bernama Maria,” ucap Hanna.


“Apa? Maria?” tanya Bu Vina tampak terkejut.


“Kau tidak mengenalnya? Kalau begitu sudah jelas kau belum tentu satu-satunya teman wanitanya Damian,” jawab Hanna.


“Jadi kedatanganmu kesini hanya untuk pamer? Pamer kau yang dinikahi Damian, begitu?” hardik Bu Vina.


“Aku tidak bermaksud begitu, aku hanya ingin Henry kembali rujuk dengan Shezie dan aku minta kau harus bisa menerima kenyataan kalau Damian sudah meninggalkanmu, dan kalian harus melupakan masa lalu kalian demi anak-anak,” kata Hanna.


Shezie yang sedang bersembunyi dibalik pintu terkejut dengan percakapan ibu dan bekas ibu mertuanya itu. Jadi ternyata Hanna ingin dia rujuk dengan Henry! Ada rasa bahagia dihatinya, memang itu yang dia inginkan, kembali bersama Henry.


“Tidak bisa!” jawab ibunya Shezie, membuat Shezie kembali kecewa.


“Kau menolak?” tanya Hanna.


“Sebelum datang kesini seharusnya kau sudah tahu jawabanku apa, aku tidak mungkin berhubungan dengan keluarga Damian!” kata ibunya Shezie.


Sebenarnya ada rasa senang dihati Hanna dengan penolakannya ibunya Shezie tapi kembali teringat pada Henry, dia merasa bersenang-senang diatas penderitaannya Henry.


“Henry dan Shezie saling mencintai,” ucap Hanna.


Bu Vina kembali menatap Hanna dengan tajam.


“Kau ingin menunjukkan kalau kau menang atas Damian? Kau ingin aku menyadari hal itu dengan melanjutkan hubungan Henry dengan Shezie? Maaf aku bukan boneka yang bisa kau permainkan!” kata Bu Vina.


“Jujur saja, sebenarnya aku juga tidak suka dengan semua ini! Tapi demi kebahagiaan putraku aku menyampaikannya padamu untuk rujuk,” ucap Hanna dengan nada ketus.


“Aku tetap tidak bisa menerimanya!” kata ibunya Shezie.


Shezie yang mendengarkan, merasakan sedih kembali menyelimuti hatinya. Ternyata ibunya masih menolak Henry padahal ibunya Henry sudah mau berdamai. Tapi sepertinya ibunya memang tidak bisa melupakan rasa sakit hatinya ditinggalkan menikah oleh ayahnya Henry.


**********